
Enjoy reading 😒
Setelah membujuk istrinya itu kini keduanya tengah sarapan bersama, Naufal dengan baju formal nya dan Stevani dengan daster batik berwarna biru tua.
"Nanti aku mau main sama Tania boleh?"tanya Stevani disela sela mengunyahnya.
Naufal mengaguk pelan, menelan makanannya sebelum berucap, "boleh, jangan capek capek kasian dedeknya," setelahnya pria itu meneguk air putih sebelum beranjak dari kursi.
Stevani yang sudah selesai makan hendak membereskan piring kotornya tapi sudah dicegah oleh pembantunya.
"Biar bibi saja nyonya,"pinta wanita paruh baya tersebut melirik kearah piring kotor itu.
"Iya udah, makasih bi."Stevani melangkahkan kakinya menuju suaminya yang sedang membenarkan tatanan rambut nya.
"Lembur lagi nggak?" Tanyanya dengan tangan mengambil dasi yang Naufal sodorkan padanya, memintanya agar memasangkan dasi itu.
"Nggak kayanya, cuma rapat nanti jam 9."jawabnya.
"Aku berangkat dulu," Naufal mencium kening istrinya lalu beralih mencium perut buncit Stevani yang sudah menjadi kebiasaannya.
"Hati-hati,"
Naufal menggangguk lalu berjalan pelan menuju mobil Jeep nya.
Stevani memasuki rumahnya setelah melihat mobil suaminya yang perlahan menghilang dari pandangannya.
***
Lelaki dengan pakaian formal berlari tergesa gesa menelusuri lorong kantornya untuk segera keluar dari gedung tersebut. Saat sedang meeting ponselnya tak henti hentinya berdering membuat lelaki itu sempat mengumpat dalam hati karena sedang meeting penting, ia lupa mematikan ponselnya dan berakhir di ganggu seseorang dengan terus menelfonnya.
Saat hendak mematikan ponselnya matanya tak sengaja menangkap nama Dito dilayar utama yang sendari tadi menelfon nya, seseorang yang ia sewa untuk memata matai istrinya jika pergi keluar rumah tanpa dirinya.
Ia langsung panik saat Dito terus menelfon nya karena selama ini jika lelaki itu akan memberikan informasi hanya menelfon nya dua kali jika tidak dianggkat akan mengirim pesan dan jika menelfon berkali kali tidak henti-hentinya itu tandanya istrinya sedang kenapa-napa atau ada hal penting menyangkut istrinya yang sedang hamil itu.
Tanpa membubarkan meeting tersebut Naufal berlari meninggalkan ruangannya itu.
Mobil Jeep melaju dengan kencang saat sudah tau istrinya ada dimana karena Dito sudah memberitahunya.
Jantung nya berdetak kencang ia tak habis pikir, Dito bilang istrinya pergi mengendarai ducatinya menuju sirkuit tempat balapannya yang dulu.
Hatinya terus berdoa agar istrinya tidak melakukan apa yang sedang ia pikirkan.
Sempat meruntuki dirinya, kenapa kunci motor ducati istrinya hanya ditaruh di laci nakas tidak ia bawa saja kemana mana.
jadi seperti ini kan!
Kumpulan seseorang berdiri dipinggir jalan serta suara tepuk tangan terdengar sangat ricuh membuat Naufal segera membuka kasar pintu mobil nya ia berlari menuju kumpulan manusia manusia itu, saat masih 5 meter lagi matanya menangkap gadis berambut sebahu yang sedang asik main hp dan meminum Es kelapa muda duduk dikursi sebelah motor nya.
Naufal menghampiri gadis itu.
"Tania, istri saya dimana?" tanyanya saat berdiri disamping gadis berambut sebahu itu.
Tania menoleh tersenyum manis.
"Hay pak Naufal, nyari Stevani ya. Dia baru aja balapan sama Nino," jari telunjuk Tania menunjuk kerumunan yang berjarak 5 meter darinya menggunakan dagu.
Matanya kembali melotot detak jantungnya berdebar tak berirama saat matanya menatap istrinya yang sedang melakukan aksi aksi berbahaya dengan Ducati nya itu, tanpa memikirkan dirinya yang sedang mengandung anaknya.
