My Teacher My Husband

My Teacher My Husband
PERTUNANGAN TANIA



HAPPY READING 🥺


Naufal berdecak kesal untuk kesekian kalinya dibuat malas oleh istrinya, malas menunggu perempuan yang sedang berdandan.


Terkadang dirinya berfikir.


apa semua wanita jika sudah dandan lama?


Entahlah ia rasa semua perempuan kalau berdandan akan memakan waktu yang lama.


Naufal menghembuskan nafas pelan, dua kakinya berjalan menuju tangga. Seperti biasa istrinya pasti ada hal yang bikin dia lama dalam bersiap siap untuk pergi seperti binggung memilih baju,sepatu atau tas.


Ceklek..


Pintu kamar terbuka Naufal menghampiri istrinya yang tengah bercermin dengan raut wajah yang kesal.


"Kenapa?"


"Aku gendut banget, pasti aku jelek." Stevani mengerucutkan bibirnya matanya berkaca kaca menatap pantulan dirinya yang semakin hari tubuhnya semakin melebar.


"Jadi dari tadi lama cuma gara gara kamu gendut,"tangan Naufal mengelus perut buncit istrinya.


Stevani menggangguk pelan.


"Kamu cantik kok,cantik banget malah, apalagi kamu lagi hamil anak aku kamu makin tambah cantik tau nggak," mendengar itu Stevani melirik sinis suaminya.


"Kamu bilang kaya gitu soalnya biar aku nggak nangis kan," ketusnya.


"Orang fakta kok mau tanya bibi, mau tanya bunda, atau ayah, mama, papa, semua pasti bakalan bilang kamu cantik."


"Tapi aku gendut." Rengeknya Dengan raut wajah sedih.


"Masih cantik,gendut kamu itu karena hamil, tapi bagi mata aku kamu tambah seksi tau nggak." Ucap Naufal dengan terkekeh geli.


"Tau ah ...pokonya kalau kamu selingkuh gara gara aku jelek aku potong burung kamu," Naufal melotot mendengar itu kedua tangannya memegangi aset masa depannya merapatkan kedua kakinya rapat rapat.


"Jangan dong sayang, nanti nggak bisa buat adek lagi kan targetnya dua puluh anak."


Stevani menyengit bingung.


"Burung kamu yang dibelakang rumah," kali ini Naufal menghela nafas lega mendengarnya, ia kira burung masa depan nya bisa gawat nanti nggak bisa buat anak sesuai target, dan ternyata burung peliharaannya yang dimaksud.


"Untung lah kalau gitu jadi masih punya harapan buat bikin dua puluh anak," ucap nya membuat Stevani melotot serta melayangkan mencubit di pinggang lelaki itu berkali kali.


"AW sakit.. sakit jangan di aw..cubit..AW sayang sakit..,"ringis naufal.


Stevani terus mencubit pinggang lelaki itu, "makanya mulutnya jangan suka ngomong kaya gitu dua puluh anak,dua puluh anak, buat sana sama kambing!" Wanita itu berkata ketus, lalu Stevani meninggalkan Naufal yang sedang menyibak kaosnya dan melihat bekas cubitannya.


"Buset merah merah, ganas bener istri gue," Monolognya dengan tangan mengusap bekas cubitan Stevani.


"CEPET!"


Naufal langsung berlari keluar kamar saat mendengar teriakan istrinya itu, takut takut isrinya akan marah karena ia lama lalu ia akan di suruh tidur diluar lagi.


T


idak itu tida akan terjadi!


Stevani dan Naufal keluar dari mobilnya saat sudah berada dihalaman rumah Tania, keduanya berjalan memasuki rumah Tania yang sekarang sedang ramai para kerabat temannya itu .


Wanita dengan perut buncitnya mengedarkan pandangannya untuk mencari sang nyonya rumahnya siapa lagi kalau bukan Tania.


"Liat Tania nggak?"tanya Stevani pada suaminya.


"Nggak,"


"Cariin dong,"Naufal memutar bola matanya malas ia sudah mencari teman istrinya itu tapi tetap saja tidak ketemu.


