
Begitu sampai di rumah sewa, Amy benar-benar sudah tidak sanggup lagi dengan kontraksi perutnya yang semakin terasa. Tidak, ini belum saatnya! Masih butuh enam Minggu lagi untuk bayi itu lahir, dia tidak boleh kalah, seperti itu yang di pikirkan Amy. Tapi, bertambahnya menit yang berlalu, rasa sakit yang di rasakan oleh Amy semakin tak karuan saja rasanya.
"Aduh........ Sebenarnya kau ini sedang kenapa sih, sayang? Ini sakit sekali loh, nanti kalau Ibu tidak tahan Ibu menangis bagaimana?" Amy memegangi perutnya yang semakin keras karena kontraksi.
"Aduh! Suami ku kenapa belum pulang sih?" Gerutu Amy karena sepertinya masih butuh sekitar satu setengah jam lagi untuk Edith pulang ke rumah.
"Aduh duh! Sakit, sakit!" Dengan polosnya Amy masih mencoba untuk tidak menangis karena dia takut bayinya juga akan sedih saat dia menangis.
Beberapa saat kemudian, Mau benar-benar sudah tidak tahan lagi, keringatnya benar-benar begitu banyak, seluruh tubuhnya gemetar dan terasa begitu dingin.
"Tidak! Apa ini?" Amy tersentak saat dia merasakan bagian intinya terasa begitu hangat, Amy perlahan menggerakkan tangannya yang gemetar untuk merahnya dan menyentuhnya. Begitu melihat tangannya yang basah karena darah, Amy benar-benar tersadar benar jika kandungannya berada dalam situasi bahaya. Untungnya Amy bisa menjangkau ponselnya, jadi dia bisa segera menghubungi petugas kesehatan yang berada tidak jauh dari lokasinya tinggal. Untuk menunggu Edith butuh satu jam lagi, Edith juga tidak bisa di hubungi ketika bekerja, jadi sekarang Amy benar-benar hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Lima belas menit kemudian, petugas kesehatan datang bersama dengan ambulans, dan tak lama dari itu Amy benar-benar sudah tidak bisa menahan diri lagi, dia pingsan begitu tubuhnya di angkat ke ambulans.
Setelah Amy sampai ke rumah sakit, Amy sempat tersadar berkat batuan Dokter, dia juga sudah mendapatkan bantuan oksigen juga infus yang terpasang.
"Nyonya, bisakah beritahu di mana wali anda? Kondisi kandungan anda dalam bahaya, bayinya harus segera di keluarkan sebelum terlambat."
Amy benar-benar seperti tersambar petir rasanya, bagaimana bisa tiba-tiba seperti ini? Padahal dia ingat benar kalau dia tak melupakan susu hamil, vitamin dan makanan yang pasti sehat. Amy juga yakin benar bahwa dia selalu menjaga suasana hatinya agar tidak mudah sedih dan banyak pikiran. Kenapa? Kenapa bisa terjadi hal seperti ini?
"Nyonya, aku tahu anda pasti terkejut, tapi hamil adalah sebuah misteri. Kadang hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin, percayalah apapun yang terjadi kami akan mengusahakan yang tebaik."
Amy menyeka air matanya yang jatuh, sekarang dia benar-benar hanya bisa meminta maaf kepada anak yang dia kandung karena dia merasa gagal untuk melahirkan secara normal dan di waktu yang tepat.
"Dokter, anak dari bayiku berada di luar negeri. Sahabat ku juga tidak akan datang dalam waktu dekat karena dia selalu menonaktifkan ponsel saat bekerja. Bisakah saya menandatangani dan menjadi wali atas diri saya sendiri? Lagi pula semakin cepat bayi ku di lahirkan maka akan semakin baik kan?"
Setelah pertimbangan yang matang, akhirnya operasi darurat akan segera di lakukan.
