My Teacher My Husband

My Teacher My Husband
PERIHAL HICKEY



Happy reading...


Setelah semuanya pergi kini ruangan nya hanya tinggal Prita dan Banu,prita duduk di ranjang kasur tengah asik memainkan ponselnya  sedangkan Banu hanya duduk diam disofa ruang itu.


Prita mematikan ponselnya setelah merasa bosan, gadis itu berjalan menuju Banu yang hanya diam dengan kepala menunduk.


"Gue liat-liat Lo suka ya sama stevani,"tebak Prita diduduk disamping lelaki itu.


"Hmm,"


"Hmm itu iya apa enggak?,"tanyanya tidak puas saat mendengar jawaban dari Banu.


"Hmm,"


"Lo punya gunting nggak atau pisau mungkin?"tanya Prita dengan nada kesal.


"Buat?"lelaki itu menoleh ke arah Prita menatap binggung gadis itu.


"Buat potong lidah Lo setan!, Diajak ngomong jawabnya hmm hmm doang sok keren lo,"cibir Prita dengan nada kesal.


Banu terkekeh saat melihat wajah Prita kesal,kekehan Banu terlihat jelas Dimata prita.


"Eh Lo bisa ketawa anjir,"ujar Prita melototkan matanya.


"Gue juga manusia kali,"


"Gue tau cuma kan Lo nggak pernah ketawa muka, lo kan cuma mode triplek doang,"cibir Prita.


"Pulang sana ngapain masih disini,"usir Banu menatap gadis disampingnya.


"Lah Lo ngapain disini?, gue belum pulang soalnya disini jaringan internet nya lancar,"


"Oh,"


"Ya elah oh doang,"decak Prita gadis itu berdiri dari kursinya berjalan menuju pintu keluar ruangan.


Banu hanya melirik sekilas tanganya  mengambil rokok dan pematiknya lalu membakar ujung rokok dan menyesapnya perlahan.


Lima menit kemudian pintu terbuka menampilkan Prita kembali dengan cengir lebarnya.


"Kenapa?"tanya Banu saat Prita kembali duduk di sampingnya.


"Bensin mobil gue abis, lupa isi,"ujar Prita dengan senyum lebar.


"Terus?" Tanya lelaki itu menaikkan satu alisnya.


"Tolol banget jadi cowok, anterin lah mentang mentang sadboy kagak pekaan,"cibir Prita.


"Lo minta dianterin tapi Lo ngatain gue,"Banu menoleh kesamping menatap mata abu abu milik Prita.


Prita membalas tatapan Banu, ia berkata, "Lo nggak usah nyeselin gue gigit Lo,"


"Mau gigit gue, sini leher gue ga papa Lo kasih hickey,"ujar Banu menunjuk lehernya.


Prita terbengong ia tak paham maksud lelaki didepanya.


Hickey apaan?


Yang iya tau hickey adalah ****** apa yang dimaksud Banu hickey itu ikan ****** apa hubungannya dengan leher yang digigit? Pikir gadis itu.


Banu terkekeh saat melihat wajah Prita yang tengah menerka nerka ucapanya.


Apa gadis itu tidak tau hickey? Pikir Banu.


Banu kira gadis nakal seperti Prita tau apa itu hickey bahkan saat beberapa hari mengenal Prita, ia sempat menduga bahwa gadis itu sudah lebih melakukan dari sekedar ciuman saat mengingat gadis itu sangat ceplas ceplos dalam berbicara mengenai ****.


Apa Prita hanya bicara tapi tidak tau apa artinya?


"Lo mau gue praktek in hickey apaan?" Ucap nya dengan alis tebal terangkat satu.


"Emang apaan?"tanya prita menatap Banu dengan bingung.


"Mau atau enggak,"


"Sakit nggak?,"


Banu menggeleng.


Banu mendekatkan wajahnya kearah wajah cantik Prita membuat mata  gadis itu melotot lalu memundurkan wajahnya.


Banu semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Prita yang perlahan mundur.


