One Night Special

One Night Special
Lawan Untuk Heinry



Heinry bersiap ingin memaki Jhon, tapi karena suara yang terdengar dia tak jadi melakukan itu.


"Yang satu sedang ingin menjual ku, yang satu ingin membeli ku. Kalian pikir aku barang? Aku benar-benar tidak mengerti dengan para orang dewasa, kenapa kalian memiliki otak layaknya anak balita?"


Jeje menatap Jhon dan Heinry. Sebenarnya di mendengar suara obrolan Jhon dan Heinry maka dari itulah dia bergegas keluar meski sang Paman melarangnya untuk melakukan itu. Tadi Jeje mendengar obrolan antara Jhon dan juga Ibunya bahwa Heinry akan datang, tentu saja Jeje juga tidak tenang.


Sudah sejak tadi dadanya gemuruh, berdebar kencang karena untuk pertama kalinya dia akan melihat Ayah kandungnya. Tapi, walaupun dia grogi tetap saja sifatnya yang ketus dan dingin tidak akan mungkin memperlihatkan perasaan yang sebenarnya kan?


Heinry terdiam membeku melihat gadis cantik yang sangat cantik itu secara langsung. Tubuh kecil tapi pasti dia cukup tinggi untuk usianya, kulitnya yang putih, bibirnya pink kemerahan, matanya yang tajam, serta rambutnya yang agak kecoklatan itu, dia benar-benar seperti malaikat!


Ugh!


Anak itu sangat cantik!


Heinry benar-benar tidak menyangka, tapi setelah di pikirkan lagi sepertinya tidak masalah juga kalau benar anak itu adalah anaknya, usia tiga puluh satu tahun memang masih terllau muda untuk menjadi seorang Ayah, tapi khusus untuk anak itu Heinry akan berusaha untuk tidak menolak.


"Eh, kau mau kemana?" Jhon menahan Heinry yang akan melangkah untuk mendekati Jeje.


"Tentu saja aku harus menemui anak itu, dan bicara dengannya." Jawab Jhon, lagi-lagi ekspresinya seolah dia tidak akan mendapatkan penolakan apapun.


Jhon tersenyum jahat, menatap Heinry dengan tatapan itu membuat Heinry membalasnya dengan sinis.


"Tidak boleh!"


Heinry menepis tangan Jhon, menatap Jhon dengan tatapan kesal.


"Aku sudah memberimu uang!"


Setelah itu Heinry mencoba untuk melangkahkan kakinya, tapi Jhon justru memeluk Heinry dari belakang layaknya film jadul Titanic kalau saja Heinry membuka tangannya.


"Lepas!" Titah Heinry, seraya mencoba untuk menyingkirkan tangan Jhon yang memeluknya dari belakang.


"Tidak!" Jhon semakin mengeratkan tangannya.


Heinry benar-benar kesal sekali, bukankah ini terlalu konyol? Kenapa dia harus berada pada adegan tidak masuk akal di hadapan anak yang kemungkinan besar adalah anak kandungnya? Tidak! Dia tidak bisa membuat dirinya di permalukan seperi ini!


Padahal seharusnya ini terjadi seperti drama bukan?


Ayah kandung yang selama ini tidak tahu kalau memiliki anak, dan seharusnya dia berlari sembari merentangkan tangan, air matanya banjir deras melebihi derasnya air terjun Niagara, lalu berpelukan dengan anaknya sembari mengatakan maaf, dan mengatakan kata sanjungan bukan?


Sialan!


Gara-gara si Jhon, dia benar-benar gagal estetik!


Jeje menghela nafas, Ya Tuhan.......


Padahal sudah sejak tadi Jeje begitu berdebar karena perasaan gugup yang dia rasakan saat akan minat secara langsung Ayah kandungnya. Tapi kenapa adegan aneh itu justru membuat Jeje merasa kalau Ayahnya bukanlah pria yang kompeten?


"Lepaskan aku, Jhon! Kalau kau seperti ini terus, aku tidak akan mengirim uangnya, juga tidak akan membiarkan kau dan keluargamu tenang!" Ancam Heinry, lalu karena tidak tahan akhirnya dia menggigit tangan Jhon membuat mau tak mau Jhon melepaskan tangannya.


Jhon meringis kesakitan, duh! Hampir saja dia meninju kepala Heinry karena kesal.


