My Teacher My Husband

My Teacher My Husband
NGIDAM



Happy reading 😒


Matanya perlahan terbuka seiringnya tepukan cukup keras di pipinya. Hal pertama yang ia lihat adalah istrinya yang menatap dengan raut kesal.


"Kenapa hm?" Suara serak khas bangun tidur mengalun ditelinganya wanita itu.


"Kanapa-kenipi, dibangunin dari tadi juga susah amat simulasi meninggal heh."kesalnya menatap ke arah lain selain suaminya


"Yaudah maaf kenapa?"


"Maaf-maaf, masih pagi udah bikin kesel istri aja dibangunin nggak bangun bangun,"


"Salah lagi, salah lagi gini amat punya istri lagi hamil galaknya lebih lebih, padahal yang bikin susah bangun dirinya. Siapa coba yang semalam minta dielusin perut buncitnya sampe jam 2 pagi untung sayang." Gerutunya dengan suara pelan tapi masih bisa didengar Stevani.


Kini usia kandungan Stevani sudah menginjak 5 bulan, perut yang semula masih rata kini perlahan sudah membuncit akibat perkembangan sijanin bayinya.


"Kamu nggak ikhlas semalam aku minta elusin perut aku IYA!," Wanita itu menatap tajam suaminya dengan kedua tangan berkacak pinggang.


Naufal gelagapan ia berdiri dan langsung memeluk tubuh Stevani mengecup keningnya cukup lama,bisa berabe kalau istrinya marah disuruh tidur diluar lagi kan nggak enak, nggak ada yang dipeluk, dicium di naninu eh...


"Maaf," ucapnya lalu lelaki itu beralih mengecup perut buncit istrinya cukup lama.


"Maafin papa ya sayang,"ujarnya berbicara pada anaknya yang masih berada didalam perut Stevani.


Naufal melirik jam dinding menunjukkan pukul 5 pagi.


"Kenapa hm? Bangunin aku jam 5 pagi?" Naufal membawa istrinya duduk di pangkuannya.


"Aku pengen ke Jepang," ujarnya lalu Wanita itu membalikan tubuhnya sehingga dapat melihat wajah tampan suaminya.


"Bisa diatur nanti sore kita berangkat, biar soal tiket sama yang lain Bram yang urus," jawabnya mengecup leher istrinya singkat.


"Tapi kejepang bukan buat liburan,"


"Terus?" Alisnya terangkat satu setelah mendengar penuturan istrinya itu, menatapnya dengan penuh keheranan.


"Kemarin kan adiknya Prita datang bawa kue serabi nah katanya makan kue serabi enak sambil duduk-duduk di Tokyo Disneyland, sekarang aku pengen gitu duduk-duduk makan serabi dinegara Jepang, kata adiknya Prita disana ada yang jual serabi, boleh ya aku pengen,"jelasnya menatap suaminya penuh harapan.


Naufal menelan ludahnya sendiri.


"Sayang dijepang nggak ada yang jual serabi kita ke jawa barat aja ya makannya, beli serabi disana nggak usah ke jepang, kalau mau ke jepang liburan aja oke,"tuturnya sangat lembut takut istrinya marah.


"Ihh aku pengennya makan serabi dijepang bukan ke Jawa barat,"wanita itu berdiri menghentak hentakan kakinya kelantai dengan kesal membuat Naufal melotot seketika.


"Astaga jangan kaya gitu nanti bayinya jatuh,"panik Naufal dengan sigap menggendong stevani dan membaringkan tubuh itu kekasur.


"Alhamdulillah aman,"ucapnya saat mengecek apakah anaknya jatuh atau tidak, lelaki itu bernafas lega saat ternyata perut istrinya masih buncit.


"Pokoknya aku mau makan serabi di Disneyland titik, totok, ***** eh.. yang ***** enggak ikut,"Stevani memalingkan wajahnya, malu saat mulutnya mengucap ***** kaya nggak enak didengar gitu.


"***** nya nggak ikut jadinya?" goda Naufal mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Apasih nggak usah bahas *****!, sekarang kamu harus turutin kemauan aku!" Wanita itu beranjak dari kasur berjalan menuju kamar mandi.


Naufal menghela nafas panjang astaga apa permintaan tadi itu adalah ngidam istrinya, kenapa harus aneh aneh sekali. Cukup Minggu lalu saja ngidam istrinya yang membuat nya frustasi.


Ingatan Naufal kembali dimana Stevani ngidam membuat dirinya benar benar marah, kesal, cemburu secara bersamaan.


FLASHBACK.


Baru saja Naufal pulang dari kantor saat Naufal masuk kekamar, lelaki itu dikejutkan dengan tingkah istrinya yang langsung memeluk tubuh nya dan menciumi seluruh wajahnya.


Naufal bingung karena istrinya baru pertama kali bersikap seperti itu membuat tanda tanya dikepala pria itu.


