
Happy reading 👿
Bugatti Veyron silver itu sudah terparkir rapi Di parkirkan salah satu rumah sakit ternama di kota Jakarta.
Medika utama.
Rumah sakit terbesar diwilayah tersebut tujuan dua gadis itu, siapa lagi kalau bukan Stevani dan Tania.
Stevani keluar dari mobilnya berjalan memasuki rumah sakit untuk memanggil perawat untuk membantu dirinya membawa sang sahabat, ,sebenarnya Tania masih bisa jalan hanya Stevani saja yang terlalu alay sehingga Tania harus menunggu dimobil sampai stevani kembali dengan seorang perawat untuk membantu dirinya masuk kerumah sakit.
Stevani mengedarkan pandangannya senyum manis tercetak diwajahnya saat melihat punggung perawat laki laki yang berjalan membelakangi nya,tak mau buang waktu gadis itu menghampiri perawat itu.
"Mas, bantu temen saya yang lagi sekarat dimobil... tolong bantu ntar keburu mati"ucapnya dengan sekali tarikan nafas. nafasnya nampak tidak beraturan akibat berlari lari di koridor rumah sakit.
Mas-mas perawat itu nampak ikut panik berlari mengikuti Stevani yang sudah berjalan keluar terlebih dahulu.
Sampai diparkiran perawat lelaki itu langsung membuka pintu mobil Bugatti itu, mulutnya menganga saat melihat gadis pucat tengah duduk santai dengan satu tangan mencari sesuatu dari lubang hidung nya.
Iuhhh...
Bergedik ngeri tapi tak lama
Lelaki itu langsung permisi ia menggendong Tania ala bridal style dengan sedikit berlari,perawat tampan yang usianya terlihat muda itu membuat Tania terpesona dengan centil ,tangan mungil itu melingkar di leher perawat itu sesekali mengusapnya.
Perawat lelaki itu seketika melotot dan langkahnya terhenti akibat tangan Tania yang melingkar di lehernya.
Bagaimana tidak melotot? tangan itu, tangan yang masuk ke lubang hidung dan mencari bokahan disana dan lihatlah sekarang jari jari itu mengusap lehernya.
Perawat itu bergedik tapi ia tak enak jika harus bilang jadi perawat itu diam saja tanpa melanjutkan langkahnya.
"Kenapa berhenti?,"tanya Stevani ikut berhenti.
Suara Stevani membawanya tersadar, langsung saja ia menatap Stevani tersenyum simpul lalu kembali berjalan menyusuri koridor dengan sedikit berlari.
"Nggak usah lari aku nggak sekarat,"ucap Tania santai,dengan sengaja menyenderkan kepalanya di dada lelaki itu.
"Mas, berat nggak temen saya?"tanya Stevani menyejajarkan langkah santai perawat tersebut.
"Temen mbak ringan."jawabnya menoleh ke arah Stevani masih dengan berjalan.
"Ya iyalah kek amalan amalan dia." Ucap Stevani membuat Lelaki itu terkekeh.
Tania mengulurkan tangannya dan menoyor kening Stevani pelan.
"Sialan lo!"umpat Tania.
"Nyata bangkek"
Sampainya di salah satu ruangan, Tania langsung diperiksa dokter sedangkan Stevani duduk gelisah, ia takut teman begonya kenapa-napa.
Ceklek
Pintu terbuka menampilkan dokter berumur kepala tiga dengan jas putih melekat ditubuhnya,lantas Stevani langsung menghampiri dokter itu.
"Gimana dok kalau mau dioperasi malam ini nggak papa biar saya yang tanggung soal biaya."ujar Stevani membuat dokter itu terkekeh saat mendengar ucapan Stevani.
"Adek, temennya nggak kenapa napa cuma masuk angin nggak perlu dioperasi"jelas dokter itu tersenyum manis pada stevani.
"Kok nggak di operasi otak dia geser dok, kalau enggak kayanya otaknya kurang kenceng masangnya. Operasi aja lah, saya temennya capek sama dia kalau bego naturalnya masih ada."cerocosnya membuat Dokter itu kembali terkekeh mendengar penuturan gadis SMA didepannya lalu ia tersenyum manis.
