
Mira menggeleng kan kepalanya , lalu ia memaksakan diri untuk menghadirkan sebuah senyuman., untuk menghalau air matanya yang telah mengambang siap menetes ke pipinya .
"Aku ingin mengakhiri semua nya di sini Jo , tidak mudah bagiku untuk melupakan mu , selama lima tahun ini aku menunggumu . Aku selalu mengirim kan email setiap hari ke padamu , memberikan kabar ku, tentang ku , semua yang ada padaku , aku ceritakan semua kepadamu . Aku berharap kamu akan membalasnya lalu kau pulang menemuiku , Jo .Namun , semua hanya hayalanku saja , satupun pesan yang ku kirim kepadamu , kau tidak pernah membalasnya . Hingga suatu hari aku melihatmu sudah.." Miranda tak sanggup menahan air matanya . Ia menggelengkan kepalanya saat Jonathan akan mendekatinya .
"setelah lima tahun berlalu , aku melihatmu sudah menjadi milik orang lain ,Jo . Kamu tidak lagi sanggup aku gapai atau bertemu lagi seperti ini Jo .membuat aku selalu berharap , kalau aku masih memiliki cintamu . Jonathan , tolong pergilah , menjauhlah dariku , jangan biarkan aku semakin merasakan sakit di hati ku ini .".
"Miranda ." panggil Jonathan dengan tatapan terluka , sama seperti yang di rasakan wanita di depan nya . Jonathan segera membawa mira ke dalam pelukan nya , ia peluk dengan sangat erat . Tapi pelukan itu belum ada beberapa menit . Ponsel Jonathan telah berdering .
Jonathan melepaskan pelukan nya kepada miranda . Ia segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya .
"Iya Raina ." jawab Jonathan .Miranda tersenyum pedih saat mendengar Jonathan menyebut nama wanita itu .
"Aku sudah tidak ada di dalam hatimu ,Jo ." tanya miranda yang hanya mampu ia pertanyakan dalam hatinya . Ia tidak sanggup mendengar jawaban dari bibir Jonathan yang sesungguhnya .karena sudah jelas tidak akan ada lagi namanya di dalam hati laki laki itu .
"Aku akan segera ke situ ." Jonathan segera mematikan ponselnya . Kemudian ia menatap ke arah Miranda sebentar .
"Pergilah ."ucap Miranda berusaha tegar . Tapi Jonathan bukan pergi malah kembali memeluknya dengan erat dan cukup lama . Miranda melepaskan diri dari pelukan Jonathan dan mundur dua langkah . Kemudian membelakangi Jonathan . Dan saat ia membalik kan badan nya kembali ia sudah tidak mendapati Jonathan di sana .
Miranda menutup mulutnya dengan kedua tangan nya berusaha meredam tangisnya .
"Jonathan wang ." bisik Miranda lemah , ia duduk jongkok dan menyembunyikan kepalanya di atas lututnya di antara kedua tangan nya . Ia tidak perduli dengan orang orang yang lewat di sekitarnya . Yang memandangnya aneh , Ada yang memandang kasihan , ada juga yang memandangnya cuek saja .
"Jangan menangis di sini , ayo aku antar kamu pulang ." tiba tiba ada seseorang yang menyentuh bahunya ia berharap itu adalah Jonathan . Tapi mendengar dari suaranya ia tahu kalau itu bukan Jonathan tapi Bastian .
Bastian membantu miranda untuk berdiri dan menuntunnya ke dalam mobilnya . Bastian menunggu miranda hingga selesai menangis . Ia raih selembar tisue dari atas dasboard dan ia sodorkan kepada Mira .
Mira menerima tisue dari Bastian dan bergumam mengucapkan terimakasih . Sebenarnya Bastian sudah ada di sekitar mereka sejak tadi .ia mendengar semua yang di bicarakan oleh Jonathan dan Miranda . Dan ia merasa Jonathan adalah laki laki yang bodoh telah meninggal Miranda , yang tulus mencintainya demi wanita lain .
