My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
10.2 Ares



Ditengah keguncangan itu. Seorang pemimpin pasukan pemberontak bernama Ares tengah berdiri tegap kepala menunduk. Bau anyir dari darah mulai terasa dihidungnya. Mayat-mayat dari rekannya tadi sudah banyak tergeletak di depan. Dan dia selamat berkat pelindung yang dibuat oleh Dayshi.


Jauh ingatan lalu. Dia mengingat seorang bocah hidup dengan kesenangan yang amat membahana. Saking senangnya, mati pun tak mengapa. Cuman, itu hanya dalam khayalannya saja.


Dia—si bocah itu—hanya terpeletak dengan mulut memangap. Pandangannya kosong, ia menghibur dirinya dalam-dalam pada khayalan yang tak mungkin dia raih di situ. Sampai pada akhirnya dia kembali sadar pada dunia yang dia harapkan sebagai mimpi buruk belaka.


Lagi-lagi, darah, darah, darah. Tiap hari dia selalu melihat darah. Dunianya hanyalah penuh dengan cairan merah kental tersebut. Bau busuk dari tumpukan mayat sudah tak bisa membuatnya mual lagi. Bagaimana mau mual, dia saja sudah terbiasa dengan lingkungan tersebut.


Wajah tirus, badan kurus kering. Peraduan keringat selalu tercampur dengan cairan merah. Matanya merah dan sekitarnya menghitam—itu kantung mata.


Tangannya memegang belencong. Alat yang seharusnya digunakan oleh orang dewasa yang bekerja di batu bara. Namun, bocah yang umurnya masih 8 tahun itu malah sudah memegang alat tersebut bahkan dimulai semenjak dua tahun yang lalu.


"Aku ingin mati saja...." gumaman ini selalu dia katakan tiap harinya. Sayangnya apa yang dia katakanpun tak dapat bisa terkabulkan. Ada orang yang dia sayangi. Orang yang telah membuat dirinya hidup di dunia yang kejam. Itu adalah pengasuhnya.


Lalu orang yang selalu bersamanya. Itu adalah temannya yang merupakan satu asuhannya. Itulah alasan biasa yang tak bisa dibuang untuk dirinya bertahan.


*Cting...


Anak itu memukul kembali batu-batu yang ada di hadapannya. Hanya kerikil yang dapat keluar. Tenaganya begitu kecil. Sulit sekali untuk bisa menghancurkan batu-batu tersebut.


"Dasar bocah!" pekikan suara berat terdengar lalu kemudian anak itu terpelanting jauh karena tendangan berlapiskan besi tepat mengenai perutnya yang kelaparan.


Anak itu seketika bergemetar, merintih kesakitan memeluk perutnya.


"Apa yang kamu lakukan? Bagaimana jika dia mati."


Orang yang mengenakan zirah tersebut menegur sejenisnya.


"Bocah yang lahir dari sampah untuk apa dikasihani."


"Tol0l, bukannya aku kasihan. Tapi biarkan saja dia hidup lebih lama dulu untuk tambang ini. Biar dia tahu rasa dengan penderitaannya karena lahir dari para sampah."


"Hahaha ... sadis juga candaanmu .... Hei bocah, sana pergilah ke pengasuhmu. Ya, aku harap pengasuhmu juga tidak segera mati," ujar prajurit yang tadi menendangnya.


Anak itu kemudian langsung berlari pergi sempoyangan. Dia segera ke rumah yang bentuknya lebih serupa seperti gubuk. Anak-anak lain juga ada di situ. Mereka semua tak ada yang banyak bicara, rata-rata ekspresi murunglah yang terpampang pada wajah mereka.


"Ares!"


Penggilan itu berasal dari sosok wanita dengan baju kusam compang-camping. Wanita itu segera menghampiri anak yang dipanggil Ares. Dia memeluk Ares erat-erat lalu menggendongnya ke dalam rumah.


"Bagaimana hari ini, Ares," tanya wanita itu dengan mata sayu menatap Ares.


"Hehehe, tidak sangat buruk bu," jawabnya.


"Kau itu ya." Wanita itu gemas kepada Ares. Dari perkataannya wanita itu jelas tahu bahwa tidak sangat buruk berarti buruk. Wanita itu mengelus kepala Ares lalu menurunkannya ke kerumunan anak-anak yang lain.


"Diamlah di sini dan beristirahatlah," ucap wanita tersebut kepada Ares. Ares hanya mengangguk kemudian duduk. Setelah wanita itu pergi, Ares celangak-celinguk memperhatikan orang seusianya.


"Kamu tahu, tadi aku bisa ngehancurin bongkahan batu bara yang banyak loh. Padahal aku cuma pakai kapak. Hehehe, kapak yang keluar dari tubuhku memang yang terbaik."


"Woah kamu sudah bisa mengeluarkannnya," seru anak-anak yang lain yang kalau dihitung berjumlah belasan anak-anak.


