
Tak sempat di bawa turun, semua telur yang ada di sangkar dedaunan dan ranting jatuh pecah bersama dengan telur di tangan Gerry.
Panik menguasai keadaan. Gerry melompat dan menggunakan skill tree-nya, di mana sebuah batang pohon dengan lenturnya tumbuh memanjang, menggiring Gerry pergi bersama kedua rekannya.
"Apa itu tadi?!" tanya Leo yang tak sempat memahami apa yang ia lihat. Kejadian itu sangat cepat, tak sampai sekian detik, ia hanya mengingat ketika langsung terbawa arus dahan lebat yang mengangkutnya.
"Selamat! Ki-kita selamat." Dhile memasang raut muka pucat. Ia tampak begitu melihat jelas kejadian tadi. Sebuah lubang besar dari bawah tanah menghisap permukaan atas, napas ungu yang terembus keluar melelehkan lingkungan sekitarnya.
"Selamat? Hei Apa yang terjadi tadi!?" Leo yang baru menyadari rekannya—Dhile—di sampingnya, lantas menggoyangkan-goyangkan bahu Dhile yang bergemetar hebat. Sayang, Dhile tampak di luar kendali, matanya masih dalam keadaan lebar dengan pupil mengecil.
Leo tak menahan lagi kesabarannya, ia menampar Dhile sekencang-kencangnya, berharap temannya itu terbangun dari perasaan takut, takut akan kematian.
"Bangun bego, apa yang terjadi tadi?!" seru Leo.
Dhile akhirnya sadar dan menghentikan tangan Leo yang membuatnya terombang ambing. Salah satu tangan memegang pergelangan tangan Leo, dengan kepala yang masih terasa pusing, ia meludahkan darah yang muncul dari dalam pipinya akibat tepikan Leo.
"Segitu penasarannya kah kamu sampai tega melukai temanmu sendiri?" ucap Dhile.
"Lo aja yang gak sadar-sadar, jadi itu tadi apa?!" Leo masih dalam pertanyaannya yang sama. Suaranya terus saja memekik mengisi gendang telinga Dhile.
Dhile mulai muak sekaligus gemas. Tanpa ia sadari sepatah kata kasar keluar dari mulutnya. "Kamu ini gak ada kapok-kapoknya. Apa-apa heboh terus, main sana-sini ngerepotin orang aja. Lihat! Gara-gara siapa mataku jadi kayak gini dulu. Kalau bukan karena kecerobohanmu itu, sekarang ini juga gak bakal terjadi. Kalau mau tahu apa yang terjadi tadi, lihat ke belakang sana!"
Leo terdiam sejenak. Ia mencerna dengan keras perkataan Dhile. Perasaan sedikit bersalah juga ia rasakan, lalu ia pun menatap sayu Dhile dan membalikkan badannya ke belakang. Naik ke dahan-dahan yang terseret, lalu memunculkan kepalanya dibalik dedaunan paling atas.
Terlihatlah seekor ular raksasa dengan mulutnya yang menganga lebar. Bola matanya yang tadinya tertutup, tiba-tiba terbuka menatap Leo.
Leo merinding, merasa ditandai bahwa dirinya akan segera dimangsa. Dengan cepat ia kembali bersembunyi di balik dahan-dahan pohon ciptaan Gerry. Ia melompat, meraih tangkai, dan melenturkan tubuhnya untuk memijak dan kembali mengulang gerakan dengan cepat, layaknya seperti seekor monyet kelaparan.
"Gerry? Aku terkejut, ternyata dia memiliki kekuatan yang besar. Mengeluarkan pohon sebesar ini bukannya sangat menguras mananya."
Leo melompat ke pijakan terakhir, tepat ke inti pohon yang berada pada pucuknya. Terlihatlah, Gerry tengah sibuk mengontrol skillnya, di mana pohon yang ia pijak merambat mengeluarkan akar-akar topangan, meliuk-liuk menghindari apa yang ada di depannya—pohon-pohon besar ketika masuk ke pedalaman hutan.
"Gerry? Lebih cepat lagi bodoh! Momon itu akan segera mengejar!" seru Leo. Respons Gerry menoleh sedikit serong ke arah Leo, lalu kembali ke pandangan awalnya.
Dentuman keras dari belakang terdengar. Tidak, lebih tepatnya seperti gusuran benda besar yang terseret. Leo dalam dirinya merasa terancam, dan menjadi lebih agresif dalam bertindak. Ia dengan kerasnya memerintahkan Gerry untuk lebih gesit lagi melajukan pohonnya.
