One Night Special

One Night Special
Lubang Yang Seharusnya



Amy memaksakan senyumnya saat dia selesai memeriksakan kehamilannya. Tidak ada masalah dengan bayinya, detak jantung yang normal, volume air ketuban yang normal, segalanya serba normal, hanya saja ucapan Dokter kandungan yang tidak normal. Bagaimana bisa tidak normal di mata Amy? Tentu saja karena Dokter mengatakan seperti ini,


"Ini hanya saran saja, tapi cobalah untuk perbanyak berjalan kaki, melakukan aktivitas yang sering tapi harus aktivitas yang ringan. Jagan lupa juga perbanyak berhubungan badan untuk memicu kontraksi dan bayi akan cepat lahir, dan akan mempermudah Ibu hamil dalam persalinan nanti."


Selama di rumah sakit Amy benar-benar tidak hanya mengatakan apapun, dia hanya mengangguk, mengatakan kata iya, dan baik tapi begitu dia keluar dari rumah sakit, mulut Amy benar-benar tidak berhenti bergerundel kesal karena tersinggung dengan ucapan Dokter.


"Ewidwod dengan siapa coba? Kan agak menyeramkan kalau harus sewa pria liar, nanti kalau penyakitan bisa bisa menular kepada kami berdua. Menunggu Heinry datang juga belum tentu kan dia mau di ajak ewidwod? Yah, masak iya aku mau menggunakan terong? Pisang? mentimun? Atau ABS? Duh, repot sekali karena harus menggunakan tangan sendiri kan? Sialan! Dokter itu kalau bicara benar-benar tidak pakai hati ya? Sudah tahu aku sering memeriksakan kandungan sendiri, masa iya dia tidak tanggap kalau aku ini adalah Ibu hamil tanpa suami?"


Amy kembali menghela nafas sebal, sejujurnya dia sempat merasa begitu kesal karena lahir sebagai manusia, karena kalau butuh anak harus ewidwod dulu kan? Coba saja kalau jadi amuba, dia hanya tinggal membelah diri langsung bisa punya anak.


Beberapa saat kemudian.


Amy duduk sebentar di pinggiran tempat tidur untuk menghilangkan perasaan lelah karena antrian ke rumah sakit benar-benar panjang, sudah begitu Amy harus mendaftarkan diri beberapa hari sebelum pemeriksaan, barulah dia di berikan jadwal kapan bisa datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Agar rumit memang, tapi harus Amy akui bahwa di rumah sakit itu benar-benar sangat bersih, disiplin, pelayannya bagus dan tegas, di sana juga memiliki peralatan yang canggih sehingga Amy benar-benar merasa yakin untuk memeriksakan kehamilan di sana.


"Untung saja ada uang dari Heinry, kalau tidak aku pasti sudah jadi gembel sekarang." Amy terkekeh geli mengingat bahwa dia pernah menolak kartu pembayaran itu, tapi ya untunglah Heinry memaksa jadi tidak pula jatuh sekali harga dirinya kan? Sudah begitu setiap bulan saldo di kartu itu benar-benar terus bertambah, dan yang paling membahagiakan adalah, Heinry tidak menanyakan kemana uangnya, Heinry juga sudah mengatakan jika dia tidak akan mengungkit uang itu apalagi memanfaatkan uang itu demi keuntungannya.


"Memang ada bagusnya Heinry itu kelewatan baik sampai jadi bodoh." Gumam Amy lalu segera beranjak dari tempat tidur untuk menuju kamar mandi.


Di sisi lain.


Sejak malam di mana Heinry mengatakan apa yang sudah lama ingin dia katakan, Heinry benar-benar hampir tidak pernah melihat Ibunya tersenyum dan tertawa seperti sebelumnya. Tentu saja Heinry merasa bersalah, tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun sehingga Heinry memilih untuk menunggu saja kapan Ibunya bisa di ajak bicara.


