One Night Special

One Night Special
Bukan Induk Ikan



"Berhentilah untuk terus tersenyum menatapku, Heinry. Walaupun kau tampan, Tapi aku benar-benar tidak tahu kalau pada akhirnya wajah tampanmu itu juga bisa membuatku mual," Ucap Amy dengan mimik wajahnya yang terlihat tak berbohong seolah apa yang dia ucapkan barusan benar-benar tengah dia rasakan.


Seketika, senyum di wajah Heinry menghilang tak terlihat sedikitpun. Sudah satu bulan kehamilan istrinya, dan satu bulan ini pula, Heinry terpaksa tidur bersama dengan putrinya. Amy terus mengatakan bahwa, melihat wajah Heinry, bersentuhan kulit dengan Heinry, bahkan mendengar langkah kaki Heinry dari kejauhan Amy akan langsung merasa kesal dan juga mual.


"Sayang, apa aku perlu membeli topeng jika ingin dekat denganmu?" Tanya Heinry pasrah.


Sungguhlah, dia tidak masalah jika memang benar dia harus menggunakan topeng saat dekat dengan istrinya. Sudah 1 bulan, tentu dia juga ingin memeluk Istrinya tidur bersama, dan juga saling memeluk dan menceritakan beberapa hal tentang kehamilan dan juga tentang anak pertama mereka.


"Tidak bisa! Kalaupun wajahmu sudah tidak terlihat, Aku paling tidak menyukai aroma tubuhmu! Aku juga tidak suka mendengar langkah kakimu, pokoknya aku benar-benar tidak menyukai semuanya tentangmu! Kalau kau kesal, tidak boleh menyalahkan aku! Salah kan kemoceng mu yang nakal sekali sampai membuatku hamil!" Kesal Amy.


Sebenarnya, bukan hanya Heinry saja yang tersiksa dengan kehamilan itu. Dia juga tersiksa, Tapi semua akan menjadi lebih baik saat Heinry tidak ada di sekitarnya. Dia tidak perlu merasakan yang namanya morning sickness, dia tidak perlu merasakan mood yang buruk, dia tidak merasakan badan yang pegal atau keluhan-keluhan layaknya Ibu hamil muda. Jadi, dia benar-benar merasa lebih nyaman jika tidur sendiri dan tidak melihat Heinry sama sekali. Entahlah, setiap kali melihat suaminya datang dari kejauhan apalagi sampai jarak mereka dekat, Amy merasa emosinya seperti memuncak tak tertahankan seperti ingin menghancurkan dunia saja rasanya.


"Sayang, kita mengobrol juga jaraknya sekitar tiga sampai empat meter begini. Kita juga harus berbicara dengan nada yang tinggi seperti orang yang saling membentak kan? Memang kau tidak sedih?" ucap Henry dengan mimik wajahnya yang terlihat tertekan sembari memperhatikan jarak mereka berdua yang cukup jauh. yah, kalau bagi Henry jarak segitu seperti jutaan kilometer jauhnya. akan tetapi, bagi Ami jarak seperti itu seperti tiga inci saja.


Amy menghela nafasnya, dia bahkan ingin mundur lagi sampai ke ujung dan tubuhnya menempel tembok. Mungkin memang benar Ibu hamil tidak selebay dirinya, tapi masa bodoh dia sama sekali tidak peduli dengan bagaimana orang akan menilainya. Toh, yang hamil kan dia, yang akan membawa perut berisi bayi kemana-mana juga dia, yang akan melahirkan dia pula, tidak ada campur tangan orang lain dalam pembuatan bayi yang ada di perutnya. Jadi, jangan berani-beraninya mengomentari sikap Ami saat sedang hamil ini, karena kalau tidak kuku yang Ami sengaja panjangkan itu sudah siap akan mencakar wajah si mulut rombeng yang berani mengatakannya lebay.


