
Happy reading 🤮
"Mas,"panggil Stevani duduk di sebelah Naufal yang sedang sibuk bermain game diponselnya.
"..."
"Mas naufal,"Stevani memanggil lagi karena sang suami mengabaikannya.
"Sayanggg ihh,"
"Kenapa hmm?,"sahut Naufal tanpa melirik istrinya.
"Pengen nasi gorengnya mang Nurdin,"rengeknya.
"Mang Nurdin tukang nasi goreng yang ada di pertigaan lampu merah depan?"tanyanya memastikan benar atau tidaknya.
Stevani menggangguk.
"Kan diluar hujan sayang."ujarnya meletakan ponselnya disebelahnya, lelaki itu menatap istrinya.
"Tapi aku pengen mas! gimana dong,"ucapnya mengembungkan kedua pipinya.
Naufal terkekeh geli mencium pipi chubby istrinya.
"Yaudah aku ganti baju, aku beliin ya,"
"Tapi kan mobilnya dibengkel pake apa?"tanya Stevani.
"Motor kamukan ada,"jawab Naufal dengan santai.
"Oh..iya yaudah, sana pedes ya,"
"Nggak"tolak Naufal langsung, saat istrinya minta nasi goreng yang pedas.
"Ihhh pedes."
"Nggak"
"Pedes dong sayang, lagi pengen yang pedes"Stevani merengek dengan tangan menarik narik kaos suaminya itu.
"Nggak" tolak Naufal dengan cepat.
"Byyy pedesss"rengeknya masih dengan tangan yang menarik narik ujung kaos suaminya, berharap kalau permintaannya dituruti.
"Nggak pedes , atau nggak dibeliin"ancam Naufal.
"Oke nggak pedes." Putus Stevani saat mendengat ancaman Naufal.
Naufal menggangguk lalu berjalan kekamar mandi untuk mengganti pakaiannya, setelahnya lelaki itu mengambil kunci motor trail Stevani dan menuju garasi.
Stevani duduk anteng diruang keluarga dengan mata fokus ke layar televisi, sudah 10 menit Naufal pergi perasaannya dari tadi kaya ada yang mengganjal.
Tapi apa?.
Matanya membulat saat mengingat bahwa dirumahnya Tidak ada jas hujan.
Bagaimana kalo Naufal kehujanan terus sakit.
Hufhhh...Stevani meruntuki dirinya yang sangat jahat karena memaksa lelaki itu menuruti keinginan nya, Demi keinginannya Naufal langsung mengiyakanya.
Tunggu bukankah ini bukan pertama kalinya, sudah berkali kali bedanya kalau Hari ini hujan ..ouh ayolah ternyata lelaki yang dulu ia anggap guru paling ngeselin ternyata suami idaman.
Kedua sudut bibirnya terangkat ia tersenyum manis, sikap Naufal selalu manis padanya dan semua yang diinginkan selalu terturuti.
***
"Pagi ku cerahku matahari bersinar, ku gendong tas merahku di pundak"stevani berseru nyanyi disepanjang koridor sekolah.
"Tas Lo biru tolol"celetuk Tania yang berada dibelakangnya.
"Serah gue lah"sewot Stevani menoleh kearah sahabatnya itu.
Stevani dan Tania berjalan beriringan menuju kelas mereka,langkah dua gadis itu terhenti saat guru muda nan cantik menghalanginya.
Stevani yang melihat intan pun mendatarkan wajahnya sedangkan Tania tersenyum simpul pada guru itu.
"Pagi stevani."sapa intan, matanya menatap Tania yang tersenyum kearahnya. Lalu melirik name tag yang berada diseragam gadis itu lalu berucap, "hallo juga Tania."
"Hallo buk." Tania menyapa balik intan dan tak lupa ia senantiasa tersenyum manis.
"Ada apa buk?"tanya stevani dengan malas.
"Emm.. Stevani ini ibu punya tiga coklat satu punya kamu duanya lagi tolong ya kasihin kakak mu, pak naufal"ucap intan menyerahkan tiga batang coklat pada stevani..
"Terimakasih ya dan tolong dikasih kakak mu. ibu permisi dulu, selamat pagi"ujarnya meninggalkan dua gadis itu.
Tania menoleh ke Stevani yang diam memegang tiga batang coklat itu.
"Bu intan nggak tau Lo bininya?" Pertanyaan Tania membuat Stevani memutar bola matanya malas. Ya kali guru baru itu tau ia istrinya pak Naufal orang kepala sekolahnya saja tidak tau.
Gadis itu berkedip dua kali lalu menarik dua sudut bibirnya menjadi sebuah senyuman,"Woahhh...Bu intan sweet banget ya stev."
Stevani mengerutkan keningnya pertanda ia binggung dengan ucapan Tania, "sweet kenapa?"
Stevani merasa dirinya akan dibuat kesal sebentar lagi dan benar saja mendengar jawaban Tania rasa ingin membunuh temannya itu kembali meronta ronta.
"Valentine Tan, bukan natal"koreksi Stevani dengan gemas
"Sama aja kali."
"Iya sama,sama kaya Lo yang gila!"geram Stevani
"Nggak gila kali gue tu stev," elak Tania tak terima dibilang gila oleh Stevani.
"Tau ah tai ayam dikasih nyawa ngajak ribut Mulu." sungut Stevani dengan kesal.
