
Happy reading🙄
Seperti dugaannya indah bahwa orang tua metta tidak akan tinggal diam akibat kejadian beberapa jam yang lalu yang mengakibatkan metta harus dilarikan kerumah sakit, lihatlah sekarang stevani dkk baru saja duduk diuks untuk mengobati luka Stevani,namun pangilan berasal dari pengeras suara yang memberitahukan bahwa Stevani untuk pergi keruang kepala sekolah mengurungkan niat mereka untuk mengobati luka Stevani.
Stevani dan yang lain berjalan dikoridor menuju ruang kepala sekolah dengan keheningan sebelumnya Stevani berdebat dengan tiga temannya, berdebat mengenai luka Stevani yang harus diobati terlebih dahulu atau pergi keruang kepala sekolah dulu.
Stevani yang keras kepala membuat tiga temannya
Mengalah padanya alhasil darah di luka Stevani masih belum hilang bahkan ada yang mengering darahnya,Stevani tidak peduli tentang itu, yang ia inginkan bertemu kedua orangtua metta dan menyelesaikan masalahnya. Stevani yakin itu sangat menyenangkan.
Tepat didepan ruang kepala sekolah tak butuh lama stevani memasuki ruangan tersebut diikuti tiga temannya,ia tak menyangka bahwa kedua orangtuanya dan suami juga berada disitu awalnya iya kaget tapi sekarang ia santai-santai saja toh ia berantem punya alasan tersendiri.
"Permis.."
Plak
Ucapan Stevani terpotong saat seorang paruh baya menamparnya dengan keras, ia yakini bahwa itu adalah mamanya metta.
Semua orang kaget melihat apa yang dilakukan mamanya metta pada Stevani yang baru saja datang. Hanna, Bundanya stevani shock saat melihat keadaan anaknya yang sangat kacau rambut acak acakan tangan,pipi,dan leher mengeluarkan darah tak lupa juga pelipis stevani yang mengeluarkan darah yang sudah sedikit kering.
Melihat itu mata hanna berkaca kaca tak lama air matanya menetes dengan sendirinya.
"KAMU YANG NAMANYA STEVANI IYA..KAMU APAKAN ANAK SAYA HAAH... SAMPAI ANAK SAYA TIDAK SADARKAN DIRI"teriak mamanya metta.
Stevani tersenyum lebar ia berjalan mendekati kedua orangtuanya lalu menyalimi tangan keduanya,
Setelah nya Stevani berdiri didepan kedua orangtua metta yang nampak sangat marah terlihat dari tangan kedua paruh baya tersebut mengepal kuat sorot matanya nya menatap penuh amarah.
"Nggak saya apa apain tuh, cuma saya ajak cubit cubitan."Stevani terkekeh geli.
Ucapan Stevani membuat dua paruh baya didepannya semakin marah.
"anak perempuan kok kelakuannya kaya preman pasar sudah jelas masa depanya jadi gembel."sinis mamanya metta.
"Apakah nyonya seorang peramal sehingga tau gimana masa depan saya?" Katanya tersenyum manis ia masih berkata dengan santai.
"Apakah ini putri anda tuan Leon terhormat" ujar papa metta menatap sinis Stevani "sangat memalukan sekali, anda seorang pembisnis sukses tapi sayang anak mu sangat menjijikan sikapnya, anda pintar tuan Leon dalam berbisnis tapi sayangnya. Tuan Leon yang terhormat yang disenggani banyak orang ternyata bodoh dalam mendidik anak."lanjutnya bersedekap dada.
Ucapan papanya metta membuat ayah Stevani sangat marah begitu juga dengan Stevani kedua tangan nya terkepal kuat sorot matanya menajam, ia paling benci jika ada yang menghina kedua orangtuanya tapi ia mencoba untuk merendam emosi nya karna jika ia emosi ia akan merusak rencananya alhasil sangat tidak menyenangkan.
Ayah stevani hampir menonjok wajah papanya metta tapi Naufal terlebih dahulu menahannya agar tak terjadi keributan.
"Apakah anda sudah pintar dalam mendidik anak anda TUAN ABRA"ujar Stevani menyeringai sinis,ia tau nama paruh baya tersebut karena itu bukan hal sulit bahkan bukan hanya nama saja yang ia ketahui.
"Jelas saya mendidik anak saya dengan benar,pintar dan sudah pasti jelas dlmasa depannya."Abra papanya metta berkata ketus.
