My Teacher My Husband

My Teacher My Husband
EMOSI BANU



Happy reading 😒


Stevani berjalan mengejar langkah Banu yang keluar dari cafe, matanya menelisik area parkiran saat menemukan sosok yang dicari. lantas kakinya berjalan ingin menghampiri nya baru tiga langkah tangannya dicekal seseorang membuat Stevani menoleh.


"Nggak perlu Lo kejar buat Lo larang,Banu tau batasan dia cuma mau ngasih peringatan sama suami lo doang, nggak sampe ngebunuh tenang aja," lelaki itu menatap Banu yang sedang memakai helm.


"Tapi bang Banu kelihatan marah banget,"ucapnya dengan raut cemas.


Arlan menggangguk.


"Gue tau, percaya sama gue Banu nggak bakal ngapa ngapain suami Lo lebih dia cuma ngasih peringkat,nggak tau sih kalau suami Lo buat Lo nangis lagi. mungkin Banu bakal ngasih pilihan rumah sakit atau kuburan,"jelas Arlan yang sudah tau sifat Banu.


Stevani bergeming mungkin benar yang diucapkan Arlan, Banu cuma memberi peringatan soal masalah ini tapi untuk keduanya mungkin Banu akan membunuhnya karena mengingat bahwa Banu adalah mantan juara satu MMA.


Stevani menggangguk pelan.


"Bang gue pamit mau pulang, sampein sama yang lain ya." Pamit gadis itu menatap Arlan.


"Gue anter."pinta Arlan.


"Nggak usah,"tolaknya dengan menggelengkan kepalanya pelan


"Serius?"


Stevani menggangguk pelan dengan senyum manis.


"Oke, tapi kalau ada apa apa telfon. Gue bakal datang langsung,"ucap Arlan mengelus rambut stevani, Setelah nya gadis itu menghentikan taksi dan pergi.


Didalam taksi Stevani terus mencoba menghubungi bundanya, tapi sudah tiga kali panggilan nya tak terjawab. Membuat ia benar benar kesal, gadis itu mencoba menghubungi bundanya lagi dan hasilnya membuat Senyumnya mengembang saat sapaan dari seseorang yang disebrang terdengar pertanda panggilannya tersambung dengan bundanya.


"Ya sayang ada apa? maaf bunda baru sampai,"ucap bunda Stevani disebrang telepon.


"Bunda dimana?"tanya stevani.


"Lagi di Dubai, ayah mu lagi ada kerjaan disini,"jawab Hanna.


"Ouh gitu, ya udah Stevani tutup dulu telfonnya ya Bund,"ucap Stevani mengakhiri panggilan dengan sepihak.


Stevani mendengus rencana menginap di rumah bundanya gagal karena kedua orangtuanya pergi.


"Pak, didepan mampir supermarket dulu ya,"pinta Stevani yang diangguki Supir taksi itu.


Didalam supermarket


Stevani langsung berjalan menuju kulkas dan langsung mengambil minuman kaleng lalu ia berjalan kekasir mengantrinya untuk membayar minuman yang ia ambil.


"Stevani."panggil seseorang menepuk pundak Stevani.


Gadis itu menoleh dan mendapati wanita paruh baya yang menjadi mertuanya.


"Mama," cukup kaget tapi ia berusaha bersikap normal.


"Ngapain disini sayang bukanya jauh dari rumah kalian, terus mana Naufal jangan bilang kamu sendiri iya?,"tanya mama Mira dengan beruntun.


Stevani menggangguk singkat.


"Kamu lagi berantem sama suami kamu?,"tebak mama Mira.


"Iya ma," jawab pelan gadis itu.


"Astaga, ikut mama kerumah cerita sama mama oke,"pinta wanita itu.


"Iya ma,"gadis itu hanya menurut dengan ucapan mertuanya itu.


Dering ponsel Stevani terus berbunyi dilihat tertera nomer Tania dan Naufal, ia malas mengangkat atau membalas pesan tersebut maka ia menyilent hpnya agar tak ada yang mengganggunya.


Sampai nya dirumah kediaman anggara gadis itu memasuki rumah bertingkat dua tersebut dengan mira disampingnya.


"Duduk dulu, mama mau naruh belanjaan dulu ya sayang,"ucap Mira lalu beranjak ke dapur.


"Gimana ceritanya kamu bisa berantem sama Naufal sayang,Naufal buat salah apa biar mama hukum dia,"ucap Mira setelah duduk disamping Stevani mengelus rambut menantunya dengan lembut.


