
Happy reading 😢
Stevani,tania dan ziko tengah berada di meja pojok kantin seperti biasa nya,terlihat mereka tengah mengobrol asik berbincang ringan sesekali tertawa.
Indah? Gadis itu tengah pergi ketoilet.
"Stev, enak nggak jadi istri pak Naufal?"tanya tania.
"Lo kira dia makanan." Ucap Stevani memutar bola matanya malas.
"Ya nggak maksudnya seneng nggak? atau apa gitu cerita lah ma kita kepo nih gue."Tania kembali bertanya
Stevani hanya mengangkat bahu nya acuh, ia tak berniat membalas ucapan Tania, gadis itu sibuk dengan mie ayam pesanannya.
Tania mengerucutkan bibirnya mendengus kesal karena pertanyaan nya tidak dijawab.
Ziko yang melihat wajah kusut Tania saat Stevani tak menjawab pertanyaannya pun tersenyum miring dengan jahilnya menyentil bibir Tania yang memanyun membuat sang empu meringis kesakitan.
"Setan ya Lo, ziko."umpat Tania.
"Apa?"ziko membalas dengan santai seakan tak melakukan apa apa.
"Sakit nih bibir gue goblok."ketus Tania.
"Iyakah?"tanya ziko dengan tampang tanpa dosa.
"Setan Lo."Tania terus mengumpat sembari mengusap bibirnya ternyata sentilan dari ziko sangat sakit, ziko hanya memakan makanannya Tanpa menghiraukan umpatan umpatan Tania.
Tak lama indah datang dengan bibir yang sengaja dimanyunkan kedepan dengan bibir berwarna merah yang terlihat lebih tebal dari biasanya duduk anggun disamping ziko
Membuat ziko menatap lekat pada indah.
"Napa Lo bibirnya dimonyong monyongin."ziko menatap indah dengan kening berkerut, lelaki itu bingung pasalnya gadis disampingnya terus saja memanyunkan bibirnya.
bukanya menjawab pertanyaan ziko,indah mengambil cermin kecil di saku nya lalu bercermin centil dengan bibir masih sama dimanyunkan kedepan beberapa senti.
Tania mengalihkan tatapannya dari makannya lalu melihat kearah indah yang tengah bercermin dengan banyak gaya seakan sedang berselfie.
"Ngapa lo?"tanya Tania lagi dan lagi indah tak menjawab pertanyaannya temanya.
Tania dan ziko saling menatap dengan kening berkerut menandakan keduanya tengah bingung.
"Buju buset bibir Lo udah merah ditambahin liptint lagi biar apa biar kaya abis dicipok soang heh!!"ujar ziko saat melihat indah menambahkan warna bibirnya dengan liptint nya.
"Biar cipokable"balas indah dengan nada seksual.
"Sebenernya Lo kenapa sih ndah, nggak biasanya Lo gitu?"Tania menghentikan makannya menompang dagu menatap lekat wajah indah ralat tepat dibagian bibir sahabatnya yang nampak sangat merah.
"Lip tint baru gitu aja nggak tau"celetuk Stevani yang dibalas anggukan indah.
Tania dan ziko tercengang mendengar nya sungguh sangat ajaib pikirnya, jadi kalau punya liptint baru apakah harus sampai seperti itu?.
biar semua orang tau kalau dirinya punya liptint baru gitu?.
"Eh gue mau nanya?"Stevani menatap ketiga temannya dengan raut serius setelah selesai menghabiskan makanannya, ketiganya terlihat tengah menunggu ucapan selanjutnya dari stevani.
"Tadi pagi gue naik motor nggak sengaja gue kesalib apa gue harus syahadat lagi?"tanya Stevani.
Ziko,Tania,indah saat sudah mencerna ucapan dari stevani terlihat ketiganya tengah menahan emosi.
"Sahabat gue yang paling imut kek pantat kuda disalip bukan disalib,kalo ente disalip bukan salah keyakinan ente salah kecepatan motor ente,kalo setiap ada yang salip motornya jadi murtad kasihan pengguna Supra."geram ziko.
Stevani hanya ber "o"ria diakhiri dengan kekehan saat melihat wajah temanya nampak kesal.
Tania dan indah hanya diam untuk meredakan kekesalannya.
"Ziko Lo ngerokok ya?"tanya Stevani.
"Kok tau"jawab ziko antusias.
"Iya karna ...Lo pikir gue mau ngomong karna Lo Sampoerna nggak anjing karna mulut Lo bau Sam Su."Stevani terkekeh geli saat melihat wajah kusut ziko, saat ziko kira dirinya ingin menggombal tapi ternyata tidak.
"Setan Lo."umpat ziko, Tania indah,Stevani tawanya pecah.
"Stevani."panggil ziko.
"Hmm"
"Kalo dari semua warna, warna apa yang bikin lo seneng?"tanya ziko ia berniat akan menggombali sahabatnya itu.
Stevani nampak memikir lalu ia menjawab "biru,"
"Nggak, kalau menurut gue kuning"balas ziko.
"Kenapa?"
Stevani memutar bola matanya, menatap ziko lalu ia berkata "iya bismillah bismika allahuma ahYaa wa bismika amuut karna apa? karna Lo harus nyadar memiliki gue hanya sebuah mimpi"ucap stevani membuat indah dan Tania lagi lagi tertawa melihat ekspresi ziko menatap datar Stevani.
