
Amy benar-benar terbuai dalam rasa indah itu, hingga tanpa sadar Heinry sudah bersiap dengan posisinya dan mulai memasukkan bendanya kedalam sana.
"Ugh!" Pekik Amy. Yah, bukan yang pertama memang! Tapi, ini adalah yang kedua, dan jarak melakukan itu juga sudah bertahun lalu, ditambah dia juga tidak melahirkan secara normal. Yah, rasanya seperti masih baru meski tidak mengeluarkan darah.
"Ahhhhh......." Pekik Heinry saat itunya masuk dengan sempurna kedalam lubang yang seharusnya.
"Sayang, aku tidak salah lubang kan?"
Amy tersentak! ah, apa-apaan sih?! Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?! Jadi hilang deh konsentrasinya!
"Heinry, jangan sombong dulu! Mari kita lihat saja, apa kau bisa menyaingi kecepatan ku dalam berpacu, ataukah tidak!"
Heinry memejamkan matanya, saat Amy bicara tadi, bagian bawahnya seperti bergerak, dan rasanya enak sekali!
"Baik, aku akan berusaha sebaik mungkin!"
Esok paginya.
"Aw, ah! Sialan!" Amy mendesis sakit memegangi pinggangnya. Kedua kakinya juga tidak bisa tenang, gemetaran hebat sejak kapannya ya sudah pasti sejak Heinry melakukan itu. Mungkin, sudah lebih dari tiga puluh menit dia berada di dalam kamar mandi, tapi dia benar-benar masih tidak ingin keluar dari dalam sana. Kenapa? Tentu saja dia malas melihat wajah songong Heinry yang merasa dia pemenangnya.
Tubuhnya yang gemetar saat ini, pinggangnya yang nyeri dan pegal, bukan hanya karena perbuatannya Heinry saja, melainkan karena dia Hanh juga begtu aktif hanya karena tidak mau kalah dari Heinry. Pada akhirnya, apa yang dia lakukan itu justru membuat Heinry semakin bersemangat, dan inilah yang terjadi dengan Amy.
"Sayang, apa kau tidur di dalam kamar mandi?" Tanya Heinry yang sebenarnya sedang meledek Amy. Yah, dia juga tahu kok bagaimana Amy bangun pagi tadi, berpura-pura tidak merasakan apapun dan berjalan dengan santai menuju kamar mandi bahkan, tidak menggunakan sehelai benangpun .
Cih! Benar-benar sok keren, tapi Amy juga tidak bisa bohong kalau dia memang menyukai Amy yang begitu hebat. Bisa bayangkan bagaimana wajah Amy sedang saat melakukan hubungan suami istri semalam? Mungkin, wanita lain akan melenguh malu-malu dengan wajahnya yang merona merah. Akan tetapi, Amy jutsru fokus dengan perjuangannya yang tidak ingin kalah dari Heinry. Wajahnya memerah, tapi matanya nampak serius dan tajam membuat Heinry benar-benar tidak habis pikir.
"Kenapa aku harus tidur di kamar mandi? Memangnya aku ini kurang kerjaan?!" Jawab Amy dari dalam sana.
Heinry terkekeh sendiri. Bukannya dia tidak merasakan yang sama, sebenarnya dia juga merasa pinggangnya pegal terapi, dia juga bagus sok keren kan? Itu khusus di depan Amy!
Heinry membuang nafasnya, dia memilih untuk duduk dan menunggu saja kapak Amy akan keluar dari kamar mandi dan mengambil giliran untuk dia mandi.
Beberapa saat kemudian.
Amy keluar dari kamar mandi, kepalanya di bungkus handuk kecil, serta tubuhnya menggunakan jubah mandi. Ah! dia benar-benar lucu tapi juga seksi! Batin Heinry yang terus melihat kearah Gozel.
Amy berjalan mendekati tepat pakaiannya berada dengan langkah kaki yang dia buat biasa-biasa saja. Duh! Alamak, aslinya dia benar-benar tidak tahan harus berakting seperti itu!
