
Happy reading 😒...
BRAK...
Pintu terbuka secara lebar membuat Aldi melepas lumatannya, lelaki itu menoleh kearah pintu lalu tersenyum miring.
Aldi bangkit dari ranjang memakai kembali bajunya dengan santai berjalan mendekati lelaki yang berdiri diambang pintu dengan kedua tangan mengepal.
"JANGAN SENTUH ISTRI GUE!!"teriak Naufal dengan emosi.
Lelaki itu nampak sangat marah dilihat kedua tangannya mengepal kuat, giginya bergelutuk rahangnya mengeras, sorot mata menatap tajam,mata hitam itu menggelap tatapannya seakan dapat membunuh seseorang didepannya.
"Lo telat boy istri Lo udah gue cobain,"ujar Aldi bersedekap dada tersenyum lebar.
Nafas Naufal semakin memburu dadanya kembang kempis berjalan cepat menuju Aldi.
Bugh..
Bugh..
Bugh..
Bugh..
Krek..
Arghhhhhh
Brakk...
Pyarr..
Naufal menendang dada Aldi mencengkram kuat kerah lelaki itu lalu membogem bruntal wajah lawannya mematahkan tulang tangan Aldi membuat lelaki itu menjerit kesakitan, dan yang terakhir membanting tubuh Aldi menghantamkan ke lemari kaca membuat kaca lemari itu pecah, serpihan kaca berjatuhan mengenai Aldi darah segar mengalir dari tubuh Aldi lelaki itu berbaring lemas diatas lantai dengan tatapan sayu.
Naufal yang melihat Aldi belum mati pun lantas ingin segera memukul kembali belum mati belum puas itu yang dipikirkan oleh Naufal, langkah Naufal terhenti saat tujuh pemuda berseragam hitam tiba tiba menggelilinginya .
Naufal menatap tujuh lelaki itu dengan sorot mata penuh amarah,mata hitam itu sesekali melirik dimana istrinya berada,dadanya kembali sakit melihat Stevani dalam keadaan kacau.
Ia berjanji pada dirinya sendiri akan mengirim orang orang yang menyakiti gadisnya kedalam penjara mungkin lebih tepatnya neraka.
Tanpa lama lama tujuh pemuda itu menyerang Naufal yang sendirinya,Naufal yang sudah diselimuti amarah pun dengan bruntal menyerang balik serangan lawan, 30 menit telah usai Naufal dengan Nafas memburu menatap satu persatu mereka yang sudah terkapar lemas dengan merintih kesakitan.
"SAYANG AWAS!!,"jerit Stevani saat melihat Sean membawa balok kayu dan hendak memukul Naufal dari belakang.
Naufal yang mendengar itu lantas menghindar, sayangnya gerakan terlalu cepat sehingga bahunya terpukul balok kayu membuat lelaki itu terjatuh dengan tangan memegangi bahunya.
Sean tersenyum miring ia mengayunkan balok kayu itu hendak memukul kembali Naufal tapi seseorang menendangnya dari samping membuat lelaki itu terjatuh dengan balok kayu yang terlempar cukup jauh.
Bugh..
"PENGHIANAT HIDUPNYA DINERAKA!!," teriak lelaki yang baru saja datang dan langsung menendang tubuh Sean.
Lelaki itu Banu.
Banu, Arlan,Tania dan Zidan datang secara bersamaan.
Banu dan arlan sempat dikabari Tania membuat dua lelaki itu langsung kalap kabut dan mendatangi lokasi yang dikirim Tania.
Banu memukul bruntal wajah Sean tanpa membiarkan sedikit celah untuk Sean membalas pukulanya.
Tubuh Sean terbanting keras membentur dinding akibat dilempar Banu, Banu yang melihat Sean Masih menampilkan senyum miringnya kembali mendekati lelaki itu.
"PENGHIANAT MATI LO!"Banu tanpa ampun membogem kembali wajah sean.
Zidan dan Arlan menyerang balik serangan dari orang orang suruhan Sean yang bangkit kembali, keduanya nampak sama sama bruntal melawan lawannya.
Satu persatu lawan mereka tumbang dengan luka diwajah mereka masing masing.
Naufal berusaha bangkit, saat sudah berdiri. Satu laki laki bertubuh tegap Sama seperti dirinya menyerang nya membuat naufal menyerang balik lawannya,menangkis setiap serangan dengan cepat.
Tania terdiam kaku saat melihat perkelahian didepan matanya.
Drtt... Drtt..
"Hallo,"
"Tan gue udah dirumah yang ada di alamat yang Lo kirim sekarang Lo dimana?"tanya indah di sebrang sana.
Â
"Eh..Bentar bentar, Lo dimana sih ribut banget suaranya disitu,"tanya indah dengan heran saat mendengar suara ribut dari sebrang sana tempat Tania berada.
