One Night Special

One Night Special
Akting Yang Menggelikan



Heinry mendengus kesal, kini dia hanya bisa menatap punggung Amy karena ternyata Amy justru sedang datang bulan.


Cih!


Jangan pernah menganggap Heinry begitu sempurna hingga tidak akan memiliki sikap kekanakan karena nyatanya, dia benar-benar menginginkan Amy, dia ingin melakukan apa yang harus di lakukan oleh pasangan suami dan istri.


Heinry menghela nafasnya, entah sudah seberapa kaki dia terus seperti itu membuat Amy benar-benar terganggu dan harus terbangun karena helaan nafas Heinry.


"Berhentilah menghela nafas, Heinry. Oksigen bukan cuma milikmu saja, kalau kau mengunakan oksigen untuk hal yang percuma seperti itu, oksigen di muka bumi ini akan cepat habis olehmu!" Kesal Amy.


CK!


Heinry benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa sih, Amy begtu santai saat tidur satu ranjang dengan Heinry? Padahal, Heinry sedang sangat berdebar. Amy begtu santai sekali, apakah karena dia memang tidak memiliki perasaan tertarik seperti yang di rasakan oleh Heinry? Kalau iya, sungguh malang nasib Heinry yang harus mencintai wanita berhati baja.


Besok paginya.


Kedua orang tua Heinry memperhatikan wajah Heinry yang terlihat kurang tidur, mereka pikir pasti semalam sudah terjadi sesuatu yang wow!


Melihat Amy yang bersemangat dalam menikmati sarapan mereka, berbanding terbalik sekali kalau dibandingkan dengan Heinry, Sepertinya Heinry kalah telak dari Amy.


Sepertinya aku harus menghubungi seseorang untuk membantu Heinry berolah raga setiap hati, jadi staminanya tidak akan kalah dengan Amy, batin Ibunya Heinry.


Setelah sarapan selesai, Amy bersiap untuk mengantarkan Jeje sekolah sendiri dan tidak ingin meminta bantuan sopir karena di dalam rumah itu dia pasti hanya akan banyak diam dan tidak melakukan apapun.


Tapi baru saja bersiap untuk keluar dari ruang tengah, langkah Amy sudah di buat berhenti saat ada seorang pelayan rumah Heinry yang mengatakan jika, Ibunya Amy datang untuk berkunjung.


Heinry yang juga ada di sana sebentar menatap Amy yang terdiam tanpa ekspresi. Heinry memutuskan untuk tetap dirumah dan menemani Amy di sana. Entahlah, dia merasa Amy seperti tidak ingin menemui Ibunya, tapi dia juga tidak bisa menghindari Ibunya.


"Jeje, berangkat dengan kakek saja ya? Kakek kan satu arah dengan Kakek?" Ucap Ayahnya Heinry yang baru saja akan keluar dan berangkat ke kantornya.


Jeje mengangguk dengan cepat. Sebenarnya, dia masih ingin tinggal disana karena dia bisa melihat wajah Ibunya yang terlihat sedih dan tertekan. Tapi, Jeje juga cukup tanggap apa bila dia tetap berada disana maka, Ibunya hanya akan terus menahan diri dan tidak bisa mengatakan apa yang ingin di katakan untuk menjaga perasaan Jeje.


Jeje menoleh seraya melangkahkan kakinya, menatap Heinry seolah memohon kepada Heinry untuk menjaga Ibunya dengan baik.


"Siang nanti, Ibu yang jemput, oke?" Ucap Heinry seraya melambaikan tangan Kepada Jeje.


Beberapa saat kemudian.


"Ibu benar-benar merindukan mu, nak. Padahal kita sudah lama tidak bertemu, tapi kau masih saja terlihat tidak bertambah umur. Kau masih seperti anak remaja yang imut!" Ucap Ibunya Amy terus menatap wajah Amy, sesekali dia menatap Heinry seolah ingin menunjukkan benar kepada Heinry bahwa, dia juga adalah Ibu yang baik dan perduli kepada Amy.


Amy memaksakan senyumnya, merindukan? Setelah puluhan tahun dia hidup, ini adalah kali pertama Ibunya mengatakan kalimat seolah dia amat menyayangi Amy.


