
Happy reading 😒
Seperti ucapan Stevani tadi, ia dan suaminya berniat untuk makan malam kali ini, bukan dirumah melainkan diluar. Stevani tengah berdiri dicerminya menatap pantulan dirinya.
"Perfect"gumamnya menata rambut untuk sentuhan terakhir.
Gaun selutut berwarna abu-abu rambut digerai indah dengan pita kecil yang menghiasinya, sepatu sneaker berwarna putih dan jangan lupakan tas selempang kecil menambah kesan kesempurnaan penampilannya.
Bukan bermaksud apa Stevani kali ini hanya ingin membuat suaminya kagum ehhh.. ralat biar nggak malu punya istri yang jarang memakai pakaian feminim maka dari itu ia berniat berpenampilan anggun layaknya seorang perempuan pada umumnya, biarpun stevani agak tidak nyaman tapi tak apalah sekali menyenangkan suaminya dengan penampilannya yang sekarang.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosok laki laki dengan kaos oblong berwarna putih dengan kemaja kotak kotak berwarna hitam menutupi kaosnya, celana jeans hitam menutupi kaki itu jangan lupakan dengan sepatu Vansnya serta rambut yang ditata lebih rapi menambah kadar ketampanan laki laki itu.
Ahhh..kenapa sangat tampan suaminya.
"Kamu kok cantik sih."ucap laki laki itu yang tak lain adalah Naufal.
"Loh kenapa kalau aku cantik?"herannya mendengar ucapan suaminya tadi.
"Ntar banyak cowok yang perhatiin kamu aku nggak suka."kesalnya mendekati stevani.
"Kamu juga."
"Juga apa?"tanyanya mengulum senyumnya melupakan ke kedalamnya tadi, ia tau apa yang dimaksud istrinya itu.
"Ya juga itu pokoknya,"
"Ganteng maksudnya..iya"godanya.
"Ishhh nggak jadi." Elaknya mana bisa iya bilang kalau suaminya ganteng ntar malah besar batu ehhh...besar kepala maksudnya.
"Ayok berangkat ntar keburu kemalaman lagi."
Naufal bergeming membuat stevani menyengit bingung.
"Kenapa ayok, berangkat ntar keburu malem."ajaknya untuk kedua kalinya.
"Ganti baju, dandan biasa aja"ketusnya.
"Kenapa sih orang nggak ada yang salah juga sama penampilan aku"ucapnya Stevani mulai kesal dengan lelaki didepanya, ia bermaksud ingin menyenangkan suaminya dengan berpenampilan anggun biar kalau berjalan berdua nggak malu maluin kenapa jadi kayak gini? Iya tak habis pikir dengan suaminya ini.
"Ada salahnya, salah kamu terlalu cantik aku nggak mau kamu jadi pusat perhatian terutama lelaki"ucapnya mulai posesif.
"Ckk...iya iya ganti nih." Tak mau membuang waktu karna dirinya sudah lapar maka mau tak mau iya mengganti pakaian dengan yang terlihat lebih santai.
Sesaat keduanya berada di garasi, Naufal memilih menggunakan motor Stevani katanya ingin lebih romantis entahlah Stevani hanya mengiyakan saja dari pada berdebat lalu makin lama buat makan malam nya kan berabe perutnya sudah terus berbunyi minta diisi.
Sesaat sudah sampai tujuan baru saja keduanya memasuki restoran yang mereka tuju keduanya sudah menjadi pusat perhatian bagaimana tidak dua orang beda kelamin itu nampak serasi lelakinya ganteng perempuanya tak kalah cantik.
Naufal merangkul posesif pinggang istrinya seakan memberitahu dengan perlakuannya menandakan bahwa gadis disampingnya itu miliknya, ia kesal pada lelaki yang menatap kagum pada istrinyanya hanya dengan pakaian biasa saja Naufal bisa liat banyaknya lelaki yang menatap terang terangan bahwa mereka terpana dengan pesona wajah cantik Stevani.
Makan malam cukup menyenangkan buat keduanya, setelah makan mereka memutuskan untuk pergi berkeliling kota keduanya berjalan bergandengan menuju pintu keluar baru saja sampai diparkirkan
Perempuan dengan dress merah menghampiri keduanya mengurungkan niat sepasang suami istri itu meninggalkan tempat itu.
"Naufal kamu disini, habis makan malam ya?"tanya perempuan itu.
"Intan?, iya abis makan."jawabnya.
Perempuan bernama intan itu dengan sengaja memegang tangan Naufal, intan melirik Stevani Lalu ia berucap, "emmm Naufal dia siapa."ucapnya melirik Stevani.
Baru saja Naufal ingin menjawab intan sudah menebak sendiri.
"Adik kamu ya.."tebaknya.
"kenalin intan permata Sari temen deket kakak kamu sewaktu kuliah dilondon dan Sekarang kerja juga sama kakak kamu jadi guru diSMA pelita"lanjutnya mengulurkan tangannya.
Stevani yang mendengar ucapan intan pun membulatkan matanya, apa tadi?, kerja sama suaminya yang berarti guru baru yang dimaksud itu perempuan didepanya... ahh sungguh ia baru tahu setiap ada pelajaran yang guru itu mengajar dikelasnya Stevani selalu bolos jadi dia tidak tahu bagaimana wujud guru baru perempuan disekolahnya
"Stevani."ujarnya malas entah kenapa baru saja melihatnya ia sudah tidak suka.
