
"Eh, kau datang ke kantor? Aku pikir, pasti akan datang terlambat karena mengantarkan Lorita lebih dulu ke bandara kan? Yah, tapi ya sudahlah. Memang bagus juga memiliki sekretaris yang bisa diandalkan sepertimu!" Ucap Amy memaksakan senyumnya.
Mendengar apa yang diucapkan oleh adiknya tentang Lorita yang akan pergi ke bandara, Jhon benar-benar tidak bisa menahan dirinya yang begitu ingin tahu kemana Lorita akan pergi. Meskipun memang pada akhirnya adiknya itu akan meledek atau apapun itu, nyatanya mulutnya seperti gatal dan sulit untuk ditahan lagi hingga pada akhirnya dia bertanya,"memang Lorita mau pergi ke mana?"
Amy menahan senyumnya. Yah, tentu saja dia bisa menyadari bahwa ternyata kakaknya memiliki perasaan perduli yang diam-diam dia coba untuk sembunyikan. Amy menatap kakaknya lalu menjawab,"dia akan kembali ke negara mana dia dan juga keluarganya tinggal beberapa tahun belakangan ini. Yah, Sebenarnya dia datang ke sini karena ingin mencoba meluluhkan hatimu dan mendapatkan cinta darimu. Tapi, Sepertinya dia sudah mulai lelah dan tidak ingin lagi mengemis cinta dari orang yang tidak pantas untuk diperlakukan seperti itu." Ujar Amy melirik ke arah kakaknya dengan lirikan yang memperlihatkan jelas bahwa dia sama sekali tidak respect pada Kakaknya lagi.
Jhon menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tentu saja dia bisa mengartikan lirikan adiknya itu, tapi mau bagaimana lagi? dia terlalu mempercayai perasaannya yang tidak mungkin jatuh cinta kepada Lorita untuk kedua kalinya. Padahal, setelah semalaman dia tersiksa karena Lorita dia mulai tersadar bahwa sebenarnya selama ini dia terus menyangkal perasaannya sendiri.
Amy menghela nafasnya karena tahu benar bahwa kakaknya itu sangat plan-pelan dan bimbang kalau soal wanita. Amy menatap kakaknya dengan tatapan serius selalu berkata,"Kak, percayalah padaku kali ini saja. dari sekian banyak wanita yang Kakak coba dekati, aku rasa orang yang paling cocok hanyalah Lorita saja. Walaupun bicaranya sangat kurang ajar kurang lebih sepertiku, tapi dia akan menjadi partner yang bisa mengimbangi mu."
Jhon menelan salivanya sendiri mendengar ucapan adik tirinya itu. Yah, dia tidak bisa bohong bahwa dia memang kehilangan benar Lorita saat ini. Tetapi, walaupun ingin merajuk cinta lagi dengan Lorita, Apakah itu akan berhasil? Mengingat perdebatan mereka sebelumnya cukup serius, Lorita pasti sudah menyimpan sakit hati yang sangat besar bukan?
Amy kembali menghela nafasnya lalu berkata,"dia akan berangkat pukul 09.00 pagi ini. kalau kakak ingin mengucapkan selamat tinggal, Kakak masih memiliki satu setengah jam lagi."
Jhon menelan salivanya sendiri, tanpa pikir panjang dia segera berlari meninggalkan tempat di mana dia berada bersama dengan adiknya sebelumnya. Entahlah, yang dirasakan olehnya saat ini hanyalah perasaan tidak rela jika harus berpisah. Entah itu cinta atau bukan, maka pikirkan saja itu nanti!
Amy rasanya menatap kakaknya yang tengah berlari sembari bergumam,"semoga berhasil Kak! Bagiku, Kau satu-satunya adalah saudaraku. Aku benar-benar berharap kau berhenti memikirkan aku sekeluarga, juga nenek. Kau harus memikirkan dirimu sendiri, itu baru namanya kau adil kepada dirimu sendiri!"
setelah menempuh perjalanan menuju ke bandara, akhirnya Jhon sampai juga di sana. masih ada sekitar 15 menit lagi, dan dia mencoba untuk menghubungi Lorita. panggilan pertama, kedua, dan barulah di panggilan ke-6 dia mendapatkan jawaban alias panggilan mereka kini terhubung.
