
Always happy 🤯
Kejadian beberapa jam yang lalu membuat Stevani mendiami suaminya, saat ini keduanya tengah berada di ruang keluarga. Keduanya tengah sibuk dengan urusan masing masing, Stevani sibuk dengan laptopnya yang menayangkan Drakor kesukaanya sedangkan Naufal tengah berkutat dengan ponsel miliknya.
sudah satu jam lebih Naufal pulang dan ikut duduk di disamping Stevani itu, tidak ada perbincangan hanya keheningan yang ada.
"Gila cakep banget sih,mana perutnya sixpack lagi jadi pengen pegang."Stevani terus memuji pemeran Drakor di laptopnya yang menampilkan laki laki yang hanya menggunakan celana training tengah berolahraga yang mana sangat jelas memperlihatkan perut abs nya.
"Cakepan juga saya, sixpack an juga saya."celetuk Naufal jengah mendengar istrinya memuji lelaki lain biarpun lelaki tersebut dalam video.
"Apaan perut bapak buncit gitu."ucap Stevani melirik sekilas Naufal.
"Buncit apanya, sixpack gini kok" kesal Naufal tidak terima dibilang buncit perutnya.
"Yaudah terserah." Ucap Stevani mengakhiri pembicaraannya.
Rumah kediaman Leonard atau rumah nya Stevani terlihat sepi karna tadi pagi ayah maupun bundanya pamit menghadiri undangan kolega bisnis ayahnya, jadi hanya ada keduanya serta para ART.
"Stevani saya boleh minta tolong." Ucap Naufal memecah keheningan membuat Stevani menoleh.
"Tolong nyalain televisi, remote Televisi nya didekat kamu soalnya."titah Naufal.
"Nggak mau ah..kenapa nyalain televisi."tolak Stevani menatap Naufal.
"Saya mau nonton Televisi."
"Tapikan nggak perlu nyalain televisi, orang televisinya nggak salah apa-apa kok."ucap Stevani lalu terkekeh membuat Naufal menatap datar Stevani.
"Pak, saya punya tebakan." Stevani berkata setelah menyalakan televisi.
"Apa?"Naufal melirik sekilas Stevani.
"Saat kapan kita buka pintu?"tanya stevani.
"Saat mau pergi atau masuk mungkin." jawab Naufal.
"Salah."
"Terus?"
"Saat pintunya tertutup." Stevani berkata lalu bertawa terbahak bahak dengan tangan kiri menepuk sofa kosong disampingnya.
Naufal terkekeh geli ada ada saja kelakuan istrinya itu.
"Ada lagi nih pak."
"Apa coba?"
"Cuma bapak harus tau soalnya saya juga nggak tau jawabannya." Ucap Stevani membuat kening Naufal berkerut menandakan bahwa lelaki itu tengah bingung.
"Kok gitu emang apa tebak tebakannya." Merasa penasaran Naufal menatap lekat wajah cantik istrinya.
"Pertanyaan itu, pintu neraka cara bukanya di dorong atau di tarik pak?" Naufal menghembuskan nafasnya pelan tak menjawab pertanyaan itu karena dirinya juga tidak tau.
Stevani terkekeh geli saat suaminya itu hanya diam tak menanggapi pertanyaannya.
***
Jam masih menunjukkan waktu pembelajaran, Stevani berjalan sendirian di koridor sekolah yang terlihat sepi. Gadis itu berjalan menuju kelasnya kembali karena ia sempat kekamar mandi tadi. kelasnya free claas guru yang mengajar tidak datang jadi aman saja saat dirinya berada di toilet cukup lama.
"Stevani."panggil seseorang membuat Stevani menoleh dan mendapati guru muda yang masih terlihat muda nan cantik, namanya Bu Alya.
"Saya minta tolong sama kamu boleh?" Bu Alya bertanya dengan senyum manisnya.
"Boleh buk kebetulan kelas saya free." Jawabnya ikut tersenyum.
"Tolong fotocopy ini ya diluar sekolah, soalnya mesin fotocopy sekolah lagi rusak." ucap Bu Alya memberikan selembar kertas yang akan difotocopy dan uang pada Stevani.
Gadis itu menggangguk pelan.
Sampainya ditempat tujuan fotocopy yang tidak jauh dari sekolahnya, gadis itu masuk langsung menghampiri penjaganya.
"Bang disini fotocopy 24jam ya?" tanya stevani pada Abang Abang penjaga fotocopy.
"IYa, disini fotocopy 24jam neng."balas abangnya.
"Wah kalau gitu saya nggak jadi fotocopy bang."ucap stevani membuat abang penjaga fotocopy an itu menatap binggung.
"Loh kenapa gitu?"tanya Abangnya.
"Soalnya ditempat fotocopy lain cuma 5 menit lah masa disini Sampai 24 jam."ucap stevani terkekeh geli.
"Eh kutu kupret! 24jam itu bukanya." Kesal penjaga fotocopy itu menatap kesal Stevani.
"Sa aelah bang becanda saya mah."Stevani masih terkekeh lalu ia memberikan kertas yang akan difotocopy pada abangnya itu.
Sembari menunggu selesai abangnya memfotokopi kertasnya, dia duduk dikursi plastik berwarna merah tanpa senderan yang sudah disediakan untuk menunggu, matanya berseliweran menatap sekelilingnya.
Saat tengah asik memperhatikan sekelilingnya, seorang anak laki-laki tampan dengan seragam Sekolah Dasar berumur sekitar 8 Tahun berdiri di depanya dan menyapa Stevani.
"Hay kak."sapa anak itu.
"Hay juga."balas Stevani.