"Naufal, kita udah ketemu tiga kali tapi aku nggak tau nomer HP kamu. Boleh minta nomor kamu?"pintanya menyodorkan ponselnya.
Naufal menggaruk kepalanya yang tidak gatal ia melirik istrinya yang bersedekap dada dengan wajah yang nampak kesal iya yakini bahwa istrinya cemburu.
ia melihat intan yang masih menyodorkan hpnya dengan senyum manis yang terpati diwajahnya,ia tak enak jika menolak ia juga tak mau kalau nanti istrinya marah sungguh, ia binggung mau tak mau ia mengambil hp intan dan mengetik nomer hpnya lalu mengembalikan pada pemiliknya.
"Yaudah makasih ya Naufal aku pergi dulu."pamitnya dengan senyum manis.
Stevani memutar bola mata malas, senyum yang memuakkan.
Stevani berdecih pelan " rambut ketek kalau senyum bikin enek perut." Batinnya.
Sebelum intan pergi perempuan itu mendekati stevani ia bersibisik, "salam kenal calon adik ipar." Bisik nya sangat pelan suaranya sampai yang mendengar hanya Stevani lalu intan pergi dengan melambaikan tangannya.
Stevani mengepalkan tangannya dadanya naik turun ia emosi apa tadi katanya.
calon adik ipar ?
Heyy dirinya istrinya! perempuan itu sungguh menyebalkan!
Stevani Berdecak kesal, ia benar benar kesal moodnya yang bagus hancur dalam sekejap karna perempuan bernama intan.
Naufal yang melihat nya ia pun bingung apa yang dibisikkan intan sampai istrinya terlihat kesal ia tidak tau karena intan berbisik ditelinga stevani sangat pelan sehingga dirinya tidak dengar.
"Hey kamu kenapa?"tanya Naufal menggenggam tangan Stevani.
"....."
"Kamu cemburu atau apa?, kamu nggak suka aku kasih nomer aku ke dia?"tanya Naufal menatap wajah istrinya yang tengah memalingkan wajahnya.
"......"
Tidak ada jawaban sama sekali yang keluar dari mulut Stevani membuat menghela nafas pelan.
"Nggak usah cemburu, karna aku kasih nomer aku ke dia dan jangan pernah berfikir aku bakal suka sama dia." Tuturnya dengan suara melembut.
Stevani mengaguk ia menubrukan tubuhnya ketubuh Naufal.
"Aku tahut nanti kamu nyaman sama dia terus tinggalin aku"cicitnya sangat pelan karna suaranya terendam dalam pelukan.
"Heyy, itu nggak mungkin. Kamu tau aku sayang kamu, cinta kamu juga." Tangannya mengelus rambut Stevani pelan.
"Tapi kamu udah kenal dia dari lama pasti, buktinya tadi dia bilang teman waktu kamu kuliah"ucapnya mendongak menatap Naufal matanya berkaca-kaca .
Naufal tersenyum tipis ia mengecup kedua mata istrinya.
"Nggak akan tertarik biarpun udah Deket dari lama nggak akan aku suka dia, inget aku cuma suka kamu, suka pikiran kamu, suka segalanya yang ada di diri kamu mau pun dia cantik atau bikin aku nyaman, aku nggak bakal suka sama dia karna hanya kamu yang aku sayang yang aku cinta, aku suka pikiran kamu, aku suka dari tingkah kamu, soal penampilan itu bonus yang aku suka."ucapnya menenangkan gadisnya mendekap erat mencium pucuk kepala Stevani.
Saat diperjalanan hanya keheningan sampai akhirnya hujan perlahan jatuh membasahi bumi hujan semakin deras membuat dua insan tersebut basah kuyup.
"HUJAN, KITA NEDUH DULU BY"Ucap Naufal dengan keras berharap istrinya mendengar karna hujan deras membuat suaranya ia yakini tidak jelas.
"HAH BABI?"Stevani menyengit bingung, kenapa jadi membahas babi?
"NEDUH DULU YA UJAN DERAS."teriak kembali mencoba mengulangi ucapan berniat agar istrinya mendengar ucapannya.
"KENAPA JADI BERAS,BERAS ADA DIRUMAH MASIH BANYAK JUGA."Stevani masih tak mendengar dengan jelas karna dirinya memakai helm ditambah dengan hujan yang deras membuat ucapan Naufal terdengar samar-samar.
Naufal berdesak kesal sungguh ia harus sabar istrinya Bolot atau apa ia sudah teriak sekeras mungkin tapi masih aja tidak nyambung diajak bicara.
"Sabar itu bini Lo. Sabar, tarik nafassss buang untung sayang."batinya.
Melihat toko kue yang tutup Naufal segera melaju ke toko itu, ia akan meneduh takut istrinyanya kedinginan dan jatuh sakit ia tidak mau itu terjadi. Angin cukup kencang udara semakin malam semakin dingin jika ia lanjutkan beresiko akan terkena demam entah dirinya atau istrinya dan dirinya tidak mau itu terjadi.