
. Happy reading 🤮
Lelaki dengan postur tegap melepas jaket denim nya dan melemparkannya asal, menghempaskan tubuhnya ke sofa dan tak lupa kedua kakinya ditaruh diatas meja.
Sebelah tanganya tak tinggal diam lalu mengambil satu bungkus rokok disaku celana hitamnya, bibirnya bergumam pelan bersamaan dengan tanganya mengambil pematik api lalu membakar ujung rokok yang diapit dengan dua jarinya,menyesapnya perlahan diikuti kepulan asap yang berasal dari mulutnya.
Pikirannya berkelana kejadian siang tadi dimana dirinya benar benar malu akibat ulah gadis yang ia sukai, ia benar benar geram.
Flashback
Lelaki dengan rambut acak acakan itu tersenyum manis menatap dua benda ditangannya,kedua kaki itu melangkah menuju kantin sekolah matanya mengedarkan setiap penjuru ruangan itu.
Senyumnya mengembang saat melihat gadis yang ia sukai tengah duduk dipojok meja kantin dengan para temannya.
Tak ingin membuang banyak waktu lelaki itu menghampiri gadis yang ia sukai, sampai didepan gadis itu lantas ia tersenyum tak lupa satu tangannya yang membawa dua benda itu ia sembunyikan ditubuh tegapnya.
"Hay."sapanya membuat orang yang berada dimeja itupun mendongak menatap sang penyapa.
"Hay juga." Salah satu perempuan itu membalas menyapanya.
"Gue boleh bicara sama temen Lo ini?"tanyanya menunjuk gadis yang sibuk memakan mie ayam dengan dagunya.
"STT.. Lo mau diajak ngomong tuh." Gadis yang duduk disebelahnya menyenggol lengan nya pelan.
Gadis yang disenggol temanyanya pun mendengus, mendongakkan kepalanya
Menatap datar lelaki itu.
"Ada apa?"tanyanya.
"Gue mau ngomong sesuatu sama Lo, boleh?"lelaki itu berkata masih Dengan senyum manisnya.
"Ngomong tingal ngomong." Biarpun tangapan dari gadis itu bernada ketus tapi tetap saja ia masih menampilkan senyum manisnya.
"Boleh Lo berdiri depan gue sebentar aja"tintah lelaki itu.
Dengan malas gadis itu mengikuti ucapan lelaki tersebut untuk berdiri tepat didepan lelaki itu, Tak disangka setelah dirinya berdiri didepannya lelaki itu berlutut dihadapanya dengan tangan memegang bunga dan coklat yang sedikit dianggat.
"Will you be someone who is in my heart"ucapnya cukup keras membuat para murid lain yang berada di kantin menoleh.
Perlakuan lelaki itu sontak membuat semua orang yang berada di kantin menatap mereka, beberapa orang langsung mendukung ada juga yang merekamnya.
Gadis itu melotot tak percaya
Apa lelaki ini tidak kapok juga sudah sekian banyak dirinya menolak tapi masih saja menembaknya?
Dan lihatlah ini, lelaki itu seakan ingin membuat malu dirinya sendiri dengan cara mengungkapkan perasaannya didepan umum.
Gadis itu menghela nafas pelan menatap lelaki didepanya yang masih berlutut.
"I can't...sorry and i think you already know the answer"jawabnya, setelah itu pergi meninggalkan kantin begitu saja.
Sudah sering kali dirinya bilang bahwa ia tak ada perasaan pada lelaki itu tapi lelaki itu keras kepala tidak menghiraukan ucapanya dan Sekarang membuatnya geram dengan sedikit tega ia mengucapkan kalimat itu.
Ia harap lelaki itu akan mundur perlahan untuk melupakan dirinya dan memilih pindah hati keperempuanan lain bukan dirinya.
Lelaki itu menggeram marah dengan rasa malunya ia membuang bunga dan coklat itu sembarangan dan meninggalkan kantin tanpa menghiraukan tatapan iba orang lain.
Flashback off
Dengan kasar lelaki itu meremas Putung rokoknya tanpa menghiraukan telapak tangan yang terbakar rokoknya, menyambar kasar ponselnya mendeal nomer seseorang yang ia tuju setelah terhubung.
"Gue pengen Lo siapin semuanya besok malam udah selesai, gue transfer 10 juta cukup? Sisanya kalo udah selesai."
Tanpa menunggu jawaban dari lawanya bicaranya lelaki itu mematikan sambungan.
Senyum smirk tercetak di wajah tampannya.
***
Hujan rintik perlahan menjadi deras membasahi dua insan yang tengah mengendarai motor.
