
Dari tempatnya berdiri Joshua melihat kedua orang di tunggunya , Jonathan dan Angi . Hari ini Angi memakai kemeja lengan pendek berwarna pink dan rok hitam sebatas lutut , masih kelihatan sopan tapi bagi Joshua tidak , Joshua ingin wanita itu memakai celana panjang dan menyembunyikan betis indahnya itu .
"Dady ." teriak Jonathan dan langsung melompat ke gendongan nya . Joshua menangkap putranya itu tepat waktu dan mengendong nya dengan senang hati .
"Hallo jagoan Dady , Hallo senja ." sapa Joshua dengan senyum simpulnya . Angi hanya diam menatapnya datar tanpa membalas sapaan Joshua . Dia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di depan .
"Apa yang terjadi dengan Momy Angi Jo ." tanya Joshua pada putranya yang masih berada di gendongan nya . Jonathan mengangkat kedua bahunya pertanda ia tidak tau apa apa . Joshua membukakan pintu mobil dan mempersilahkan putranya untuk masuk ke dalam mobil .
Angi membuang wajahnya ke luar jendela mobil , dia engan menatap wajah pria itu yang telah membuat dirinya malu di depan sinta .
"Apa kamu sedang datang bulan , sehingga membuat mood kamu buruk ." tanya Joshua sambil menyalakan mesin mobil .Angi mendengus tidak suka mendengar pertanyaan Joshua . Seakan pria itu tidak memiliki salah sedikit pun .
"Jangan mendengus di depan saya senja , saya tidak suka ." ucap Joshua .
"O , aku juga tidak suka dengan perilaku dan sikap bapak ." ucap Angi tanpa sadar ia telah meninggikan suaranya .
"Jangan berteriak , senja . Kalau kamu lagi ngak mood jangan melampiaskan kepada saya ." peringat Joshua dengan suara rendah , Dia melirik Jonathan yang memakai handset sedang menonton kartun kesayangan nya di ipad Joshua .
"Aku marah bukan tanpa alasan , semua juga karena ulah bapak , lihat apa ini ." Angi membuka kedua kancing kemejanya paling atas , dan menyibah kerah bajunya dan menunjuk kan bekas kissmark di leher jenjangnya kanan dan kiri .
"Apa ini , kepada siapa aku harus melampiaskan mood buruk aku . Ulah bapak kan ini ." Angi menarik kerah bajunya dengan sedikit kasar menatap sedikit kesal kepada Joshua .
Joshua berdehem singkat, untung ia belum menjalankan mobilnya . kalau tidak mungkin mereka tidak jadi ke dufan , tapi berakhir di kantor polisi, mungkin lebih parah akan berada di rumah sakit .
Fokus joshua bukan pada leher jenjang Angi tapi belahan d**a Angi yang kelihatan mengkal dan segar di matanya . Seharusnya tadi malam ia meninggalkan satu tanda di sana . Melihat raut wajah dan tatapan mata pria.di depan nya itu Angi segera buru buru mengancingkan kemejanya .
"pria m***m ." sinis Angi .
"Kamu sendiri yang memperlihatkan nya ." ucap Joshua tanpa memalingkan tatapan nya dari Angi .
"Jadi bisa bapak jelaskan .kenapa ada begitu banyak tanda merah di leher aku ." tuntut Angi .
"Apa yang harus aku jelaskan , sudah tau kalau aku yang mencium leher kamu ." jawab Joshua jujur sekaligus malu . Wajah hinga telinganya memerah .
Angi ternganga mendengar penjelasan pria itu , tadinya ia berharap itu bukan dia yang melakukan nya , tapi lihat dia dengan ringan nya mengakui semuanya .
"Bapak sudah gila .' ucap Angi .
"Saya melakukan dengan tidak sadar , kalau saya sadar mungkin saya tidak mungkin menyentuh kamu ." jawab Joshua seakan tidak bersalah sama sekali . Mendengar perkataan Joshua entah kenapa malah membuat Angi sakit hati .
"Saya minta maaf ." ucap Joshua lagi .tapi kedengaran permintaan maaf Joshua tidak tulus di telinga Angi . Angi membuka pintu mobil dan keluar .
