
Setelah selesai mengobrol, semua keluarga kini telah berada di ruang keluarga bersama untuk makan dan lagi-lagi mengobrol santai.
Heinry dan Amy kini duduk bersebelahan dan hanya banyak mendengarkan saja apa yang sedang di bicarakan oleh anggota keluarga lainnya.
Heinry menghela nafas, duh, bosan sekali! Rasanya ingin cepat istirahat, tidur sembari memeluk Amy! Hihi! Membayangkan itu saja, Heinry bahkan sudah berdebar tidak jelas.
Amy melirik, dia memperhatikan Heinry yang tersenyum dengan aneh sembari membatin. Kenapa setelah ingatan Heinry pulih, Heinry seperti orang gila ya? Di saat semua orang sedang mengobrol, dia malah seperti sedang berfantasi sendiri. Duh! Ada bagusnya menjauh dulu dari Heinry, takutnya Heinry terkena virus gila yang dapat menular padanya.
"Ngomong-ngomong, setelah ini kalian mau bulan madu kemana?" Tanya Jhon yang akan menyiapkan segalanya nanti.
Heinry tersentak, ah, dia sampai lupa memikirkan rencana bulan madu karena di kepalanya saat ini benar-benar hanya memikirkan bagiamana caranya bisa membuat adik untuk Jeje. Ah, tapi hanya proses pembuatannya yang paling dia inginkan, kalau bisa jadi anaknya ya nanti saja. Bolehlah lima tahun atau enam tahun dari sekarang, batin Heinry.
Amy menghela nafasnya, bulan madu apanya? Bagi Amy, sepertinya di berikan waktu untuk sendiri dan Bangka tidur dari pagi ke pagi jauh lebih indah dibanding bulan madu. Jadi, bisakah di memilih pilihannya sendiri saja?
"Aku tiba-tiba saja punya tujuan sih, nanti kita bicarakan lagi," Ujar Heinry yang mulai bersemangat membuat kedua orag tua Heinry benar-benar tercengang karena tidak menyangka jika putranya akan menjadi sangat aneh. Sebelumnya, dia begitu kentara menyembunyikan semua emosinya, juga jarang sekali bicara. Tapi, selama ada Amy dan Jeje, Heinry benar-benar berubah dan lebih terlihat normal di mata kedua orang tuanya.
"Tidak bisa! Jeje baru saja mulai sekolah, kalau dia liburan beberapa Minggu, dia akan tertinggal pelajarannya nanti." Ucap Amy yang masih tidak ingin pergi bulan madu.
Ibunya Heinry tersenyum, menatap Amy dengan sorot matanya yang begitu aneh membuat Amy merinding sendiri melihatnya.
"Amy, jangan lupa ya sayang? Kau ini bulan madu loh, bukan untuk berlibur. Jeje akan tinggal bersama kami sua disini, yang akan pergi adalah, kau juga Heinry!" Ibunya Heinry kembali tersenyum setelah mengatakan itu.
Hah?
Sebenarnya, seberapa penting sih yang namanya bulan madu? Padahal cuma liburan saja, wik wik di dalam kamar seperti para pasangan menikah yang sedang hangat-hangatnya kan?
Setelah pembicaraan itu, semua orang akhirnya memutuskan untuk kembali ke tempat mereka masing-masing. Nenek pulang bersama dengan Jhon, orang tua Heinry masuk ke dalam kamar, sedangkan Jeje juga masuk ke kamarnya.
Amy menghela nafasnya, sekarang dia sudah ada di kamar Heinry.
Berdebar karena ini bisa disebut malam pertama saat mereka sudah menjadi pengantin?
Oh, sungguh tidak! Amy sama sekali tidak merasakan apapun kecuali, sedih! Kenapa? Karena saat dia mengikuti Jeje tadi, Jeje justru mengatakan dengan tegas kalau dia tidak ingin di ganggu, dia ingin tidur sendiri mulai dari hari itu.
Duh! Masalahnya, Amy yang sangat tidak biasa kalau tidur tanpa memeluk Jeje.
"Kau mau mandi sekarang?" Tanya Heinry setelah dia keluar dari kamar mandi dan mendapati Amy tengah melamun entah apa yang sedang dia pikirkan.
