
Happy reading 🙄
Tania yang mendapat telfon dari Prita pun langsung panik, gadis itu tanpa sadar meneteskan air mata ia takut bahwa sahabatnya kenapa-napa .
"Hey kenapa?" Tanya Zidan menatap binggung Tania.
"Stevani dia diculik, jidan tolong Stevani,"tangis Tania pecah menubruk tubuh Zidan memeluk dengan erat.
"SAYANG,"pekik Naufal saat mendengar ucapan Tania.
Dua orang itu menoleh mendapati Naufal yang berdiri menghampiri mereka.
"Istri gue diculik? di culik siapa hah,"ujar Naufal nafasnya memburu.
"Plat mobil B 43** lacak nomor itu,"ucap tania tanpa basa basi.
Tanpa pikir panjang Naufal berlari keluar menuju ruang kosong disamping kamar tamu diikuti Zidan dan Tania.
Naufal mengotak ngatik komputer didepannya guna melacak nomor plat mobil itu.
Hotel D,vandra1
Naufal seketika panik saat melihat dimana Stevani berada hotel D,vandra1, hotel terbengkalai satu tahun yang lalu.
"Ikutin gue,"ujar Naufal berlari cepat keluar ruangan.
Tania ikut mengikuti Naufal bersama Zidan disampingnya.
Gadis itu menaiki motor sport Zidan dengan tangan mengotak ngatik ponselnya menghubungi seseorang untuk ikut membantu.
***
Stevani mengerjabkan matanya
Ruangan bernuansa abu abu dengan berbagai debu yang menghiasi setiap sudut menjadi pemandangan pertama di matanya, cahaya yang sedikit masuk membuatnya sulit melihat dirinya berada dimana.
tapi ia yakin dirinya berada dikamar mengingat bahwa dirinya tertidur di atas kasur dengan dua tangan diikat keatas kepala dan kedua kaki diikat secara terpisah.
Ceklek
Pintu terbuka memperlihatkan sosok laki laki bertubuh tegap dengan masker yang dipakai, diikuti lelaki satunya lagi yang memakai topeng berjalan menuju tempat kasur dimana Stevani berada.
"Sudah bangun ternyata sayang,"suara bariton menggelegar diruang kamar.
"Siapa Lo berdua?"desis Stevani menatap bengis dua orang itu.
"Gue? masa Lo nggak kenal,"
Suara itu cukup familiar ditelinga Stevani tapi ia tidak tau siapa pemilik suara bariton tersebut.
"Kenapa Lo culik gue?"
"Karena gue pengen ngikat Lo dalam kehidupan gue baby,"lelaki memakai masker berjalan mendekati stevani yang masih nampak tenang.
"Siapa Lo sebenarnya?"tanyanya kembali, stevani menyorot tajam kedua lelaki itu.
"Gue, seseorang yang selalu Lo tolak cintanya Stevani,"ujar lelaki itu nampak marah dalam nadanya.
"Aldi,"Stevani membulatkan matanya.
"Yes dear gue Aldi,ALDINO DEVANDRA lelaki yang selalu cinta sama lo tapi Lo buta keberadaan gue,"lelaki itu membuka masker yang dipakai memperlihatkan wajah tampan milik Aldi.
"Terus ngapain Lo sekap gue?"
"Karena gue benci Lo stevani,"lelaki bertopeng angkat bicara.
Suara itu stevani sangat mengenalinya nafasnya tercekat dadanya sesak.
Tidak,tidak mungkin stevani menggeleng kepalanya.
"Kenapa? Merasa nggak asing sama suara gue,"ujar lelaki itu.
"BANG SEAN," pekik Stevani tak percaya, matanya berkaca kaca belum mempercayai seutuhnya.
"Yes baby gue Sean ,ARSEAN HARSYA DEVANDRA kakak dari Aldi cowok yang sering Lo tolak,"ujar Sean melepas topengnya.
Stevani tak percaya gadis itu menggeleng kuat dengan air mata meluruh.
"Bang Sean kenapa lakuin ini ke Stevani," gadis itu berkata dengan suara bergetar.
"Karena gue benci Lo,"ujar Sean.
"Nggak, Abang pasti bohong! Abang cuma lagi bercanda kan ini bohongan kan bang,bang Sean pasti sayang stevani," ujar gadis itu, menggelengkan kepalanya pelan dengan air mata yang melurun.
"Gue benci Lo! karena Lo larang gue sama orang yang gue sayang,"desis Sean.
"Lo larang gue buat cinta sama Tania, Stevani!"
