
Dua hari telah berlalu sesekali sejak pembicaraan mereka tentang pernikahan . Sesekali dalamperbincangan dan obrolannya Joshua juga menyinggung masalah jawaban dari ajakan nikahnya . Angi hanya tersenyum dan mengangkat bahunya .
Sekarang Angi sedang berada di meja makan sebuah restoran , di pusat perbelanjaan di sebuah mall besar bersama Nisa .
" kamu sudah punya butik yang besar dan mewah . Tapi kamu masih juga beli baju begitu banyak di mall ini buat apa ." tanya Angi pada sahabatnya itu , yang sedang menyeruput minuman nya dengan menimbulkan suara berisik.
Angi menatap belanjaan sahabatnya yang banyak di luar nalar . Bagaimana tidak Nisa menghabiskan uang sebesar Dua juta untuk beli baju dan pada akhirnya tidak akan pernah dia pakai .Nisa membeli itu hanya akan ia jadikan bahan inspirasi untuk butiknya .
Angi dulu sebelum kerja menjadi pengasuh Jonathan ia akan beli baju di onlin instagram atau facebook . Sekarang sudah beda . Ia selalu beli baju baru di mall .
"Sebagai seorang pebisnis di bidang fashion kita harus tau . Model model baju yang sedang tren dan banyak di minati oleh masyarakat . Jadi kita harus terjun sendiri jalan jalan dan lihat lihat ke mall . Aku malu dong kalau cuma tanya tanya ." ucap Nisa .
"ya tapi kan bisa kita beli satu atau dua aja ." ucap Angi .
"Ih kita tanya ngak hanya.satu atau dua toko kali ." sungut Nisa.
"Iya deh sultan mah bebas ." Nisa tertawa mendengar balasan sahabatnya .
"Kamu juga akan menikah dengan laki laki kaya , yang lebih sultan dari aku ." sindir Nisa yang pernah dengar cerita teman nya kemarin .
"Aku belum setuju menikah dengan Joshua ." jawab Angi .
"Apa kamu akan menolaknya ."tanya Nisa telak dan Angi hanya mampu menggeleng , baru saja ia akan membuka mulut untuk menjawab .pelayan restoran datang menyelanya . Beberapa porsi makanan di hidangkan di depan mereka .
"Kamu pesan sebanyak ini ?." tanya Angi melongo melihat pesanan sahabatnya begitu banyak .
"setelah kita mengelilingi mall seluas ini , kita butuh mengisi stamina kembali setelah bagitu banyak tenaga kita yang hilang ." jawab Nisa seraya menyuap makanan nya dengan lahap .
;aru saja mereka makan beberapa suapan , tiba tiba datang seseorang yang Angi kenal dan duduk begitu saja dimeja makan Angi tanpa ijin dan permisi , siapa lagi kalau bukan Lena . Wanita yang memang ingin selalu mencari masalah dengan Angi .
Lena duduk dengan menyilangkan kakinya dan kedua tangan di lipat di dada . Dia melihat Angi dan Nisa makan dengan ekpresi jijik.Nisa hanya menatapnya dengan datar dan melanjutkan makan nya lagi yang tertunda .
"Tunggu aku selesai makan ya pelakor , kalau tenaga ku dah kembali aku akan ladeni ." gumam Nisa dalam hati.
"Begini ya caranya orang miskin makan di restoran , seperti orang yang tidak makan berhari hari .cek cek cek kasihan sekali ." ucap Lena memandang Angi dan nisa bergantian .
Angi mengedipkan mata kepada Nisa yang akan membalas pada wanita itu ." Anggap saja dia bukan orang ." bisik Angi .ia mengerti kalau Nisa sangat mudah sekali terpancing . Ia percaya setelah makan akan ada keributan di tambah Lena tidak juga kunjung pergi.
Angi sudah kehilangan selera makan nya . Saat mendengar ocehan demi ocehan yang Lena lontarkan .
