
Happy reading
Pagi ini seperti biasa Stevani akan bangun pagi untuk melakukan rutinitasnya sebagai seorang pelajar yaitu berangkat sekolah.
Gadis itu sudah siap dengan seragamnya, ia mengambil sepatunya dan memakainya tak lupa ia menuju meja riasnya untuk memoles liptint dibibir mungil nya, setelahnya ia mengambil tas birunya dimeja belajar. Untuk hari ini ia bersemangat untuk berangkat sekolah.
Saat melewati meja riasnya ia berbalik dan Melawati meja riasnya ulang,
Tunggu,tunggu ia menatap cermin didepannya
Tanganya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan
Jari telunjuk nya mengetuk dagu nya dengan pelan seolah sedang berfikir lalu ia melangkah ke belakang dua kali membungkukan sedikit badannya lalu menegakkan badannya kembali.
Matanya membelalak tangan kanannya menutup mulutnya seolah kaget.
"OH MY GOD ..OH MY GOD OMG GILA PARAH DEBAEDAK siapa itu dicermin cantik banget gila ,parah-parah Lo sumpah cantik banget anjir."heboh Stevani menatap pantulan dirinya dicermin meja riasnya dengan suara cempreng nya.
"Sump..."
"Ehem.."dehaman seseorang mengagetkan Stevani ia menoleh kearah suara tadi terdapat seorang laki laki bertubuh tegap lengkap dengan seragam guru berdiri di ambang pintu dengan bersedekap dada.
"Udah muji diri sendirinya?"tanya lelaki itu.
"Ishh ganggu tau."kesal Stevani memutar bola mata jengah.
"Ouh jadi ganggu nih aku?"tanya lelaki itu, siapa lagi kalau bukan Naufal guru matematika yang berperan sebagai suaminya Stevani.
"Iya lah mas, ngapain tiba tiba disitu heh!" Ucapnya dengan nada nyolot lalu memanyunkan bibirnya.
"Yaudah maaf sarapan gih, hari ini aku yang masak buat kamu."Naufal berjalan pelan kearah stevani mengelus lembut rambut panjang istrinya.
Stevani menggangguk lalu berjalan keluar dari kamar bersama dengan Naufal.
***
Akhirnya bel istirahat menggema di seantero SMA pelita jam-jam yang ditunggu siswa siswi.
Mereka berhamburan keluar kelas, tujuan mereka adalah kantin surganya para murid untuk Melepas rasa lapar dan haus mereka saat mengikuti pelajaran.
"Stev ngantin yuk."ajak Tania dengan antusias, Stevani Han mengangguk menjawab pertanyaan dari Tania.
Sampainya dikantin dua gadis itu menuju meja pojok, meja favorit yang sudah diklaim menjadi miliknya dan teman temannya
Terlihat indah dan ziko belum datang, dua gadis itu duduk ditempatnya saat Tania hendak memesan makanan mereka indah dan ziko datang.
"Bujubuset udah nangkring aja Lo berdua."indah berkata dengan tangan kiri memilin rambut Curly nya seraya berjalan anggun mendekati keduanya.
"Lo berdua kali yang telat, ngapain aja Lo, nonton film biru?"Tania bersedekap dada matanya memicing curiga pada ziko da indah.
"Udah Sono pesen laper gue."tintah Stevani yang langsung diangguki tania.
"Katanya bakal ada guru baru perempuan."celetuk ziko saat sudah menghabiskan makanannya, ucapan ziko membuat Ketiga gadis itu sontak menatap lelaki itu.
"Emang iya?"
"Iya, yang paling bikin heboh tadi gue denger-denger tu guru masih muda kisaran dibawah pak Naufal dua tahunan masih singel juga katanya."jelas ziko membalas pertanyaan dari indah.
"Wah.. wah.. wah ati-ati Lo stev ntar laki Lo kecantol lagi."celetuk Tania,
"Bener kandang aja itu laki Lo stev" ujar indah, ziko dan Tania lantas mengangguk menyetujui ucapan indah.
"Lo bertiga mulutnya ngak usah nyaplok, ini dikantin kalo Lo pada pikun." Desis Stevani menatap datar tiga temannya yang dibalas cengiran tengil ketiganya. Bisa gawat kalau murid lain mengetahui bahwa ia istri dari guru matematika yang banyak digemari murid perempuan.
"Tapi Lo nggak takut apa kalo pak Naufal yang ganteng, udah gitu black card nya banyak udah kek ATM berjalan direbut sama guru baru, kalo gue sih nggak rela."bisik Tania yang dapat didengar tiga temannya.
"Ooo." Serempak ketiganya menggangguk pelan secara bersamaan.
Lain dengan ucapannya gadis itu terdiam sejenak selama menikah dan hidup sebagai sepasang suami istri, ia merasa nyaman entah perasaan apa ia tidak tau yang paling penting ia tidak rela suaminya bersanding selain dirinya jangankan bersanding tertawa tepas pun rasanya ia tak rela.
Ohh.. ayolah apa ia sudah mulai jatuh cinta dengan guru matematika itu? Bagaimana jika dia cinta pada Naufal tapi Naufal tidak cinta padanya, apalagi saat Naufal seberapa cantik guru baru itu lalu mulai menaruh hati pada guru baru terus menceraikannya ohh..tidak semudah itu Solaiman Stevani tidak akan biarkan itu terjadi.