"Lo marah stev?"tanya Tania dengan polosnya menatap Stevani yang terlihat seperti menahan amarahnya.
"Sabar Stevani, dia sahabat Lo kalau bukan ni orang sahabat lo bunuh aja nggak papa."batinya dengan geram.
"Nggak, gue lagi bahagia kok"ucapnya memasang senyum terpaksa.
"Harusnya Lo marah soalnya Lo kalo marah lucu."ucap Tania merangkul pundak Stevani yang sedikit jauh lebih tinggi darinya.
"Tan tips ngilangin bego gimana sih" pertanyaan dari Stevani membuat Tania tertawa.
"Lo kenapa ketawa?"tanyanya heran menaikan satu alisnya, kedua matanya menatap malas Tania.
Tania menghentikan tawanya, ia menggeleng lucu.
"Lo pilih tangan kiri atau kanan?"tanyanya menunjukan dua kepalan tangan yang siap menonjok Tania.
Tania mengangguk pelan lalu ia berkata,"kalau kiri isinya apa? Terus yang kanan juga apa isinya?"
Stevani menghembuskan nafas kasar memasang wajah datarnya.
"Mati aja Lo human"
"Human apaan gue taunya Hotman, penyiar televisi yang terkaya"ucap Tania songong seakan dirinya telah kenal lama sosok Hotman tersebut.
"Pengacara bukan penyiar, dah lah tai ayam bikin naik darah Mulu"kesalnya meninggalkan Tania.
"JANGAN NAIK DARAH STEV MENDING NAIK HAJI LEBIH BAROKAH, JANGAN LUPA TURUNIN DARAHNYA SEBELUM MATI"teriak Tania cekikikan.
" **** YOU KUTIL KAMBING"teriak Stevani mengacungkan dua jari tengah nya pada Tania tanpa berbalik arah.
Tanpa mereka sadari lelaki dengan hoondie putih dengan gambar tengkorak ditengahnya memandang keduanya,senyum smirk tercetak di wajah tampanya.
"Gue sayang sama Lo saking sayangnya hari ini gue bakal bikin hidup lo berubah 180°"batinnya tersenyum miring.
pelajaran biologi telah usai bel istirahat pun sudah berbunyi,Stevani membereskan buku bukunya gadis itu menoleh kesampingnya dahinya menyengit saat melihat Tania yang menelengkupkan kepalanya kelipatan tangannya yang diatas meja.
Stevani menyolek lengan Tania dan Tania hanya diam.
"Tania, kenapa Lo baterainya abis? Aduh kalo iya gue kagak bawa charger gimana mau isi bensin aja?"Ucap Stevani masih dengan nada bercanda nya.
Tak ada jawaban membuat Stevani menaikan satu alisnya,tanganya menyentuh tangan Tania lalu matanya melotot saat dirinya tahu suhu badan Tania tinggi.
Tania demam.
Stevani panik ia mengguncang pelan tubuh Tania membuat Tania menggeliat pelan.
"Tan Lo sakit astaga naga tahu Aci, OMG GILA PARAH Lo jangan mati dulu Tan astagfirullah ayok gue anter kerumah sakit" Heboh Stevani mencoba memapah tania.
Tania dengan tubuh lemas menyentil dahi stevani membuat gadis itu mengaduh mengusap dahinya.
"Lebay Lo!, gue cuma pusing dikit kagak bakal mati"bibir pucat itu tersenyum tipis.
Stevani tak menggubris perkataan tania, ia memapah tubuh tania dan taklupa membawa ponselnya dan milik Tania serta kunci mobil keluar kelas.
Sampai diparkiran Stevani membuka pintu mobil Bugatti Veyronnya dan mendudukan perlahan sahabatnya, gadis itu lalu memutari Bugatti itu dan masuk menduduki kursi pengemudi.
"Tan Lo tahan, Lo nggak boleh mati dulu, oke."ucap Stevani menatap Tania yang sudah duduk anteng disamping nya.
"Stev, gue nggak kuat, gue ma..."
"Lo ngomong apasih Tan! tahan dulu Lo nggak boleh mati Lo punya utang sama gue inget lo!"ucapnya menyalakan mobilnya dengan sesekali menatap Tania.
Tania menyentil dahi stevani keras.
"Gue bukan mau mati gue ma.."
Huek..huekk
Tania muntah di mobil Stevani lalu gadis itu mengambil tisu yang berada dimobil sahabatnya, setelah mengelapnya ia menatap Stevani yang melotot padanya.
"Sorry stev gu..."
"Astaga lo... aduh tahan gue langsung ngebut nih"ucap Stevani langsung menjalankan Bugattinya meninggalkan perkarangan sekolah, sebelumnya Stevani sudah meminta dibukakan gerbangnya dengan alasan yang jujur dan berhasil ia diperbolehkan keluar dari sekolah menuju ke ruamah sakit.
Stevani tidak mempermasalahkan mobilnya itu yang terpenting kesehatan Tania untuk saat ini.
Stevani benar benar panik ia takut Tania kenapa napa, soal mobilnya bisa saja dibawa kecucian kendaraan dan selesai tapi kalau keselamatanya Tania itu kenapa Napa mungkin ia tak akan memaafkan dirinya sendiri.
To be continue...
Â