My Teacher My Husband

My Teacher My Husband
Metta VS Stevani



Happy reading 😒


Ruangan yang tidak terlalu luas dengan cat berwarna hitam serta barang barang yang tidak terpakai, terdapat dua orang yang tengah sibuk dengan urusannya masing-masing.


"Lo belum cape apa ngejar tu cewek?"tanya laki laki berhondie biru duduk di kursi yang nampak usang.


"Nggak, gue bakal bikin tu cewek tunduk sama gue,bakal gue bikin tu cewek ngemis ngemis buat jadi milik gue."jawab cowok berambut pirang dengan tangan melempar pisau kecil kesebuah foto yang ditempel di papan Dinding di ruang minimalis dengan nuansa serba hitam tersebut.


"Nggak usah bego Lo ganteng, tajir tinggal tunjuk cewek yang Lo mau jadi milik Lo, udah deh kelar."ujar laki laki berhondie biru.


"Bisa aja gue ikutin cara Lo tapi sayang gue lebih minat nih cewek."jawabnya menghentikan kegiatan nya.


Lelaki itu duduk di sebelah lelaki satunya, meneguk segelas wine lalu menyalakan rokoknya menyesapnya  secara perlahan dan menghembuskan lewat lubang hidung dan mulut nya.


"Tau gue cewek inceran Lo oke, tapi tu cewek cuek banget men, come on choose another girl."geram lelaki berhondie biru tidak habis pikir dengan temannya yang satu ini, berjuang terus tapi sia sia.


"it's not that easy he's different from the other."jawab santai lelaki berambut pirang, ia menatap langit ruangan tersebut dengan tangan memegang gelas kecil berisi wine nya yang sudah setengah karena ia minum.


menggoyang pelan gelas tersebut lalu meneguknya sampai habis lalu berkata," gue udah punya rencana dan gue udah pikir bener-bener dengan rencana itu gue yakin setelahnya tu cewek bakal jadi milik gue"lanjutnya tersenyum miring.


"what friends?"


Lelaki berambut pirang itu berbisik kepada temannya terlihat temannya tersenyum smrik menyetujui ide sahabat gilanya lalu keduanya tertawa.


***


Suasana kantin terlihat sangat ramai dua gadis cantik tengah sibuk memakan makanannya, dua orang didepanya sibuk dengan ponsel masing masing.


Hanya keheningan yang terjadi


Sampai akhirnya suara gebrakan meja membuat atensi mereka pusatkan pada suara itu.


"Stev si lampir berulah tu."Tania berujar menunjuk seseorang dengan dagunya.


"Lo bertiga."suruh Stevani yang langsung diangguki temannya karna hal seperti ini sudah bukan pertama kalinya jadi mereka sudah paham.


Stevani tetap memakan makanannya dengan santai, tatapannya menatap seorang gadis dengan seragam ketat dan make up yang tebal, gadis itu tengah membully seorang gadis berkaca mata bulat.


Stevani menyudahi makannya ia beranjak menuju kearah pertunjukan yang sangat memuakkan baginya, begitu juga tiga temannya ikut mengikuti langkah Stevani.


Stevani bertepuk tangan lalu ia duduk diatas salah satu meja di kantin dengan bersedekap dada dan salah satu kakinya ia silangkan di kaki satunya lagi, matanya menatap gadis bermake-up tebal yang tangan kanannya menggantung di udara, saat melihat Stevani menghampiri nya tangan yang ingin kembali menampar gadis berkaca mata itu diturunkan.


"Kenapa berhenti? lanjut dong gue pengen liat seberapa sok jagonya nya Lo."Stevani berujar dengan senyum miringnya.


"Ngapain Lo ***** mau ikut campur lagi Lo!"gadis bermake-up tebal dengan name tag metta itu berdiri angkuh dengan bersedekap dada di depan Stevani.


Metta adalah queen bully di SMA pelita sekaligus rival Stevani, obsesi nya yang ingin menjadi primadona SMA pelita gagal karna ia tidak bisa menyaingi Stevani membuat metta benci pada gadis itu.


Stevani juga selalu ikut campur saat dirinya membully siswa siswi cupu atau merusak kesenangannya, Stevani selalu membela korban bully nya maka dari itu metta tambah benci stevani.


Stevani tersenyum lebar ia turun dari meja yang ia duduki, suasana kantin seketika hening para siswa siswi yang berada di kantin memilih untuk melihat drama SMA pelita tersebut yang ditampilkan oleh dua orang yang mereka kenal sangat bertolak belakang sifatnya.


"Metta, mettai kucing."ledek Stevani diiringi gelak tawa ketiga temanya.


Yang lain hanya bisa menahan tawanya agar metta Tak marah.


"Gue udah pernah peringatin sama Lo kalau Lo mau bully anak orang jauh jauh dari gue ,gue paling nggak suka kalau ada yang ribut saat gue menikmati makanan dan karena ulah sampah Lo. Gue jadi nggak nafsu makan apa lagi liat muka Lo yang udah kek badut Ancol jijik asyuukk."ujar Stevani melangkah mengelilingi tubuh metta dengan tangan bersedekap dada tak lupa dengan senyum mengejek nya.


