One Night Special

One Night Special
Jeceline Heinamy Gozel



Amy menitihkan air mata saat Dokter meletakkan putrinya ke dadanya. Gila, perasaan bahagia namun juga sedih begitu bergelut di dalam hatinya, ada rasa sakit, juga ada rasa bersyukur dan bahagia. Dia sedih karena putrinya harus lahir di waktu yang tidak tepat, dia sedih karena melihat putrinya harus berjuang hidup sekarang diri dengan segala peralatan di tubuhnya.


"Nyonya, kondisi putri anda benar-benar membaik dengan pesat. Sepertinya dia begitu semangat dan tidak sabar untuk ikut anda pulang dan bermain bersama." Ujar Perawat yang berada di dekat Amy.


"Yah, tentu saja, memang harus seperti itu! Dia adalah anaknya Gozeline Amy, dia tentu saja harus semangat apapun kondisinya. Bahkan menerjang ombang di lautan lepas, melawan angin tornado, mendaki gunung, melewati lembah, kalau dia adalah anaknya Amy, maka dia pasti dapat melakukan apapun yang dia inginkan."


Perawat itu tersenyum, Amy benar-benar hebat dalam memperbaiki mood.


Setelah di rasa cukup, putrinya Amy kembali di letakkan ke dalam inkubator, sedangkan Amy akan bersiap untuk kembali pulang bersama dengan Edith.


Beberapa saat kemudian.


"Amy, sebenarnya aku menghubungi Heinry, tapi anehnya tidak terhubung. Pesan yang aku kirimkan juga tidak terkirim."


Amy terdiam sebentar, apakah Heinry marah karena saat dia berpamitan saat itu Amy mengatakan untuk jangan pernah muncul dan datang lagi? Apakah Heinry sungguh-sungguh menganggap itu serius? Tapi mana mungkin? Selama ini Heinry terus menanyakan kondisi kandungan Amy, bahkan juga mengirimkan terus uang kepadanya sehingga untuk biaya melahirkan Amy benar-benar tidak perlu susah payah mencarinya.


"Tidak apa-apa, Edith. Bagaimana pun aku sudah memilki tekad yang kuat untuk merawat dan membesarkan anak ku sendiri. Aku tidak bisa bergantung kepada siapapun lagi, kau tahu benar bagaimana menyedihkannya kalau itu terjadi kan? Heinry memang sudah seharusnya hidup dengan jalan yang seharusnya, dan air juga akan hidup dengan jalan yang aku inginkan."


Edith menghela nafasnya, yah kalau soal anak Amy benar-benar sangat waras otaknya.


"Jadi, kau sudah memiliki nama untuk putrimu belum? Kalau belum aku sudah memiliki nama loh."


Amy menyipitkan matanya, tentu saja dia sudah menyiapkan nama untuk putrinya sejak putrinya lahir kemarin. Tapi tidak ada salahnya mendengar nama yang di siapkan Edith kan?


"Memang apa nama yang kau siapkan?"


"Anichka"


Amy mengeryitkan dahi, nama itu terdengar sangat bagus dan juga tidak biasa.


"Anichka itu, nama dari negara mana?" Tanya Amy yang tentu saja menginginkan penjelasan untuk arti nama yang unik dan cukup bagus menurut Amy.


Edith tersenyum kikuk, tapi dia juga tak ragu-ragu dalam menjawab pertanyaan yang di ajukan Amy.


"Anichka artinya adalah nikmat."


Amy benar-benar terperangah tak percaya akan mendengar jawaban yang di luar ekspektasi nya. Padahal dia sedang membayangkan nama bunga, musik, atau nama tokoh yang terkenal, tapi kenapa artinya adalah nikmat?


"Edith! Kau pikir anak ku adalah makanan?!"


"Yah, kau pikir anak itu kan hasil dari perbuatan nikmat, jadi tidak ada yang salah kan?"


