
"Apa tidak cukup sejak pagi kita berjam-jam bersama, dan malam kau masih muncul disini?" Tanya Amy kesal kepada seseorang yang tidak lain adalah Heinry.
Heinry tersenyum,"Mau bagiamana lagi? Ada hal yang harus aku bicarakan padamu, dan juga Anne."
Amy menghela nafasnya, melihat wajah Heinry yang begitu serius Mau jadi tidak bisa berkata-kata. Sudahlah! Lebih baik biarkan saja dia masuk dan mengatakan apa yang memang ingin dia katakan.
"Karena aku juga ingin berbicara kepada Jeje, tolong panggil dia juga ya?"Pinta Heinry kepada Amy.
Tidak menjawab, tapi Amy segera berjalan masuk kedalam kamar dan memanggil Jeje yang kala itu tengah mewarnai karakter favoritnya.
"Sayang, Ayahmu datang tuh! Katanya ada yang ingin dibicarakan dengan kita,"Ucap Amy kepada Jeje.
Jeje terlihat begitu bersemangat, dia turun dari kursi belajarnya dan berlari keluar membuat Amy benar-benar berdecih kesal.
Padahal dulu Jeje hanya akan berekspresi seperti itu saat Amy pulang, tapi ternyata Amy kalah telak oleh Heinry.
Melihat Jeje datang segera Heinry bangkit dan melambaikan tangan agar anaknya mendekat, Jeje mengambil posisi duduk di sebelah Ayahnya dan minim wajahnya terlihat begitu datar.
Amy tercengang melihat ekspresi Jeje yang begitu tidak konsisten sekali. Bukankah saat di kamar dia terlihat begitu bahagia dan semangat? Sekarang dia terlihat dingin apakah karena tidak ingin menunjukkan wajah aslinya? Sungguh sangat membagongkan sekali!
Beberapa saat kemudian.
"Begini, aku di jodohkan dengan seorang wanita, rencananya kalau kami sama-sama setuju maka kami akan menikah di bulan depan pertengahan bulan,"Ucap Heinry laku mengeluarkan selembar photo yang mana di belakang photo itu ada biodata dari si pemilik Photo tersebut.
Amy hanya menghela nafas karena dia tidak tertarik ingin mengetahui lebih banyak dari wanita yang akan menjadi istrinya Heinry itu.
Jeje, dia benar-benar terkejut tapi dia terlihat tidak begitu perduli namun di dalam hati dia sedang menyusun rencana untuk menghancurkan Ayahnya dan juga wanita itu. Tapi, tangan Heinry mencolek lengan Jeje membuatnya menoleh menatap Ayahnya. Melihat mata Ayahnya mencuri padangan ke arah Ibunya yang justru sibuk dengan kebiasaan buruk menggigiti kuku saat dia bosan dan tidak tertarik untuk membicarakan sesuatu.
Bantu,Ayah!
Itulah makna yang tersirat dari ekspresi Heinry, dan untunglah Jeje paham sekarang.
Untung saja kau tidak berniat seperti itu, Ayah. Karena kalau iya, aku sendiri tidak akan segan-segan memilih siapa yang akan menjadi Ayahku nanti!, Batin Jeje.
Ini adalah saatnya dia berakting!
Jeje kembali melihat Ayahnya yang menatapnya dengan tatapan memohon, lalu menatap Ibunya yang masih saja mengigit kukunya.
Jeje menghela nafasnya.
"Jadi Ayah akan menikah?" Tanya Jeje lalu memperlihatkan dengan jelas wajah sedihnya hingga bibirnya menjebik membuat Amy menatap Amy dengan tatapan aneh dan keheranan.
Apa-apaan ekspresi itu? Sejak kapan putriku memiliki mimik wajah yang begitu menggelikan?! Tanya Amy di dalam hati.
"Aku tidak mau Ayah menikah dengan wanita itu! Aku tidak ingin punya Ibu tiri!" Protes Jeje lagi-lagi membuat Amy kegeraman sampai menggelengkan kepalanya.