"Halo?" ucap Lorita begitu sambungan telepon mereka terhubung.
"Kau di sebelah mana?" Tanya Jhon sembari mencoba untuk mengatur nafasnya yang terengah-engah karena terlalu banyak berlari.
Tidak ada jawaban, maka itulah Jhon kembali bertanya dengan nada bicaranya yang sedikit meninggi.
"Katakan saja, kau ada di sebelah mana?!" Tanya Jhon kesal.
"Aku, ada di belakang mu!"
Jhon ntar dia mematung Sebentar tak tahu harus mengatakan apa. Dia berbalik badan setelah beberapa saat, dan hanya bisa terdiam karena ternyata Lorita benar-benar berada di balik punggungnya dan kini sudah berada tepat di hadapannya ketika dia berbalik badan.
Lorita juga terdiam karena dia bingung juga terkejut mendapati Jhon yang menghubunginya dan tiba-tiba saja berada di hadapannya. Walaupun yang ia lihat hanyalah punggung Jhon saja, dia benar-benar bisa tahu benar bahwa itu adalah punggung milik pria yang ia cintai.
Jhon menelan salivanya sendiri.
Sebentar dia berpikir, Apa yang harus dilakukan sekarang? Tetapi, saat kedua bola mata Jhon melihat ke arah koper dan juga kedua bola mata milik Lorita, Jhon seperti mulai kehilangan kendalinya. Jhon mengepalkan kedua tangannya, sedangkan sorot matanya benar-benar tidak bisa teralihkan dari kedua bola mata Lorita. Jhon mulai melangkahkan kakinya, tanpa menoleh ke kanan ke kiri lebih dulu tanpa memikirkan apapun lagi, begitu sampai di hadapan Lorita, langsung meraih tengkuk Lorita lalu mencium bibirnya.
Lorita benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Jhon padanya. Dia bahkan sampai takut menutup matanya, karena dia takut jika sebenarnya yang terjadi itu hanyalah mimpi.
Hanya sebentar saja Jhon mencium bibir Lorita, kini Jhon kembali menatap kedua bola mata Lorita dengan tangannya yang masih menyentuh tengkuk serta wajah Lorita dan berkata,"Aku tahu aku bukan pria yang baik dan juga lemah lembut atau romantis seperti tipe mu, aku juga tidak tahu aku benar-benar cinta atau tidak padamu. Tapi, yang aku rasakan sekarang adalah, Aku tidak ingin kau pergi meninggalkanku atau jauh dariku. Bertahanlah sebentar lagi, jika aku sudah tahu dan aku sudah yakin apa yang aku rasakan, Aku tidak akan pernah ragu meraih tanganmu dan membawamu berlari menuju ke pelaminan."
Lorita benar-benar terdiam tidak tahu harus mengatakan apa, dia ingin bertanya sebenarnya, apakah yang terjadi itu hanyalah mimpi? Jika memang mimpi, Kenapa sentuhan di bibirnya begitu terasa? Tidak, dia tidak bisa diam saja dan harus bertanya!
"Apa Aku sedang bermimpi?" Tanya Lorita dengan ekspresinya yang terlihat bengong membuat Jhon tidak tahan untuk tertawa.
Jhon mencubit pipi Lorita sedikit menekannya membuat Lorita mengaduh kesakitan tetapi, pada akhirnya dia juga terlihat sangat bahagia karena nyatanya itu bukanlah mimpi.
Lorita tersenyum dan mengangguk dengan cepat, dia bahkan sampai menahan tangis harusnya.
"Iya, tentu saja aku mau!" Lorita memeluk tengkuk Jhon dan dengar aku mencium bibirnya.
