One Night Special

One Night Special
Jangan Hancurkan Situasi Ini!



"Jadi Amy menikah dengan Heinry Phoulo? Dia anak keluarga Phoulo yang terkenal itu kan? Kenapa dia sama sekali tidak memberitahu padaku dulu? Aku harus menemui Amy, dan menyapa menantuku kab?" Ucap Ibunya Amy, Ibu kandung Amy yang selama ini bahkan tidak pernah mencari tahu bagiamana kabar Amy.


"Nyonya batu tahu ya? Katanya sih, Amy juga sudah memiliki anak perempuan bersama Heinry Phoulo. Kabarnya, anaknya itu sangat cantik, dan mirip sekali dengan Heinry Phoulo."


Ibunya Amy tersenyum senang, sorot matanya yang terlihat bahagia, penuh maksud begitu jelas terlihat.


"Aku benar-benar tidak tahu kalau anakku memiliki bakat yang sangat bagus! Dia pasti memiliki sifa yang sama dengan ku bukan?" Ucap Ibunya Amy laku kembali tersenyum senang.


Di sisi lain.


Heinry dan Amy kembali ke rumah setelah dua hari terus berada di rumah sakit. Heinry juga sudah melakukan pemeriksaan lengkap sebelum kembali ke rumah, dan dia sudah dinyatakan sehat. Tapi, Heinry masih disarankan untuk tetap di rumah lebih dulu sampai keadaannya benar-benar sehat sempurna.


Kepulangan Heinry pagi ini benar-benar disambut hangat oleh semua keluarga. Bahkan, nenek dan Jhon juga sudah ikut menunggu dirumah kedua orang tua Heinry.


"Selamat datang kembali!" Ucap mereka kompak.


Heinry memaksakan senyumnya, ah! sungguh berlebihan sekali, padahal yang dia inginkan setelah pulang dari rumah sakit adalah, menyusun rencana untuk membuat adiknya Jeje. Yah, tapi sepertinya niatnya itu harus di undur lebih dulu.


Mereka sebentar berkumpul di ruang keluarga, bercengkrama dan menceritakan bagaimana bisa Heinry memiliki luka, dan bagaimana bisa ingatan Heinry pulih di hari H dia akan menikah dengan Amy.


"Sebenarnya, aku terburu buru untuk datang ke upacara pernikahan. Saat aku membuka laci, ternyata aku sudah memindahkan cincin pernikahan kami, dan aku lupa dimana meletakkan cincin itu. Aku jadi membutuhkan waktu yang lebih banyak sampai menemukan cincin itu. Tapi, di saat perjalanan menuju gedung pernikahan, jalannya sangat macet. Aku memutuskan keluar dari mobil, dan menyebrang jalan tanpa melihat dulu. Aku tertabrak motor, dan tersungkur dengan posisi membentur tiang untuk kamera pengawas jalanan. Yah, untung motor itu sempat mengerem, kalau tidak aku pasti mati di hati pernikahan ku." Ucap Heinry lalu menghela nafas lega.


"Jadi, kau naik angkutan umum dengan luka di kepalamu?" Tanya Nenek.


Heinry menggelengkan kepalanya.


"Jalanan sangat macet, nek. Makanya aku memilih untuk berlari sembari terus menahan rasa sakit di kepala. Saat aku berlari, kepalaku seperti berdenyut, ingin pecah. Apalagi, saat ingatan di masa lalu mulai muncul satu persatu seperti kaset. Kepalaku juga terus berdarah. makanya aku menyekanya dengan sapu tangan di kantongku. Aku tidak ingin ada noda darah yang terlihat, aku hanya ingin cepat sampai di gedung pernikahan dan menikah. Aku tidak akan lari dari janjiku, dan semua itu menjadi kekuatan yang ajaib sehingga aku sampai kesana tidak begitu terlambat."


Nenek menyeka air matanya, dia benar-benar terharu dengan perjuangan Heinry yang begitu ingin menikahi cucunya.


Orang tua Heinry juga merasakan yang sama. Dia benar-benar terharu sekali karena perjuangan putranya untuk bisa menikah benar-benar tidak bercanda.


