One Night Special

One Night Special
Dimana Kau Berada, Keberuntungan?



Jeje kembali kerumah bersama dengan Amy setelah selsai makan malam tadi.


Jeje benar-benar tersenyum lebar karena pada akhirnya Amy dibuat tidak berkutik oleh Neneknya. Masalah pakai jelas saja dia tidak akan menggunakan pakaian lebih terbuka dari yang Ibunya gunakan malam itu, bahan saat makan malam berlangsung Ibunya terus menerus bersin, itu sudah cukup menandakan kalau dia tidak tahan dingin kan?


Alhasi, Amy sekarang menjadi pulang dengan keadaan demam dan Heinry memberikan jaket untuk menghangatkan tubuhnya.


Hatchih! Hatchih!


Amy tersu menggosok hidungnya yang terus mengeluarkan cairan bening, sungguh ini benar-benar di luar rencana karena dia justru flu dihadapan keluarga Heinry.


"Dasar menyebalkan!" Kesal Amy lalu menghempaskan jaket yang dia gunakan untuk ke Semarang arah tidak perduli jaket siapa itu, dan seberapa mahal harganya.


Siapa sih yang tidak kesal karena sudah seberusaha mungkin untuk totalitas dalam apa yang dilakukan tapi nyatanya masalah gatal total.


Dia menghabiskan satu jam lebih untuk menempelkan makeup setebal dinding ke wajahnya, dia sudah repot-repot memberikan lipstik merah merona mengalahkan merahnya darah segar tapi masih tidak saja gagal.


Sialan!


Baju sper seksi yang dia gunakan juga menjadi senjata makan tuan!


Padahal dia ingin terlihat menjijikan agar keluarga Heinry tidak tertarik padanya sama sekali, tapi yang ada keluarga Heinry justru terlihat memperhatikan dirinya sekali sampai Ibunya Heinry sibuk meminta air hangat dan meminta penghangat ruangan dinyalakan untuk beberapa saat.


Duh!


Jelas saja dia gagal malam ini, tapi kalau memang ada kesempatan lain maka tidak akan dia sia-siakan kesempatan itu supaya keluarga Heinry membencinya.


"Ibu, malam ini sangat berjalan lancar ya?" Ledek Jeje membuat Amy merengut kesal tapi tidak bisa melakukan apapun karena Jeje adalah anak tersayangnya.


Dasar! Bagaimana bisa dia tega sekali dengan Ibu kandungnya!, Batin Amy.


Di sisi lain.


"Jadi dia sengaja berpenampilan seperti itu?" Tua Ayahnya Heinry saat Heinry menjelaskan bagaimana bisa Amy mengenakan pakaian dan berpenampilan aneh sekali tadi.


"Sudah ku duga! Mana mungkin ada wanita yang sengaja berdandan seperti siluman badut," Timpal Ibunya Heinry.


"Aku sudah pernah bilang kan, dia adalah gadis yang hanya menginginkan anak, tapi tidak tertarik pada hubungan pernikahan."


Ayahnya Heinry menghela nafas, dia menggeleng keheranan jika memang benar apa yang di katakan oleh Heinry itu benar, artinya Amy pasti memilki trauma yang sangat mendalam kan?


"Kau sudah tahu bagaimana riwayat hidupnya?" Tanya Ibunya Heinry.


Heinry menghela nafasnya, tentu saja dia tahu karena dia sudah menyelidiki dan mendengar beberapa kata yang sempat Jhon katakan mengenai keluarganya.


"Iya, sudah."


Orang tua Heinry hanya bisa kompak membuang nafasnya.


Kalau Heinry sudah irit bicara seperti itu tandanya Heinry sudah tidak mood dan sudah tidak akan konek lagi kalau di ajak bicara serius.


"Besok pagi Ibu akan ajak dia jalan deh, Ayah dan Jeje kan mau datang ke sekolah yang rencananya akan kita daftarkan Jeje disana."


"Oke!" Ucap Ayahnya Heinry.


Besok paginya.


Ibunya Heinry tersenyum lebar ketika Amy membuka pintu rumahnya.


Buset!


Kenapa Ibunya Heinry datang pagi-pagi Sekali seperti ini?! Tanya Amy di dalam hati.


Amy memaksakan senyumnya, sungguh dia ingin mengusir Ibunya Heinry tapi dia bingung bagaimana dia akan membuat alasan.


"Selama pagi, Amy?" Sapa Ibunya Heinry dengan ramah.


"Selamat pagi, Nyonya." Amy kembali memaksakan senyumnya.


"Kau punya waktu tiga puluh menit dari sekarang!" Ucapnya dengan mimik wajah yang terlihat senang.


Hah?