Jhon benar-benar membulatkan matanya dan membatin terkejut di dalam hati,
Kenapa sekarang aku jadi merasa bahwa, aku seperti baru saja melamarnya? kenapa jawabannya seperti itu sih?
Beberapa bulan kemudian.
"Selamat!" Ucap Amy lalu tersenyum dengan sangat lebar. Ucapan selamat itu diberikan kepada, Jhon dan juga Lorita yang kini resmi menjadi suami dan istri. Seluruh anggota keluarga lainnya juga memberikan selamat dengan sangat tulus dan juga gembira.
Nenek, dia benar-benar tersenyum di balik wajah keriputnya dan doa yang begitu tulus serta harapan-harapan yang bahagia untuk anak cucu dan cicitnya kelak.
Orang tua Henry juga berada di sana untuk memberikan ucapan selamat dan dan hadir sebagai keluarga mereka juga.
Ayahnya Jhon dan Amy juga datang, tapi hanya sampai sumpah pernikahan selesai dia memutuskan untuk meninggalkan pesta pernikahan itu.
"Baiklah, mulai sekarang Aku akan berusaha dengan sangat keras supaya aku bisa cepat memiliki anak! Yah, usiaku kan tidak semudah usiamu, jadi aku akan melahirkan banyak anak nanti!," Ucap Lorita mengarahkan tatapannya kepada Amy.
Heinry memaksakan senyumnya sembari membatin di dalam hati, mampus! kau tidak tahu bagaimana sulitnya dan menderitanya suami saat istri sedang hamil ya? manusia, jangan pernah berpikir untuk menjadi babi yang kerjaannya hanya hamil dan melahirkan saja!
Amy mengangguk dengan bersemangat lalu berkata,"Tentu saja! aku akan menantikan keponakanku lahir!"
Amy tersenyum lalu mengusap perutnya sembari menatap ke arah perutnya akan tetapi, dia melihat cairan yang mulai merembes dan sudah basah mengenai kedua selop yang ia gunakan.
"Ya Tuhan, air ketuban ku pecah!"
Ucapan Amy barusan benar-benar membuat heboh seluruh keluarga dan juga para tamu undangan. dengan kedua tangannya yang gemetar, Heinry membopong istrinya untuk segera keluar dari sana dan menuju mobil yang sudah disiapkan oleh sopirnya.
"Sayang, nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan, oke? Kau harus bersabar, sebentar saja Kita pasti akan sampai di rumah sakit!" Ucap Heinry yang begitu terlihat gugup, takut, dan juga sangat tidak karuan rasanya.
Amy tersenyum menatap suaminya yang terlihat seperti itu lalu berkata,"Walaupun kutubaku pecah, tapi aku belum merasakan mulas seperti orang yang akan melahirkan. Lagi pula, dokter juga sudah mengatakan bahwa aku tidak akan bisa melahirkan normal? Jangan terlalu gugup oke?" Ucap Amy yang benar-benar membuat Heinry merasa sedikit lebih baik dan lebih tenang.
Selama perjalanan menuju ke rumah sakit, Hyenry benar-benar selalu berada di sisi istrinya. Dia menemani setiap proses yang dijalani istrinya sebelum melakukan bedah sesar.
Di dalam hati Heinry sekarang ini, dia benar-benar membatin dan memohon kepada Tuhan, semoga ini menjadi anak kedua sekaligus anak terakhir mereka. membayangkan istrinya akan dioperasi untuk mengeluarkan anaknya, rasanya dia benar-benar sangat tidak karuan dan kapok. Entahlah, padahal cara membuatnya sangat enak, Tapi giliran jadi anak dan harus dilahirkan, Kenapa sangat sulit dan taruhannya adalah nyawa?
Jeje serta keluarga lainnya juga sudah datang dan mencoba untuk menenangkan Heinry yang terlihat sangat gelisah dan gugup. Tetapi, tetap saja Heinry tidak bisa merasa tenang.
beberapa saat kemudian.
"Dokter!"
