My Teacher My Husband

My Teacher My Husband
jatuh sakit



HAPPY READING 😒💅


Setelah kemarin malam hujan hujanan pagi ini Naufal kira istrinya yang akan sakit karna setaunya daya tahan perempuan cenderung lemah tapi ternyata malah dirinya yang jatuh sakit, untung saja hari ini hari weekend jadi sekolah libur Naufal pun bisa istirahat agar cepat sembuh dalam demamnya.


Lelaki itu nampak meliukkan tubuhnya dibawah selimut tebal. kepalanya pusing, badanya panas sesekali lelaki itu berdecak kenapa istrinya lama sekali membuat bubur untuknya. ia ingin memanfaatkan demamnya dengan bermanja manja dengan istri kecilnya itu,sudah satu jam lebih Stevani pamit untuk membuatkan bubur tapi tidak selesai-selesai membuatnya benar-benar kesal.


Ceklek


Pintu kamar terbuka memperlihatkan Stevani dengan kaos oblong dan celana pendek, membawa nampan berisi bubur dan air putih kedalam kamar dan mendekati Naufal yang tengah bergulung selimut.


"Ayok makan dulu, udah aku buatin bubur."pintanya.


"Lama banget sih"ucap Naufal mencoba duduk dari baringanya dibantu oleh Stevani.


"Aku cuci piring dulu"jawabnya menyendok satu suap bubur dan memasukkan kedalam mulut Naufal,


Baru saja empat sendok makan Naufal sudah menolaknya untuk makan Lagi.


"Nggak enak ya buburnya kok makannya dikit."ucap Stevani dengan tampang sedihnya, ia bermaksud untuk membuat suaminya tidak tega dan memakan buburnya sampai habis.


"Enggak kok.. enak cuma udah kenyang"ucapnya dengan sedikit parau, sesuai dugaannya lelaki itu pasti merasa tidak enak pada dirinya.


"Bohong, bilang aja nggak enak buktinya kamu makanya tiga suap."Stevani memanyukan bibirnya.


"Empat suap kok, bukan tiga."elak naufal.


"Iya empat, tapi itu terpaksakan karna nggak enak jadi udahan."


"Ihh engak orang bubur nya enak kok."ucap Naufal tak enak hati kepada Stevani, padahal dirinya memang tidak nafsu makan bukan buburnya yang tidak enak.


"Terus kenapa nggak dihabisin."


"Iya-iya habisin, suapin lagi"dengan pasrah Naufal membuka mulut saat Stevani menyuapkan buburnya padi dirinya.


Stevani tersenyum saat buburnya tinggal setengah biarpun masih ada setidaknya bubur yang Naufal makan cukup untuk mengganjal perutnya saat akan minum obat.


"Sekarang minum obatnya ya."pinta Stevani mengambil obat demam dan segelas air putih.


"Nggak mau."ucap Naufal dengan tingkah seperti anak kecil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya.


Lelaki itu memang dari kecil paling tidak suka minum obat jadi terbawa sampai dewasa, jika sakitpun lelaki itu menolak keras saat disuruh minum obat.


"Kenapa?"tanya Stevani.


"Obatnya pait."


"Namanya juga obat minum ya biar cepet sembuh."dengan lembut mencoba menarik tangan lelaki itu yang menutupi mulutnya.


"Nggak mauuu."rengeknya menepis pelan tangan istrinya.


"Minum obatnya."


"Nggak."


"Minum obatnya nggak! biar cepet sembuh." Kesal Stevani saat suaminya terus menolak untuk meminum obat.


"Engak mau sayang." Lelaki itu kembali merengek agar tidak meminum obat itu.


Habis sudah kesabaran Stevani dengan cepat stevani memasukkan obat itu kedalam mulutnya dan meminum air putih dengan segera menarik kuat tangan Naufal yang menutupi mulutnya dan langsung memegang kedua rahang tegas Naufal lalu mencium bibir Naufal sambil memasukkan obat kedalam mulutnya Naufal.


Percayalah cara itu cukup ampuh.


Naufal yang diperlakukan itupun cukup kaget matanya membola besar, stevani cukup agresif sampai dirinya tak sadar obatnya sudah tertelan masuk kedalam mulutnya.


Setelah merasa obatnya tertelan oleh suaminya, baru saja Stevani ingin melepas ciumannya Naufal dengan gesit menarik tengkuk Stevani dan ******* bibir istrinya.


Stevani pun melotot tapi dirinya hanya bisa terdiam dan Perlahan membalas ciuman itu.


Sesaat Naufal melepas ciumannya lalu ia tersenyum manis.


"Enggak pait ya obatnya,malah manis."ucapnya dengan tersenyum lebar.