"Nikmat apanya?! Yang aku ingat adalah lubang ku sakit dan perih, sudah begitu sampai berdarah! Aku hanya bisa melihat Heinry berdesis seperti ular hampir saja aku gagal karena aku pikir ada ular lain selain ularnya Heinry! Yang bilang, ah enak! Oh yes, oh no, oh my God, juga cuma Heinry saja! Cih! Kalau ingat itu aku benar-benar kesal karena ternyata ewidwod tidak lah seenak yang terlihat dalam film bok**! Katanya tidak menginginkan ku, tapi dia malah justru mengatakan, terus, terus, terus, Amy! Yah yah yah yah! Apa-apaan pria sialan itu? Ya, untung saja aku dapat upah anak yang cantik, kalau tidak aku benar-benar akan mengutuk dia sesuka hatiku."


Edith memalingkan wajahnya yang memerah, sialan! Kenapa bisa Amy menceritakan semua itu dengan santainya? Duh! Padahal dia memiliki minat untuk menjebol segel saat memiliki pacar nanti, tapi mendengar penjelasan Amy barusan dia benar-benar merinding dan akan mengundur niatnya itu.


"Ja jadi, kau mau beri nama apa anak mu?" Tanya Edith yang engga mendengar Amy membahas soal itu lagi.


Amy menghela nafasnya.


"Jeceline Heinamy Gozel."


Edith tersentak, dia menatap Amy dengan tatapan bertanya.


"Iya, Heinamy adalah nama kedua orag tuanya. Bagaimanapun Heinry adalah orang yang baik meskipun mulutnya seperti comberan."


Edith menaikan satu sisi bibirnya sembari membatin, kau juga sama, kalian sama saja!


Setelah hari itu, Amy datang setiap hati ke rumah sakit untuk menentukan asi kepada putrinya, sesekali Edith juga akan menemani jika jam kerjanya siang. Butuh sekitar tiga atau empat Minggu, tapi Amy benar-benar tidak merasa keberatan sama sekali.


Di sisi lain.


"Kak Heinry, aku mohon bujuk lah kedua orang tua Kak Heinry ya? Tolong cabut laporannya, kami semua kesulitan jika Ayah ku di penjara." Cheren bersujud di hadapan Heinry yang duduk di kursi roda menatap Cheren debagn tatapan datar seolah dia benar-benar tidak perduli, tidak mendengar apa yang di katakan Cheren, dan tidak melihat Cheren sama sekali.


"Cheren, sebelumnya hubungan keluarga kita juga sangat baik. Aku akui putra ku salah karena masih tak memiliki kesiapan untuk menikahi mu, tapi bukan berarti hanya karena kesal dia bisa mencelakai putra ku! Ah, mungkin sebenarnya putra ku memang telah memilih pilihan yang paling tepat untuk tidak menikah dengan mu, tidak menjadikan Ayah mu sebagai Ayah mertuanya. Minggirlah, Cheren." Ucap Ibunya Heinry dengan mimik yang terlihat begitu dingin.


"Tidak! Kak Heinry!"


Heinry menepis tangan Cheren yang menyentuh tangannya, matanya yang sejak tadi terlihat datar kini terlihat begitu tajam dan dingin membuat Cheren begitu tertekan dan merasa takut melihat Heinry seperti itu.


"Jangan menyentuh ku, aku sungguh tidak tahan."


Cheren benar-benar hanya bisa menangis melihat perubahan Heinry yang kini menjadi sangat menakutkan, kedua orag tua Heinry yang dulu memperlakukannya dengan baik juga kini memilih untuk tidak terlibat lagi dengannya.


"Cheren, yang di lakukan Ayah mu adalah membunuh putra kami satu-satunya, jelas begitu berat untuk kami jadi biarkan kami semua tenang dulu." Pinta Ayahnya Heinry yang tidak bisa lagi tahan melihat Cheren bersujud untuk hal yang tidak akan bisa dia lakukan.


"Tapi, bagaimana dengan pernikahan ku paman?" Tanya Cheren.


"Maaf, aku tidak akan pernah membiarkan putra ku menjadi bagian keluarga orang yang berniat membunuhnya." Ucap Ibunya Heinry dengan tegas membuat Cheren benar-benar semakin terpukul saja.


Bersambung.