
Happy reading 😒
Stevani terus berlari sesekali menoleh ke belakang dan Naufal, suaminya masih mengejarnya.
Terdengar suara decitan mobil dan suara pekikan orang berucap "awas" terdengar di Indra pendengarannya tapi ia tak hiraukan ia terus berlari.
Setelah cukup lama Stevani tak mendengar derap langkah seseorang mengikutinya, ia berhenti dan mulai mengatur nafasnya sesaat lalu menoleh dan ia sudah tidak mendapati suami yang mengejarnya.
Gadis itu memalingkan wajahnya menatap ke arah depan, mengingat kejadian tadi membuat iar matanya kembali menetes.
Tin..tin
Mobil sport berwarna silver berhenti disamping Stevani membuat gadis itu berhenti dan menoleh ke arah mobil tersebut.
Terlihat lelaki bertubuh tegap keluar dari mobil itu dengan cengir tengilnya.
"Ngapain dipinggir jalan copas jadi gelandangan Lo!"ujar lelaki itu menghampiri Stevani.
Lelaki itu adalah arlan.
"tolongin bang, bawa gue pergi, gue lagi ada masalah,"lirih Stevani dengan kepala menunduk.
Arlan yang melihat gadis itu menunduk dan butiran bening keluar dari matanya lantas ia mendekap tubuh mungil Stevani mengelus lembut punggung Stevani.
Entah kenapa dirinya sedih saat melihat Stevani dalam keadaan kacau seperti ini, bukan hanya stevani dengan Tania juga saat gadis itu bersedih hatinya seakan disayat berkali kali karena dirinya benar benar sayang pada dua gadis itu, ia sudah menganggap Tania dan stevani sebagai adik kandungnya.
"Hay grill what's wrong with you?"tanya Arlan dengan lembut.
"Sakit bang....bang Arlan hati stevani sakit"cicit Stevani mengeratkan pelukannya dan terisak.
Arlan yang mendengar ucapan Stevani biarpun tidak keras ia mampu mendengar apa yang Stevani ucapkan.
Bajunya terasa basah ia yakin gadis ini menangis dalam diam ia mengecup puncak kepala stevani,ia menebak masalah Stevani cukup berat sampai gadis ini menangis karena yang ia tau Stevani gadis kuat, ia jarang menangis bahkan mengeluh sakit saja jarang. Mengenal gadis itu lebih dari satu tahun membuatnya mengenal sifat perempuan ini.
"Ikut Abang Arlan, Abang mau kumpul sama Sean sama Banu kamu ikut ya ceritain masalah kamu biar Abang sama yang lain bisa bantu," ucap Arlan mengecup kedua mata Stevani yang memerah karena menangis.
Stevani menggangguk, ia berjalan pelan memasuki mobil Arlan dengan pintu yang dibukakan lelaki itu.
Disetiap perjalanan Stevani diam hanya menatap kosong kearah luar jendela.
Arlan yang melihat itu pun menghela nafas pelan ia cukup sedih melihat itu tapi ia belum tahu permasalahan stevani, tangan Arlan mengelus lembut rambut panjang Stevani dengan satu tangan memegang stir mobil nya.
Sampainya dicafe stevani keluar dari mobil dan berjalan menuju dalam cafe bersama Arlan didepanya
Terlihat dua lelaki yang tengah berbincang dipojok meja cafe, Stevani berjalan menuju tempat itu bersama arlan dan duduk disamping Banu.
"Loh Lo ikut kesini stev?, Terus Tania mana?"tanya Sean menatap Stevani.
Banu menoleh lalu menyengit saat melihat mata stevani sembab seperti habis menangis tiba tiba lelaki itu khawatir.
"Stevani Lo kenapa? mata lo merah, wajah lo sembab Lo habis nangis?"tanya Banu dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
Stevani hanya diam membuat lelaki itu bingung.
"Kenapa?"tanya Banu menatap Arlan.
Banu memanggil waiters lalu memesan minuman kesukaannya stevani,lelaki itu mendekatkan kursinya lalu menarik pelan kepala Stevani untuk menyender didada bidangnya.
"Minum dulu abis itu cerita ya,"pinta Banu menyodorkan minuman saat minuman yang ia pesan sudah datang.
Stevani mengangguk lalu meminum minuman itu sedikit setelahnya, ia kembali terbengong dengan tatapan kosong membuat Banu semakin khawatir.
"Stevani."panggil seseorang dari arah belakang.
Keempatnya menoleh,Stevani kembali diam saat tau bahwa yang memanggil ziko,temannya.
"Stevani Lo ngapain disini?"tanya ziko duduk dikursi kosong sebelah sean.
"Lo?"tanya singkat stevani.
"Cafe, gue ini."jawabnya.
"Eh Lo kenapa?"tanya ziko saat menyadari mata sembab temannya itu.
Setelah sekian lama gadis itu diam akhirnya Stevani menjelaskan apa yang terjadi dari dirinya berada di rumah sakit dan mendapat pesan itu sampai tiba dicafe dan melihat kejadian yang benar benar membuat sakit hati.
"Bener itu suami lo,mungkin Lo salah liat"ucap ziko yang di angguki oleh Arlan.
Stevani mengeluarkan ponselnya memperlihatkan pesan tadi,reaksi ketiga cowok itu kaget berbeda dengan satunya lagi yang tersenyum miring tanpa ada yang menyadarinya.
"Start the game dear,"batin salah satu lelaki itu.
Banu yang mendengar cerita Stevani mengeraskan rahangnya tangannya terkepal kuat sorot matanya seakan siap membunuh.
Banu tidak suka gadis yang ia sayang menangis ,ia akan memberi pelajaran untuk suami Stevani itu. Biarpun ia sadar itu bukan masalahnya ia akan tetap memberi pelajaran buat lelaki itu.
Banu mencoba ikhlas saat orang yang ia cintai menikah dengan orang lain asal Stevani bahagia dengan suaminya tapi apa? Stevani malah terluka ia benar benar akan membogem wajah suami Stevani karena sudah berani menyakiti stevani dengan berciuman dengan perempuan lain.
"Stev Lo tenangin diri Lo dulu soal ini gue bantu buat cari jalan keluarnya, oke."ujar Arlan dengan suara melembut.
Stevani menggangguk pelan.
Banu mengambil ponselnya dan memakai jaketnya ia akan segera memberi pelajaran untuk Naufal suami Stevani, ia benar benar di buat geram.
"Mau kemana lo?"tanya arlan menatap Banu.
"Ada urusan bentar.
"jawabnya berjalan keluar.
"Gue suka situasi ini,"batin salah satu lelaki itu.
"Gue rasa Banu bakalan ngasih pelajaran buat suami Lo stev"ucapan Sean membuat Arlan dan ziko menggangguk.
Stevani menoleh ke arah tiga lelaki didepanya tanpa banyak bicara gadis itu keluar, ia juga merasa ada yang aneh saat melihat perubahan raut wajah Banu dengan cepat stevani berlari dan segera mengejar banu.
To be continue...