My Teacher My Husband

My Teacher My Husband
BUAH SALAK



HAPPY READING 😒


Stevani dan Tania sudah duduk diam selama 30 menit hanya untuk memikirkan cara mengupas buah salak tapi sampai detik ini keduanya hanya diam saling pandang, menggelengkan kepalanya lalu diam kembali menatap buah salak yang dipegangnya.


"CK...bosen anjir gue pengen buah salahnya Tan, cari cara!puter otak bego Lo!" Titah Stevani berdecak kesal.


"Aduh stev, gue juga nggak tau ini pala gue udah nut nutan tau nggak,"kesal Tania memijit pelipisnya, memikirkan cara mengupas buah salak membuatnya pusing kepala.


"Ya terus gimana? Gue pengen nyoba tapi nggak bisa ngupasnya orang kulitnya nyeremin kalo dipegang,tapi lucu bentuknya,"Stevani menghela nafas lesu.


Tania menyenderkan kepalanya disenderan sofa memejamkan matanya dengan tangan yang masih setia memegang buah salak.


BRAK


Gebrakan meja yang dilakukan Tania membuatnya tersentak kaget,Tania melototkan matanya saat terlihat sebuah ide untuk bisa mereka gunakan untuk mengupas buah salak.


"Pisau,pisau pake pisau,"ujar Tania dengan antusias.


"Lo mau nusuk siapa pake pisau?"heran Stevani.


"Emang gunanya pisau cuma buat nusuk orang,"ketus Tania.


"Kan kalau buat nusuk orang jadi seru!"


"Serah tolol, maksud gue ngupasnya pake pisau gitu,"jelas Tania menatap temannya dan buah salak secara bergantian.


Stevani menggangguk sekilas tak lama gadis itu melototkan matanya.


BRAK


Stevani menggebrak meja membuat Tania terlonjak kaget buah salak yang dipegang Tania sampai jatuh kelantai.


"Kampret kaget tolol!!"gadis itu mengambil buah salak yang terjatuh dengan satu tangan yang mengelus dadanya.


"Ide bagus, ayok kedapur,"ajak Stevani dengan antusias tak lupa buah salaknya yang dipengang ia bawa.


"Taruh disitu gue ambilin pisau,"tintah Stevani lalu pergi untuk mengambil pisau.


Tania menggangguk lalu matanya menatap sekeliling dapur rumah stevani.


"Ada sarung tangan, gue pake ya,"ujar Tania pada stevani.


Stevani menggangguk menaruh dua pisau ditempat yang akan digunakan memotong.


"Gue juga mau pake sarung tangan," ucap Tania.


"Yaudah cari,ngapain bilang,"


Stevani mendengus lalu berjalan menuju tempat ia meletakkan sarung tangan yang sewaktu waktu membutuhkan.


"STEVANI BUAH SALAHNYA NGAMBEK NGGAK MAU DIPOTONG,"teriak Tania dengan masih berusaha memotong buah salaknya.


"STEV PISAU LO MURAHAN,NGGAK TAJEM SAMPE NGGAK BISA BUAT MOTONG,"ujar Tania gadis itu terus menggesekkan pisaunya pada buah salak agar terbelah.


Stevani yang mendengar lantas mempercepat langkahnya sampai disana, ia langsung melihat Tania yang sedang memotong.


Stevani melototkan matanya, menyentil telinga Tania dengan keras.


"Bego ngapain Lo sentil telinga gue,"gadis itu mengusap telinganya.


"PISAUNYA KEBALIK BEGO!!,"pekik Stevani tepat diwajah Tania.


Tania mengerjapkan matanya berkali kali mengusap wajahnya kasar.


"Bau jigong,"ketusnya.


Tania menatap pisau yang ia pegang seketika ia memamerkan deretan gigi rapihnya menatap Stevani yang disampingnya.


"Hehe tadi nggak gini kok,"


"Hehehe.. coba sini biar gue kupas,"ketus Stevani mengambil buah salak yang ditangan Tania.


Stevani mengangkat pisau yang dipegang tinggi tinggi dengan dua tangannya menyipitkan matanya mencoba untuk fokus.


"Jangan kaya gitu coba potong kaya mau potong alpukat aja,sini biar gue"usul Tania mengambil alis pisau dan buah salak dari tangan stevani.


Tania memotong buah salaknya dengan cara seperti memotong buah alpukat.


Stevani yang semula hendak duduk langsung berdiri disamping Tania.


"Jari Lo kegores tuh,"ujar Stevani melihat jari Tania yang berdarah.


"Udah tau,"ketusnya meniup jarinya yang terluka.


Stevani mendengus lalu menyentil jari Tania yang tergores pisau itu membuat Tania menjerit.


"HUWAAAA KENAPA LO SENTIL JARI GUE HUWAAAA," pekik Tania heboh.


Jangan kalian pikir Tania menjirit dengan air mata yang meluruh tidak!! Gadis itu hanya menjerit kesakitan tidak menangis.


"Lebay Lo!! Ketabrak mobil aja masih ngajak gue ke sirkuit masa cuma luka segitu heboh banget udah kek kepala Lo putus aja,"Stevani memutar bola mata malas.


Memang benar dulu Tania pernah tertabrak mobil sampai dirawat di rumah sakit selama seminggu baru saja pulang belum dua hari gadis itu sudah mengajak kesirkuit membuat Stevani sempat berfikir otak temannya terlempar.


Tania memamerkan deretan gigi rapihnya.


"Terus ini cara kupasnya gimana buah salahnya?,"tanya Tania.


"Nggak tau,"Stevani menggelengkan kepalanya.


"Panggil bodyguard Lo aja siapa tau dia bisa,"usul tania, stevani mengaguk lalu memanggil salah satu bodyguard nya.


Tak lama seorang laki-laki berseragam serba hitam berdiri tak jauh dari dua perempuan itu.


"Apa yang bisa saya bantu nyonya?" Tanya bodyguard itu namanya Akmal.


"Bisa ngupas buah salah?,"tanya Tania.


Akmal menyengit bingung.


Stevani yang paham bodyguard nya sedang bingung lantas ia mengambil buah salak satu dan memberikan pada bodyguard itu.


"Kupasin buah itu,"ujar Stevani.


Bodyguard itu melongo saat majikannya memberikan buah salak dan minta dikupaskan.


Apa tidak bisa mengupas sendiri?


Terlalu sultan atau apa? Pikirannya.


"Nyonya nggak bisa kupas buah salak?,"tanya Akmal.


"Salak,"beo keduanya.


Akmal mengaguk.


"Namanya buah salak bukan buah salah?,"tanya Tania.


Bodyguard itu yang mendengar pertanyaan Tania sontak menahan tawanya.


Buah salah? Mana ada! Bego atau tolol sih, mungkin keduanya.


"Iya namanya buah salak bukan buah salah,"jelasnya perlahan mengupas buah salak tersebut.


"Ini nyonya,"Akmal memberikan buah salak yang sudah dikupasnya pada Stevani.


Mata Stevani berbinar melihat itu,tak kalah Tania juga menatap binar buah salak yang sudah dikupas itu.


"Dimakan boleh? Beracun nggak?,"Tania bertanya.


"Boleh kok nggak beracun cuma didalemnya ada bijinya jangan dimakan,"


"Kenapa?"


"Gede,"


"Nggak ada yang gede selain dosa Lo,"tungkas tania merasa tak puas mendengar jawaban Akmal tadi.


Akmal mendengus pelan lalu mengupas satu persatu buah salak tersebut dan menaruhnya dipiring.


Tania dan Stevani asik memakan buah tersebut dengan bibir yang terus berucap enak.


To be continue...