
Amy melirik kesal kepada seorang penumpang wanita yang terus melihat kearah Heinry. Bukan hanya itu saja sih yang membuat Amy kesal, melainkan, cara Wanita itu menatap Amy dengan tatapan mengejek. Dia juga membusungkan dadanya seolah ingin memamerkan bahwa dia memiliki ukuran dada yang lebih besar dibanding Amy.
Ah, sialan!
Rasanya Amy juga ingin membusungkan dadanya dan memamerkan miliknya tapi, dia cukup sadar bahwa dadanya hampir saja rata tak ada isi. Duh, padahal sudah dibantu dengan penyangga dada kan?
Tidak hanya sampai disitu saja, wanita itu juga terus membenahi duduknya seolah ingin menunjukkan kepada Amy bahwa dia memilki bokong yang menggoda dan besar.
Hah, lagi-lagi Amy hanya bisa bereteriak sialan di dalam hati.
Bagaimana tidak kesal coba? Dia juga tahu benar ukuran bokongnya yang begitu rata.
Tunggu!
Gadis itu juga mengusap bibir bawahnya, dia ingin menunjukkan ketebalan bibirnya yang menurut orang akan now adalah, seksi. Duh! Mampus! Bibir Amy juga tipis, jadi dia tidak bisa memamerkan itu!
Gadis itu mengedipkan matanya, duh! Bulu matanya tebal sekali, apa dia bisa membuka matanya dengan baik? Ah, untuk yang ini, Amy benar-benar tidak itu sama sekali.
"Heinry," Panggil Amy.
Heinry meletakkan majalah yang sedang dia baca sejak tadi.
"Apa?" Tanya Heinry seraya menatap Amy.
"Lihat tuh! Disana ada wanita cantik yang dada dan bokongnya sangat besar, bibirnya juga tebal, bulu matanya juga sangat tebal. Apa kau tidak tertarik? Dia adalah wanita yang kuat loh, kan tidak semua wanita bisa membawa bagian tubuh yang serba tebal begitu? Sungguh Wanita yang pekerja keras sekali!" Ucap Amy.
Heinry menghela nafas, tentu saja dia cukup memahami trend kecantikan jaman sekarang yang sudah semakin tidak masuk akal. Kulit putih, hidung kecil dan mancung, dagu terbelah, mata bulat, lipatan mata lebih jelas, rahangnya kecil, bibir tebal, alis tebal, bulu mata tebal, kurus, tunggi, dan BLA BLA!
Mungkin untuk kebanyakan pria, atau bisa umum, jaman sekarang ini banyak sekali orang yang tidak percaya diri dengan fisiknya. Terlalu fokus dengan kekurangan fisik dan mengabaikan diri yang sebenarnya memiliki kelebihan jauh lebih penting. Heinry juga melihat benar bagaimana maraknya operasi plastik jaman sekarang ini. Mereka ingin terlihat cantik atau tampan dan memenuhi standar kecantikan yang mereka idamkan. Mereka jahat kepada tubuh mereka sendiri, mereka merusak tubuhnya, memberikan banyak racun dan menempatkan tubuh dalam resiko bahaya.
"Amy, wanita cantik adalah, wanita yang tahu bagaimana dia menonjolkan diri tanpa harus menyakiti tubuh. Seperi kau contohnya! Kau terlihat cantik karena kau memperlakukan tubuhmu dengan baik, aku juga lebih suka kulit sawo matang milikmu!"
Amy tersenyum, sungguh dia bahagia sekali! Tapi, dia akan bahagia karena pujian yang dia dapatkan dari Heinry melainkan, dia bahagia karena dia merasa menang dari wanita yang sejak tadi begitu sombong memamerkan bagian tubuhnya yang aduhai itu.
Wanita itu menggigit bibir bawahnya dengan tatapan kesal, sungguh dia tidak mengerti selera pria tampan jaman sekarang yang justru semakin memilih wanita dengan penampilan sederhana ketimbang wanita yang memiliki lekuk indah. Rasanya, percuma saja menghabiskan banyak uang untuk permak bagian tubuh yang kurang Samapi kesakitan tapi hasilnya hanya bisa menggait pria biasa saja!