"Heinry, aku harap kau juga sedang mendoakan keselamatan anak kita. Maafkan aku karena aku memanfaatkan mu Amalia seperti ini, sebenarnya aku masih saja kesal, aku masih ingin menyalahkan mu karena anak kita bahkan sudah buru-buru ingin di lahirkan, dia tidak betah berada di dalam perut ku terlalu lama." Gerutu Amy pelan.
Beberapa jam kemudian.
Edith berjalan cepat, dia dengan panik mencari di mana Amy mendapatkan perawatan. Dan begitu dia sampai, Dokter dan juga perawat baru saja keluar dari sana bersama degan Amy yang tengah berada di brankar rumah sakit dan belum sadarkan diri. Bayinya Amy juga tengah di bawa untuk menuju ke NICU dan mendapatkan perawatan.
"Anda kerabat pasien?" Tanya Dokter yang menangani Amy.
"Iya."
"Baiklah, setelah ini tolong temui saya ke ruang Dokter karena ada yang harus di bicarakan mengenai kondisi pasien dan bayinya."
"Tunggu, Dok! Tolong katakan saja intinya, sahabat ku tidak mati kan? Anu, bukan bukan seperti itu! Maksudnya sahabat mu baik-baik saja kan? Bagaimana dengan anaknya?"
"Baiklah, sepertinya anda sudah tidak sabar jadi kita pindahkan dulu pasien ke rumah perawatan dan akan saya jelaskan di sana."
Beberapa saat kemudian.
"Untuk kondisi Ibunya akan memerlukan beberapa waktu agar bisa pulih, sedangkan untuk bayinya, memerlukan waktu untuk benar-benar bisa di bawa pulang ke rumah."
Amy menghela nafas lega, sungguh dia benar-benar sangat takut saat membaca pesan yang masuk beberapa saat setelah dia mengaktifkan ponselnya. sungguh Edith benar-benar menyesal karena tidak menyalakan ponselnya, tapi mau bagaimana lagi? Saat itu dia benar-benar sedang tidak tahan dengan kedua orang tuanya yang begitu banyak ulah dan terus menghubungi nya. Edith pikir Amy akan melahirkan satu setengah bulan kemudian makanya dia masih santai saja.
Setelah Dokter pergi dari ruangan Amy, segera Amy menuju ke ruang NICU untuk minat sebentar bayinya Amy dan itu juga sudah di berikan izin langsung oleh Dokter tadi.
Begitu sampai di ruang NICU, Edith benar-benar seperti ingin menangis kuat melihat bagaimana kondisi bayinya Amy. Dia benar-benar sangat kecil, merah sekali, rambutnya juga belum tumbuh lebat, kepalanya sekitar kepalan tangan Edith. Edith melihat pergelangan tangan bayinya Amy dan terdapat nama panjang Amy di sana.
"Ya Tuhan...... Rasanya aku tidak percaya kalau anak ini adalah anak Amy, aku juga tidak menyangka kalau mahkluk sekecil ini berasal dari Heinry dan Amy." Edith mengarahkan tangannya seolah dia bisa menyentuh bayi itu. Rasanya sedih sekali melihat banyaknya alat yang terpasang di tubuh bayi mungil yang memiliki gender sebagai perempuan itu.
"Hei bocah kecil, kau harus kuat ya? Ibu mu sudah melakukan banyak usaha demi mu, dia bahkan begitu hebat membuat suasana hatinya baik sepanjang hamil, dia juga begitu patuh dengan makanan yang harus dia makan demi memenuhi kebutuhan gizi mu. Kau tidak boleh mengecewakan dia. Yah walaupun saat besar nanti mungkin ada masanya kau malu memilki Ibu yang aneh seperti Ibu mu, tapi percayalah dia adalah orang yang baik, dia juga akan menjadi rumah yang akan selalu melindungi mu."
Edith tersenyum, rupanya bayi sekecil itu cukup aktif juga bergerak sejak tadi.
"Kau orang yang tidak sabaran rupanya, tapi bagaimana pun aku akan menjadi bibi yang selalu sabar khusus untuk mu!"
Bersambung.