Jhon, pria yang kesal setengah mati dengan Heinry itu juga sampai merasa begitu


tersentuh. Yah, dia sudah keterlaluan sekali dengan Heinry kalau di luar kantor. Dia terlalu membatasi Heinry untuk bisa menemui Amy dan Jeje sebelumnya, itu benar-benar membuatnya menyesal.


Heinry tersenyum pilu melihat bagaimana mereka semua beraksi. Tapi, Heinry langsung terlibat terkejut, dan juga agar ngeri saat matanya bertemu sebab mata Jeje.


Gadis kecil nan cantik itu, anak yang lahir dari benih Heinry, hanya dia seorang saja yang kini menatap dengan senyum miring dan tatapan penuh curiga seolah apa yang dikatakan Heinry, benar atau tidaknya, fakta atau bohong, dia paham sekali.


Heinry memaksakan senyumnya, duh, matilah! Dia mungkin bisa membuat sebuah cerita drama, melebihkan kenyataan agar mendapat simpati, dan dia memang berhasil! Tapi, Heinry lupa kalau anaknya sangat persis seperti dirinya.


Ah, Jeje bisa melihat kebohongannya!


"Jarak menuju gedung pernikahan, jika menggunakan kaki untuk berlari, setidaknya membutuhkan satu jam empat puluh menit. Waktu tempuh selama itu, bagiamana bisa," Jeje belum menyelesaikan kalimat yang ingin dia katakan, tapi segera Heinry bangkit dan memeluk putrinya erat-erat.


"Tidak apa-apa, nak. Ayah tahu Ayah sudah berusaha sangat keras. Hanya berlari selama itu, tentu saja bukan masalah bagi Ayah. Kalau memang di butuhkan, berlari sampai ke planet Pluto juga agar akan lakukan jika semua kalian semua!"


Semua orang menatap Heinry semakin terharu membuat Jeje tak lagi ingin bicara dan hanya menghela nafasnya.


"Tolong jangan rusak suasana, sayang. Please.... Kalau kau merusak suasana ini, bisa-bisa rencana untuk memiliki adik untukmu tertunda sepuluh tahun dari sekarang!" Ucap Heinry pelan, berbisik di telinga putrinya.


Jeje tersenyum tipis. Adik baru? Jika dia memiliki adik baru, dia tidak akan sibuk membagi waktu untuk Kakek, nenek, Nenek buyut, Paman, Ibu dan Ayah kan? Dia akan memiliki waktu untuk diri sendiri, dia bebas!


Jeje memukul punggung Heinry cukup kuat beberapa kali.


"Ayah, Ayah memang adalah Ayah terbaik. Tolong tepati janji Ayah ya? Aku dengar, ada beberapa planet baru yang ditemukan setelah Pluto. Cobalah untuk lebih cepat mendapatkannya, aku sudah tidak sabar!"


Heinry berdesis nyeri karena semakin lama, Jeje memukulnya jadi semakin kuat.


Setelah selesai mengobrol, semua keluarga kini telah berada di ruang keluarga bersama untuk makan dan lagi-lagi mengobrol santai.


Heinry dan Amy kini duduk bersebelahan dan hanya banyak mendengarkan saja apa yang sedang di bicarakan oleh anggota keluarga lainnya.


Heinry menghela nafas, duh, bosan sekali! Rasanya ingin cepat istirahat, tidur sembari memeluk Amy! Hihi! Membayangkan itu saja, Heinry bahkan sudah berdebar tidak jelas.


Amy melirik, dia memperhatikan Heinry yang tersenyum dengan aneh sembari membatin. Kenapa setelah ingatan Heinry pulih, Heinry seperti orang gila ya? Di saat semua orang sedang mengobrol, dia malah seperti sedang berfantasi sendiri. Duh! Ada bagusnya menjauh dulu dari Heinry, takutnya Heinry terkena virus gila yang dapat menular padanya.


"Ngomong-ngomong, setelah ini kalian mau bulan madu kapan?" Tanya Jhon yang akan menyiapkan segalanya nanti.