"Aku minta ijin hari ini , aku lupa kalau hari ini aku ada perlu ." ucap Angi lalu menutup pintu mobil dan berlari untuk menaiki taxsi . Joshua ingin mengejar Angi tapi pengendara mobil yang di belakangnya menekan klakson , memintanya untuk menjalankan mobilnya .
"Bu Angi ." Panggil Jonathan memandang kepergian Angi dengan penuh tanda tanya .
"Bu Angi bilang ada perlu ." ucap Joshua.lalu.menjalankan mobilnya mengikuti taxsi yang di tumpangi oleh Angi .
Angi turun dari taxsi di depan kontrakan nya ia duduk termenung di teras rumahnya . Ia menyesal meninggalkan Joshua dan Jonathan tadi , ia seperti seorang istri yang sedang ngambek dengan suaminya
"Angi ." Angi mendongak melihat siapa orang yang memanggilnya , Agus yang berdiri tidak jauh dari nya .
"pak Agus bukan nya sudah di pindahkan sejak kemarin ." tanya Angi .
"aku tidak mungkin pergi ke kota itu tanpa membawa kamu . Karena kamu tidak mau ikut maka aku resign , aku akan mengembangkan bisnisku di sini dan tetap bersama kamu ." ucap Agus santai . Angi mendelik mendengar ucapan pria itu .
"Pak Agus , bukannya aku sudah bilang , kalau aku sudah punya pacar ." ucap Angi .
"Masih pacar , belum suami ." ucap agus dengan datar .
"Kamu masuk sana , buatkan aku kopi ." ucap Agus yang seakan telah jadi bagian hidup Angi tanpa punya malu .
"Saya tidak punya kopi ." jawab Angi ketus .
"kalau begitu teh juga boleh ." jawab Agus lagi .
"Ngak ada gula , kebetulan dah habis ." kilah Angi .
"apa kamu juga tidak punya air putih ." ucap Agus dengan wajah yang tidak enak di pandang . Pria itu marah karena permintaan nya di tolak terus menerus .
"Sebentar saya ambilkan dulu pak ." Angi terpaksa berdiri ia membuka pintunya lebar lebar dan menuju ke dapur dan menuang air putih ke dalam gelas , saat ia akan membalikan badan nya Agus telah berada di belakang nya dengan senyum sinis dan wajah begis .
" Ayo keluar lagi ke depan pak Agus , kita ngobrol lagi di sana ." jujur saja Angi mulai takut melihat wajah begis pria itu . Agus mendorong mundur Angi .
"Aku bukan orang yang sabar menunggu kamu . Aku ingin memiliki kamu dengan cara sekasar apapun ." dia dengan cepat mengapai wajah Angi dan berusaha menyatukan bibir mereka .
Agus semakin kasar saat Angi berusaha menolak dan mendorong #**a nya menjauh . Tapi apa daya tenaga Angi sebagai wanita tidak sebanding dengan tenaga pria itu . Angi memiringkan wajahnya sehingga bibir Agus hanya mendarat mengenai pipinya
"Tolong ." teriak Angi dengan keras tapi tak seorangpun yang mendengar teriakan nya . Memang rumah yang ia kontrak akan sepi bila siang hari .
"Tidak ada yang akan menolongmu , hari ini kamu akan menjadi milik ku ." ucap pria kasar itu . Angi mempertaruhkan hidup.dan kehormatan nya dengan sekuat tenaga Angi berusaha menendang senjata Andalan kaum laki laki .
Benar kekuatan Agus mengendor ,Angi berhasil melepaskan diri dan berlari menuju pintu .
"aku sudah menguncinya ." ucap Agus
" salah siapa membiarkan kunci pintu mengantung di pintu ." ucap Agus lagi sambil tertawa tak lama kemudian meringis lagi saat merasakan ************ nya sakit dan nyeri .
"Sial ." umpatnya sambkl memegangi aset masa depan nya .
"Tolong ....siapapun tolong..." teriak Angi sambil berusaha membuka pintunya .