"Suruh pelayan membungkusnya kalau tidak habis . Lumayan buat makan malam kamu dan sarapan pagi mu besok. " ucap Lena kemudian tertawa keras .
Nisa meletakan sendok nya ia kehilangan kesabaran nya ."jangan sampai aku kehilangan kesabaran ku , karena semua yang ku pesan adalah makanan kesukaan ku ." gumam Nisa dalam hati
Nisa menuang bubuk merica ke dalam sendok nya dan langsung memasukan ke mulut Lena yang masih tertawa lebar itu .
Dengan santainya Nisa meraih air mineralnya dan menjauhkan dari jakauan wanita itu .dan kembali melanjutkan makan nya .
"Kamu , hah hah hah ." lena geram kepada Nisa sambil mengipasi mulutnya . Angi yang merasa kasihan memberikan airnya tapi di tepis oleh Lena .
"Tunggu di sini , aku pasti membalasmu ." ucap Lena dan langsung bangkit berdiri .
"Iya jangan lama lama , karena aku masih punya urusan yang lain ." ucap Nisa dengan santai .Lena menghentak kan kakinya dan pergi meningkal kan tempat itu .
"Aku harus cari minum dulu , baru beri pelajaran kepada wanita wanita miskin itu." gumam Lena dalam hati .
"ahh , aku menyesal ." ucap Nisa dengan cemberut , Angi menggelengkan kepala sambil tersenyum tapi senyum nya langsung hilang dengan kelanjutan ucapan Nisa .
"Seharusnya aku memasukan bubuk merica itu ke dalam mulut busuk dia lebih awal , biar tidak ngoceh sendiri ,sombong ngak tau kita yang miskin apa dia yang miskin ." gerutu Nisa .
"Aku malah kasihan melihat nya ." ucap Angi .
"Kenapa kamu harus kasihan sama dia . Apa itu wanita gila yang kamu temui di butik aku tempo hari itu ." tanya Nisa baru ingat kejadian itu . Sebenarnya Nisa sudah menebaknya , tapi ia hanya ingin memastikan nya saja
"Iya dia orangnya ." jawab Angi jujur . Nisa juga mengangguk angguk .
"iya memang dia benar benar tidak waras ." ucap Nisa menyetujuinya .
"Kamu sudah belum makan nya? , Aku mau cepat pulang ingin istirahat , aku lelah sekali menemani mu keliling mall sebesar ini ." ucap Angi sambil menyandarkan punggung nya di sandaran kursi .
Nisa menghela nafas berat memang gurat wajah Angi menunjukan kelelahan bahkan matanya sudah kelihatan sayu .
"sebenarnya sih aku sudah kenyang ." ucap Nisa tapi tangan nya masih sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya .
"Tapi mubazir kalau ngak di habiskan ." lanjut Nisa sambil menarik piring yang lain ke hadapannya . Angi menggelengkan kepalanya ,memang sahabatnya itu punya porsi makan banyak tapi tidak bisa membuat badan nya gemuk .
"Wah ternyata wanita itu punya nyali yang cukup kuat ." ucap Nisa sambil meletakkan sendoknya lagi penuh semangat . Nisa melihat wanita itu datang dengan Dua orang dayang dayang nya .
" kita pergi saja , yuk? Aku malas ribut di tempat ramai seperti ini ." ucap Angi sambil berdiri .
"Malah tempat seperti inilah yang lebih menantang ." ucap Nisa masih tetap duduk dengan santai . Angipun terpaksa kembali duduk .
"Duduk , duduk , mau di pesan kan makanan dulu atau langsung pada intinya ." tanya Nisa sambil mengembangkan senyum manisnya .
Lena memberikan tatapan Angkuh dan sombongnya . " hai guys inilah wanita miskin yang sombong itu ." ucap Lena sambil menunjuk ke arah Angi dan Nisa bergantian .
Nisa menepis tangan Lena yang di gunakan untuk menunjuk itu ." tangan kamu bau busuk , habis makan b*****i ." ledek Nisa untuk memancing emosi Lena .