"Bukan kah sangat sakit , mencintai tapi tidak di cintai ." ucap Bastian setelah tidak mendengar suara tangis miranda . Miranda hanya diam tidak menjawab pertanyaan Bastian . Tentu Bastian sendiri juga tau jawaban nya , tanpa harus Mira jawab . Bastian segera menyalakan mesin mobilnya .
"Kamu mau langsung pulang atau.ingin 0ergi ke suatu tempat dulu ." tanya Bastian .
"Tolong turun kan aku di taman kota saja ." Bastian mengangkat alisnya ia tidak yakin dengan pendengaran nya . Tapi ia tetap menjalankan mobilnya ke taman kota .
Tak lama kemudian mobil Bastian berhenti di tepi taman kota . Mira membuka pintu mobil bastian . Sebelum turun ia menoleh pada Bastian .
" Kamu yakin tidak mau di temani ." tanya bastian . Sebenarnya ia sudah menawarkan diri berulang kali , tapi di tolak oleh Miranda .
Miranda menggelengkan kepala ." Aku hanya ingin sendiri ." jawab Miranda .
"Baiklah . Kamu juga hati hati ,kalau butuh sesuatu kamu bisa hubungi aku ." ucap Bastian .
"terimakasih Bastian ." ucap Miranda .
Setelah mobil Bastian menjauh dan tidak kelihatan lagi .miranda segera mencari taksi menuju ke sebuah Villa di mana tempat itu hanya Ia dan Bilyam yang tau . Villa itu adalah kado ulang tahun Miranda dari Papanya yang ke tuju belas tahun .
tempat yang ia sebut Villa adalah sebuah ruang tersembunyi yang sangat kecil , yang ada di ruang kerja Bilyam di gedung perkantoran miliknya .
Mira menarik tirai gorden ruangan itu , ia berdiri di balik jendela kaca menatap pemandangan luar yang indah di malam hari di kota itu . Mira telah mengabari papanya kalau ia akan berada di tempat itu menginap dan tidak akan pulang .
Mira menatap lurus ke depan melihat lalu lalang mobil mobil yang kelihatan kecil dari ketinggian gedung yang ia tempati . Mira mencoba menghitungnya , ia baru menghitung sampai dua puluh lima kepala sudah terasa pusing . Mungkin karena efek dia terlalu banyak menangis .
Miranda beranjak dari tempatnya berdiri dan duduk di sofa . Kemudian Ia menuang sedikit wine ke dalam gelas .ia mulai menyesap wine itu pelan pelan ,ia ingin menikmatinya tapi sebenarnya hanya akan menyiksa diri sendiri .
Sebenarnya Mira alergi dengan minuman beralkohol , tapi ia hanya ingin mengalihkan rasa sakit hati menjadi rasa sakit yang lain .
Mira menarik nafas nya secara pelan pelan , tapi cara kerja Alkohol sangat cepat . Mira merasakan sesak di dadanya seakan ia akan kehabisan nafas .gelas di tangan nya terjun dengan bebas ke lantai dan pecah berantakan .
Mira segera mencari ponsel nya ."Sial ." maki Miranda . Ia masih ingin hidup , ia tidak mau mati sia sia hanya karena putus cinta .karena mati karena putus cinta bukan hal yang patut di banggakan .
"Pa , mi....ra sesak ." ucap miranda lewat telepon kepada papanya .miranda tak mendengar jawaban apa apa dari papanya selain bunyi tut dari sebrang , pertanda sambungan telepon telah terputus . ia percaya papanya pasti bergegas untuk menyusulnya .
"Dasar bodoh ." maki Mira pada diri sendiri kini nafasnya telah terputus putus , pandangan nya pun mulai kabur . Ia berusaha untuk bertahan menguasai kesadaran nya . Ia sering menggelengkan kepalanya untuk mengusir kegelapan yang telah ada di depan matanya .
"Ya Alloh ampuni hambamu , hambamu tidak mau mati sekarang , ya Alloh beri hambamu satu kali lagi kesempatan . " ucap Mira di tengah tengah kesadaran nya yang mulai menghilang .
"sayang , mira ...