Lelaki berambut lebat itu yang bahkan wajahnya hampir tak terlihat hanya bisa berpatok pada mananya. Ia sedari tadi hanya memperhatikan status mananya yang kian menurun. Ia tak dapat melakukan apa-apa lagi.
Bahkan untuk menjadikan pohonnya meliuk-liuk saja, sudah membuat dirinya merasakan beban yang begitu berat. Apalagi disuruh turut melajukan, itu benar-benar hal yang mustahil untuk dilakukan.
"Hei, apa-apaan ini maksudmu! Aku suruh kamu untuk melajukan pohonmu itu, bukan menghentikannya!? Apa kamu mulai bego!" sarkas Leo.
Gerry hanya menatapnya dalam diam, sekian lama ia tak menjumpai diri Leo yang seperti itu. Penuh emosi, dan selalu sembrono. Sungguh, Gerry tak menyangka sifat Leo yang dikiranya telah lama terkubur itu benar. Ya, terkubur dalam darah dagingnya.
"Manaku habis, butuh waktu yang lama untuk memulihkannya. Cepatlah, kita turun, dan bersembunyi di balik pepohonan besar itu," titah Gerry. Ia tak menggubris lagi kawannya itu yang mulai tak waras dan begitu berisik. Ia loncat, turun dari pohonnya. Dhile menyusul dari belakang, begitupun Leo yang juga turun dengan raut muka pucat, tatkala ia menggigit ibu jarinya.
Ketiganya pun mulai bersembunyi di balik akar pepohonan, yang ternyata hampir sama besar dengan ukuran tubuh mereka. Selang lima menit, pohon yang Gerry ciptakan hilang bagai ilusi.
Bunyi seret dari belakang mulai mendekat. Dan itulah yang terjadi kemudiannya, mereka mengendap-ngendap, berlari kecil, hingga napas terisak-isak.
Singkat cerita saat kembali ke waktu awal, di mana ketiga orang tersebut telah selamat dari reptil berukuran abnormal, sampai-sampai mulutnya saja terlihat bisa saja melahap langsung habis gajah berukuran dewasa.
Kini saat ketiga orang tersebut telah melepaskan lelah, seekor burung merpati mengepakkan sayapnya pergi dari atas pohon yang tak mereka sadari.
Langit tak berawan, birunya begitu khas, dan menjatuhkan cahaya tanpa ruang. Hijau segar terpantul kembali, dalam celahnya berisikan hijau muda yang segar, dedaunan kecil yang tak jarang dari semak belukar.
Bentang akhir dari sayap putihnya pun turun di balik semak-semak itu. Matanya merah namun berselaput bening putih akibat memantulkan cahaya. Kala menutuk beri-beri hitam menggunakan paruhnya, ia mengepakkan sayapnya lagi dengan aura hitam yang mengelilinginya seperti asap.
Di samping itu, dilihat lah gerombolan berisikan empat orang tengah sibuk mengurusi urusannya masing-masing. Dua pemuda hampir paruh baya tengah bertarung melawan kelinci putih bersinar.
Anak perempuan berpakaian tebal nan longgar sibuk mengambil serta melempar jamur payung ke keranjang punggungnya, hanya saja sorot matanya tak lepas dari pertarungan kedua pemuda itu, bibir mungil dia bahkan bergerak-gerak entah mencelotehkan apa.
Sedangkan itu, seorang pemuda berumur belasan tahun tengah sibuk mengawasi ketiganya dari atas pohon. Ia duduk, dan dengan santainya bersiulan sendiri sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya yang berlawanan arah.
"Hewan kecil ini cukup merepotkan. Hyaaat!" seru Light. Tangannya terlapisi udara, udara itu terus bergerak kencang, menjadikan angin yang dapat melindungi tangannya, dan dapat menyayat benda sekeras batu gunung. Kemampuan itu bernama [Navel point].
Diarahkannya pada Momon bernama White forest rabbit itu, dan tepat saja sasaran itu tak dikenainya. Momon jinak berbulu itu menghindar dengan cukup gesit, meloncat ke batang pohon, dan mendorong kakinya kembali menjauh dari Light.
Namun usaha momon itu terpatahkan, bunga raksasa berdiameter 100 senti menahan arah perginya. Ia harus tertelan oleh bau busuk yang membuat cahaya tubuhnya redup lalu pingsan.
Kedua orang yang memburu momon itu lantas berseru riang, pasalnya butuh waktu satu jam lebih ia menggelutinya. Namun berbeda dengan kaum hawa bertubuh pendek di sampingnya, ia terlihat begitu gemas akan keadaannya sendiri.
"RESHAAAA!"