Stevani pun menceritakan apa yang terjadi dengan rumah tangganya membuat Mira benar benar marah pada anaknya.


"Nanti Stevani mau nginep dirumah temen Stevani ma."ujar nya dengan pelan.


"Loh ada mantuku yang cantik toh, Naufal nya mana Stevani?" ucap Sadam memotong ucapan istrinya.


"Sayang kamu kekamar dulu bersih bersih badan, biar mama yang jelasin sama papa ya,"ujar Mira.


"Dan buat besok mama yang anter kamu kerumah temenmu itu,"lanjutnya.


Stevani menggangguk patuh lalu berjalan menuju kamar Naufal.


***


Dilain tempat Naufal berlari mesuki rumahnya,lelaki itu dengan cepat menaiki tangga menuju kamarnya dengan terus memanggil istrinya itu.


"Sayang kamu dirumah kan,"


"STEVANI"


"BYY KAMU DIMANA?


Kamar tidur tidak ada siapa siapa lantas Naufal beralih menuju kamar mandi membuka kasar pintu itu dan ternyata. Kosong? Kamar mandi tidak ada siapa siapa.


Naufal terus mencari setiap sudut rumahnya dan nihil rumahnya tidak ada orang satupun.


Dimana istrinya?


Naufal mengacak rambut frustrasi menonjok kuat dinding dapur sampai tangannya memerah akibat tonjokanya yang kuat.


Badannya menyeluruh ke lantai menundukan kepalanya air matanya menetes dengan sendirinya.


Naufal menangis.


"Kamu dimana sayang,"lirihnya.


"Please balik kita selesaikan masalah kita," monolognya dengan suara bergetar.


"Stevani sayang aku minta maaf aku bisa jelasin semuanya aku nggak selingkuh seperti yang kamu pikirkan,"lirihnya memukul kepalanya bertubi tubi dengan tangannya sendiri,


"Arghhhhhh...SIALAN LO ******"teriaknya melempar vas bunga di sampingnya.


Ting tong


Suara bel rumah berbunyi membuat Naufal tersenyum ia yakini bahwa itu istrinya tak mau menunggu lama Naufal berlari menuju pintu utama.


Ceklek


Bugh..


Satu Bogeman mendarat di pipi Naufal saat lelaki itu membuka pintu secara tiba tiba seseorang memukulnya membuat Naufal terhuyung akibat bogem yang kuat itu


"BRENGSEK BERANI LO SELINGKUH IN STEVANI HAH,"bentak lelaki yang memencet bel rumahnya.


Naufal menatap sayu teman istri nya itu.


"GUE UDAH COBA IKLHASIN DIA BUAT LO BIAR DIA BAHAGIA SAMA LO! TAPI APA LO MALAH CIUMAN SAMA PEREMPUAN LAIN DAN BIKIN DIA NANGIS LO BRENGSEK!!, INI PERINGATAN KALAU LO BIKIN AIR MATA DIA NETES SEKALI LAGI GUE BAKAL REBUT DIA DARI LO NGERTI!!"bentak Banu kembali membogem wajah Naufal sebelum lelaki itu pergi meninggalkan Naufal yang terduduk di lantai rumahnya.


Naufal menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya akibat Bogeman dari lelaki itu.


Ia hanya diam tak ada niatan untuk membalas pukulan Banu tadi, karena dirinya merasa memang itu pantas untuk dirinya karena sudah melanggar janji.


Janji, Janji dirinya tak akan membuat istrinya menangis selain tangis bahagia dan dirinya melanggar janji itu.


Naufal bangun dari duduknya menghempaskan tubuhnya disofa memejamkan matanya dan mengurut pelan pangkal hidungnya kepalanya benar benar pusing.


Naufal bangkit lalu berjalan menuju dapur, ia meneguk air putih dingin sampai habis, tangannya mencengkram kuat gelas yang ia pegang saat mengingat apa yang terjadi hari ini.


Pyar..


Gelas yang Naufal pegang pecah berkeping-keping akibat Naufal membanting nya, nafasnya memburu tangan kanannya menonjok dinding berkali kali menimbulkan retakan ditembok tanpa menghiraukan rasa sakit ditangannya.


"ARGHHHHHH....gadis nakal yang bisa buat gue gila cuma Lo stevani,CUMA LO!!! ARGHHHHHH....." Teriak Naufal membanting benda yang berada didapur.


Pecahan beling berserakan dimana mana, kursi tempat makan terjatuh. Naufal benar benar kesetanan lelaki itu mengusap wajahnya kasar menggebrak meja lalu pergi kekamarnya.


TO BE CONTINUED...