
Beberapa hari kemudian.
"Ibu, kemarin yang Ibu katakan aku benar-benar jelas mendengarnya dan tidak lupa satu kata pun loh." Ucapan Jeje barusan benar-benar membuat Amy tak dapat banyak bicara lagi, dia hanya bisa tersenyum lebar memamerkan barisan giginya yang rapih sembari berpikir dan mengutuk dirinya sendiri karena kemarin dia terlalu banyak bicara dan banyak membuat janji.
Jeje terus menatap Ibunya, tentu saja dia tahu kalau Ibunya pasti sedang memikirkan banyak hal yang jelas gunanya adalah mengingkari janji. Usia Jeje memang masih enam tahun, tapi kondisi keluarga, lingkungan, sekolah semua itu membuat Jeje memiliki cara berpikir dewasa, apalagi dia tumbuh bersama Ibu dan bibinya saja, dia jelas mengetahui bagaimana Ibu dan Bibinya. Ibunya adalah orang yang akan mengiyakan segala hal saat dia merasa terpojok dan sedang sedih, lalu saat suasana dan keadaannya sudah stabil dan membaik, dia akan berpura-pura amnesia dan melupakan janjinya terhadap Jeje. Edith, wanita yang kalau bicaranya agak menyakitkan itu, tapi Jeje juga tahu kalau dia juga orang kedua yang memperdulikan Jeje melebihi orang lain.
Dulu semua orang menganggap kalau Ibunya dan Bibinya adalah pasangan lesbi, dan Jeje adalah anak angkat mengingat wajahnya benar-benar tidak mirip sama sekali dengan Amy. Tapi seiring berjalannya waktu orang-orang mulai paham, toh pasangan lesbi atau bukan mereka juga tidak begitu memperdulikan. Di negara Jeje dan keluarganya tinggal, pasangan lesbi, dan juga homo adalah hal lumrah jadi tidak ada anak yang di rundung karena tidak memiliki Ayah, Ibu, atau pun anak angkat.
(Maaf, tidak membenarkan hal itu, tapi ini adalah gambaran saja oke?)
"Ibu, apa Ibu pernah dengar istilah, mulut berbohong kerongkongan menelan pasir?"
Ugh!
Maksudnya adalah, siapa pun yang berbohong, maka dia akan mendapatkan balasan yang sakitnya tidak masuk akal.
"Iya, Ibu tidak bohong kok. Ini Ibu sudah akan menyiapkan mangsa, ah, bukan! maksudnya Ibu akan mulai menyiapkan beberapa pria yang cocok untuk menjadi Ayah mu. Tapi kau harus benar-benar sabar ya? Menyeleksi satu pria saja membutuhkan waktu yang cukup lama. Jadi doakan saja Ibu ya? Ibu akan berjuang sekuat tenaga demi putriku tersayang ini."
Jeje memaksakan senyumnya, menyeleksi satu pria membutuhkan waktu yang cukup lama? Kenapa ya Jeje merasa itu adalah sebuah alasan supaya bisa mengulur waktu?
Di sisi lain.
Heinry menyerahkan, mendorong sebuah amplop coklat ke arah depan di mana Jhon berada saat Jhon tiba di ruangannya.
"Ini apa?" Tanya Jhon seraya meraih amplop yang berada di meja.
"Buka saja, itu amat adik mu itu. Aku juga tidak ingin membukanya sama sekali, jadi aku tidak tahu apapun, toh aku sama sekali tidak ingin tahu, juga tidak tertarik sama sekali. Setelah kau mengetahui dimana adik mu berada, tolong tepati janji mu. Jangan biarkan aku melihatnya, jangan biarkan dia mendekati ku, Jangan biarkan kami bertemu meski secara tidak langsung."
Jhon mengangguk dengan cepat, baiklah dia akan benar-benar menepati janji kepada Heinry, dia juga akan menepati janji kepada neneknya untuk memperlakukan Amy yang malang dengan baik, dia juga sudah berjanji akan menjaga Amy baik-baik sekuat tenaga menggantikan Ayahnya yang tidak memiliki keperdulian terhadap anak-anaknya yang sudah di tinggalkan seperti anak peliharaannya saja.