"Lo pulang aja kerumah Lo, terus video nya Lo kirim ke gue oke," Tanpa menunggu jawaban dari indah, Tania mematikan sambungan teleponnya. Gadis itu menaruh ponselnya kembali ke saku nya lalu matanya menelisik mencari dimana sahabatnya.
Seketika Air matanya menetes saat melihat Stevani yang ketakutan dan terlihat sangat kacau,gadis itu menghapus kasar air matanya lalu mulai mencari jalan kerah Stevani tanpa ingin terkena pukulan dari mereka yang tengah adu jotos.
Tania melihat celah dibelakang Naufal yang tengah sibuk membogem lawannya, kaki jenjangnya itu perlahan melewati celah tersebut merepet kearah dinding saat Naufal perlahan mundur karena menghindari setiap serangan.
Tania berlari kecil saat sudah melewati sekumpulan orang yang tengah berantem.
Gadis itu mendekati stevani sontak Stevani menoleh kearah Tania.
"Tan,"lirih stevani.
Nafas Tania tercekat saat mendengar panggilan dari temannya, terdengar bergetar suaranya menandakan sahabatnya benar benar ketakutan.
Tania memeluk tubuh Stevani dengan erat, sangat erat walau pun Stevani tak membalas pelukannya karena kedua tangan Stevani masih diikat diatas kepala gadis itu, tapi ia tetap memeluk tubuh sahabatnya itu.
Tania melepas pelukannya lantas gadis itu menyentuh tali yang mengikat tangan stevani berusaha melepas tali yang mengikat tangan sang sahabat.
Tania cukup kesulitan saat tali itu benar benar terikat sangat kencang, 5 menit lebih waktu terbuang sia sia hanya untuk membuka ikatan itu tapi gadis itu tak kehilangan akal. Matanya menelisik ruangan itu untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa saja ia gunakan untuk melepaskan tali tali itu.
Senyum manis ia tampilkan saat menemukan sesuatu yang kemungkinan bisa membantu nya,Tania mengambil pecahan kaca yang cukup besar dengan ujung yang cukup lancip Tania berdiri dari jongkoknya, seketika gadis itu ketakutan saat matanya melihat Aldi berusaha berdiri dengan satu tangan juga memegang pecahan kaca.
Tania biasa melihat bahwa Aldi akan berbalik kearahnya lantas Tania langsung berlari dan bersembunyi dikolong kasur yang Stevani duduki, ia sangat takut sekarang pada Aldi entah karena apa ia tak tau.
Mungkin melihat Aldi memegang kaca pecah yang membuatnya takut.
Nafas Tania tercekat saat melihat dua pasang sepatu mulai mendekati ranjang, ia yakin sepatu itu milik aldi.
Stevani beringsut ketakutan melihat Aldi datang dengan seringkaian yang sangat jelas.
"Gue hampir mati gara gara suami Lo itu dan gue udah merasa kalau gue bentar lagi mati,tapi gue mau mati bareng orang yang gue sayang yaitu Lo baby maka dari itu mari pergi bersama ku,"ujar Aldi berdiri disamping ranjang.
"GILA!"Pekik Stevani.
Aldi menaiki kasur tersebut membuat stevani semakin ketakutan air mata gadis itu meluruh dengan derasnya.
Aldi memegang kepala Stevani saat lelaki itu berada di samping Stevani, mendongakan kepala stevani sedikit keatas lalu Pecahan kaca itu ia arahkan tepat dileher jenjang Stevani
Hanya ditempelkan belum sempat digores.
"LO SEMUA LIHAT SINI!"intruksi Aldi membuat ke empat laki laki itu sontak melihat kearahnya begitu juga dengan Sean lelaki itu tersenyum miring dalam tatapan sayunya.
"SAYANG!"
"STEVANI."
"STEVANI"
"STEV."
pangilan dari empat lelaki itu menggelegar dipenjuru ruangan Saat keempatnya menoleh.
Nafas Naufal tercekat saat melihat itu lelaki itu sontak melangkah mendekat ke arah keduanya,langkah naufal terhenti saat mendengar ucapan Aldi.
"LO KESINI GUE BAKAL GORESIN NI KACA TEPAT DI LEHER ISTRI LO!!"ancaman Aldi benar benar membuat Naufal dan yang lain diam seketika.
"MAU LO APA BRENGSEK!!,"bentak Naufal nafasnya semakin memburu menahan emosi yang siap meledak.
"MAU GUE MATI SAMA ORANG YANG GUE SAYANG YAITU ISTRI LO!!,"Aldi tertawa jahat setelah mengucapkan itu.
Tangan lelaki itu perlahan menggores leher Stevani membuat Pekikan keras dari keempat lelaki itu.
TO BE CONTINUE...