Heinry kembali menghela nafas, wajahnya sangat terlihat tak bersemangat sampai-sampai membuat Amy jadi menguap dan ingin tidur.
Sungguh dia tidak perduli dengan pernikahan itu, dia justru jadi kesal melihat ekspresi aneh dua orang yang super kau itu.
"Ayah, padahal dihari pertama aku sekolah tadi ada satu temanku yang menceritakan bahwa anak tetangganya mati dipukuli oleh Ibu tiri. Katanya anak itu di cekoki racun, ditendang, di pukul, di rendam di dalam bak mandi, mayatnya juga di masukkan kedalam lemari pendingin sembari memikirkan apa yang ingin di lakukan kepada mayat anak itu. Entah ingin dia masak atau bagaimana tapi aku tidak ingin memiliki Ibu tiri!" Ucap Jeje dengan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat kacau, dia akan begitu hebat dengan akting menahan tangis sampai-sampai Heinry lupa apa yang harus di katakan selanjutnya.
"Kalau memang dunia orang dewasa begitu rumit, maka aku akan memilih untuk tidak menikah seperti Ibu! Hanya tinggal memiliki anak, tidak usah menikah dan memiliki suami sepertinya itu jauh lebih baik!" Ucap Jeje yang langsung membuat Heinry bingung bagiamana dia akan menanggapi hal itu.
Amy juga terkejut, di benar-benar tidak setuju dengan apa yang di katakan oleh putrinya barusan.
" Berhentilah mengatakan itu, Jeje! Ibu tidak bilang kalau pernikahan itu buruk kan? Lagi pula Ibu tiri jama sekarang juga sudah banyak yang baik hati kan? Jangan terlalu banyak berpikir dan santailah, usiamu masih amat kecil kalau harus membahas soal pernikahan," Ujar Amy mencoba menenangkan.
Bagaimanapun bagi seorang Ibu jelas dia ingin anaknya bahagia dan menemukan pria yang akan dia cintai dan hidup bersama selamanya. Dia tidak ingin anaknya merasakan trauma yang sama dengannya maka itulah kepada dia tidak ingin menikah, semua itu hanya untuk Jeje seorang saja.
"Begini nak, tolong jangan katakan kau ingin menjadi seperti Ibu oke? Itu benar-benar sangat memalukan," Ucap Heinry dengan sengaja memancing emosi Amy.
"Pokoknya aku tidak mau kalau Ayah menikah dengan wanita lain, aku tidak ingin memiliki Ibu tiri!" Ucap Jeje yang begitu serius membuat Heinry benar-benar bangga memiliki anak yang selalu berpihak padanya.
"Tapi mau bagaimana lagi? Ayah dituntut untuk menikah, Ayah tidak memiliki pilihan lagi sayang...." Ah, akhirnya Heinry mengeluarkan jurusnya.
Amy benar-benar kebingungan sendiri sekarang, padahal dia tidak ada hubungannya dengan pernikahan Heinry, tapi kenapa dia pusing sekali seolah dia adalah Ibunya Heinry yang sedang memikirkan segala kebutuhan dan persiapan untuk pernikahan anaknya!
"Jeje, tenanglah, sayang. Ayahmu itu kan mau menikahi manusia bukan menikahi singa hutan jadi ketakutan mu itu berlebihan deh..." Ujar Amy yang hanya ingin anaknya tenang dan membiarkan saja Ayahnya menikah.
"Hua......." Jeje menangis begitu kuat membuat Amy justru terbengong sendiri.
Jhon yang sejak tadi sedang olah raga dan Nenek mereka juga sampai datang kesana untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada apa ini?" Tanya Jhon dan Nenek.
"Heinry mau menikah, Jeje yang menangis tidak setuju." Ucap Amy.
Jhon menghela nafasnya, dia menatap tajam Heinry dan seketika itu Heinry membuang tatapannya.
"Dasar rubah jantan!" Gumam Jhon dengan tatapan sebal kepada Heinry.
"Pokoknya kalau Ayah mau menikah, harus menikah dengan Ibu atau kalau tidak, aku lebih baik tinggal bersama nenek selamanya."
Bersambung.