Stevani hanya berdecak baru saja akan pergi meninggalkan Naufal tetapi lelaki itu dengan cepat menahan tangannya.


"Apa?"


"Temenin, aku pusing kepalanya butuh pelukan."ucapnya memanyunkan bibirnya.


"Manja dikit nggak papa lah sesekali."batin Naufal.


"Nggak, aku mau nonton Drakor."tolaknya.


"Ihhh dingin.. pelukkk."rengek Naufal menggoyang tangan Stevani.


Stevani pun menghela nafas pelan, suaminya sungguh manja sekali saat ini, gadis itu berbaring di ranjang tepat sebelah kiri Naufal. Lelaki itupun tersenyum menaruh wajahnya tepat didada istrinya dengan setengah badan menindih tubuh istrinya.


"Kok gini sih."ucap Stevani sedikit tak nyaman dengan posisinya karna wajah Naufal menekan tepat dibuah dadanya.


"Nggak papa, empuk."ucapnya santai dengan sesekali mendusel dusel didada istrinya.


Stevani yang mendengar ucapan Naufal mencubit pinggang suaminya sampai lelaki itu mengaduh kesakitan,ah hasil mau tak mau dari pada dicubit lagi lelaki itu mengganti posisinya.


***


Naufal menggerjapkan matanya menepuk kasur disampingnya.


Kosong??


Dengan cepat ia menoleh dan benar saja istrinya sudah tidak ada disampingnya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 1 siang, lama sekali ia tidur! dengan segera lelaki itu bangun dari tidurnya samar samar telinganya mendengar suara.


Menoleh kearah suara tersebut


Ternyata berasal dari arah balkon kamarnya.


Naufal melangkah ke balkon kamarnya dan benar saja orang yang ia cari tengah menatap laptopnya yang berada dipangkuan gadis itu.


Apakah terlalu menyenangkan sampai ada suaminya, gadis itu tidak menoleh ia yakini bahwa istrinya tengah menonton Drakor sampai tak sadar ada dirinya.


"Udah bangun?"tanyanya saat menyadari Naufal duduk disampingnya.


"Udah."


"Bagus deh.. masih pusing?"tanyanya melirik sekilas suaminya.


"Nggak."


Setelahnya Hening tak ada percakapan Stevani sibuk dengan laptopnya dan Naufal yang memandang istrinya dari samping.


Sampai dering ponsel Stevani memecah keheningan


"Hallo kenapa tan"tanya Stevani.


"..."


"Oke, ntar coba gue izin suaminya gue"


"..."


Tut.. Tutt


Panggilan berakhir baru saja Stevani ingin membuka suara untuk meminta izin suaminya lelaki itu sudah berbicara dulu.


"Nggak aku izinin kalo kamu mau pergi."


"Kenapa? belum juga izin masa nggak dibolehin aku nongkrong"ucap Stevani.


"Nggak, nanti aku sama siapa?" Ujarnya menatap perempuan didepanya dengan lekat.


"Sendiri lah aku mau nongkrong sama Tania"ucap Stevani mematikan laptopnya


"Nggak, dibilang nggak ya enggak Aku lagi sakit loh!"kesal Naufal.


"Katanya udah sembuh"


"Tapi nut nut ini aku punya kepala"ucapnya dengan nada manja.


Stevani meraup wajah Naufal lalu menyentil dahi laki laki itu ,"nggak usah manja, udah ah aku mau nongkrong"


"NGGAK YA, AKU NGGAK IZININ." Pekik Naufal.


Stevani yang mendengar ucapan Naufal pun hanya pasrah, ia kesal kenapa suaminya sangat manja hari ini.


"Oke fine nggak pergi"ketusnya bersedekap dada.


Naufal pun tersenyum penuh kemenangan.


"Yaudah bagus, sekarang buatin aku Es coklat"pintahnya seenak jidat.


Stevani melotot apa suaminya gila baru saja sembuh dari demam minta buatin Es coklat sungguh ia sangat geram.


"Nggak baru juga sembuh, air putih aja"


"Pengen es Coklat."


"Nggak"


"Ayolah by buatin"Naufal kembali merengek.


Stevani menghembuskan nafas kasar dengan malas ia beranjak kedapur untuk membuatkan es Coklat yang diminta suaminya.


Tak lama stevani datang dengan segelas es Coklat


Menaruh sedikit kasar dimeja yang berada di depan Naufal duduk.


"Minum abisin, udah aku kasih sianida juga."ketusnya meninggalkan suaminya.


Naufal melotot apa tadi katanya sianida.


Apa istrinya bercanda, ia melirik es coklat itu lalu bergedik ngeri lelaki itupun meninggalkan balkon dan berniat menyusul stevani ia tak jadi minum takut beneran ada sianidanya melihat istrinya yang terlihat kesal tadi.