"Mau fotocopy juga?" tanya stevani saat melihat kertas yang dipegang oleh anak itu.
bocah laki laki itu mengangguk lalu pergi menyerahkan kertas nya agar bisa difotokopi
"Nama Kakak Stevani, nama kamu siapa?"tanya Stevani mengelus kepala bocah yang baru saja duduk disebelahnya.
"Coba siapa namanya kakak pengen tau, seberapa bagus nama kamu" Ucap stevani dengan senyum manis.
"Yaitu bagus nama saya." Jawab bocah itu.
"Iya kakak tau nama kamu bagus, tapi kasih tau dulu dong nama kamu itu siapa?" Stevani kembali bertanya.
"NAMA SAYA BAGUS HERMANTO KAK. "terikan anak itu karena terlalu kesal pada stevani, Setelahnya terlihat bola mata bocah laki-laki itu berkaca kaca.
Stevani baru sadar bahwa yang dimaksud anak itu, lalu ia tertawa terbahak bahak membuat bocah itu mengerjabkan matanya lucu tak lama bocah bernama bagus itu ikut tertawa.
"Kenapa kamu tertawa?"tanya stevani disela tawanya.
"Ikut kakak tertawa."bagus menjawab dengan polos, ia tidak tahu kenapa kakak didepannya tertawa maka dirinya ikut tertawa saja.
Stevani yang mendengar itupun lantas tertawa lagi diikut bocah bernama bagus, keduanya tertawa bersama.
***
"Ahh... huhhh....ahhh"
"Shhhh... ahhhh.... Huhh"
"Masyaallah buk suaranya bikin saya ambigu"
"Maaf deh abisnya mie ayam nya masih panas ditambah pedes lagi."ujar ibu ibu tersebut sembari tersenyum pada stevani.
setelah tadi pulang sekolah Stevani mampir terlebih dahulu di warung mie ayam langgananya untuk mengisi perutnya yang kosong.
"Dah lah males gue, udah nggak mood."batinnya lalu membayar mienya dan pergi menaiki mobilnya.
Stevani memasuki rumahnya yang nampak sepi, ayah bundanya pergi katanya akan menginap di rumah omanya dan ia yakin Naufal suaminya itu sudah tidur karna jam menunjukan pukul 22:10 malam.
Saat membuka pintu kamar Stevani terkejut saat mendapati suaminya tengah menatapnya dengan tangannya bersedekap dada, Stevani menelan salivanya kasar tatapan suaminya sungguh membuat jantungnya deg deg kan.
"Ehh pak Naufal saya kira udah tidur."Stevani mencoba menutupi kegugupannya.
"Dari mana kamu?" Suara dingin dari Naufal membuat nyali Stevani seketika ciut tapi ia berusaha tidak takut.
"Ehh.. bapak pake kaos item sama celana item lucu deh, kaya mau ngelayat mana gantengnya udah tujuh turunan gitu pula."Stevani mengalihkan pembicaraan dengan tertawa garing.
"Dari mana kamu Angelia Stevani putri?"suara bariton tersebut membuat Stevani gelagapan sungguh auranya sangat menyeramkan.
Naufal melangkah mendekati gadis itu.
"Belajar kelompok.. iya belajar kelompok tadi." Elak Stevani.
Naufal tau istrinya berbohong padanya, pasalnya ia tahu darimana saja istrinya itu ia sempat mengikutinya dari mulai gadis itu beli makanan, membantu nenek menyebrang jalan dan berakhir pergi ke sirkuit dengan tiga cowok yang ia tidak tau siapa namanya.
Ya memang Stevani setelah makan mie ayam tadi siang, ia tak langsung pulang melainkan pergi ke sirkuit sampai dimana ia pulang jam 10.
"Jawab jujur."kata Naufal mengikis jarak keduanya membuat Stevani melototkan matanya.
"O..orang u..dah jujur kok."Stevani menggutuk dirinya karena tiba tiba terbata saat berucap.
Tanpa babibu Naufal menggendong stevani seperti karung beras dan membanting tubuh Stevani pada ranjang sedikit keras, lalu mengurung tubuh gadis tersebut dibawah nya membuat gadis itu melotot dan takut.
"Jawab jujur." Tekannya menatap lekat manik coklat Stevani.
"Su.. sudah jujur kok pak."Stevani mencoba menetralkan detak jantungnya.
"Jujur atau saya cium." Ancam Naufal membuat Stevani kembali melototkan matanya.
"Iya saya jujur, saya dari sirkuit pak." Stevani memejamkan matanya tidak berani menatap manik hitam Naufal.
Naufal menghela nafas panjang lalu bangkit, setelahnya menutup pintu kamarnya.
"Lain kali jujur nggak usah bohong, saya tau kamu tadi kemana aja."
"Ya pak."
"Tidur sudah malam besok kamu sekolah jangan sampai telat" tintahnya langsung diangguki Stevani.
"Lusa kita pindah rumah." Ucapnya.
"Kemana pak?, kenapa nggak disini?" Tanyanya kaget saat mendengar ucapan suaminya yang mengatakan akan pindah rumah.
"Saya ingin mandiri tidak ingin merepotkan orang tua saya maupun orang tua kamu." Ucap Naufal membaringkan tubuhnya di ranjang, disisi sebelah lainnya.
"Bapak sendiri aja,saya mau disini." ucap gadis itu mendudukkan tubuhnya.
"Kamu Ikut saya."
"Nggak."
"Ikut."
"Nggak."
"Ikut saya atau kita progam bayi sekarang." ancaman yang membuat Stevani, mau tak mau langsung mengganggukkan kepalanya cepat pertanda ia mengiyakanya.
TO BE CONTINUED...
...
...