Amy terdiam kebingungan sendiri, tiga puluh menit apa? Waktu apa sih?


Amy mengeryitkan dahinya, kenapa ini seperti sangat tidak biasa?


Bagaimana kalau mayatnya mereka sengaja ingin memisahkan Amy dengan Jeje? Cara mereka begitu kentara kan?


"Aduh, duh! Berhentilah berpikir macam-macam! Kami tidak akan merebut Jeje kok, kau kan pegang surat perjanjian antara kau dan Juga Heinry?"


Amy menghela nafasnya, jadi sebenarnya apa maksud Ibunya Heinry yang datang seolah ingin dekat dengannya!


Heh?


Jangan buang dia sedang mencoba untuk mendekatkan diri dengan Amy dan masih belum ingin menyerah?


Amy tersenyum, bagus! Ini adalah waktunya membuat Ibunya Heinry tidak menyukai dirinya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan bersiap dulu ya, Nyonya?"


Ibunya Heinry dengan segera mengangguk setuju.


Ternyata dia yang tidak menggunakan make up sama sekali justru terlihat manis, batin Ibunya Heinry.


Beberapa saat kemudian.


"Bagaimana penampilan ku, Nyonya?" Amy tersenyum lebar dengan tampilan yang lebih baik dari sebelumnya.


Pakaian yang digunakan cukup sopan, hanya saja lipstik warna super terang, shadow, dan perona pipinya terlalu terang.


Hem, mungkin dia ingin membuatku kesal, batin Ibunya Heinry.


"Wah! Aku benar-benar tidak menyangka kalau make up yang terangnya melebihi sinar matahari ternyata bagus juga ya? Sepertinya aku akan mencobanya deh sepulang dari sini." Ujar Ibunya Heinry yang sukses membuat senyum di bibir Amy menghilang.


"Jangan terlalu lama membuang waktu, yuk kita berangkat sekarang!" Ajak Ibunya Heinry seraya meraih lengan Amy dan membawanya pergi menuju mobil miliknya yang sudah terparkir di halaman rumah.


Jhon menggelengkan kepalanya keheranan. Dia yang sudah akan bersiap untuk bekerja hanya bisa membatin di dalam hati, sepertinya Amy benar-benar tidak beruntung sekali.


Di dalam perjalanan menuju butik, Ibunya Heinry benar-benar bercerita banyak hal terutama tentang cerita pernikahannya bersama dengan Ayahnya Heinry yang dia gambarkan seolah mereka padangan yang paling bahagia. Sungguh itu membuat Amy ingin tertawa karena nyatanya tidak ada hubungan suami istri yang semulus itu.


Sesampainya di butik.


Ibunya Heinry menenteng tas miliknya begitu dia keluar dari mobil, di susul oleh Amy.


Bruk!


"Ah!" Pekik Ibunya Heinry saat seorang pemuda dengan pakaian yang begitu sopan, mimik wajahnya terlihat baik dan polos tak sengaja menabrak Ibunya Heinry.


"Maafkan saya, Nyonya." Ucap Pria itu dengan sopan, dia membungkuk menunjukkan benar kalau dia adalah anak baik dan tidak sengaja melakukan kesalahan.


"Tidak apa-apa, sungguh!" Ucap Ibunya Heinry.


Amy tersenyum, ini dia waktunya!


Bim syalla bim,! Jadilah Amy si jahat dan terkutuk!


"Pakailah matamu dengan benar dasar bodoh!" Amy mendorong pundak pria itu hingga dia mundur beberapa kali dengan mimik yang terlihat takut.


Ibunya Heinry terkejut memang, dia mulai tidak menyukai sikap Amy yang begitu barbar jadi dia mencoba untuk menghentikannya.


"Sudahlah Amy, tidak apa-apa kok. Dia tidak sengaja, kau pula aku juga tidak terluka."


"Ah, pria bodoh sepeti ini aku paling suka menindasnya!" Ucap Amy lalu lebih kuat mendorong pria itu hingga pria itu terjatuh, dan di saat itulah keberuntungan tidak berpihak kepada Amy.


"Itu, itu dompetku!" Ucap Ibunya Heinry saat dompetnya terjatuh didekat pria itu.


"Copet!" Teriak Ibunya Heinry membuat semua orang yang ada disana berusaha mendapatkan pria itu.


Pria itu bergegas bangkit, di berlari secepat mungkin hingga tak lagi menghiraukan dompet yang dia copet.


"Oh, Amy! Kau benar-benar gadis yang cerdik! Pantas saja Jeje sangat pintar, jadi dia juga mirip dengan mu! aku benar-benar semakin ingin menjadikanmu menantuku!"


Amy terdiam, ternganga bingung sendiri.