Amy menatap sebentar Heinry, oh ya ampun! Heinry benar-benar hampir membuat air liurnya menetes dengan tubuh sixpack nya. Ah menelan salivanya, Hem! Sepertinya enak juga kalau bisa mendapatkan photo dada Heinry dan memamerkannya di media sosial kan? Setidaknya dia bisa memperlihatkan otot pria yang baru saja menjadi suaminya. Heh! Pasti akan banyak yang menyukai photo Heinry kan? Tanpa sadar, Amy tersenyum membuat Heinry juga tersenyum tipis menatap Amy.
Lain apa yang di pikirkan Amy, maka lain pula apa yang di pikirkan oleh Heinry. Pria itu sedang membatin di dalam hati, Amy pasti menyukai bentuk tubuhnya bukan? Memang tidak heran kalau wanita akan menyukai bentuk tubuh seperti itu. Amy pasti sedang membayangkan bagaimana caranya saat menyentuh tubuhnya yang sixpack itu kan? Amy pasti juga sudah membayangkan bagaimana keras tapi lembut tubuh Heinry sehingga nyaman untuk berada di dalam pelukannya.
Sungguh si narsis dan si bodoh yang sangat serasi!
Amy menghela nafas sebalnya, tuh kan! Ini adalah salah satu alasan kenapa dia tidak ingin menikah sebelumnya, dia tidak ingin ada orang yang mengatur dirinya seperti ini!
Kenapa memangnya kalau mandi, dan tidak mandi? Badan kan badan miliknya, bau juga badannya yang bau kan? Ah, kesal sekali!
Amy bangkit dari duduknya, berjalan menuju kamar mandi dengan wajah kesal. Eh, tapi tunggu dulu! Amy berbalik, menatap Heinry dengan tatapan bertanya.
"Kalau aku mandi, bagaimana nanti aku ganti baju? Kau tidak mungkin akan membiarkan aku tidur tidak pakai baju kan?" Tanya Amy dengan tatapan menyelidik.
Heinry tersenyum,"Tentu saja tidak, bajumu sudah disiapkan kok di lemari ku."
Amy menghela nafas lega, ternyata memiliki suami kaya ada juga manfaatnya ya?
Beberapa saat kemudian.
"Apa-apaan ini?" Amy ternganga tidak percaya sembari menatap semua isi baju yang ada di dalam lemari Heinry.
Heinry berjalan mendekati Amy yang berdiri di depan kemari gak bergeming.
"Semua baju itu di siapkan oleh Ibuku, dia cukup tahu model jadi aku rasa," Heinry tidak bisa melanjutkan ucapannya karena, matanya mendapati semua isi lemari pakaian untuk Amy adalah lingerie dengan berbagai macam model.
Heinry menelan salivanya sendiri, duh! kenapa juga sih Ibunya berlebihan sekali? Tapi, membayangkan Amy menggunakan pakaian seperti itu dia jadi berdebar sendiri.
"Bukanya lebih baik kalau aku tidak pakai baju saja?" Gumam Amy masih dengan tatapan tak percaya.
Heinry berdehem untuk mengusir kecanggungan yang dia rasakan.
"Yah, kalau bisa menang tidak usah pakai baju kan?"
Amy menoleh, menatap Heinry dengan tatapan kesal.
"Kau melihatku seperti melihat monyet yang sedang menggigit pisang begtu, apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Amy.
Heinry tersenyum, dia membatin dan geli sendiri dengan apa yang sedang dia pikirkan.
Amy benar-benar imut saat sedang berekspresi seperti itu!
Ah, tidak tahu sejak kapan Amy begitu menarik di matanya. Tapi, Heinry mulai kesulitan untuk mengontrol dirinya sendiri.
"Ini adalah malam pertama setelah kita menjadi pengantin, memang aku tidak boleh berpikir sembarangan?" Tanya Heinry dengan sorot matanya yang begitu mesum membuat Amy ingin sekali menjambak gigi Heinry yang terus terlihat saat dia sedang tersenyum.
"Boleh, berpikirlah sebanyak yang kau inginkan. Tapi, kalau nyatanya punyamu hanya terasa geli saat masuk ke dalam milik ku, besok pagi aku aku tidak bisa jamin kau masih bangun tidur dalam keadaan utuh!"