"Cih, orang itu hanya bisa menghancurkan saja. Kamu tahu gara-gara dia kami hampir mati. Untung saja ada iblis—sebutan dari para prajurit yang mengawasi pertambangan—yang berdiri di situ. Kalau tidak kami benar-benar akan mati." Seorang gadis kecil itu ikut menimpali. Dia sangat-sangat tidak suka dengan anak yang tadi memamerkan kelakuannya.


"Kok bisa?" tanya penasaran anak-anak yang lain.


"Woah, si iblis itu bisa menghempaskannya."


"hu'um dia kayaknya menggunakan skillnya. Kayak ledakan gitu. Hahaha ... tapi pada akhirnya kami ditendang sampai babak belur. Kukira aku bakal benar-benar mati di situ." Bocah burumur sepuluh tahun itu bergidik mengingat kembali kejadian sebelumnya.


"Wooh, gak heran sih, hahaha."


Komplotan dari anak-anak itu menarik perhatian anak-anak lain untuk berkumpul. Wajah mereka kembali riang. Anak yang bernama Agamenon dan Anyelir selalu tampak semangat jika udah saling bertikai.


Ares juga jadi ikut tertarik kepada mereka dan kemudian ikut juga mendekati Komplotan anak-anak tersebut.


"Anyelir! Kau itu ya suka sekali ambil perhatianku lalu menjatuhkanku dengan olokan."


"Tapi emang kenyataan kan?"


"Sialan." Agamenon kesal. Kekesalannya itu membuatnya pundung, tetapi justru itulah yang membuat anak-anak lain terhibur.


"Dia itu memang pembuat masalah. Yang jadi bintangnya itu aku. Karena aku yang membereskan sisa batu baranya ke dalam gerobak," sahut anak lelaki yang tak mau mengalah. Dia Anemone.


"Eeeeh." respon anak-anak lain hanya biasa kepadanya. Mereka tahu bahwa si jenius Anemone ini memang pandai memanfaatkan mananya.


"lah kok Eeeeh." Anemone malah ikut-ikutan pundung karena tak sesuai dengan ekspekstasinya yang ingin juga dipuja-puji.


"Dasar kalian berdua itu ya." Anyelir menepuk jidat melihat tingkah kawannya itu. Mereka memang sering bersama dan umur mereka pun saling sepadan sepuluh tahun.


"Ares, ini roti untukmu."


Tiba-tiba wanita tadi kembali muncul dengan membawakan satu roti yang berukuran kepalan yang dewasa serta segelas air putih. Ares pun langsung menjadi pusat perhatian.


"Eh, kamu. Selamat ya telah kembali."


Senyum ceria terpampang pada anak-anak lain. Suasana ini langsung berubah, tak dikira-kira pasti oleh Ares. Ares kala itu sangat senang dan dia tersenyum seikhlas-ikhlasnya tanpa memikirkan kembali masa sulit apa yang telah dia hadapi bahkan nantinya.


Hal inilah yang sangat Ares inginkan. Ares ingin menjaganya dan tak ingin kehilangan mereka. Meskipun demikian pasti ada beberapa anak yang dulunya berkumpul bersama mereka yang telah tiada beriringan dengan waktu.


Ares mengamati itu dengan baik-baik. Anak yang malang yang sulit untuk ikut menambang dan tak lama jadi tersisihkan. Biasanya anak itu takkan mendapatkan roti, dan tampak murung saja di tengah kerumunan yang riang.


Seperti biasa, Ares memotong rotinya menjadi dua dan memberikan setengah air putihnya . Pekerjaan berat untuk anak-anak seperti mereka memang hanya diberi kesempatan sekali pergi dan ketika sudah lemah akan dipulangkan untuk keesokannya. Roti dan air putih itu akan didapat setelah bertambang. Bagi yang tak ikut takkan mendapatkan apapun, tidak ada alasan meski itu sakit yang akan membuat mereka mati.


Ares berjalan ke pinggi-pinggir rumah di dinding tempat anak-anak tersebut hanya murung lemas dan memberikan roti miliknya. Tahu sendiri Ares juga tidaklah kuat dan pernah seperti mereka.


"Kau memang baik sekali ya~" ucap anak-anak lain yang melihat tingkah Ares. Anak-anak yang berumur seusai Ares—8 tahun—merasa Ares itu adalah anak yang tangguh dan sosok yang ingin mereka ikuti.


Sedangkan, anak-anak di atas usianya tampak melihat Ares dengan geram entah dikarenakan apa. Bisa saja itu adalah rasa dengki.


"Ares, kau memang baik ya," ucap Anyelir datar tapi matanya kosong melihat Ares.


"Apa dia masih belum mengerti ya." Agamenon ikut menimpali.


Di satu sisi, Anemone malah menunduk gemetar dengan cengkraman tangan dan rahang yang ditekan kuat-kuat.