
Amy menghela nafasnya, menatap Heinry dengan tatapan kesal dan tajam membuat Heinry jadi kebingungan karena tiba-tiba saja Amy mengubah mimik wajahnya.
"Memang apa yang aku ambil? Sper** mu yang cuma seiprit itu? Kalau di bandingkan dengan selaput perawanku, apa kau bisa mengembalikannya? Sekarang kembalikan keperawanan ku, baru aku akan kembalikan sper** mu!"
Heinry terdiam sebentar, kenapa sekarang dia jadi kehabisan kata-kata? Kenapa juga tiba-tiba Amy membahas masalah perawan padahal awalnya Heinry juga tidak menginginkan keperawanan Amy kan?
"Sekarang lebih baik kau pergi saja! Jangan membicarakan masalah itu lagi, atau kalau masih saja tidak berhenti, aku akan datang ke pernikahan mu dengan kekasih mu. Aku akan mengatakan kepada semua orang bahwa perut besar ku ada anak kita, anak yang kita buat dengan sepenuh hati dan penuh cinta!"
Heinry mendengus kesal, lagi-lagi perdebatan macam apa ini?
"Aku punya rekaman saat kau memasukkan obat aneh ke minuman ku, aku juga memiliki rekaman saat kau memaksaku untuk masuk ke dalam kamar. Walaupun memang pada akhirnya kita bisa melakukan anu, tapi tetap saja kalau bukan karena kau adalah pemicunya, semua tidak akan pernah terjadi! Kau berani menekan ku dan memintaku mengembalikan keperawanan mu? Jangan sinting! Lebih baik biarkan aku masuk dan ayo bicara baik-baik!"
Mau terdiam sebentar, menatap Heinry dengan tatapan kikuk.
"Jadi, sebenarnya kau mau bicara baik-baik?" Tanya Amy dengan nada bicaranya yang pelan.
Heinry membuang nafasnya, lah ya memang sejak asal dia mau bicara baik-baik, tai Amy kan langsung saja menyemprot dan mengusir Heinry.
Beberapa saat kemudian.
"Jadi kau benar-benar sudah hamil?" Tanya Heinry yang terlihat begitu terkejut, dia bahkan sampai berkeringat dingin karena tidak pernah sekalipun memiliki pemikiran kalau dia akan menjadi Ayah di usia muda.
Amy mengangguk, tapi dia juga tidak bisa menahan pemikirannya yang menganggap kalau Heinry pasti akan memiliki niat tidak baik setelah ini, bisa jadi juga nanti tiba-tiba anaknya di ambil saat Amy melahirkan.
Heinry mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bagaimana bisa kau hamil?!"
Amy menaikkan satu sisi bibirnya dengan tatapan kesal. Bagiamana bisa dia hamil? haruskah dia menjelaskan hal itu? Sialan! Apakah boleh menjambak gigi Heinry sekarang?
"Tentu saja bisa hamil, aku kan menampung sper** mu! Berarti kau juga patut bersyukur karena berarti kau terbukti tidak mandul, sekali tembak aku bisa langsung hamil kan?"
Heinry menatap Amy dengan tatapan kesal.
"Aku sudah tahu aku tidak mandul! Tapi tetap saja aku tidak siap memiliki anak!"
Amy menatao Heinry dengan tatapan sinis.
"Memang siapa yang akan membiarkan kau memiliki anak? Yang hamil adalah aku, yang akan melahirkan adalah aku, kau itu cuma modal sper** apa pantas mengeluh seperti itu? Lagi pula aku kan sudah bilang kalau aku tidak membutuhkan apapun kecuali sper** saja, jadi kau tidak usah terbebani ketika sper** mu jadi anak!"
Heinry menatap Amy, matanya benar-benar menjelaskan kalau dia sedang menahan emosi yang luar biasa. Memang iya hanya dari sper** yang jasanya saat colai akan Heinry buang di kamar mandi, tapi apakah benar hanya sebatas itu arti sper** miliknya?
Amy yang tidak bisa membaca arti mimik wajah Heinry hanya bisa tersenyum lebar dan mengangguk dengan cepat.