"Itu mamanya tania bukan by, kenapa mondar mandir ya." Ucap Naufal membuat Stevani menoleh kearah yang dimaksud suaminya.


Wanita itu lantas menghampiri wanita paruh baya tersebut diikuti naufal yang berjalan dibelakangnya.


"Assalamualaikum," salam keduanya.


"Waalaikumsalam,"jawab paruh baya yang masih terlihat cantik itu, melihat siapa yang mengucap salam wanita itu tersenyum manis pada kedua pasangan suami istri tersebut.


"Eh Stevani, wah udah waktunya lahiran ya udah besar banget perutnya," ucap mama Tania tangannya terulur mengelus perut Stevani yang membuncit.


"Iya Tante, bentar lagi kata dokter," jawabnya tersenyum manis.


"Wah jadi nggak sabar liat anaknya,mamanya cantik papanya ganteng anaknya pasti kalau nggak cantik ya ganteng, kalau udah lahir bilang sama Tante ya,"Stevani menggangguk masih dengan senyum manis diwajahnya.


"Eh astagfirullah," mama Tania menepuk jidatnya pelan Setelah mengingat sesuatu.


"Kenapa Tante?" Tanya keduanya.


"Stevani tolong, tolong Tante buat telfonin Tania ya." Ucap mama Tania membuat Stevani menyengit bingung.


"Maksudnya?"


"Gini Lho temen kamu itu tadi ijin buat pergi ke minimarket depan komplek tapi udah dua jam belum balik-balik, itu anak bikin khawatir aja,"jelas mama Tania raut wajahnya terlihat khawatir.


"Tania nggak dirumah?, udah ditelpon Tante?"kini giliran Naufal yang berucap.


"Udah tapi ternyata Tania bawa hp yang baru sedangkan Tante nggak punya nomer hpnya yang baru, punya nya nomer HP yang lama. papanya Tania juga lagi nyariin dari tadi tapi belum ketemu itu anak, padahal acaranya satu jam lagi," mendengar itu stevani dan Naufal saling lirik.


"Biar Stevani telfon Tante," ucap stevani membuat mama Tania menggangguk.


"Iya udah, Tante mau urus yang lain dulu Tante minta tolong ya cantik dan terimakasih," ucap mama Tania mengelus rambut stevani.


Stevani menggangguk lalu mengeluarkan ponsel dari tas selempangnya mencari nomer Tania dan langsung menelfon nya dengan kedua kakinya melangkah keluar dari rumah Tania menghindari kebisingan.


Tiga kali tak dianggkat oleh gadis itu membuat Stevani Berdecak kesal,sekali lagi wanita itu mencoba menghubungi Tania setelah telfonya diangkat, Stevani menarik nafas dulu sebelum memarahi Tania.


"Hallo stev, woy sini Lo!"ujar tania.


"Gue di si_"


"JANGAN BILANG LO DISIRKUT!"


"JANGAN KENCENG KENCENG BEGO gendang telinga gue pecah nanti,btw iya nih gue lagi disirkuit lagi nonton si upil dari tadi kalah Mulu anjir hahaha,"suara Tania tertawa bikin Stevani emosi.


Bisa bisanya disini pada nyari gadis itu tapi yang dicari malah lagi asik asikan nonton balapan,ingin rasanya mengumpat tapi ia ingat nasehat Naufal kalau nggak baik ibu hamil mengumpat maka dari itu ia hanya bisa menahan kekesalannya saja.


"NGGAK USAH HAHA HIHI LO, PULANG!,"Naufal yang berada disamping istrinya mengelus punggung Stevani menenangkan istrinya itu.


"Kenapa sih disuruh pulang? Bentar lagi elah 1 jam lagi gue pulang,"Stevani melotot mendengar jawaban dari Tania.


"PULANG LO! MAU GUE SERET LO DARI SIRKUT KERUMAH LO! INGET LO MAU TUNANGAN TANIA BEGO!"nafas Stevani tak beraturan.


Untung saja wanita itu menelfon Tania di luar rumah jadi ia teriak teriak pun tak banyak yang tau.


"Tahan sayang jangan marah marah dan nggak baik ngomong kasar inget kamu lagi hamil,"bisik naufal membuat stevani memejamkan matanya mengatur nafas menghilangkan emosinya.