"Astagfirullah, lindungi istri saya ya Allah begitu juga anak saya yang berada diperut istriku." Mulutnya terus merapalkan doa saat melihat Stevani melakukan wheelie.
Khawatir dan kagum ia rasakan secara bersamaan saat melihat istrinya melakukan aktraksi stoppie dimana ban motor bagian belakang terangkat, suara tepuk tangan serta sorakan decak kagum dari penonton terdengar lebih keras.
Tak sampai disitu Naufal dibuat kagum dengan aksi istrinya yang melakukan burnout yaitu ban bagian belakang motor berputar sedangkan ban motor bagian depan diam membuat kepulan asap keluar dari kenalpot Ducati tersebut.
Setelah 5 menit melakukan burnout derum motor saling bersautan dari dua orang tersebut dalam 10 detik keduanya melakukan wheelie bersamaan.
Naufal tak berhenti untuk tidak kagum, ia saja seorang laki laki tidak bisa melakukan aksi itu sedangkan istrinya dengan lihai melakukan itu semua dalam keadaan mengandung anaknya dalam 5 bulan usianya.
Motor Ducati itu berhenti didepanya dengan selamat membuat Naufal akhirnya bisa bernafas lega.
"KAMU NONTON," Pekiknya melompat dalam pelukan suaminya, hampir terhuyung kebelakang jatuh bersamaan kalau saja Naufal tak segera menyeimbangkan tubuhnya.
"Kamu kaya tadi, Ducati kamu aku bakar! nggak inget kamu lagi apa?" Cercanya menatap intens istrinya.
Stevani memamerkan deretan gigi rapihnya saat suaminya mengomeli dirinya, "jangan bakar dong ducati Scrambler aku harganya 229 juta belum satu tahun udah mau dibakar kalau mau bakar Ducati aku ganti ninja H2R dong, nggak mahal kok 760-820 juta. tau nggak H2R dilengkapi fitur mesin 998 CC, 4 silinder segarisnya bisa menyemburkan tenaga hingga 200PS pada 10.000 rpm dan 140,4 NM pada 10.000 rpm! kerenkan bisa buat aku balapan.. huhh Matep tuh,"cerocos Stevani masih dalam posisi yang sama.
"Dikira aku kerjanya ngepet apa,"lelaki itu memutar bola matanya malas, "mulai sekarang nggak usah naik Ducati kamu itu, masih nekat aku ganti odong odong mau hah!,"kesalnya, ia benar benar kesal pada istrinya, siapa yang tidak kesal kalau dibuat hampir jantungan.
"Jangan dong! yaudah ini terakhir deh,"
"Lagian ngapain kaya gitu kamu lagi hamil, Astagfirullah sayang istighfar." ucap Naufal terus saja beristighfar.
"Dedenya yang pengen makanya aku turuti dari pada nanti ngileran anaknya, ihh masa anak pertama seorang Stevani dan Naufal ileran nggak banget deh,"ucapnya dengan bergidik ngeri.
"Yaudah ayo pulang, bikin jantungan suami aja,"Naufal perlahan melangkah kan kakinya.
Stevani terkekeh geli mendengar itu.
"Nggak berat apa?"tanyanya, karena mengingat sekarang berat badan tubuhnya naik beberapa kilo.
"Kalau boleh jujur, ya berat,"
Stevani tersenyum, tidak ada niatan turun dari gendongan suaminya. wanita itu mengecupi leher Naufal membuat lelaki itu geli akibat ulahnya.
"Motor aku gimana?"tanyanya menghentikan aksi mengecup leher Naufal.
"Biar Dito yang urus,"
Stevani menggangguk ia tau siapa Dito, keduanya memasuki mobil Jeep itu dan berlaju pergi meninggalkan tempat tersebut.
Tania yang melihat itu dari jauh menghentikan lambaian tangannya, biarpun Stevani tak membalas lambaian nya atau bahkan melihat ia melambaikan tangannya tapi ia tetap melambaikan tangannya sebagai bentuk perpisahan.
Tania tersenyum manis lalu mulai menyeruput es kelapa muda nya sampai habis.
Gadis itu mulai mengendarai motor nya tanpa menyadari teriakan dari penjual kelapa muda karena gadis itu lupa membayar.
TBC...