"Oke, oke! Aku berjanji, aku bersumpah atas nama seluruh penghuni kebun binatang, juga dewa dan seluruh alam semesta bahwa aku akan membuat kau dan adik ku tidak dekat. Aku janji tidak akan menjadi jalan untuk kalian berdua." Tapi mohon maaf, janji ku akan terjadi sesuai dengan keinginan Amy. Bagiamana pun lebih baik membuat janji palsu, dari pada mengecewakan adik ku yang malang kan?, Batin Jhon di dalam hati, tapi wajahnya saat mengatakan sumpah itu benar-benar sangat terlihat serius.
Jhon dengan segera membuka isi amplop itu, ada lagi amplop yang agak kecil di sana, tapi Jhon lebih tertarik membaca biodata Amy, dan pekerjaan yang dia jalani saat ini.
"Gozeline Amy, lahir di negara X, sekarang bekerja sebagai manager umum di salah satu perusahaan di negara Z yang bergerak di bidang perhotelan. Alamatnya adalah, jalan Vethed Logose nomor rumah empat ratus dua belas." Jhon tersenyum lebar, akhirnya dia benar-benar mengetahui alamat Amy dan tempat kerjanya. Tak ingin melewatkan semua hal tentang Amy, Jhon membuka satu amplop berukuran sedang, lalu mengeluarkan isinya.
Jhon mengeryit bingung melihat photo seorang gadis kecil yang amat cantik, tapi saat itu dia benar-benar hanya bisa membatin bingung kenapa wajah anak itu sangat tidak asing? Siapa anak itu? Jhon melihat photo yang lain, dan dari sana lah Jhon melihat photo anak perempuan cantik itu bersama dengan Amy. Mereka sangat dekat layaknya Ibu dan anak meski wajah mereka sangat tidak mirip. Oh, tunggu! Apa-apaan ini?!
"Jeceline Heinamy Gozel? Ibu kandungnya adalah Gozeline Amy? Apa-apaan? Kenapa nama Ayah kandungnya kosong?"
Jhon kembali melihat photo gadis kecil itu dengan seksama, ah sialan! Mirip siapa sih anak itu? Wajahnya memang seperti anak blasteran dan jelas dia ingat benar anak itu sangat mirip dengan seseorang. Ah........ Frustasi sekali, anak siapa dia?
Melihat Jhon yang justru terlihat tidak tenang dan gelisah, Heinry benar-benar penasaran sehingga tidak bisa menahan rasa penasaran itu dan memutuskan untuk bertanya saja.
"Kenapa ekspresi mu seperti itu? Apa adik mu sudah mati gantung diri karena frustasi tidak ada yang menghamilinya?" Tanya Heinry.
Jhon menghela nafas, dia menatap Heinry sebentar sebelum kembali menatap photo gadis kecil yang katanya adalah anaknya Amy.
"Bukan, hanya saja aku merasa anak ini mirip-" Jhon mengeryitkan dahinya, kembali dia menatap Heinry, lalu menatap gadis kecil yang bernama Jeceline itu.
"Bajingan terkutuk!"
Heinry tersentak, dia bingung kenapa Jhon tiba-tiba memaki dengan anehnya?
"Mana ada bajingan seperti ku?"
Jhon berjalan mendekati Heinry, meraih kerah Heinry dan mencengkram kuat.
"Hei, lepaskan tangan mu atau kalau tidak aku akan memastikan kau pulang ke rumah tanpa kedua tangan lancang mu!"
Jhon jadi semakin kesal mendengar ucapan Heinry.
"Oh, haruskah aku juga membuat kau kehilangan kemoceng mu yang berani-beraninya menghamili adik ku?!"
"Apa? Kau sudah gila ya? Siapa yang menghamili siapa? Dari pada aku menghamili perempuan aneh seperti itu, bukanlah akan lebih baik menghamili babi betina saja?"
Jhon melepaskan tangannya, berjalan berbalik mengambil satu photo di mana ada Amy dan Jeceline bersama bergandengan tangan lalu menyerahkan kepada Heinry.
"Bahkan si buta dari gua hantu juga tahu anak siapa dia!" Ucap Jhon.
Bersambung.