
Rumah Arguetta
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 wib pagi hari dan Austin sudah selesai dan ingin turun kebawah saat dibawah Austin bertemu dengan bundanya.
"pagi bun" sapa Austin dengan senyuman ala dia
"pagi juga sayang.. kamu pasti belum sarapankan?" tanya bunda
"belum" jawab Austin singkat
'kamu tetap saja dingin nak, seandainya ada yang merubah kamu menjadi ceria' gumam batin bunda
"ya udah, kamu sarapan dulu, lalu kamu duduk diruang tamu ya, ada yang ingin ayah sampaikan sama kamu" ucap bunda
"ia bunda" jawab austin
lalu Austin pun sarapan dimeja makan, setelah sarapan austin pergi keruang tamu dia bertemu ayahnya yang sudah nenunggunya dari tadi.
"Austin, sini duduk dekat ayah" ajak Faisal (ayahnya) sambil menepuk sofa disebelahya, akhirnya Austin pun duduk didekat ayahnya
"nak, kamu tau kan SMA Harapan Bangsa punya kita?" tanya Faisal dengan muka yang serius
"ia, Austin tau yah, emang kenapa?" tanya balik Austin
"ayah ingin kamu menjadi guru fisika disana. kamu mau ya sayang" pinta Faisal keaustin
sejenak suasana menjadi hening, lalu kemudian Austin bicara
"kok Austin yah, kenapa gak yang lain aja. kan banyak yang mau jadi guru fisika diluar sana selain austin" tolak Austin
"ya, karna hanya kamu yang bisa sayang, kamu mau ya, kabulin permintaan ayah?" mohon Faisal sambil menyatukan kedua telapak tangannya, agar Austin mau menerimanya
"semua udah ayah siapkan, kamu disana hanya dianggap guru biasa, tidak sebagai anak pempunya sekolah itu, ayah juga udah bicara kepada kepala sekolah disana, jadi kamu mau ya sayang" bujuk Faisal
Austin menghela nafas berat, sebenarnya dia tidak mau menjadi guru tapi, jika ia menolak permintaan ayahnya yang ada dia bakal dianggap anak durhaka. akhirnya Austin memutuskan setuju dengan permintaan ayahnya
"baik, Austin akan terima yah!" ucap Austin dengan pasrah
"kamu serius kan nak?"tanya Faisal untuk menyakinkan itu benar atau tidak
"Austin serius yah, Austin akan menjadi guru fisika disana" jawab Austin dengan muka datarnya
"makasih ya nak, jadi kamu besok udah bisa jadi guru disana, ayah udah konfirmasi kesekolah, jadi kamu tinggal temui kepala sekolah aja besok" ucap Fausal dengan senyum yang lebar
"yah, itu bukannya kecepatan ya, austin belum siap, kalau boleh lusa aja yah" pinta Austin keFaisal dan ayahnya hanya tersenyum
"ya udh kalau kamu maunya begitu, itu terserah kamu aja nak" ucap Faisal yang sudah beranjak dari tempat duduknya
"ayah mau kemana?" tanya Austin
"ayah mau pergi kekantor, udh ditungguin mau meeting" jawab Faisal yang dibalas anggukan dari Austin lalu ayahnya pun pergi
#Disekolah
"pak, biar saya saja yang diskors, mereka ber3 gak salah, saya yang menyuruh mereka ikut cabut dengan saya, jadi saya saja yang diskors pak!" ucap Ivy dengan serius membela sahabatnya agar mereka ber3 tidak dihukum
"jika kamu menanggung skors mereka maka kamu akan diskors 1 bulan, apakah kamu mau?" tanya pak zakaria
echa,vany, dan tara membulatkan matanya karna terkejut ivy akan diskors selama 1 bulan hanya karna mereka
"saya siap pak!" ucap ivy dengan tegas
" vy kita gak pp kok kalau diskors, ia kan" ucap echa yang tidak terima jika ivy yang menanggung hukuman mereka semua
"ia vy, jika lo diskors, apa nanti kata bokap lo, lo bakal kena hukun lagi vy" sahut tara
"kalian tenang aja, itu mah jadi urusan gue nanti, yang penting itu kalian gak kena hukun" ucap ivy
"ya udah, jika itu keputusan kamu, sekarang kamu ikut bapak untuk mengambil suratnya, oh ia jangan lupa panggil orang tua kamu juga karena kamu sering diskors dan selalu buat masalah" ucap pak zakaria menjelaskan
"baik pak" jawab ivy singkat dan lesu
lalu pak zakaria pergi meninggalkan mereka ber4
"vy, lo yakin dengan keputusan lo, kita gak pp kok jika harus diskors, lo gak perlu kek gini vy!" ucap vany yang tidak terima jika ivy yang akan menanggungnya
"selow kali, gue gak papa, kalian tenang aja gue malah senang bisa libur 1 bulan" jawab ivy yang mencoba menenangkan sahabatnya
mereka ber4 berpelukan dan menangis, seakan akan mereka akan berpisah selamanya
"udah udah, gue kan cuma 1 bulan gak lama, kenapa kayak berpisah selamanya aja sih" ucap ivy
akhirnya mereka melepaskan pelukannya.
sesampainya ivy dikantor guru, pak zakaria mengasih suratnya dan menyuruh ivy untuk pulang dan datang lagi kesekolah 1 bulan kemudian.