"Sayang sekali, aku tidak bisa merasakan kesedihan seperti yang kau rasakan Heinry. Aku bukannya tidak punya perasaan, mungkin lebih tepatnya aku memang tidak pernah menggunakan perasaanku untuk mengerti orang lain. Mungkin, Sebenarnya aku punya otak tapi jarang aku gunakan." Ujar Amy yang dia sendiri masih tidak mengerti dengan apa yang dia pikirkan dan rasakan saat ini.


"Jadi, kira-kira sampai seberapa lama kita harus seperti ini? Kalau menunggu anak itu lahir, tentu saja aku bisa mati berdiri karena itu terlalu lama. ngomong-ngomong, Bagaimana kalau kita coba temui dokter dan mengkonsultasikan tentang hal ini? siapa tahu ada jalan keluarnya!" Ucap Heinry dengan tatapan memohon berharap istrinya mengangguk setuju dan mereka bisa segera menemui Dokter.


Amy kembali menghela nafasnya.


Heinry menghela nafas dengan mimik wajah yang terlihat kecewa. Padahal, dia benar-benar ingin menemani istrinya pergi ke Dokter kandungan dan melihat sendiri bagaimana perkembangan anak serta kondisi istrinya secara langsung. Tapi karena ngidam aneh itu, dia jadi tidak bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan. Ah, kalau begini lebih baik dia tidak usah memiliki anak lagi setelah anak keduanya lahir, batin Heinry di dalam hati dengan gerutunya yang kesal.


"Kau bahkan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan tanpa memberitahuku ya? Kalau seperti ini terus, aku benar-benar akan mengutuk diri sendiri karena tidak berguna sebagai suamimu." Ujar Heinry dengan mimik wajahnya yang terlihat sangat tertekan.


Di dalam hatinya sekarang, dia sudah mengambil sumpah tidak akan membiarkan istrinya hamil lagi. walaupun anak kecil itu terlihat lucu, apalagi jika anaknya mirip seperti anak pertama mereka, tentu saja tidak keberatan untuk melahirkan sepuluh anak pun. Tetapi, jika tahu proses kehamilan harus ada yang namanya ngidam sialan seperti ini, dia jadi kapok dan tidak ingin kalau sampai istrinya hamil lagi setelah anak ini lahir.


Amy berdecih menatap suaminya, ya soalnya bisa mengartikan Apa yang sedang dipikirkan oleh Heinry saat itu.


"Berhentilah untuk menyesali apa yang sudah terjadi, setelah anak ini lahir Kau pasti tidak akan membiarkanku hamil lagi bukan? Aku juga tidak ingin terus melahirkan anak seperti seekor kucing dan babi. Memikirkan melahirkan saja, aku jadi merasa lebih kesal padamu! Semua pria hanya tahu membuat anak itu enak! Tapi saat sudah menjadi janin, untuk menghadapi ngidam saja sudah akan menyerah dan trauma! Cobalah melahirkan anak supaya kau tahu bahwa, memenuhi ngidam seorang istri tidak ada bandingannya dengan sakit saat akan melahirkan!" Ucap Amy yang kini terlihat benar-benar kesal.


Henry menelan salivanya, segera dia menggelengkan kepalanya mengelak kalau yang diucapkan oleh Amy itu sangatlah tidak benar meskipun dalam hati dia mengiyakan dengan lantang.


"Siapa yang bilang begitu? tidak, aku tidak begitu kok! pokoknya, aku tidak merasa trauma hanya karena kau ngidam. Bahkan, jika kau ingin melahirkan seratus anak pun aku akan dengan senang hati menerimanya." Ucap Heinry dengan bubuk sampai dia lupa apa yang dia katakan barusan.


"Seratus anak, matamu! Aku ini bukan induk ikan! Mendekatlah, Henry! Mendekat dan biarkan aku menggigitmu sampai kau mati karena rabies!"


Heinry membulatkan matanya, memundurkan langkahnya dengan segera dan berlari menuju ke kamar Jeje.


"Ah, ampun! Maaf!"