"Bingo! Jadi Heinry yang tampan, perkasa, tinggi besar seperti tiang listrik, bagaimana ide ku? Brilian kan? Kau hanya merasakan enak saat melakukan anu denganku, enak juga karena tidak perlu mengingat anak ini, tidak perlu membiayai, juga tidak perlu repot menempatkan diri sebagai wali. Ah, nanti kalau aku butuh anak lagi sebagai teman dari anak ini, maka berikan saja waktu mu sebentar untuk kita buat anak lagi. Tapi, kalau aku menemukan pria yang lebih unggul, tentu saja aku akan membuat anak dengan pria itu."
Heinry benar-benar tidak mengerti dengan jalan pemikiran Amy. Rasanya dia ingin menyebut Amy sebagai wanita murahan, tapi dia juga tidak bisa melupakan bahwa dia adalah pria pertama yang menyentuh Amy. Lagi, kenapa bisa-bisanya ada perempuan yang hanya menginginkan sper** tapi menolak keras untuk hidup bersama walau itu hanya demi anak? Tunggu! Sebenarnya apa ada bagian dari dirinya yang kurang di mata Amy? Cih! Walaupun sebelumnya Heinry begitu percaya diri, rasanya kenapa dia justru merasa kalau dia memiliki begitu banyak celah kekurangan?
"Kau sedang bercanda ya? Mana bisa aku melupakan kalau aku punya anak? Dan lagi, memangnya aku tidak pantas kau Ayah anak itu?!"
Cih!
Amy menatap sebal Heinry.
"Kau bilang kan tidak siap menjadi Ayah? Padahal aku sudah bilang kalau tidak perlu memikirkan anak ini kan? Kau juga tidak perlu jadi Ayahnya karena aku akan menjadi Ibu dan juga Ayah untuk dia."
Heinry dengan tegas menatap Amy yang terlihat tidak main-main dengan ucapannya barusan. Mungkin memang sederhana sekali, hanya dari sper** nya saja sudah jadi anak, tidak perlu merasakan hamil, tidak perlu merasakan melahirkan, tapi tetap saja anak itu ada dari benihnya kan?
Heinry tidak bisa menerima itu, dia tidak bisa menerima penolakan dari Amy karena dia terlalu terbiasa menolak.
"Tidak bisa! Tidak ada urusannya dengan siap atau tidak siap menjadi Ayah, karena anak itu sudah ada di perut mu, maka aku juga harus mengambil andil supaya anak ku nanti tidak menuntut dan menuduhku yang tidak-tidak, dengan begitu aku juga tidak perlu menceritakan bagiamana sifat Ibunya yang cabul kan? Nah, coba saja kau pikirkan saat kau memiliki ana lagi dengan pria yang lain? Bagaiman kau akan menjelaskan tentang itu? Apa kau akan dengan terpaksa menceritakan kalau kau sudah memperkosa dua pria untuk mendapatkan dua anak? Sungguh, kalaupun sifat tidak tahu malu itu sudah melekat padamu, setidaknya jangan membiarkan anak mu mengetahui itu."
Amy menajamkan matanya.
"Kau sedang menghinaku?" Tanya Amy.
"Bukanya kau sudah hina?" Jawab Heinry dengan tatapan dingin.
"Wah, kau benar-benar berani mencela perempuan malang yang akan melahirkan anak mu?" Tanya Mau yang semakin terlihat berani.
"Tepatnya betina licik."
Amy benar-benar tidak tahan lagi dengan mulut Heinry, dia bangkit dari duduknya dan menatap Heinry dengan kesal. Tadinya dia ingin memaki Heinry, dada anjing, babi, singa, harimau, lalat, kelinci, panda, beruang, ayam, burung, dan semua isi kebun binatang tapi, dia tidak bisa melakukan semua itu karena rasa mual yang dia rasakan datang secara tiba-tiba.
Huek Huek!
"Kau kau, sedang kenapa?!" Tanya Heinry yang kebingungan.
Bersambung.