Orang orang yang mendengar ucapan Stevani mereka berusaha menahan tawanya.


"Cara ngebully Lo terlalu rendahan bicth."ejek stevani.


"harusnya Lo itu tambahin kek gini didaftar cara ngebully Lo biar penonton makin puas sayangggg.."lanjutnya mengguyur jus jeruk tepat dikepala metta yang membuat gadis itu melotot tak terima karna dipermalukan didepan banyak orang.


"LO!... SIALAN LO STEVANI."teriak metta melayangkan tamparan tepat dipipi kiri Stevani.


Suara tamparan keras membuat semua orang menutup mulutnya tak percaya apa yang dilakukan metta pada Stevani.


Stevani mengusap darah yang keluar dari ujung bibirnya akibat tamparan keras yang ia dapatkan dari metta, bukannya meringis kesakitan Stevani malah tersenyum miring lalu ia berkata "tamparan Lo oke juga...sayang belum cukup buat numbangin gue."lanjutnya.


Metta mengepalkan tangannya kuat kuat matanya menyorot tajam kearah stevani yang tengah tersenyum kearahnya.


tangan metta mengambil sesuatu dari arah belakang badannya dan ternyata pisau yang ia simpan di belakang tubuhnya.


"Kalau pake ini bisa bikin Lo tumbang?"tanya metta mengusap ujung pisau dengan jarinya.


Stevani tertawa terbahak bahak membuat metta geram, Stevani sangat tidak ada takut takutnya saat dirinya yang mengeluarkan pisau.


"Lo mau bawa pistol,belati,apa-apalah gue bodo amat kagak takut gue mereka temen latihan gue kalau Lo nggak tau."ujar Stevani tersenyum miring.


Metta mengeram kesal dengan cepat ia mengarahkan pisau kearah perut Stevani.


Stevani dengan gesit menghindar menggunakan keahlian beladiri nya membuat pisau itu hanya menggores lengannya, darah menetes ia biarkan jatuh dilantai kantin.


suara teriakan siswa siswi yang melihat nya Stevani acuhkan, tidak ada yang berani melerainya.


Sampai akhirnya Stevani mengeram marah saat melihat rambutnya tak sengaja terpotong oleh pisau yang dipengang metta,tidak banyak hanya sedikit itupun hanya ujung rambut.


tapi bagi Stevani rambut adalah mahkota perempuan maka dari itu ia dengan kuat menjambak rambut metta dengan keras tak sampai disitu metta yang emosi mengarah pisau pada pipi Stevani.


Stevani yang lengah membuat pisau itu menggoles pipinya, tidak panjang hanya 2cm tapi membuat darah Stevani keluar.


Mata Stevani berubah menghitam rasa ingin membunuh metta meronta meronta ia tidak terima wajah cantiknya terluka biarpun kecil maka dari itu Stevani menampar bolak balik pipi metta dengan keras tak lupa ia menonjok wajah metta sebanyak tiga kali.


Dengan sekuat tenaga metta mendorong tubuh Stevani sehingga pelipis stevani terbentur pojok meja membuat darah mengalir di pelipis nya.


Teman Stevani mencoba melerai keduanya karna menurut nya sudah sangat parah, karena kebrutalan keduanya membuat tiga teman Stevani kualahan akhirnya tidak ada yang melerai keduanya.


Begitu juga kedua teman metta hanya mematung mereka takut untuk ikut campur,tidak ada juga yang berniat memanggil guru saat ini, karena Stevani sempat memerintahkan untuk tidak ada yang boleh lapor atau akan kena masalah oleh dirinya.


siapa yang ingin mendapat masalah dari seorang Stevani Angelia putri badgril cantik atlet beladiri.


ruang gurupun lumayan jauh dari kantin sehingga keributan tersebut tak sampai terdengar oleh para guru.


Semua orang hanya bisa  meringis saat melihat bruntalnya Stevani menendang tubuh metta dan menarik seragam metta sampai tank top gadis itu terlihat setengah.


metta tak tinggal diam ia berusaha meraih pisau yang sempat terlempar, karna terlalu jauh dengan sekuat tenaga, ia mencakar leher Stevani membuat leher Stevani memerah dan mengeluarkan sedikit darah, kalung yang Stevani pakai ikut patah saat metta menarik kerahnya.


"One drop of blood is paid for one life."desis Stevani setelahnya membenturkan keras kepala metta Kedinding membuat metta tak sadarkan diri.


Stevani berdiri dari jongkoknya membenarkan tatanan rambut dan seragam nya.


"Lo berdua temennya lampir, bawa tu temen Lo sebelum gue kirim ke neraka."ujar stevani lalu beranjak menuju lemari pendingin dan mengambil minuman kesukaannya.


dengan santai duduk disalah satu kursi kosong yang berada dikantin dan meneguknya hingga setengah dengan santai seakan tidak terjadi apa apa dan menghiraukan pertanyaan dari ketiga temannya yang nampak khawatir keadaan Stevani yang cukup mengenaskan.


To be continued...