
Rafi berdehem sebagai jawaban 'Ya'.
Ia menggendong ajeng sampai ke kamar kemudian menyuruhnya bersiap siap setelah itu Rafi mandi dan membantu ajeng menyiapkan keperluan mereka selama di bali.
^♡^
Sekarang Rafi,ajeng dan lina sudah berada di pesawat. Mereka berangkat dari pukul 19:00 PM,Kira kira lama waktu yang mereka butuhkan dari jakarta ke denpasar Bali, adalah 1 jam 45 menit.
"Apa masih lama?" Tanya ajeng menyandarkan kepalany di bahu rafi.
"Kita kan baru saja masuk,kau ini bagaimana" Ucap Rafi fokus dengan map map ditangannya.
"Iya aku tahu,tapi aku sudah merasa bosan disini" Ucap ajeng mengerucutkan bibirnya.
"Aku juga tidak membawa mainan yang ku beli waktu itu" Ucap Ajeng menghembuskan nafasnya bosan.
"Itu salah mu" Ucap Rafi dengan membentuk bulan sabit dibibirnya.
"Aku bosan sekali" Ucap ajeng sembari melipat kedua tangannya di depan Dada.
"Bosan sekali,Mau tidur gak bisa,main handphone malas,Makan gak nafsu,Suami sibuk sama pekerjaannya,Nonton bosan,dengerin musik juga bosan" Gerutu ajeng kecil walau masih dapat di didengar rafi yang berada dekat disampingnya.
Rafi tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
Ia meraih kepala ajeng dan membawanya bersandar di bahunya.
"Kamu bosan?" Tanya rafi dengan suara lembut tapi terdengar kaku.
"Sudah tahu masih bertanya" Ucap ajeng kesal.
Rafi tertawa kecil kemudian ia membelai lembut rambut ajeng.
"Mau makan?" Tanya Rafi
Ajeng menggelengkan kepalanya menolak tawaran rafi.
"Haus?" Tanya Rafi.
Lagi lagi jawaban ajeng tetap sama,Tidak.
"Terus mau apa?" Tanya Rafi mengelus Dengkul ajeng.
"Pengen lihat lumba lumba" Ucap ajeng asal,Membuat Rafi ingin tertawa keras namun ia tahan.
"Jangan aneh aneh deh yang,Malem malem kok minta lihat lumba lumba" Ucap Ucap Rafi sembari menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil.
"Aku gak minta aneh aneh kok,Ini permintaan bayi kamu Alias ngidam" Ucap ajeng telak,Membuat Rafi terdiam dan menatap ajeng dengan ngeri.
"Ngi-ngidam?" Tanya Rafi gelagapan.
Ajeng berdehem sebagai jawaban 'Ya'.
"Malam malam begini?" Ucap Rafi.
"Iya... Aku mau lihat lumba lumba sekarang" Rengek ajeng menggoyangkan tangan rafi.
Rafi menghela nafas pasrah "Mana ada tempat lumba lumba di bali yang buka malam malam gini" Ucap Rafi menjelaskan ke ajeng.
"aaaa...Aku gak mau tahu pokoknya aku mau lihat lumba lumba sekarang,malam ini titik!" Ucap Ajeng
"Ta-tapi dimana tempatnya?" Tanya Rafi sembari menggaruk tengkuknya.
"Ya aku Gak tahu,Kamu harus cariin tempatnya" Ucap ajeng yang pastinya sudah tidak bisa dibantah Rafi.
"Iya nanti akan aku carikan tempatnya,Sekarang kamu tidur saja. kalau kita sudah sampai kamu akan ku bangunkan" Ucap Rafi mengusap wajah istrinya dan mengelus rambut ajeng.
Rafi tidak fokus saat membaca map map yang akan ia pakai saat Rapat dengan dewan nantinya.
Ia terus memikirkan dimana tempat lumba lumba yang masih buka di malam hari seperti ini.
Ia tidak begitu mengenal Bali. Ia bahkan kesini hanya karena urusan perkerjaan.
Baginya tidak ada waktu untuk berjalan jalan semasa ia melajang,tapi sekarang...mungkin berjalan jalan adalah hal yang paling di perhatikan dalam pernikahannya dengan ajeng.
Pikiran nya berkecamuk,Ia harus menentukan Pekerjaannya yang lebih penting atau ajeng.
Tujuannya ke bali adalah untuk bekerja.
Dan Setelah ia sampai di denpasar nanti,Ia segera berangkat menuju tempat yang sudah ditentukan oleh orang yang mengadakan rapat yaitu,Para dewan.
^♡^
Mereka sudah sampai di denpasar,Bali.
Langit sudah gelap menunjukan kalau Rafi dan lina harus segera menemui para dewan besar.
"Pak kita Langsung ke gedung yang sudah disiapkan dewan" Ucap Lina sembari menenteng tas hitam berukuran sedang ditangan kanannya dan membawa laptop di tangan kirinya.
"Lina..Jam berapa Rapat dimulai?" Tanya Rafi sembari menggenggam tangan ajeng yang berjalan disamping kanannya.
"21:00 Sir" Jawab Lina.
"Masih ada waktu" Kata rafi dalam hati
"Kau duluan ke sana,nanti saya menyusul dengan istri saya. Saya masih ada urusan sebentar" Ucap Rafi.
"Tapi Sir" Ucap lina segera menjawab ucapan rafi.
Ajeng menganggukan kepalanya dan mengikuti perintah rafi.
Rafi menarik tangan Lina dan membawanya menjauh dari ajeng.