Amy memicingkan matanya, dia seolah berkata, mamam tuh bokong, dada, dan semua yang tebal di tubuhmu!
Beberapa jam kemudian.
"Amy, ayo cepat bangun!" Ucap Heinry sembari menepuk lengan Amy karena kini mereka sudah sampai.
Amy menggosok matanya dan bangkit karena Heinry sudah akan bangkit.
"Kau tidak makan dengan baik, hadis setelah ini pergi untuk makan dulu ya?" Ajak Heinry yang langsung di agguki setuju oleh Amy.
Heinry menoleh, dia menghela nafas kesal dan menatap wanita itu sejenak. Setelah mereka berada di luar pesawat, Heinry memanggil wanita itu dan berkata,"Minta maaflah kepada istriku!"
Wanita itu terdiam, dia benar-benar terkejut melihat bagaimana wajah Heinry yang begtu dingin dan tegas itu tertuju padanya.
Amy ternganga tidak percaya, sungguh? Heinry benar-benar membelanya sampai seperti ini? Amy mengigit bibir bawahnya, matanya benar-benar berbinar menatap Heinry yang selalu saja menerobos pertahannya, sekarang Amy jadi terus merasa suka. Suka, tidak tahu bisa disebut cinta atau tidak.
"Ma maaf......" Ucap wanita itu, dia terlihat ngeri dengan cara Heinry menatapnya seolah tengah mengancam.
Amy meraih lengan Heinry, lalu membawanya untuk menjauh dari wanita itu. Sudah, Amy benar-benar sudah merasa cukup tahu kalau Heinry memang bukanlah pria yang akan mudah terpesona melihat wanita molek. Amy juga yakin benar, di dalam diri Heinry, tidak akan ada sosok Ayahnya.
"Buru-buru sekali? Sudah tidak sabar ingin sampai hotel, lalu ehem ehem denganku ya?" Ledek Heinry lalu terkekeh sendiri membuat Amy menghentikan langkahnya, menghela nafas kesal sembari menatap Heinry.
"Iya, memang benar aku sudah tidak sabar! Jangan cuma tahu membahas saja, jangan cuma sok keren tapi baru lima menit sudah selesai! Lebih baik, kau pikirkan benar bagaimana kau akan memperpanjang durasi. Kalau hanya sebentar seperti itu, maafkan aku karena aku akan langsung mencari pria disekitar sini untuk-"
Amy tak bisa melanjutkan ucapannya saat Heinry menutup mulut Amy agar gak lagi membicarakan itu, dan orang akan mendengar apa yang di katakan oleh Amy.
"Duh! Tidak usah berlebihan deh, mereka juga tidak tahu apa yang kita bicarakan kok!" Protes Amy setelah berhasil menyingkirkan tangan Heinry dari bibirnya.
Heinry tersenyum kikuk, ah iya! Kenapa juga dia harus membekap Amy dengan tangan sih? Sialan! Harusnya menggunakan bibir kan?
"Kita ketempat pengambilan koper yuk!" Ajak Amy.
Beberapa saat Kemudian, mereka sedang menunggu koper mereka dan di sanalah pula mereka kembali bertemu dengan wanita bohai itu lagi.
"Sayang, kepalaku gatal!" Ucap Amy sengaja ingin pamer agar si bohai itu tahu rasanya harus melihat orang lain memamerkan sesuatu yang tidak di miliki.
"Gatal? Kenapa bilang padaku? Kau tidak sedang menganggapku kuman yang membuat kepalamu gatal kan?" Tanya Heinry bingung.
Amy menoleh, melotot kesal kepada Heinry sembari berbisik.
"Garuk kepalaku, belai juga!"
Hah?
Heinry tak ingin protes, dia menggaruk pelan kepala Amy dan mengusapnya. Melihat wanita bohai tadi melihat kearah mereka, Heinry jadi paham sekarang.
Amy menjilat si bibirnya hingga sedikit basah.
"Sayang, bibirku!"
Heinry tersenyum lebar, lalu mengarahkan wajah Amy dan langsung saja mengecup bibir Amy.
"Dasar bodoh! Bukan di cium, tapi seka sisi bibirku yang basah!"