Tadinya kedua orang tua Heinry mengira kalau Heinry memiliki wanita lain, mereka sudah pernah membuka paksa kamar Heinry untuk menemukan petunjuk, tapi nihil yang mereka dapat. Tidak ada bukti apapun, yang ada justru tumpukan buku yang begitu banyak, juga beberapa gambar desain rumah, juga bangunan lain yang di buat Heinry saat dia sedang suntuk.


Padahal sih, Heinry sudah menyimpan semua itu di tempat yang sulit untuk di temukan yaitu, di balik lemari yang dia gunakan untuk menyusun buku-bukunya, ada sebuah tempat penyimpanan yah sudah di isi dengan beberapa barang yaitu, CD milik Amy dan juga selembar kertas. Ya, saat ini hanya itu lah barang yang perlu di simpan oleh Heinry. Kalau untuk photo USG janin yang ada di perut Amy semuanya tersimpan rapih di ponsel Heinry yang tentu juga sudah di lindungi dengan kunci layar agar tak sembarangan orang bisa membuka ponselnya.


"Entah ini kurang ajar atau tidak, tapi aku merasa beberapa hari hidup ku sangat tenang." Gumam Heinry yang kini tengah duduk di taman samping rumahnya, menikmati camilan rasa keju sembari menatap bunga yang bermekaran saat malam hari.


Heinry menghela nafasnya, ya mau bagaimana lagi? Biasanya dia hanya akan melihat bagaimana Ibunya menatao Heinry dengan tatapan bangga karena bisa melahirkan anak tampan, pintar, juga gagah seperti Heinry. Biasanya Ibunya akan cerewet tentang cara berpakaian Heinry, mengomel saat Heinry melewatkan sarapan, bahkan Ibunya juga akan mengomel saat Heinry sedikit saja terkena luka gores. Yah harap maklumi saja, Heinry adalah anak satu-satunya, Heinry lahir setelah kedua orang tuanya menunggu sekitar sebulan tahun, dan setelah Heinry lahir mereka juga sama sekali tak di berikan kehamilan lagi jadilah Heinry seorag anak mereka.


" Cepat temui Ibu mu, minta maaf sana. Kau sudah benar-benar keterlaluan sekali, Heinry. Cobalah untuk bicara dengan Ibu mu, setujui saja pernikahan mu dengan Cheren. Kau ini terlaku banyak berpikir, terlalu banyak membaca buku sampai otak mu terlalu tidak masuk akal."


Heinry menghela nafas, tentu saja hanya sebatas itu saja Ayahnya akan menunjukkan kemarahannya, tapi sayangnya Heinry tidak ingin melakukan itu meski Ayahnya sudah begitu lembut memperlakukan dirinya.


"Ayah, kita ini sama-sama pria kan? Kalau tidak cinta tapi tetap di paksakan apa tidak takut kalau usia pernikahan hanya akan bertahan satu jam saja?"


Ayahnya Heinry membuang nafas.


"Kalau Ayah jadi kau sih, Ayah tidak akan jual mahal seperti mu. Cherel itu kan sangat cantik, melihatnya saja kemoceng mu bisa bangun kan?"


Heinry mengeryitkan dahi menatap Ayahnya yang berbicara aneh tapi tak menunjukkan ekspresi apapun.


"Jadi, apakah selama ini kemoceng Ayah berdiri kalau melihat Cherel?"


Ayahnya Heinry membulatkan matanya, duh! Rasanya ingin memukul kepala putranya itu, tapi istrinya pasti sedang memperhatikan mereka kan? Kalau tahu dia memukul Heinry, nanti pasti istrinya yang akan ganti memukul kepalanya kan?


"Tidak, bodoh! Setiap pria memiliki lubangnya masing-masing, untuk apa aku memiliki minat seperti itu saat melihat Cherel?"


Heinry menggelengkan kepalanya malas berucap lagi.


"Ngomong-ngomong, Ibu mu khawatir sekali kalau ternyata kau adalah kaum pelangi, bagaimana tanggapan mu? Bagaimanapun kau adalah anak satu-satunya bagi kami, kau tahu kan kalau membuang sper** di lubang yang tidak seharusnya tidak akan menghasilkan anak?"


Bersambung.