"GUE TAU, GUE NGGAK BUTA"teriak Balik Zidan, mata lelaki itu hanya menatap kearah depan.
Keduanya bertemu disalah satu supermarket dan bisa kalian pikirkan bahwa Tania akan memaksa Zidan untuk mengantarkannya.
"JIDAN BOLEH PELUK?"tanyanya.
"NGGAK." Tolaknya secara langsung.
"MAKASIH JIDAN"ucapnya dengan lancang memeluk tubuh zidan yang sedang mengendarai motornya.
Lelaki itu mendengus sudahlah itu sudah ada dipikirannya, dimana dirinya menolak gadis itu akan tetap melakukan hal apapun itu biarpun tanpa persetujuannya.
"JIDAN DINGIN NGGAK MAU NEDUH APA?, APA LO SENGAJA MAU GUE PELUK TERUS KAYA GINI."
"KITA KE APARTEMEN GUE, NGGAK JAUH DARI SINI DIDEPAN ADA BELOKAN NGGAK LAMA LAGI UDAH SAMPAI." ucap Zidan melirik Tania lewat kaca spion.
"APA KE KUA? KALAU MAU NGAJAK NIKAH JANGAN PAS LAGI BASAH BASAH NGGAK ENAK SOALNYA."entah dari mana Tania menjawab pertanyaan dengan jawaban tidak nyambung.
"DIEM LO!!"sentak Zidan membuat Tania tertawa pelan.
Sampainya diapartemen Zidan, dua remaja itu langsung masuk ke dalam ruangan itu.
"Lo ganti baju di kamar itu, ada baju sepupu gue Lo pake aja"ucap Zidan menunjuk kamar dengan pintu warna putih.
Tania mengangguk.
Zidan melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil air minum setelahnya pergi kekamarnya ia membuka bajunya dan memperlihatkan tubuh bagian atasnya.
"Waww seksi."celetuk seseorang membuat Zidan terlonjak kaget dan mendapati gadis dengan kaos oblong dan celana pendek berdiri di pintu dengan mata menatap perut nya.
"Ngapain Lo disitu?"Tanya Zidan mengambil handuknya dan menyampirkan dipundaknya.
"Seksi bangettt"ucap Tania menghiraukan ucapan Zidan, perlahan gadis itu mendekati lelaki itu.
"Jidan, Lo nggak pake baju? Lo nggak takut gue perkosa?"tanya Tania tangannya mencoba memegang perut Zidan,dan dengan cepat Zidan menepis tangan Tania.
"Seharusnya gue yang nanya gitu! Lo nggak takut gue perkosa?"
"Mana ada diajak ciuman aja Lo pergi,emang Lo berani perkosa gue?"ucap songong Tania.
Zidan berdecak kesal memang benar adanya ucapan Tania ,waktu itu dengan gamplangnya Tania mengajak berciuman dengan kesal dirinya langsung meninggalkan Tania begitu saja,ia lelaki normal tapi ia masih memiliki otak untuk tidak merusak seorang perempuan biarpun hanya sekedar berciuman.
"Keluar!, gue mau mandi."usirnya
"Nggak mau ngajak gue?"tanya Tania menaik turunkan alisnya.
"Yaudah ayok mandi bareng"ajaknya dengan santai.
"Beneran?"
"Iya ayok mandi bareng"ajak Zidan lalu mengikis jarak dengan gadis berambut sebahu.
Tania yang mendengar itu pun langsung gelagapan, kenapa lelaki didepanya tidak kesal malah seperti ini? Pikirnya.
Oh.. ini sungguh mengerikan dirinya hanya bercanda.
"Emm anu itu anu"
"Anu apa hmm?"
Setiap satu langkah Zidan mengikis jarak mereka, satu langkah Tania memberi jarak keduanya.
"Aduh cicak disebelah ruangan mau nikahan disuruh kondangan gue,gue pergi dulu."ucap Tania dengan cepat lari terbirit-birit keluar kamar Zidan.
Zidan tersenyum kemenangan ia tahu setiap gadis itu melontarkan kata kata seperti tadi itu hanya bercandaan saja dan kalau dibuat serius akan seperti ini kejadian nya.
Zidan memasuki kamar mandi untuk membersihkan badannya, setelahnya ia akan menunggu hujannya berhenti lalu ia akan mengantarkan gadis itu,kalau hujannya tidak berhenti mungkin ia akan menyuruh seseorang untuk membawakan mobilnya ke apartemen hingga ia bisa mengantar Tania pulang,ia tak akan biarkan Tania menginap ditempatnya takutnya orang tua Tania mencari gadis itu.
To be continue...