Stevani dan teman temanya yang mendengar tertawa keras lalu Stevani mengangkat tangannya memberi isyarat pada temannya untuk berhenti tertawa lalu ia berkata "apakah menjadi pelayan lelaki berhidung belang di sebuah club' adalah ajaranmu tuan." Stevani melipat kedua tangannya menatap Abra dengan senyum meremehkan.
"JAGA OMONGAN MU BOCAH KECIL!"teriak Abra tak terima dengan ucapan Stevani.
mamanya metta langsung menampar pipi Stevani
Membuat Ayah stevani yang tak terima ia hendak menampar balik pipi mamanya metta tapi ucapan stevani yang berkata bahwa ia bisa menyelesaikan masalahnya dan ia baik baik saja maka Leon urungkan.
ayah Stevani lebih memilih mendekap istrinya yang menangis terisak melihat putri nya yang kacau ditampar dengan keras oleh orang asing baginya.
Naufal memejamkan mata untuk meredakan emosi nya ia sangat emosi melihat keadaan istrinya yang sangat kacau ditambah tamparan pipi yang sangat keras, ia ingin membela Stevani tapi ketiga teman Istri nya berkata untuk tidak ikut campur dan mencegahnya.
"PAK, BUK SUDAH KITA KELESAIKAN DENGAN KEPALA DINGIN."lerai pak Dadang kepala sekolah SMA pelita.
"Nggak bisa pak, saya akan menyeret kasus ini kepihak berwajib." Final abra menatas sinis Stevani.
Ucapan Abra tak mempengaruhi Stevani untuk takut ia malah santai dan tersenyum miring ia mengambil ponselnya di sakunya menyalakan video metta yang tengah membully siswi di gudang sekolah.
ia hadapkan ponselnya tersebut tepat dihadapan kedua orangtua metta lalu ia berkata "anda menyeret kasus ini kepihak berwajib video ini saya publikasikan dan juga saya akan buat skandal tentang anak anda yang ternyata Bekerja menjadi seorang gadis malam dalam sebuah club malam."lanjut Stevani memperlihatkan video metta tengah berciuman dengan lelaki yang nampak lebih tua usianya dari metta dan jangan lupakan pakaian metta yang sangat seksi dengan latar belakang disebuah kamar.
Abra hanya diam begitu juga istrinya tak lama Abra merampas handphone stevani dan melempar Kedinding sangat keras membuat beberapa retakan dilayar handphone itu dan sudah dipastikan ponsel stevani rusak.
Semua orang diruang tercengang.
"Ponsel kamu hancur kamu tidak bisa apa apa lagi."ketus Abra lalu senyum miring terlihat diwajahnya.
Stevani tersenyum lalu ia mengikis jarak Abra hanya satu langkah jaraknya ia mendekatkan bibirnya pada telinga Abra lalu ia berbisik "Tapi kalau saya laporkan anda kepolisi karna anda adalah office mouse disalah satu perusahaan ternama gimana?" Stevani berkata santai ia melipat kedua tangannya dengan senyum lebar.
"Jangan fitnah saya kamu bocah."Desis Abra tak Terima.
"satu lagi saya tidak akan berkata sebelum saya punya bukti."lanjut Stevani mengkode salah satu temanya untuk berbuat sesuatu.
Ting..
Notifikasi pesan diponsel Abra berbunyi membuat paruh baya tersebut melihat pesan yang baru masuk seketika wajahnya pucat, Abra diam mematung lalu matanya menatap Stevani dengan sorot yang sulit diartikan.
Semua orang yang tidak mengerti pembicaraan Stevani dan Abra pun hanya diam dengan pikiran tanda tanya, mereka tidak paham apa yang Stevani dan Abra bicarakan dan notifikasi pesan apa? yang Abra baca sehingga membuat Abra diam dengan wajah seketika pucat.
"Gimana tuan abra pasti menyenangkan bukan liburan dipenjara dapat banyak teman,punya cauple baju dengan tulisan tahanan dan yang lebih menyenangkan tidur dikarpet didalam penjara... pasti seru deh."Stevani berujar dengan nada angkuhnya.
"apakah mau mencoba? biar saya bantu tuan."ucap Stevani tersenyum manis pada paruh baya didepan.
"Maumu apa?"desis Abra.
Stevani yang mendengar pertanyaan Abra pun tersenyum manis ia mengetuk ngetuk dagunya dengan telunjuk jari, matanya melihat langit ruangan seolah sedang berfikir, setelah beberapa detik ia tersenyum menatap Abra lalu berganti dengan wanita paruh baya yang nampak diam tidak tahu apa yang dibicarakan.