"Jangan lupa, kau yang memintaku untuk menjaga jarak di antara kau dan adik ku!" Kesal Jhon.


"Tapi," Heinry tak dapat melanjutkan ucapannya. Yah! Dia ingat pernah mengatakan itu memang, tapi situasinya kan berbeda? Lalu siapa suruh kalau Amy diam-diam memiliki anak? Entah bagaimana proses pembuatan anak itu bisa terjadi, Heinry yakin saat itu pasti dia sedang sangat putus asa.


"Aku, aku bilang kan dengan adik mu saja? Aku tidak bilang dengan dia kan?" Ucap Heinry yang pada akhirnya bisa membalikan kata-kata Jhon.


Jhon tersenyum, dia menunjuk ke arah Jeje.


Heinry menatap ke belakang Jeje, ada Amy di sana entah sejak kapan.


Manis.....


Heinry menatap Amy secara langsung dan kesan itulah yang dia rasakan.


Jujur saja kalau di photo Amy memang terlalu biasa saja, tapi dia cukup berbeda saat di lihat secara langsung.


"Ini mungkin hanya sekitar empat meter, jadi mundur kebelakang sekitar enam atau tujuh langkah!" Titah Jhon dengan tegas, tapi mata Heinry yang masih terus menatap ke arah Amy berdiri tanpa ekspresi membuat dia tak menghiraukan ucapan Jhon.


"Heinry, di kantor kau memang adalah Bos ku. Tapi ingat, ini adalah di luar kantor! Kau tentu saja," Heinry mendorong wajah Jhon mengunakan wajahnya membuat Jhon tersentak gak bisa bicara dan terpaksa pula mundur dari posisinya berdiri.


Puihh puihh!


Jhon menyeka mulutnya.


Heinry menatap Amy yang masih terdiam, lalu menatap Jeje yang sejak tadi menatapnya dengan satu alisnya naik ke atas, ekspresi yang dia tunjukan seolah dia sedang tidak menyukai apa yang dia lihat.


Haruskah dia berlari dan memeluk anak kecil yang amanat mirip dengannya? Ataukah dia lebih dulu menghampiri Amy dan mengajaknya bicara.


"Ibu, aku tidak menyangka kalau Ayah kandungku adalah orang yang seperti ini," Ucap Jeje membuat Heinry terkejut. " Tolong pertimbangkan beberapa pria lain, aku rasa dia pasti tidak akan bisa menolak putri sepertiku."


Ugh!


Heinry terdiam, dia sedih tapi dia juga bahagia mendengar apa yang di katakan anak perempuan itu.


Duh!


Jadi benar nih dia ayah kandungnya? Duh! Jadi dia bisa dia sebut Ayah muda ya?


Heinry tidak bisa menahan senyumnya, siapa sih yang tidak bahagia memiliki anak secantik itu? Cara bicaranya juga sangat tepat dan jelas terdengar jauh lebih dewasa ketimbang usianya.


Memang pantas seorag Heinry yang sempurna memiliki anak yang sempurna juga, Bain Heinry girang di dalam hati.


"Ayah yang seperti ini memang siapa yang mau? Hanya bermodal wajah saja tidak akan cukup menjadi Ayahku. Sepertinya Paman Jhon yang bodoh masih lebih baik." Ucap Jeje dengan wajah dingin tapi khas anak-anak.


Eh!


Jleb Jleb


Tunggu dulu! Kenapa rasanya seperti banyak anak panah yang menghujam dada?, Batin Heinry.


Jhon, pria itu benar-benar tersenyum puas karena akhirnya ada orang yang mampu mengalahkan ketusnya mulut Heinry.


Heinry membuang nafasnya, baiklah.... Dia harus sabar.


"Bisakah dengar aku bicara sebentar?" Tanya Heinry dengan lembut.


"Ibu, kenapa dia bicara sangat pelan? Apa dia tidak makan selama dia hidup? Benarkah dia Ayahku? Yang seperti itu apa mungkin bisa memberikan Ibu anak?"


Eh?


Heinry lagi-lagi terdiam sedih. Nak, apa kau tidak tahu kalau Ayahmu sedang berusaha bicara dengan lembut supaya terkesan dia adalah Ayah yang baik?


Bersambung.