My Teacher My Husband

My Teacher My Husband
Sirkuit



Happy reading gaes 😢


Stevani berjalan mengendap-endap dikoridor dengan tas yang ia sampirkan dibahu kanan dibelakang ada Tania yang mengikutinya keduanya kini tengah menuju ke tembok belakang sekolah mereka berencana untuk membolos.


Saat sudah keluar dari area sekolah tanpa ketahuan keduanya langsung berlari kecil menuju gang sempit tak jauh dari mereka berdiri, terlihat warung makan kecil dibawah pohon dengan beberapa orang dengan berseragam sekolah duduk bercanda ria disana.


Tania dan stevani menuju warung tersebut sempat mengobrol singkat dengan siswa yang berada disana karena memang keduanya kenal, lalu keduanya menghampiri motor mereka yang sudah sengaja mereka parkiran di belakang sekolah dekat warung tadi. Tania mengendarai motor sport nya begitu juga Stevani mengendarai motor trilnya yang baru beberapa hari yang lalu ia beli, lalu menyusul Tania yang sudah jalan duluan.


Sebelumnya kedua gadis itu sudah berganti memakai celana jeans panjang serta jaket jeans seperti biasanya


Kedua gadis tersebut mengendarai motor mereka dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang nampak sepi, tujuan mereka tak lain adalah sirkuit.


Saat sudah disirkut dua gadis itu menuju tiga laki laki yang sedang duduk di atas motornya masing masing.


"Bolos lagi Lo?"tanya Sean yang diangguki keduanya.


"Gini nih gimana mau maju negara kita orang pada bolos kerjaannya" cibir Arlan.


"Ye terus ngapa lo juga kagak kuliah bego."Tania kesal menimpuk bahu Arlan dengan keras.


Stevani menatap Banu lelaki itu nampak lebih dingin semenjak dirinya menikah dengan Naufal tapi Stevani juga tidak bisa apa apa karna dirinya juga tidak ada rasa pada Banu.


Stevani menghela nafas pelan ia berdeham pelan sebelum ia berkata "tadi disekolah Prita kirim pesan ke gue dia katanya udah balik lagi ke Jakarta ngajak gue balapan lagi makanya gue kesini."jelas stevani.


Prita adalah teman Stevani


Gadis itu selalu saja menantang Stevani untuk balapan motor, Prita tak kalah dari Stevani ia anak pengusaha kaya raya bahkan Prita jauh lebih kaya dari stevani.


gadis itu jika ingin sesuatu selalu menantang Stevani balapan motor dan meminta apa yang dia inginkan menjadi bahan taruhannya dengan alasan lebih menantang katanya, Stevani tak mempermasalahkan itu toh bagi Stevani balap motor hanya untuk bersenang-senang, skil Prita dalam mengendarai motor tak jauh beda dari stevani.


Tak lama Ducati berwarna biru berhenti didepan Lima orang yang nampak mengobrol asik


Gadis dengan rambut pirang, blasteran Indonesia-Belanda tersebut menghampiri kelimanya lalu bertos ria ala sahabat lama, gadis itu adalah PRITAMIYA CLARASTI kerap dipanggil dengan sebutan Prita.


Tak ingin lama lama Prita tersenyum menatap stevani,gadis yang ditatap pun tersenyum miring saat sudah tau arti senyuman itu.


"Buggati."


"Aventador"


Taruhan yang sangat fantastis bukan? itulah keduanya,sudah bukan pertama kalinya mereka taruhan seperti itu jangan salah paham mereka akan menggunakan taruhan hasil uang dari orangtua. Jelas tidak karena keduanya punya bisnis yang bekerja sama dengan hasil yang lumayan besar, bisnis membuka tempat makan, toko pakaian bengkel secara diam diam yang dikelola bersama sama.


Sorak penonton terdengar begitu riuh, ramai penonton berjejer dipinggir jalan sampai ujung jalanan mereka berteriak antusias.


Kedua gadis itu sudah siap dengan motor masing masing, Prita melirik Stevani sekilas lalu menutup kaca helm nya saat melihat gadis seksi berdiri ditengah keduanya dengan sapu tangan diangkat keudara.


SIAP...


prita dan Stevani menjawab dengan gerungan motor.


Brum..


Brum...


SATU..


Brum...


DUA..


Brum...


TIGA...


BRUMMMM....


Keduanya melaju membelah jalanan yang sepi dengan kecepatan diatas rata rata.


Suara tepuk tangan penonton semakin riuh kala motor sport berwarna merah memasuki garis finis, dia Stevani gadis itu memenangkan perlombaan dengan melakukan wheelie, wheelie yaitu mengangkat roda depan motor dengan cara menekan gas dan terus menyeimbangkanya saat melewati garis finis tadi, disusul dengan Prita dibelakangnya.


Stevani menghentikan motornya tepat didepan teman temannya lalu mereka bertos ria.


"Bugatti nih cuyy mantap."Arlan berkata heboh.


Stevani menanggapi dengan senyum tipis saja, tak lama Prita datang menghampiri mereka.


"Congrats you win my friend."seru Prita memeluk Stevani.


"I'M know I Will win."sombong Stevani terkekeh geli diikuti semuanya yang ikut terkekeh.


"Gue mau pulang dulu."pamit Stevani mengikat rambut nya asal.


"Nyokap Lo masih prawan heh! jam segini mau pulang." Cibir Prita tak lupa dengan kekehan geli.


"Ayolah kita nongkrong dulu Ngobrol-ngobrol dulu gue kangen Lo stev, Lo nggak kangen gue apa? dua bulan nih gue baru pulang ke Jakarta lagi."ucapnya dengan raut sok menyedihkan.