Waktu menunjukan saat-saat Bel pulang sekolah akan berbunyi, tak lama suara Bel pulang sekolah terdengar nyaring dipenjuru sekolah tersebut membuat siswa siswi berhamburan keluar untuk pulang kerumah masing-masing mengistirahatkan tubuh mereka
Dirumahnya.
Berbeda dengan dua gadis cantik itu, siapa lagi kalau bukan Tania dan stevan.i keduanya Iki tengah menikmati sejuk angin di siang hari yang menerpa wajah cantik keduanya.
Saat pelajaran terakhir keduanya memilih bolos dan berakhirlah keduanya duduk diatas pohon taman belakang sekolah mereka.
Indah dan ziko?
Ah..Sudahlah kedua orang itu memang nakal tapi soal bolos mereka sudah berhenti sejak memasuki kelas XII, mereka nyadar otaknya yang pas Pasan membuat mereka berhenti membolos atau akan tetap tinggal di SMA alias tidak lulus jika masih sering membolos.
Kenapa Stevani dan Tania masih sering membolos?
Kepintaran keduanya membuat mereka leluasa membolos tanpa takut tidak lulus
Tania dan Stevani itu nakal tetapi pintar dalam sekaligus. dulu waktu kelas XI dan X mereka kerap menyumbang berbagai piala mulai dari lomba akademik atau pun non akademik.
Guru-guru sempat menyayangkan akan prestasi kedua gadis itu karena sifat dan kelakuan keduanya yang bertolak belakang, dulu keduanya sering bolak balik masuk BK tapi untuk sekarang sudah tidak terlalu.
Apakah keduanya kapok?
Jawaban tidak karna mereka menganggap itu semua adalah pewarna masa putih abu-abu selain percintaan.
"Yuk ke sirkuit dah lama nggak balapan" ajak Tania memecahkan kesunyian.
Stevani melirik sekilas lalu ia berkata, "gue Mulu perasaan yang balapan, Lo jarang."ketusnya memang seperti itu Tania yang ngajak pergi ke sirkuit untuk balapan tapi dirinya hanya menonton.
"Ya elah namanya juga gak mood."balas Tania dengan cengiran.
"Yi ilih niminyi jigi gik miid," cibirnya lalu turun dari atas pohon tak lupa mengambil tasnya yang ia taruh diatas dahan pohon yang tidak terlalu tinggi, lalu berjalan meninggalkan Tania yang terus memanggil nya.
"BEGO TUNGGUIN GUE TOLOL,"teriak Tania bergegas turun dan berlari mengikuti Stevani yang berjalan dikoridor.
Saat sudah diparkiran tak pikir lama kedua nya menaiki motor masing masing, Tania dengan motor sport nya Stevani dengan trail nya. Lalu keduanya mulai menjalankan motor mereka,Membelah jalanan yang sedikit lenggang dengan ketepatan yang lumanyan tinggi.
"BUKIT KEMBAR, SIAPA YANG SAMPAI DULUAN. DIA YANG MENANG YANG KALAH WAJIB NURUTIN PERMINTAAN PEMENANG!"teriak Tania menyejajarkan laju Stevani.
Sedikit informasi bukit kembar adalah tempat dimana menemukan ketenangan, tempat yang diklaim dua gadis itu menjadi tempat favorit mereka tiga tahun yang lalu. Mereka menemukan tempat tersebut saat keduanya tengah camping tak jauh dari bukit kembar jaraknya yang cukup jauh dari permukiman warga dan tidak terlalu banyak yang tau keberadaan tempat tersebut, pemandangan yang indah, suasana keheningan dan sebagainya membuat benar benar pecinta sunyi nyaman berada ditempat itu tempat yang hanya diketahui dua gadis itu saja.
Stevani tersenyum miring lalu ia melakukan wheelie dengan menambah kecepatan lebih tinggi, tak ingin Stevani jadi pemenang Tania ikut melakukan wheelie sama seperti Stevani,
Tania sempat memimpin jalanan tapi Stevani tidak membiarkan itu lebih lama dengan keahliannya stevani menambah laju motor nya dan berakhir dirinya yang memimpin perjalanan.
Jarak sekolah dan bukit kembar cukup jauh saat ditempuh dengan motor yang kecepatannya sedang akan memerlukan waktu satu jam tapi tidak berlaku dua gadis itu 30 menit keduanya sudah sampai,tidak ada yang menang karna keduanya sama sama tepat sampai ditempat tersebut.
Jam menunjukkan pukul 16:45
Sudah satu jam setengah kedua gadis itu menikmati sunset pemandangan di bukit kembar, keduanya hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Pulang yuk."ajak Tania menoleh kearah stevani yang memandang diam kearah depan,
Tak menjawab pertanyaannya Tania, gadis itu langsung turun dari rumah pohon yang dibuat kedua gadis itu dua tahun yang lalu di ikuti Tania yang juga turun,
Keduanya melaju meninggalkan tempat penuh kenangan itu.
TO BE CONTINUE....