"Pulang Lo Tan nggak pulang beneran gue seret! satu jam lagi acaran Lo dimulai," dari nada Stevani wanita itu benar benar kesal dan pasrah.


"Oke gue pulang tapi bentar setengah jam lagi,"


"TAN.."Stevani melotot tak percaya saat Tania mematikan telfonnya secara sepihak benar benar membuat kesal Stevani.


Tut..tut


"Udah nggak usah marah marah ini minum dulu,"Naufal menyodorkan minuman pada istrinya yang langsung diterima olehnya.


...***...


Acara pertunangan berjalan dengan lancar Tania nampak terlihat cantik dengan gaun dress tanpa lengan berwarna putih,Zidan pun tak kalah tampan lelaki itu mengenakan tuxedo berwarna hitam.


"Gue kira kagak ada yang mau sama Lo tan,"ucap Prita membuat Stevani menggangguk dan terkekeh pelan.


"Omongan Lo orang gue cakep kek gini dibilang kaya gitu,"ketus Tania.


"Btw Lo nggak undang indah?,"tanya Stevani.


"Indah kuliah diluar negri sebulan yang lalu gue cuma kabari lewat telfon,kalau ziko gue udah bilang dia nggak bisa Dateng lagi liburan sekalian mau pindah ke ausy katanya, terus bang arlan lagi sakit,"jelas Tania membuat Stevani mengaguk.


"Ouh git_


"GUE NGGAK TERIMA LO TUNANGAN SAMA COWOK SELAIN GUE,"suara bariton dengan nada tegas serta keras saat berucap membuat semua tamu menoleh kearahnya.


Tania, Prita dan Stevani melotot melihat seorang laki-laki berpakaian kasual serba hitam datang menghampiri mereka.


"Dion,"ujar ketiga perempuan tersebut secara bersamaan.


Tania langsung bersembunyi dibelakang tubuh Zidan yang tengah kebingungan.


"Ngapain kesini?,"tanya Prita menatap sinis Dion.


"Mau ketemu Tania,"jawab Dion kakinya terus melangkah lebih dekat kearah mereka.


"See you again Baby, IM coming back to be with you,"Dion berdiri dengan senyum manis menatap Tania yang berdiri ketakutan dibelakang zidan.


Stevani langsung berdiri didepan Dion menatap sinis lelaki didepanya itu.


"Lo mau RUSAKIN acara Tania?,"ketus Stevani.


"Kalau gue bilang iya kenapa?, don't block me naughty caosin,"


Bugh..


Stevani membogem pipi Dion membuat lelaki itu terhuyung kebelakang.


"Jangan ganggu Tania biarin dia bahagia sama pilihannya,"desis Stevani kedua tangannya terkepal kuat ia tak akan membiarkan lelaki didepanya itu kembali mendapatkan sahabatnya lagi dan membangun hubungan toxic.


Tidak akan pernah!.


"Tapi gue bener bener sayang sama dia,"telunjuk Dion menunjuk ke tania.


Naufal yang hendak menghampiri wanitanya dicekal Banu lelaki itu menggeleng,


"jangan, biar urusan mereka istri Lo nggak akan kenapa napa nggak usah khawatir lelaki itu sepupunya,"


"Nggak usah buat keributan disini Yon, Lo udah bikin Tania pergi dari Lo dengan sikap Lo sendiri yang kasar dan pemaksa, mending Lo pergi," ujar prita.


"Tapi gu.."


Bugh..


"PERGI YON JANGAN GANGGU GUE,"pekik Tania setelah membogem pipi kiri Dion.


Dion yang melihat sekeliling menatapnya lantas lelaki itu dengan terpaksa meninggalkan acara pertunangan gadis yang ia cintai.


Mungkin ini takdir ia tak akan pernah bersatu lagi dengan Tania.


Tania memeluk tubuh zidan terisak pelan didekapan lelaki itu.


Pyar...


Suara pecahan gelas membuat semua menolehnya, Naufal melototkan matanya begitu juga yang lain.


"SAYANG."


"STEVANI,"


"STEV,"


"ARGHHHHHH SAKIT.."


TBC..