Deg
Jantung nya berdetak tak beritme saat ucapan itu terlontar dan tertangkap diindra pendengaran nya,
Memori dipikiran Stevani berputar layaknya kaset rusak dipikirannya.
"Gue sayang sama temen Lo stev,"
"Bang Lo nggak boleh cinta sama Tania,"
"Gue mau bilang soal perasaan gue sama Tania stev gimana menurut Lo,"
"Gue udah bilang bang, buang rasa suka Lo terhadap Tania, kita udah kaya saudara dan gue nggak mau hubungan kita pecah soal rasa cinta Lo sama dia,"
"Tapi gue sayang sama dia stev dia cinta pertama gue,"
"Gue larang keras soal ini!!,"
Gadis itu menggeleng kuat kepalanya pusing dadanya sesak dia dikecewakan oleh kenyataan.
"Apa cuma gara gara itu Lo hianatin gue?" Ujarnya dengan raut kecewa yang sangat ketara.
"Lo bilang cuma,cuma yang Lo bilang itu bikin hati gue sakit! gue sakit disaat orang yang gue cinta nggak bisa gue miliki, gue sakit. GUE SAKIT STEVANI LO NGGAK PERNAH NGERASAIN ITU!!!," Teriak Sean dengan tangan terkepal kuat.
"Dan dengan bodohnya gue nurutin kemauan Lo,"sean mencengkram kuat pipi Stevani.
"Yang gue lakuin itu nggak salah, apa Lo bakal kaya dulu lagi setelah Lo putus sama Tania?" Tanya Stevani menatap manik abu abu didepannya.
"Gue nggak peduli soal itu! yang gue peduliin cuma Tania punya gue TANIA STELLA ARUM PUNYA ARSEAN HARSYA DEVANDRA," lagi lagi Sean berteriak dengan disertai amarah.
"Apa soal masalah rumah tangga gue ada kaitannya sama Lo berdua?"tanya Stevani.
"Pinter banget sih Lo ,gimana udah cerai belum Lo berdua? Kalau udah bagus deh soalnya Penderita Lo itu hiburan buat gue,"Sean tersenyum lebar.
"Udah lah bang, gue pengen main main sama dia Lo duduk aja,"ucap aldi dengan malas saat Sean tak kunjung selesai berdebat dengan Stevani.
Sean menggangguk berjalan duduk disofa ruang tersebut.
"Hay baby, siap memulai permainan,"Aldi mulai mendekati gadis itu.
Stevani mulai was was saat Aldi mendekat dengan dua tangan sibuk membuka satu persatu kancing bajunya.
"MAU APA LO BRENGSEK!"
"stt... mulut Lo jangan dibiasain ngomong kasar, tugas mulut Lo itu cuma ngebalas ciuman dari gue,"Aldi ******* kasar bibir stevani.
"BRENGSEK LO!!,"pekik stevani saat Aldi melepas lumatannya.
"Manis,"
"ANJING LO! AL," teriak Stevani tepat didepan wajah aldi
Aldi menggeram marah ia menampar pipi Stevani dengan keras.
"Ngomong apa Lo?"
"LO ANJING ALDI! COWOK BRENGSEK YANG PERNAH GUE TEMUIN," lalu gadis itu meludah tepat hampir terkena Aldi kalau saja lelaki itu tak menghindar.
Senyum lebar Aldi berubah menjadi senyum smirknya.
"Mungkin bertukar keringat jauh lebih menyenangkan,"sekali tarikan baju yang dikenakan Stevani sobek memperlihatkan bra hitam yang dipakai gadis itu.
Aldi tersenyum miring saat melihat wajah Stevani yang ketakutan.
"Jangan sentuh gue brengsek,"Stevani mencoba melepas tangan yang diikat tapi nihil ikatannya cukup kuat.
Aldi mengelus lembut pipi Stevani, wajahnya mendekat tepat dileher jenjang Stevani lali menghirup aroma tubuh gadis itu.
"Kita mulai sayang,"bisik Aldi mengecup singkat leher Stevani.
Aldi memiringkan kepalanya dan mendekatkan bibirnya pada bibir stevani tapi dengan cepat stevani memalingkan wajahnya.
"LO DIEM AJA!! TUGAS LO CUMA NIKMATI PERMAINAN GUE,"
Stevani pasrah saat bibirnya dilumat kasar oleh Aldi, air matanya mengalir dengan deras bibirnya terasa sakit karena dengan kasar Aldi menggigit nya.
Tangan Aldi hampir menyentuh buah dada Stevani sebelum suara dobrakan pintu menghentikan aktivitas nya.
BRAK...
TO BE CONTINUE...