"Mau saya gampang anda sekeluarga pergi jauh dari hadapan saya dan anggap masalah ini selesai"ucap stevani.
Gadis itu pikir Abra papanya metta akan sulit dijatuhkan ternyata gampang
Beruntung ada Arlan lelaki itu yang memberi video metta yang tengah berciuman. Arlan kenal metta, metta adalah mantan temanya dan ia juga bersyukur punya tiga temannya.
tiga temannyalah yang mengorek informasi tentang papanya metta kejadian ini Stevani dan teman temanya tunggu dimana metta harus pergi jauh dari mereka berempat, dulu Stevani pernah bertengkar dengan metta dan membuat metta berada di rumah sakit ia pikir orang tua metta akan datang tapi ternyata tidak dan sekarang adalah hari yang mereka tunggu dimana mereka membuat metta jauh.
Mereka benci metta karna metta selalu membully siswi lemah bukan cuma itu saja, metta juga yang membuat adik indah depresi karna terus terusan dibully dari waktu pertama masuk sekolah SMA pelita ,metta membully adik indah karna merasa tersaingi kecantikanya membully secara diam diam sebab itu keempat remaja itu sangat memiliki dendam dalam hati mereka sampai dimana mereka menyusun rencana untuk membuat metta jatuh.
"Oke, saya anggap urusan kita selesai."ucap Abra membuat mama metta meraung tak terima keputusan Abra, mamanya metta ingin kasus ini diseret kepihak berwajib tapi ada apa suaminya yang dengan gampangnya mengangap selesai begitu saja.
Bukan hanya mamanya metta saja yang bingung hampir semua orang yang berada disitu bingung kecuali keempat remaja itu.
"Gimana pak? jadi maksud nya kasus ini selesai?"tanya kepala sekolah yang dibalas anggukan pelan dari Abra.
"Oke, Stevani berhubung pak Abra mengangap masalah selesai kamu hanya diskors seminggu."ucap kepala sekolah.
Stevani mengangguk kepalanya ia berjalan menuju bundanya yang tengah terisak lalu ia memeluk nya dan berkata tidak apa serta meminta maaf.
"Pak, kita nggak diskors?" Tanya ziko diangguki indah dan Tania.
"Emang kalian ikut campur dalam pertengkaran Stevani dan metta?"tanya kepala sekolah menatap ketiganya.
"Nggak sih pak, cuma kita bertiga nyemangatin Stevani tadi, kita bertiga juga yang nyuruh Stevani buat balas metta lebih bruntal."jelas ziko.
Kepala sekolah menggelengkan kepalanya sebagai jawaban lalu guru itu berkata "kalian bertiga tidak diskors hanya stevani."
Ketiganya nampak kecewa lalu Tania tersenyum.
"Kalian bertiga saya skorsing selama seminggu sama seperti Stevani."ujar Tania menirukan suara kepala sekolah dengan memberatkan suaranya sehingga seolah suara laki laki.
Sontak Stevani indah dan ziko tertawa,Tania melipat kedua tangannya menarik turunkan alisnya.
Naufal dan kedua orangtua Stevani terkekeh.
Abra dan istrinya hanya diam.
Stevani mengajak ketiga temannya untuk keluar setelah pamit kepada orangtuanya dan suaminya, baru saja Stevani ingin membuka pintu ruang tersebut suara ziko menghentikan nya.
"Awas stev ada tikus."kata ziko dengan melirik Abra, terlihat lelaki itu berniat untuk menyindirnya.
Tiga gadis itu langsung faham jalan pikiran ziko dengan senang hati ikut melancarkan aksinya lalu Stevani berkata "tikus,tikus apa tu?" ujar Stevani berlagak panik.
"TIKUS KANTOR" serempak ke-empatnya lalu berjalan keluar ruangan dengan gelak tawa.
"KISAH USANG TIKUS TIKUS KANTOR."Stevani bernyanyi keras lagu Iwan fals yang berjudul tikus kantor.
"YANG SUKA BERENANG DISUNGAI YANG KOTOR."lanjut ziko tak kalah keras.
"KISAH USANG TIKUS TIKUS BERDASI."Tania ikut bernyanyi tak kalah keras suaranya.
"YANG SUKA INGKAR JANJI LALU BERSEMBUNYI"lanjut indah dengan suara cempreng,
keempatnya berjalan lambat didepan ruang kepala sekolah. mereka menyanyi dengan sedikit menyindir Abra.
To be continue...