"Sialan Lo stev bayarin nih makanan gue karna Lo udah bikin gue kesel."ziko berdiri meninggalkan tiga sahabatnya dengan menghentak hentakan kaki nya kelantai pertanda ia sedang marah.
"Woy ziko kalau nggak punya uang bilang biar gue bantu jaga lilin biar Lo yang keliling."teriak Stevani yang dibalas acungan jari tengah oleh ziko yang perlahan menjauh dari mereka.
setelah melihat respon ziko yang hanya mengacungkan jari tengah nya tiga gadis tersebut tertawa terbahak.
***
Angin malam menerpa kulitnya, langit malam terlihat cantik dengan bintang dan bulan yang menghiasinya.
Naufal berdecak kesal ia berada didepan sebuah club' malam, berdiri menyender di badan mobilnya matanya melirik sekilas jam tangan nya yang menunjukkan pukul 11 malam ,kedua tangan Naufal bersedekap dada dengan sorot mata yang semakin tajam.
Tatapan nya terus beredar kesegala penjuru tempat itu. ia tengah menunggu sosok gadis yang sudah membuatnya emosi, beberapa jam yang lalu temanya memberi tahu bahwa melihat gadisnya pergi ke club malam dengan empat temannya satu perempuan dan tiga cowok yang entah siapa ia tidak tau.
Naufal benar benar emosi gadisnya bilang ia pergi untuk mengerjakan tugas dan lihat sekarang, ucapan temannya benar karena terlihat mobil milik gadisnya terpakir rapi Diparkirkan tempat penuh dosa itu.
Ia sengaja tidak masuk ia justru memarkirkan mobilnya disamping mobil gadis itu, sudah setengah jam lebih ia menunggu tak lama gadis yang ia cari berjalan kearahnya sendirian sampai didepanya.
Terlihat gadis itu kaget saat melihat kehadirannya.
"Berani berbohong hmm?" Naufal mencoba meredakan emosi nya bagaimana tidak emosi gadis nya pergi ke club' bersama empat temannya biarpun ada teman perempuan nya ia takut akan terjadi apa apa pada gadisnya.
Stevani sudah menjadi tanggung jawabnya.
Stevani menunduk diam saat matanya bertubrukan dengan mata hitam suaminya yang nampak sangat emosi.
"Masuk!"tintanya membuka pintu mobil.
Stevani tetap diam tak menuruti ucapan suaminya.
"Saya bilang masuk Stevani Angelia putri."tegasnya menatap tajam gadis depannya.
"Tapi saya bawa mobil pak."cicitnya masih dengan kepala menunduk ia tidak berani menatap manik hitam Naufal.
"MASUK!"bentaknya membuat Stevani langsung masuk kedalam mobilnya Setelah nya naufal menutup pintu mobil dengan keras.
"Kamu tau salah kamu apa?"desisnya mencengkram erat stir mobil dengan tatapan kearah depan.
Sebelum nya naufal telah menelfon seseorang untuk mengurus mobil gadisnya.
"Maaf.."cicit Stevani menggigit bibir bawahnya ia sungguh takut terlihat Naufal benar benar emosi itu sangat mengerikan baginya.
Naufal menghembuskan nafas dengan kasar menyalakan mobilnya meninggalkan tempat maksiat itu.
Sesampainya di rumah Naufal keluar dari mobil berjalan masuk tanpa menunggu istrinya itu.
"Pak saya minta maaf, saya tau saya salah, saya sudah bohong sama bapak."ujar Stevani menyamakan langkah kaki Naufal yang memasuki rumahnya.
Ia beruntung karena ayah dan bundanya tidak berada dirumah ,tapi ia belum merasa lega ia takut suaminya akan mengadu pada orang tuanya.
"Maaf ya pak, saya benar benar minta maaf janji nggak gitu lagi."ujarnya terus minta maaf biarpun Naufal tak menjawab ataupun sekedar menoleh padanya.
"Aaa.. bapak jahat banget sih nggak maafin saya."rengeknya menarik narik ujung kaos suaminya yang tengah meneguk air minum.
Naufal menghela nafasnya lalu membalik menghadap ke arah Stevani.
terlihat mata gadis itu berkaca kaca menahan tangisnya
"Saya maafin."
Setelahnya Naufal pergi meninggalkan stevani didapur.
Stevani langsung tersenyum ia berlari menghampiri Naufal yang tengah menaiki tangga menuju kamarnya.
Bruk
Stevani menubrukan tubuhnya dipunggung Naufal yang ingin membuka pintu kamar.
"Maaf in ya... jangan marah, janji nggak gitu lagi."ucapnya memeluk tubuh Naufal dengan erat.
"Janji ya, kamu bikin saya khawatir Stevani."Naufal membalikan badannya mendekap tubuh mungil istrinya.
Stevani mengaguk dalam dekapan lalu ia mendongak menatap suaminya.
"Gendong."rengeknya dengan mengembungkan pipinya dengan kedua tangan direntangkan.
Naufal menuruti permintaan istrinya ia menggendong stevani ala koala memasuki kamarnya untuk tidur.
Sudah terhitung lima hari keduanya menjadi sepasang suami istri dan besok mereka akan pindah rumah, ke rumah yang menjadi mas kawin pernikahan mereka.
TO be continued.....