
Amy memijat pelipisnya karena sakit kepala yang dia rasakan.
Pembicaraan antara dia dan juga Heinry benar-benar tidak bisa di terima oleh akalnya. Dia bingung bagaimana harus mengahadapi Heinry yang mulai menggunakan trik seolah dia ingin menjalin hubungan demi anak mereka.
Tapi masalahnya adalah, Amy tidak mempercayai cinta yang abadi, dia tidak mempercayai orang yang jatuh cinta akan selamanya seperti itu. Dia tidak percaya dengan pernikahan yang akan menjadi selamanya, dia tidak percaya dengan sosok orang tua yang katanya akan melindungi anaknya, bahkan dia juga tidak mempercayai dirinya sendiri makanya dia bahkan hampir tak bisa tenang.
"Jangan memaksakan kehendak, kalau memang kau merasa berat artinya yang tidak perlu menerima beban itu kan? Heinry hanya ingin dekat dengan anaknya, menjadi Ayah yang baik karena dia telah kehilangan enam tahun waktunya."Ucap Jhon karena dia sejak tadi memperhatikan Amy yang terlihat tidak tenang setelah berbicara dengan Heinry.
"Kakak tahu kan bagaimana Ayah kita? Ibuku juga melakukan hal yang sama tidak perduli bagiamana aku menjalani hidupku saat itu, mereka bahkan tidak pernah bertanya bagaimana kabar dan persaanku." Amy menarik nafasnya dalam-dalam, menghembuskan perlahan menatap taman depan rumah dan merasai bagaimana angin malam berhembus mengenai wajahnya.
"Ayah sangat baik saat akan menikahi istri ketiganya, dia bahkan menyuapi makanan padahal sebelumnya dia tidak pernah melakukan itu. Aku pikir aku akan bahagia bersama Ayah yang sangat perhatian padaku, dia tidak marah saat aku mengotori mobilnya, padahal sebelumnya dia akan murka sekali bukan? Tapi begitu dia berhasil menikahi istri ketiganya, aku di buang begitu saja oleh Ayah. Tenyata aku hanya di manfaatkan oleh Ayah untuk membuat istri ketiganya terkesan bahwa dia adalah Ayah yang penyayang. Sial!, aku bahkan dengan bodohnya hanya diam dan menangis diam-diam di dalam kamar mandi." Amy berucap dengan sorot matanya yang terlihat begitu pilu membuat Jhon tak mampu berkata-kata.
Jhon sendiri juga menjadi korban keegoisan Ayah mereka. Berbeda dengan Ibunya Amy yang adalah istri kedua, Ibunya Jhon adalah istri pertama Ayahnya yang di tinggalkan karena Ibunya Jhon dianggap kuno dan hanya tahu memasak dan meminta uang saja. Dua tahun setelah di ceraikan oleh Ayahnya, Ibunya Jhon meninggal sehingga Jhon tinggal bersama nenek dari Ayahnya karena kedua orang tua Ibunya sudah meninggal, sementara Ibunya Jhon adalah anak tunggal. Jhon bahkan harus menerima pukulan dan makian dari Ayahnya saat Ayahnya kalah tender atau apapun yang tidak lancar dalam bisnis sehingga Ayahnya melabelkan Jhon Sebagai anak pembawa sial.
Amy dan Jhon menghela nafas berbarengan.
"Kau pasti tahu bagaimana rasanya di cubit oleh pasangan orang tua kita kan? Sebelumnya aku benar-benar tidak ingin memikirkan hal ini lagi dan menganggap itu hanyalah masa lalu. Tapi semakin Jeje besar aku semakin takut, aku takut tanpa sadar aku akan menyakitinya, aku takut jika ada orang lain yang menyakitinya sehingga setiap dia pulang aku selalu memeriksa tubuhnya dengan detail. Aku malu mengakuinya tapi aku memang benar adalah seorang pengecut. Aku tidak ingin anakku bersama dengan Heinry karena ku bahkan tidak bisa mempercayai orang lain. Aku dan kekhawatiran yang besarnya melebihi dunia ini tidak pernah memiliki keberanian sedikitpun."
