My Teacher My Husband

My Teacher My Husband
TOKO PERHIASAN



Beberapa bulan kemudian...


Tania membuka pintu rumahnya saat seseorang memencet bel rumahnya.


"Hay," sapa seseorang itu saat dirinya berhadapan dengan orang tersebut.


"Hay juga jidan,"sapa balik Tania dengan senyum lebar, matanya menatap lelaki yang terlihat tampan didepannya ini.


"Udah siap?" Tanya Zidan membuat Tania menggangguk pelan lalu menutup pintu rumahnya dan berjalan menuju motor Zidan bersama sang pemilik motor tersebut.


"Mau kemana sih?"tanya Tania menatap lekat manik hitam zidan.


"Mall,"jawab Zidan, tangannya sibuk mengaitkan pengait helm yang ia pakaikan pada gadis didepannya.


Sampainya dimall lantas Zidan menggandeng tangan Tania untuk mengikuti langkah nya, keduanya sudah cukup dekat. Zidan selalu mengantar jemput Tania pergi kuliah atau pulang kuliah kalau ia tak sibuk, kedua nya hanya dekat tidak sampai pacaran.


Langkah kaki keduanya perlahan mendekati sebuah toko perhiasan, membuat kerutan didahi Tania tercetak jelas.


"Kenapa ke toko perhiasan?" Tanyanya dengan heran, tapi kedua kakinya terus melangkah mengikuti langkah Zidan yang memasuki toko Tersebut.


"Mau beli cincin,"jawabnya dengan singkat tanpa melirik gadis disampingnya.


"Buat siapa?" Tanya Tania masih dengan raut wajah yang penasaran.


"Calon Tunangan gue," jawaban singkat yang keluar dari mulut lelaki itu membuat Tania menghentikan langkahnya.


Zidan punya tunangan?


Siapa?


Setaunya lelaki itu hanya dekat dengan dirinya.


Pikirnya menerka nerka.


Matanya berkaca kaca mendengar orang yang ia sayangi akan bertunangan, kedekatan keduanya membuatnya menaruh hati pada lelaki yang berumur jauh darinya, lelaki yang sekarang berada didepanya ini, tapi tak disangka lelaki yang disukai ternyata tidak memiliki perasaan apapun padanya.


Ia terlalu baperkah?


Atau perlakuan Zidan yang melewati batas wajar sebagai seorang teman membuatnya menaruh harapan pada lelaki itu.


"Menurut Lo bagusan yang mana?" Tanya Zidan menoleh kearah Tania, kedua matanya melotot saat melihat air mata gadis itu menetes, Tania yang menangis dalam diam membuat nya tak sadar bahwa gadis itu menangis.


"Hey, kenapa nangis?" Tanyanya langsung mendekap tubuh Tania, satu tangannya mengelus rambut gadis itu mencoba menenangkan.


"Jahat hiks...,"lirihnya.


"Siapa yang jahat? ada yang jahatin Lo, siapa bilang Sama gue." Ucap Zidan dengan nada yang khawatir.


"Lo!, Lo jahat hiks...,"


"Gue jahat?" Ucapnya mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan Tania.


"Lo jahat, gue suka sama Lo! tapi Lo udah punya tunangan hiks..dan nggak ngomong sama gue, Gue suka sama Lo tapi lo nya enggak jahat banget!" tangis Tania pecah, air matanya menetes dengan deras dalam dekapan lelaki itu.


Bahkan Zidan merasakan kaosnya basah akibat air mata Tania.


"Ta..tapi kenapa hiks it.. hiks..hiks.." Tania tak bisa melanjutkan ucapannya hatinya sakit menerima kenyataan bahwa orang yang ia sukai akan menikah.


"Hey gue udah bilang, gue mau ngajak Lo Tunangan kan bulan kemarin tapi lo nya malah ketawa, nah sekarang gue mau buktiin kalo gue mau serius sama Lo. Tunangan gue Lo bukan yang lain,"ucapan Zidan membuat tangis Tania berhenti, gadis itu mendongak kepalanya menatap lelaki itu.


"Beneran?" Tanyanya dengan suara pelan.


Zidan menggangguk dengan senyum tipisnya, "iya beneran, nggak usah nangis lagi ya." Pintanya tersenyum manis.


"Jadi kamu suka sama aku?" Tanya Tania dengan ragu ragu.


"Iya, aku suka sama kamu,"ujar Zidan lalu mengecup kening tania membuat gadis itu memejamkan matanya menikmati benda kenyal itu yang menempel di keningnya, tanpa sadar keduanya mengganti kata lo-gue jadi aku-kamu.


Tania menarik ujung kaos Zidan mengeluarkan ingusnya di kaos lelaki itu membuat Zidan terkekeh melihatnya.


Sudah menjadi kebiasaan saat Tania menangis kaosnya menjadi lap ingus gadis itu, ia tak masalah soal itu terkadang malah tertawa pelan melihat tingkah Tania.


"Yaudah ayo pilih cincinnya." Ujar Tania dengan suara seraknya karena habis menangis, Zidan yang mendengar ucapan Tania tersenyum manis lalu menggangguk pelan menyetujui ucapan Tania.


Pelayanan toko dan beberapa pengunjung tersenyum saat melihat kejadian itu.


...***...


Dikediaman keluarga Anggara wanita dengan perut buncitnya


melotot tak percaya melihat benda yang berada ditangannya, matanya berulang kali membaca tulisan itu tapi masih sama saja, itu artinya memang benar apa yang dibaca tidak salah.


Seminggu yang lalu, ia dikasih tau kalau sahabatnya akan bertunangan dengan teman suaminya itu tapi ia tak percaya dan sekarang ia percaya saat dirinya menerima sebuah undangan pertunangan dari Zidan dan Tania.


"Gue kira Tania halu eh bener ternyata," monolognya masih menatap undangan itu.


"Zidan ngapain mau ya sama Tania yang modelan kaya gitu, Hahahaha lucu. Nggak nyangka tu berdua bakal nikah," ucap Stevani mengelus perut buncitnya yang sudah membesar dengan mata yang masih senantiasa menatap undagan ditangannya itu.


Usia kandungan wanita itu sudah menginjak waktu melahirkan oleh karena itu Naufal selalu standby full time menemani istri kecilnya itu, takut takut saat ia kerja istrinya kesakitan pertanda ingin melahirkan. Maka dari itu ia benar benar 24 jam bersama dengan nya.


"Semoga Lo bisa bahagia Tan, Lo bahagia gue ikut seneng." Monolog stevini masih dengan kedua matanya menatap undangan itu, perempuan itu menghela nafas pelan. kedua sudut bibirnya perlahan terangkat menandakan bahwa wanita itu tersenyum.


Stevani meletakan undangan itu diatas meja, tangannya bergantian memegang remot televisi. Menyalakan televisi dan mulai menonton film yang ia sukainya.


Saat asik menonton sebuah tangan merangkul pundaknya membuat wanita itu menoleh.


"Dari Tania?" Mata Naufal melirik sekilas undangan itu.


"Iya, tadi baru aja dikirim."jawabnya melirik sekilas suaminya berada.


"Aku juga dapat, semoga mereka bisa langgeng dan bahagia,"ucap Naufal yang diangguki Stevani.


"Dan untuk kamu, kamu juga."ucapan Naufal tidak dimengerti Stevani, membuat gadis itu menatap bingung suaminya.


"Kamu juga harus bahagia dan soal itu biar aku yang menjadi alasan kamu bahagia." Jelas Naufal lalu mencium pelipis Stevani cukup lama.


TBC...