Dokter yang baru saja berada di ruang operasi sudah keluar. Dia membuka masker yang ia gunakan lalu menatap Heinry dan tersenyum,"Selamat, putra anda telah lahir dengan selamat, Ibunya juga dalam keadaan sehat."
Heinry dan juga seluruh anggota keluarga benar-benar merasa sangat lega sekali. Mereka saling memeluk satu sama lain dan memberikan Selamat atas lahirnya anggota keluarga baru mereka.
Setelah Amy tersadar dari bius, Heinry benar-benar lebih sering bersama dengan istrinya dibanding dengan bayi laki-lakinya yang diberi nama, Jeremy Gordon. Heinry terus mengatakan terima kasih kepada istrinya yang sudah berjuang dan bertahan hidup, serta berjanji kepada istrinya untuk tidak lagi memiliki anak demi kesehatan istrinya sendiri.
Amy menghela nafas sebalnya, menatap Heinry lalu berkata,"kau tidak ingin aku hamil lagi karena, tidak ingin menjalani masa ngidam ku kan?"
Heinry menelan salivanya sendiri, lalu memaksakan senyumnya sembada menggelengkan kepala,"Tidak kok. Aku hanya sedang berpikir, banyak anak bukannya banyak rezeki di zaman modern seperti sekarang. Jadi, dua anak saja sudah terlalu banyak dan itu tentu saja sudah cukup untuk kita, iya kan?"
Amy kembali menghela nafasnya, "semoga saja Tuhan mendengarkan ucapanmu barusan. Itu sih, Kalau tuhan ingat bahwa kau adalah umatnya."
Heinry kembali memaksakan senyumnya dan membatin di dalam hati, kalau kau hamil dan ngidammu tidak berlebihan seperti kemarin, 100 anak aku pun sanggup. Tapi kalau ngidam seperti kemarin itu, maaf saja aku sudah tidak akan sanggup lagi.
Satu Tahun kemudian.
Amy dibawa ke rumah sakit karena mengalami pusing dan juga mual yang berlebihan selama beberapa hari terakhir ini. Bahkan, Jeremy sampai tidak mendapatkan ASI eksklusif seperti biasanya karena keadaan Amy yang sangat tidak baik.
"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?" Tanya Heinry dengan milik wajahnya yang terlihat khawatir.
Dokter itu tersenyum menatap Heinry, selalu berkata,"Selamat, istri anda tengah mengandung!"
Heinry benar-benar terdiam membeku tidak bisa lagi mengeluarkan kata-kata apapun.
Beberapa saat kemudian, Amy dibawa untuk melakukan pemeriksaan kehamilan di hari itu juga dengan menggunakan ultrasonografi atau USG.
"Wah, lihat ini! ada dua kantung, sepertinya bayinya akan kembar. Untuk saat ini hanya itu yang terlihat, tapi di bulan berikutnya pasti akan jelas terlihat dia kembar 2 atau mungkin saja juga bisa tiga!"
Amy menoleh menatap Heinry yang terlihat benar-benar sangat frustasi sampai tidak bisa berkata apa-apa.
"Sepertinya, Tuhan tidak terlalu mendengarkan doamu waktu itu ya?" Ucap Amy.
Tamat.
halo kesayangan aku?
Terima kasih banyak untuk kalian yang selalu memberikan support serta dukungan selama ini.
Maafkan karena akhir-akhir ini author jarang sekali membalas komentar, atau merespon chat yang dikirimkan kepada author.
Maafkan juga, karena tulisan ini terlalu banyak typo dan masih belum sempat untuk diperbaiki ☺️ ke depannya, mbak author akan perlahan perlahan untuk memperbaiki, dan terus mencoba untuk menyuguhkan cerita yang lebih bagus lagi! 😍
Semoga, cerita yang jauh dari kata bagus ini bisa sedikit menghibur dan endingnya juga memuaskan untuk para kesayangan aku semua!
Sekali lagi, terima kasih untuk para kesayangan yang tidak pernah lelah menunggu novel ini up dengan jeda yang sangat lambat!
Bye kesayangan aku semua. 🥰🥰🥰