Jhon mengangguk paham, tentu saja dia paham benar bagaimana perasaan Amy. Selama ini yang Jhon tahu Ibunya Amy juga sudah dua kali menikah sejak bercerai dengan Ayahnya. Dia tidak pernah memiliki waktu untuk mengurus Amy karena dia memiliki anak tiri dan juga melahirkan anaknya lagi. Begitu terus sehingga lama kelamaan Amy harus memupuk harapannya agar bisa merasakan bagaimana indahnya kasih sayang orang tuanya.
"Harus kuakui, Ayah kita memang brengsek. Tapi aku tidak bisa mengatakan hal yang sama terhadap Ibuku berbeda denganmu. Dulu ada orang yang mengatakan bahwa tidak ada seorang Ayah atau Ibu kandung yang akan melupakan atau tidak perduli dengan anaknya. Tapi melihat kita berdua seharusnya istilah sialan itu terbantahkan bukan? Orang yang mengatakan itu tidak pernah menonton berita bagiamana ada Ayah dan Ibu kandung yang membunuh anak, membuang anak, menjual anak, bahkan memukuli anak dengan jangka panjang sampai anaknya cacat." Jhon membuang nafas kasarnya.
Amy tersenyum kelu.
Mungkin kebanyakan orang yang mendengar apa yang dia katakan akan mengatakan agar Amy perlahan keluar dari ketakutan, perasaan khawatir dan trauma itu agar bisa hidup bahagia. Kenapa? Bahkan dia juga cukup bahagia melebihi apapun kebahagiaan sebelumnya dengan Jeje saja.
Orang lain akan dengan mudah mengatakan bahwa, tidak semua laki-laki seperti Ayahnya dan tidak semua seperti Ibunya. Tapi begitu Amy bertanya kepada Ayah dan Ibunya kenapa mereka bercerai dan memiliki untuk menikah lagi jawaban mereka hanyalah, cinta mereka memudar, tujuan tidak lagi sama, sifat yang berubah sehingga mereka tidak bisa saling mengerti lagi.
Bahkan menikah seperti ajang uji coba, memilki anak juga di anggap sebagai peristiwa yang tidak memilki arti.
Amy terus berpikir seiring matanya menyaksikan bagiamana Ayah dan Ibunya menikah, bercerai, menikah, bercerai, hingga otaknya mulai berpikir jika itu adalah hal yang sangat juga adalah hal yang menakutkan.
Cinta, bahkan jika cinta memudar haruskah mereka bercerai dan menemukan cinta baru dan ketika cinta itu memudar mereka akan kembali bercerai begitu seterusnya?
Tujuan tidak lagi sama? Bukankah tujuan untuk menikah adalah mempertahankan hubungan itu, menguatkan satu sama lain dan berjuang terus agar tetap menjadi satu tujuan?
Sifat yang berubah? Bahkan hati manusia bisa berubah lima detik setelah dia merasakan hal lain?
Rumah tangga yang rumit, anak dan keluarga yang menjadi korban, tumbal hanya karena cinta memudar, bukankah mereka juga harus sadar jika yang memudar bukanlah cinta yang mereka miliki melainkan perasaan bersyukur dan memaklumi karena mereka mulai bosan?
Entahlah, sebagian orang mungkin tidak akan paham, tapi bagi Amy yang menjalani benar masa itu masih menganggap pernikahan adalah hal yang menakutkan.
Memilki anak adalah hal yang paling indah, dia juga ingin membuktikan kepada keluarga yang telah menyia-nyiakan dirinya bahwa membahagiakan seorang anak akan menunjukkan kualitas diri sebagai orang tua.
"Sudahlah, jangan memikirkan ini lagi oke? Sekarang kau punya aku, punya nenek, yang terpenting kau memiliki Jeje kan? Kami akan bersama denganmu selama kami belum di panggul Tuhan." Jhon tersenyum seraya merangkul pundak Amy membuat Amy berdecih sebal.
"Jadi kapan kau akan di panggil Tuhan?" Tanya Amy.
Jhon menaikan satu sisi bibirnya.
"Tenang saja, Tuhan membenciku jadi aku akan mati di urutan terakhir."
Bersambung.