"Nggak ada yang salah soal otaknya,nanti saya kasih resep obat ntar ditebus ya"ucap dokter itu.
Stevani mendengus lalu mengangguk pelan.
Setelah dokter itu pergi lantas Stevani langsung masuk ruangan Tania.
"Padahal tadi gue nyuruh tu dokter buat operasi Lo biar nggak bego tapi si dokter nggak mau, selamat dah bego natural Lo. Aman jadinya" ujar Stevani berdiri dibrankar Tania.
"Cara bikin Lo waras"jawabnya dengan malas.
"Hilih"
"Tan, tapi Lo nggak papa kan?"tanyanya sangat ketara bahwa Stevani menghawatirkan sahabatnya itu.
Tania hanya diam sorot matanya menatap Stevani yang juga menatapnya dengan rasa khawatir,Tania sangat bersyukur punya teman seperti Stevani, Tania sudah menganggap stevani kakaknya.
Kenapa tidak adiknya jawabannya karna Stevani lebih tinggi 5cm darinya, itu alasannya.
Tania terharu saat Stevani begitu menghawatirkan saat dirinya kenapa-napa orang pertama yang menjadi sandarannya saat dirinya terpuruk adalah stevani, gadis itu selalu ada disampingnya susah senang bersama. Tania merasa tidak berguna saat Stevani ada masalah dirinya selalu tidak bisa membantu, dirinya hanya bisa pura pura bodoh untuk menghiburnya.
Tania berjanji setelahnya ini ia akan selalu ada tidak seperti dulu saat sahabatnya terpuruk ia tidak ada,Tania sayang Stevani, Tania Juga tak ingin pisah dengan sahabatnya itu.
Butiran bening itu tetes dengan tiba tiba dipipi Tania membuat stevani semakin panik.
"Tan Lo nggak papa kan, apa yang sakit?,Kenapa Lo nangis Tan?"tanyanya menggenggam tangan Tania.
Tania menggeleng lalu menarik Stevani untuk ia peluk.
"Tan, gue udah punya suami kalo Lo mau lesbian jangan sama gue." Ujar Stevani bergidik ngeri saat membayangkan bahwa Tania akan lesbian bersama dirinya.
Tania mendengus lalu mendorong pelan tubuh Stevani, ia ingin melow melowan Tapi temannya itu menghancurkan suasana, kan males jadinya.
"Gue lagi...arghh sudah lah Lo nggak bakal tau juga."kesal Tania.
Stevani terkekeh melihat itu
Ia bersyukur Tania hanya masuk angin tidak ada penyakit lebih bahaya.
Stevani membuka hp laku mengirim pesan pada suaminya bahwa dirinya akan pulang sedikit telat karena Tania hanya diperbolehkan pulang saat cairan ditangannya habis.
***
Cowok bertubuh tegap dengan jaket jeans itu membanting vas bunga dirumahnya menimbulkan suara nyaring, menggeram marah mengacak rambut nya dengan frustrasi dadanya kembang kempis, tangannya mengepal kuat giginya bergelutuk menandakan bahwa ia benar benar emosi.
"Arghhhhhh.. sialan!"lelaki itu mengacak rambutnya dengan frustrasi.
"Gagal lagi rencana lo?"tanya seseorang bersandar di tembok ruang tersebut.
"Hmm."
"Udahlah cari yang lain nggak usah kaya orang jelek yang susah cari cewek."ucap lelaki itu berjalan duduk disofa.
"I just want him to not care about the status of a gril"desisnya menatap datar.
"Oke gue bantu, gue juga punya dendam sama dia"ucapnya membuat lelaki berjaket jeans itu menengok ke arahnya.
"Soal dulu?"tanyanya.
"Ya, karena dia gue nggak bisa sama orang yang gue sayang"balasnya.
"Lo ada rencana?"
"Kakak Lo ini pinter selalu ada cara untuk membuat orang menderita."ucapnya, "gue udah yakin rencana lo gagal makanya gue mau bantu kehancuran dia mulai besok"lanjutnya tertawa jahat.
Lelaki berjaket jeans itu tersenyum miring ia tau kakaknya selalu bisa diandalkan.
JANGAN LUPA MAMPIR CERITA KEDUA AKU YA💅
TO BE CONTINUED....
Â