Stevani yang tidak enak pun mengiyakan ajakan Prita,


Ke-enam orang tersebut kini berjalan menuju salah satu cafe dekat sirkuit rose black cafe, cafe yang dipilih mereka untuk nongkrong.


Pukul 10:15 Stevani baru pulang kerumahnya, memasuki rumahnya yang nampak gelap menghempaskan kasar badannya disofa ruang tamu jangan lupakan seragam sekolah yang masih melekat ditubuhnya,tubuhnya terasa lengket dan bau karena dari bolos sekolah ia langsung pergi ke sirkuit dan sekarang dirinya baru saja pulang.


Baru saja memejamkan matanya sebentar lampu ruang tersebut dinyalakan oleh seseorang membuat Stevani melirik siapa yang menyalakan lampu dan ternyata suaminya yang nampak tengah bersedekap dada sambil menyenderkan tubuhnya di Diding tak jauh darinya.


Ia pastikan Naufal akan memarahi nya tapi ia sedang tidak mau berdebat jadi sekarang dia kembali memejamkan matanya, saat suara Naufal tertangkap gendang telinga nya membuatnya membuka matanya kembali, masih dengan posisi tidur diatas sofa.


"Jam segini baru pulang hmm,


Bolos? Pergi ke sirkuit untuk balapan iya?"tanya Naufal yang dibales deheman Stevani serta anggukan singkat


"Kamu sudah jadi istri saya Stevani tolong rubah sifat kamu itu, kamu tanggung jawab saya ngerti!" Ujar Naufal mulai menasehati istrinya,


Stevani hanya mengangguk sekilas lalu memejamkan matanya.


"Kamu denger saya nggak sih Stevani!"ucap Naufal dengan nada sedikit keras.


"Ya."


"Kamu itu sudah bersuami bukan lagi kamu yang dulu rubah sifat buruk kamu itu kamu harus berhenti balapan, nongkrong sampe larut malam yang nggak jelas sama temen temen kamu itu, kamu seharusnya mengurus suami dan kalau mau pergi harus pamit."ucap Naufal membuat Stevani bangun dari tiduranya.


"Saya capek pak,saya baru pulang mau istirahat bukan minta diomelin sama bapak. "ketus Stevani kesal pada Naufal


"saya tau saya salah, saya bolos untuk balap motor dan pergi tidak izin pada bapak yang notabenenya suami saya. Saya ngerti saya salah, tapi asal bapak tau masa remaja saya rusak karna perjodohan ini seharusnya saya seperti taman teman saya, bersenang senang menghabiskan waktu remaja sebelum akhirnya fokus masadepan tapi apa? saya sudah dulu fokus dengan apa yang menjadi tanggung jawab saya yaitu mengurus bapak, memasak menyiapkan makanan untuk kita berdua, bersih-bersih rumah sampai saya lupakan waktu kapan untuk saya bersenang senang dengan teman saya."jedanya lalu Stevani menarik nafas pelan, ia kembali berucap.


"saya merasa terkengkang dengan pernikahan ini kalau bapak ngatur saya kaya tadi,balapan adalah hobi saya pak dan saya tidak akan pernah menghilangkan kesenangan saya itu,toh saya masih melakukan kewajiban saya sebagai seorang istri dan satu lagi saya tidak menyesal tapi saya merasa terkengkang jika bapak menginginkan saya selalu menuruti ucapan bapak. "lanjutnya pergi kekamar.


Naufal diam mematung ia mencerna setiap ucapan stevani, ia salah. ia terlalu mengengkang dengan semua itu


Tapi dia tidak salah dengan apa yang ia ucapkan tadi.


Dirinya sebagai suami khawatir dengan istrinya itu.


Memang sejauh ini Stevani jarang bermain dengan teman-temannya, Stevani lebih sering mengurus dirinya menyiapkan makan membantu memilih baju dan lain lain lagi.


Apakah stevani menyesal menikah dengan nya kalau benar.


apakah stevani akan minta bercerai padanya? Pikirnya menerka nerka.


itu tidak bisa dibiarkan karna dirinya sudah mulai cinta pada istrinya itu, Naufal lalu pergi menyusul istrinya kekamar mereka.


Saat membuka pintu benar saja dugaannya Stevani sudah berbaring dengan piama yang lengkap ditubuhnya jangan lupakan tidurnya yang membelakangi dirinya.


Naufal berjalan pelan kearah ranjang menaiki ranjang tidurnya dengan pelan lalu ia mendekati stevani mengelus rambut stevani dengan lembut lalu ia berbisik "Maaf seharusnya saya tidak bilang seperti itu pada mu saya hanya terlalu khawatir padamu Stevani, please setelah ini jangan minta cerai saya harap kamu nyaman menjalin hubungan rumah tangga dengan ku you know I'M started to love you." Setelah mengucapkan kalimat itu Naufal mengecup sekilas pelipis istrinya dan memeluk tubuh stevani dari belakang membenamkan wajahnya diceruk leher gadisnya, menghirup aroma tubuh gadisnya lalu perlahan ia memejamkan matanya.


Stevani membuka matanya ia tertegun mendengar ucapan Naufal tadi, dirinya belum benar benar tidur maka dari itu ia bisa mendengarkan ucapan Naufal untuk dirinya.


Stevani kaget mendengar ucapan suaminya yang berkata bahwa dirinya mulai cinta padanya, jantungnya berdegup kencang senyum tipis terbit diwajahnya.


Stevani mencoba memejamkan matanya untuk menghilangkan pikiranya yang tadi dan menyusul suaminya yang sudah pergi kealam mimpi.


To be continued...