"Kenapa hm?"tanya nya setelah mencium kening istrinya dan mencium perut buncit bumil itu.


"Aku pengen sesuatu,"jari jari lentik itu perlahan membuka kancing jas suaminya.


"Bilang pengen apa aku turuti semuanya,"lelaki itu mengendong istrinya ala koala setelah Stevani melepas jas kantornya dan menyisakan kemeja putih polos.


"Tapi kamu harus turutin dan nggak boleh marah soalnya aku udah pengen dari lama,"Stevani tersenyum manis.


"Katakan sayang aku turuti semuanya asal kamu nggak minta buat aku izinin kamu nikah lagi,"


Cup.


Naufal menyium bibir istrinya sekilas.


Cup.


Cup.


Cup.


Lalu Lelaki itu mencium kedua pipi Stevani dan terakhir diujung hidung wanitanya.


"Buka dicium kamu,"kesal Stevani.


"Aku pengen dicium Bram bodyguard kamu," lagi lagi Stevani tersenyum manis.


Naufal menatap datar Stevani saat telinganya mendengar ucapan permintaan istrinya.


"Itu nggak akan pernah terjadi,"ucapnya dengan sorot mata menajam.


"Nggak akan terjadi oke,"tegasnya menatap istrinya yang hanya diam.


"Tapi anak kamu pengen dicium sama Bram by," pintanya dengan raut wajah memelas.


"Kenapa nggak aku,aku suami kamu aku yang udah nyeponsori ****** aku didalam rahim kamu sampai jadi bayi.itu anak aku daging darah aku bukan bram. kenapa minta dicium sama dia,"Naufal memejamkan matanya lelaki itu emosi saat tanpa disangka halusinasi istrinya berciuman dengan lelaki lain melintas diotaknya.


"Tapi anak kamu yang minta, kamu mau anak kamu ileran kalau udah lahir,"


Naufal menggelengkan kepalanya pelan.


"Yang lain ya permintaan nya, janji aku turuti asal jangan minta dicium bram," ucap Naufal dengan lirih.


"Enggak, katanya mau nurutin semua permintaan aku," Stevani berucap tegas seakan permintaan harus benar benar dikabulkan oleh Naufal.


Setelah 30 menit berdebat, akhirnya Naufal mengalah sekarang ketiga orang itu tengah berada di ruang tamu.


Bertiga, orang itu tenta saja Naufal, Stevani dan bram.


Naufal menatap tajam Bram.


Bram sendiri yang ditatap tuannya ketar ketir ketakutan beberapa kali menelan Saliva nya sendiri.


Ia tak tau kenapa ditatap seperti itu oleh tuannya, setaunya dirinya tidak melakukan kesalahan kenapa dirinya dipanggil dan berakhir ditatap dengan aura permusuhan.


Stevani tersenyum manis melihat Bram bodyguard suaminya yang paling tampan diantara yang lain.


"Udah boleh?"Tanyanya pada Naufal.


Naufal dengan paksa mengaguk singkat matanya tetap menatap tajam Bram yang menundukkan kepalanya.


Stevani tersenyum manis dengan cepat menghampiri Bram menepuk pundak bodyguard itu membuat Bram menoleh kearah wanita itu.


Cup.


Stevani mencium sekilas bibir Bram dan langsung berjalan santai menuju kamarnya meninggalkan Bram yang melotot kaget perlakuan nyonyanya itu.


Menelan Saliva nya kasar menoleh ke arah Naufal perlahan.


"Bersihkan bibir kamu sebanyak 7x saya tidak mau kamu mengecap bekas bibir istri saya dan berakhir menjadi candu nanti kamu selikuh lagi sama istri saya, saya potong tubuh kamu menjadi 5 bagian kalau itu sampai terjadi,"tegasnya meninggalkan ruangan itu beserta bodyguard nya yang masih diam


Bram menelan Saliva nya kasar keringat bercucuran, tangan berubah menjadi dingin perlahan kaki itu berjalan dengan gemetar keluar dari rumah itu.


Ancaman tuanya pasti tidak akan main main ia tau itu, mengingat kejadian beberapa hari yang lalu membuatnya bergedik ngeri, saat itu Stevani kakinya terkilir akibat tak sengaja jatuh terpeleset karena lantai nya basah akibat atap bocor saat   hujan turun hal itu membuat Naufal kalap kabut alhasil para bodyguard serta art rumah itu yang kena amukan tuan mudanya.


Ia tak akan pernah melakukan perselingkuhan itu, ia tak mau mati karena berselingkuh dengan istri tuanya. ia masih waras untuk tak melakukan itu lagi pula sebulan lagi dirinya akan menikah.


FLASHBACK OFF.


Naufal menggelengkan kepalanya guna menghilangkan ingatan kejadian beberapa yang lalu, lelaki itu lalu beranjak dari tempatnya dan berjalan menghampiri istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi, ia akan membujuk lagi soal ngidam aneh istrinya itu.


TBC...