Entah apa tujuannya datang, dan entah dari mana dia tahu alamat rumah Heinry dan siapa yang memberitahu tentang pernikahannya dengan Heinry. Jelaslah, yang pasi Ibunya datang dengan wajah palsunya pasti memiliki maksud tersembunyi.


"Kau adalah suaminya Amy ya? Senang bertemu denganmu. Sebenarnya aku agak kecewa karena kalian menikah tanpa memberitahukan padaku, tapi setelah di pikirkan lagi, adakan kalian bahagia, maka seorang Ibu juga pasti akan bahagia saat anaknya bahagia kan?" Ucapnya lagi, lalu tersenyum begitu manis dan hangat membuat Amy tersenyum kelu.


Heinry memaksakan senyumnya, dia mengangguk meski dia sangat ogah melakukannya. Dia dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah Ibu mertuanya yang begitu palsu dan kepura-puraannya dalam bersikap kepada Amy. Melihat Amy yang biasanya memiliki mulut seperti petasan tujuh belasan itu terdiam tak berkata apapun, Heinry tersadar benar bahwa, melihat wajah Ibunya, Amy pasti sedang merasakan luka lama yang kembali berdarah.


"Ngomong-ngomong, tadi Ibu tidak sengaja melihat anakmu, Amy. Dia sangat cantik, sangat mirip dengan suamimu," Ucap lagi Ibunya Amy membuat Amy menghela nafas tak tahu harus bagaimana menangapi Ibunya yang sejak tadi terus berbicara.


"Nyonya, eh, maksud ku, Ibu mertua. Selama saya mengenal Amy, ini adalah kali pertama kita bertemu ya? Anda pasti orang yang sangat sibuk sekali." Ujar Heinry lalu tersenyum, namun anehnya senyum Heinry itu membuat Ibunya Amy justru merasa seperti begitu terbebani.


Ibunya Heinry memaksakan senyumnya, tentu saja dia tahu kalau pertanyaan seperti ini akan di ajukan cepat atau lambat jadi, dia juga sudah menyiapkan jawabnya dengan baik.


"Sebenarnya, aku meninggalkan Amy degan Neneknya saat aku dan Ayahnya Amy bercerai. Karena aku menikah lagi dengan seseorang, aku tidak bisa membawa Amy serta. Keadaan ekonomi menjadi masalah yang cukup pelik dan serius, makanya pernikahan kedua hanya bertahan tiga tahun saja. Aku kembali bercerai, lalu menikah lagi dengan suami yang sekarang. Lagi-lagi, aku benar-benar tidak berdaya. Suamiku memiliki banyak anak dengan istri sebelumnya, aku juga membawa adiknya Amy yang lahir dari pernikahan kedua. Keadaan ekonomi juga kurang baik sehingga terpaksa membiarkan Amy terus bersama neneknya." Ibunya Amy memperlihatkan wajah sedih, seolah dia begitu menderita dan pilu dan tidak berdaya dengan semua yang terjadi ini.


Amy mencengkram pinggiran sofa dan merutuk Ibunya di dalam hati.


"Anda membawa satu anak anda dari pernikahan kedua, lalu mengurus anak dari suami anda dengan mantan istrinya? Anda, benar-benar sanita yang luar biasa ya Ibu mertua? Padahal anda sudah gagal dua kali dalam pernikahan, tapi pada akhirnya anda kembali memilih suami asal-asalan." Ucap Heinry yang sudah tidak tahan lagi melihat wajah palsu Ibunya Amy. Padahal dia masih ingin menahannya, tapi mulutnya terlalu gatal sehingga keluarlah kalimat yang menyakiti itu.


Ibunya Amy tersenyum pilu, dia membuah nafas dengan ekspresi wajahnya yang begitu hebat dalam menunjukan kepedihan.


"Benar, aku memang begitu mudah dibutakan oleh cinta. Aku sudah lama ingin mendatangi Amy dan mencoba untuk kembali dekat, tapi selalu gagal karena perasaan bersalah yang luar biasa dihatiku,"


Amy membuang nafas kasarnya laku berkata,"Sudah cukup, Ibu. Ibu bukan aktris jadi berhentilah berakting karena itu menggelikan!"