"Lina dengarkan saya. Istri saya sekarang sedang mengidamkan Lumba lumba,Tolong bantu saya..Saat kau sampai di gedung dewan,Kau bilang ke mereka aku akan terlambat sedikit. Terserah mereka mau menunggu ku atau tidak,Sekarang istri saya yang paling penting. Dan ingat bilang ke mereka alasan saya terlambat datang,Kau bisa?" Ucap rafi berbicara serius dan menatap tajam lina.
"Oke Sir Saya akan sampaikan ke para dewan dan lainnya,Tapi Sir Setahu saya..Disini tempat lumba lumba seperti itu sudah tutup dari beberapa jam yang lalu" Ucap Lina memberikan informasi ke Bosnya itu.
"Saya juga tahu kalau masalah itu,Tapi Istri saya tetap memaksa kalau dia ingin melihat lumba lumba" Ucap Rafi.
"Saya mengerti Sir,Saya akan duluan nanti saya akan memberikan alamatnya ke Sir Lewat telfon. Saya permisi sir" Ucap lina berlalu meninggalkan Rafi.
Rafi segera berlari kembali ke tempat ajeng berada,Syukurlah gadis itu adalah gadis penurut. Ajeng masih berdiri ditempat bahkan tidak berpindah sedikitpun.
"Sayang ayo kita lihat lumba lumba" Ucap Rafi menarik tangan ajeng dan membawanya masuk ke dalam Taxi.
"Dolphin Lodge Bali " Ucap Rafi memberi tahukan alamat kemana mereka akan pergi.
Sopir itu menganggukan kepalanya dan menjalan kan Taxi ke tempat yang rafi bilang.
^♡^
Sesampainya disana,Suasana ya..sudah sepi karena sudah tutup juga begitu pikir rafi.
"Terima kasih pak" Ucap Rafi memberikan selembaran uang merah ke sopir Taxi itu.
"Kok sepi ya?" Tanya ajeng ke rafi.
"Karena sudah tutup" Ucap Rafi sembari membawa Koper mereka dan menggenggam tangan ajeng.
"Kalau sudah tutup kenapa kita kesini?" Tanya ajeng menatap Rafi.
"Karena kau yang memintanya"Ucap Rafi gemas dan mencubit sebelah pipi ajeng.
"Bagaimana caranya kita masuk?" Tanya Ajeng.
"Aku tidak tahu" Ucap rafi sembari melihat keadaan sekitar.
"Kamu tunggu disini ya,aku mau nanya sama orang didalam dulu" Ucap rafi berjalan masuk ke tempat tersebut dan berbincang bincang dengan orang didalam.
Hampir 5 menit Rafi berbicara dengan orang yang mungkin seorang penjaga di tempat tersebut.
Kemudian Rafi keluar dan menyuruh ajeng masuk.
Lalu mereka diajak melihat Lumba lumba yang ajeng inginkan dari tadi saat di pesawat.
"Lucu nya" Ucap ajeng memandang lumba lumba yang sedang beristirahat.
"Mbak kalau mau pegang,Boleh kok" Ucap orang tersebut yang biasa di sapa Bli itu sembari mempersilahkan ajeng menyentuh kepala lumba lumba.
Ajeng menampakan wajah bahagianya dan terus tersenyum saat bersama dengan lumba lumba.
Walau sudah malam,Ia tetap Terjaga dan bersemangat.
Sekitar 10 menit ajeng bermain dengan lumba lumba lucu tersebut dan saat nya ia pulang,Bukan pulang..melainkan menemani rafi rapat.
"Terima kasih bli,Lain kali kami akan berkunjung lagi" Ucap Rafi menjabat tangan Bli.
"Oke lah,Jangan lupa bayarannya ya hahaha" Ucap Bli itu sembari tertawa lepas.
"Saya bercanda,Gak usah bayar ya gak papa.. Untuk istri yang hamil mah gratis tis tis,Semoga adek di kandungan mbak ini sehat ya" Ucap Bli mendoakan ajeng dan bayinya.
"Terima kasih lagi Bli" Ucap Rafi.
"Makasih Bli" Ucap ajeng tersenyum tulus.
"Kami pamit ya,Maaf mengganggu waktu istirahat si lumba lumba" Ucap Ajeng berjalan meninggalkan tempat tersebut bersama rafi sembari membawa Koper mereka.
Untung saja,Taxi yang tadi mereka pesan masih menunggui mereka. Jika tidak,mungkin Rafi akan semakin terlambat Menghadiri rapat.
Ia menyuruh supir Taxi agar cepat ke gedung yang alamatnya sudah diberikan lina lewat Telpon.
Rafi dan ajeng tidak perlu mengganti baju mereka lagi,karena sebelum berangkat mereka sudah mengenakan baju yang sudah ditentukan.
^♡^
Mereka sampai di gedung blake. Tidak perlu waktu lama mereka segera masuk dan menitipkan koper yang mereka bawa ke petugas disana.
"Kamu tunggu diruangan itu ya,kamu gak bisa ikut masuk ke dalam" Ucap Rafi menunjuk sebuah ruangan dengan pintu berwarna coklat tua.
"Jangan lama lama,semoga Rapatnya lancar dan.. gak dimarahin sama dewan dewan itu" Ucap ajeng melangkahkan kakinya menuju ruangan yang ditunjuk rafi tadi.
Rafi masuk ke ruangan tersebut dan sedikit mendapat teguran keras dari ketua dewan di sana karena datang terlambat.
"Maafkan saya" Ucap rafi menundukan badannya kemudian duduk di kursi yang sudah disiapkan.
Rapat dimulai dengan suasana serius dan menegangkan. Sementara ajeng duduk di sofa empuk ruangan tadi sembari melakukan Video call dengan teman temannya.
***
Like dan komentar
Terima kasih sudah membaca