Heinry segera bangkit dari posisinya, berjalan cepat menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah Heinry keluar dari kamar mandi, Amy kini sudah berada di dalam posisi berbaring tengkurap. Dia memainkan ponselnya begitu Heinry keluar dari kamar mandi karena tidak ingin Heinry melihat apa yang sebenarnya sedang di rasakan.
"Ngomong-ngomong, hari ini jadi keluar jalan-jalan kan?" Tanya Heinry seraya mengenakan pakaiannya.
Amy memaksakan senyumnya, padahal di dalam hati dia benar-benar mengatakan kaya, No! Tubuhnya seperti kejatuhan meteor, jadi mana mungkin dia akan pergi untuk berjalan-jalan? Ah, rasanya dia hanya ingin berbaring saja di kamar!
"Besok saja deh, hari ini aku benar-benar sedang malas sekali," Ujar Amy yang tentu tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya dia rasakan.
Heinry mengangguk setuju saja. Iya, dia juga ingin banyak istirahat karena dia juga harus mengumpulkan seluruh tenaganya untuk bertempur lagi malam nanti.
"Oke! aku pesan sarapan sekarang ya?"
Amy tidak menjawab, padahal di dalam hati dia ingin sekali Heinry keluar dari kamar hotel dan membiarkan dia sendiri agar dia bisa menjadi jauh lebih leluasa dan tidak perlu bersikap malu-malu seperti sekarang.
Setelah sarapan pagi yang mereka pesan datang, Amy dan Menikmati sarapan mereka bersama. Entah kenapa, Amy seperti terus terlihat kesal saat menatap Heinry. Tapi, Heinry justru menanggapinya dengan amat sangat santai. Heinry akan tersenyum setiap kali Amy melirik padanya untuk memperhatikan Heinry sebentar.
Jangan tanya, bahkan Heinry sebenarnya melakukan yang sama.
Heinry tidak bisa melupakan sedetik saja apa yang sudah mereka lakukan semalam. Mereka benar-benar menjadi suami dan istri, mereka juga akan lebih terbiasa dari sekarang.
Heinry terus memperhatikan bibir Amy yang bergerak saat mengunyah makanan, cerukya yang indah dan mulus membuat Heinry juga tidak bisa berhenti mengingat kalau, semalam dia sudah mencium semua, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia benar-benar sudah hafal bagaimana bentuk tubuh Amy, dan sialnya dia benar-benar kagum dengan tubuh Amy yang indah meski penilaian orang mengatakan jika Amy terlalu kurus.
Ekspresi Amy saat melenguh dan memekik benar-benar terngiang-ngiang di telinga Amy. Rasanya, Heinry jadi ingin membawa tubuh Amy keatas tempat tidur tapi, Amy pasti akan menolak dengan keras kan?
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan servis ku semalam? Kau suka atau tidak?" Tanya Heinry, dan lagi-lagi maksudnya bertanya adakah untuk menggoda Amy saja.
Amy hampir saja tersedak, tapi untunglah dia bisa menahan diri dengan baik dan berakting senatural mungkin agar Heinry berhenti dulu membahas soal semalam karena itu menyebalkan!
"Servis apa? Kau seperti itu kau sebut Servis? Jangan menilai diri sendiri terlalu tinggi! Aku benar-benar kecewa! Pokoknya, sebagai hukuman, aku tidak akan mengizinkan mu menyentuh ku lagi!" Ucap Amy dengan tatapan mengancam namun, itu benar-benar membuat Heinry ingin tertawa.
"Wah, begitu ya sayang! Kalau begitu, aku sudah pesan obat perangsang dan juga pil agar bisa menambah stamina sebelum ehem nanti! Tolong bersabarlah sebentar ya? Aku janji, aku tidak akan membuatmu kecewa lagi. "
Amy menatap Heinry dengan tatapan marah.
"Tidak mau! burung mu saja cuma sebesar kelingking kakiku, jadi jangan banyak gaya sekali!"