Kepala Prita terbaring disofa, wajah cantik itu dan wajah Banu hanya terjarak tiga cm sampai keduanya dapat merasakan hembusan nafas masing masing.


"Mau apa?"cicit Prita.


"Katanya pengen tau hickey," ujarnya dengan pelan


"Emang harus gini?"


Banu menggangguk pelan memiringkan kepalanya mendekatkan bibirnya tepat di leher Prita membuat gadis itu menahan nafas.


Banu memejamkan matanya saat Indra penciumannya mencium aroma tubuh gadis itu .


Ada sesuatu yang aneh di dirinya saat mencium aroma itu,aroma yang hampir sama dengan aroma tubuh Stevani bedanya aroma tubuh Prita lebih menenangkan dipikirannya.


Banu menghirup rakus aroma tubuh Prita seakan akan menjadi candunya.


Saat lelaki itu sadar Banu memalingkan wajahnya mengerjap berkali kali matanya.


Bibir itu kembali mendekat kearah Prita, bibirnya bergumam pelan lelaki itu berbisik sesuatu pada Prita.


"Gue nggak ada hak buat ngasih Lo hickey, cuma suami Lo nanti yang berhak,"bisik Banu, setelahnya lelaki itu membenarkan posisinya lalu berdiri keluar ruangan meninggalkan Prita yang menatap binggung.


Prita membenarkan posisinya gadis itu duduk dengan beribu pertanyaan di benaknya.


Prita memiringkan kepalanya menggaruk pipinya yang tidak gatal lantas, ia mengedikan bahunya berdiri menyusul Banu sebelum lelaki itu akan meninggalkannya.


Kalian pikir Prita gadis nakal yang tau apa hickey?


Dari ketiga perempuan Stevani Tania dan prita,pritalah gadis yang paling polos memang gadis itu suka ceplas ceplos soal ucapan mengenai **** tapi gadis itu sebagian dari ucapannya tidak tau apa artinya hanya mengikuti teman temanya yang berucap seperti itu.


***


Stevani membaringkan tubuhnya disampingnya tubuh suaminya saat sudah membersihkan dirinya, soal leher Stevani hanya tergores dua cm itu pun tak terlalu dalam jadi hanya dipakaikan plester saja. Keduanya saling menatap tapi tidak ada yang memulai berbicara.


Stevani sempat merasa bersalah telah meninggalkan Naufal sampai lelaki itu hampir gila itu yang Tania ucapkan padanya.


Ia juga merasa bersalah saat sudah melihat rekaman cctv yang indah dan Tania kirim


Di situ sudah jelas bahwa perempuan yang bernama intan guru baru nya itu yang menarik tengkuk Naufal dan menciumnya tepat dirinya masuk kedalam cafe itu.


"Sayang,"


"Mas,"


Keduanya memanggil secara bersamaan lalu Naufal dan Stevani terkekeh.


"Maaf,"


"Maaf,"


Keduanya berucap bersamaan kembali.


Naufal tersenyum manis ia mengecup bibir istrinya sekilas lalu memeluk tubuh Stevani. Gadis itu membalas pelukan suaminya.


Mata keduanya masih sama saling menatap.


"Tidur kamu pasti capek,"tintah Naufal mengelus lembut punggung Stevani.


Stevani mengaguk lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Naufal memejamkan mata untuk tidur.


Naufal tersenyum tipis ia benar benar kangen dengan istri kecilnya, ia merasa senang karena rumah tangganya sudah baik baik saja.


Lelaki itu mengecup puncak kepala stevani lalu berbisik sesuatu pada Stevani.


"Good night my little wife,"


Lelaki itu memejamkan matanya menyusul istrinya yang sudah berada dialam mimpi.


Semuanya telah selesai berkat bantuan teman temannya, mungkin untuk masalah ini ia terlalu ke kekanak-kanakan karena meninggalkan masalah begitu saja tanpa mau mendengar ucapan suaminya.


To be continued...