
Di bagian kelompok Ryan, sang kakek memberikan arahan kepada Ryan untuk melawan Boss Bumbbie yang berlevel 100. Ryan dengan mengikuti arahan dari si kakek merasa sangat terbantu, beberapa kali pula sang kakek menyerang dengan skill [Soil Pillar] sehingga momon vegetalia itu mengalami efek stun yaitu tak dapat bergerak karena terbalik dan harus bangkit kembali dalam waktu sekitar sepuluh detik.
Dalam kesempatan itulah, Ryan akan menyerang dengan skill [Giant Hand] lalu melemparkan sebongkah batu besar yang ada di sekitarnya ke target yang tertuju. Tentu serangan kombo yang dilakukan keduanya memberikan damage secara berkala.
Namun, apa yang dilakukan keduanya pastilah tak berlangsung lama. Ketika Boss Bumbie telah terkuras HP 20%, Boss Bumbie tersebut secara cepat beradaptsi dengan gerakan Ryan dan si kakek yang terus menyerang dengan gerakan sama.
Boss Bumbie mengubah gerakan, ia kini sigap terhindar dari Soil Pillar yang menggulingnya. Sesaat setelah gerakan tersebut, ia menancapkan akar kakinya ke dalam tanah lalu mulut berbentuk cawan itu dihadapkannya ke atas.
Tak lama kemudian, sebuah sinar ungu terlihat dalam mulutnya yang kemudian meluncur ke atas layaknya mercon. Tidak, lebih tepatnya ialah seperti roket jitu yang mengejar target hingga mengenainya.
Sadar akan serangan tersebut, si kakek langung saja membuat banyak soil pillar secara bersamaan. Soil pillar itu digunakan sebagai pelindung dari serangan Bumbie.
Sayangnya, damage yang diberikan oleh Bumbie begitu besar. Pilar-pilar yang dibuat si kakek hancur dengan sekali serangan, lalu serangan berikutnya tepat saja mengenai keduanya.
Nyawa mereka langsung begitu saja terancam. HP si kakek turun drastis menjadi 65% sedangkan Ryan 30%. Artinya si kakek kini akan lebih sulit bergerak leluasa, apalagi Ryan yang kini mengalami luka berat sampai sangat sulit untuk menggerakkan tubuhnya. Setiap bergerak ia akan mengalami rasa perih yang amat kuat.
“Hiiik, apa-apaan monster ini, kacau, ini sangat kacau,” ucap Petrick. Ia bergemetar dengan hebat, air keringat memandikan dirinya, dan pandangannya terasa terputar-putar.
Petrick seakan pasrah dengan keadaan, tetapi ia juga merasa sangat bersalah karena dirinya hanya menjadi orang tak berguna bahkan beban untuk mereka.
Petrick takut, napasnya sudah tak karuan. Namun, detak jantungnya kini tidak lagi ia rasakan dan bola matanya pun sudah berwarna putih. Di saat itu pula lah ia berdumel-dumel kesal.
“Bahaya-bahaya-bahaya, aku akan mati di sini. Ryan, kakek, apa yang kalian berdua lakukan? Kenapa hanya berdiri saja di situ, cepat kalahkan moomon itu. Kalau kalian diam bisa mati loh. Sial, sial! Bagaimana bisa kamu menyerang kami momon sialan. Dasar momon kampret, beraninya sama yang lemah.”
Yah, begitulah dia terus berdumel dan emosinya mulai berubah menjadi kekesalan, jengkel, serta marah. Ia menyilangkan tangan pada pundak, lalu meremas dirinya sendiri. lama setelah itu kedua tangan Petrick menembus tubuhnya sendiri seakan tertelan cahaya putih yang mengiring tangan petrick menuju ke tengah dadanya.
Petrick mulai tertawa tebahak-bahak sendirian. Matanya melotot tanpa adanya pupil, ia menerjang secara langsung sembari kedua tangannya keluar bersamaan sebuah cakar berwarna coklat tembaga. Satu, dua, tiga, sampai lima serangan secara langsung menyerang Boss Bumsie itu hingga terkuras lagii 20% akibat serangan yang dilakukan Petrick.
“sisa 60%, Ryan cepat lakukan.” Melihat adanya kesempatan pada saat momon itu menyerang Petrick. Kakek pun segera memberikan sinyal lalu Ryan membesarkan kedua tangannya menggunakan skill [Giant Hand] kemudian membunturkan kepalan kedua tangannya ke bawah tanah. Akibatnya getaran besar terjadi dan merambat besar tak terarah, terutama ke arah Boss Bumbie.
Tanah naik dan menghancurkan pijakan Boss Bumbie. Di saat itu pula lah, si kakek melancarkan serangan juga dengan skill [Soil Pillarnya] Boss Bumbie tak dapat berkutik, ia dengan telaknya terkena skill-skill tersebut. Belum lagi saat di udara, ia harus merasakan HP yang akan turun drastis karena Petrick mengejar dirinya dengan teriakan menggila.
Petrick naik dengan memijak tanah batu yang berterbangan akibat pukulan yang dilakukan Ryan tadi. tak luput pula, Petrick memanfaatkan soil pillar si kakek untuk pijakan terakhir sebelumm ia mencakar habis-habisan Boss Bumbie.
Sisa tiga puluh persen. Mana yang dikerahkan Petrick dan Ryan terkuras kritis, mereka butuh waktu lama untuk mengembalikan mananya. Skill mereka juga telah tertutup oleh waktu cooldown sehingga mereka tak dapat melakukan apa-apa lagi kecuali dengan serangan fisik tanpa mana.
“Oke, kita cukup sampai di sini,”
“[PENT UP] level 3”
Tanah bergojolak hebat hingga si kakek terjatuh. Namun, itu bukan berasal dari skill yang akan dilakukan si kakek. Ia terjatuh oleh getaran hebat lain, skill yang baru saja akan ia gunakan malah terbatalkan keluar. Burung-burung hitam terlapisi cahaya tipis berwarna berterbangan keluar dari hutan dan berpindah ke sisi hutan bagian lain.
Terlihat di bagian ufuk utara cahaya oranye nan terang menyala-nyala. Sulut api yang hebat di tanah yang lembab berdampingan dengan asap putih dan hitam membentuk jamur di atas langit.
“A-apa itu?” ucap si kakek tak percaya. Dengan menegukkan air liur ke dalam kerongkongannya, si kakek melanjutkan rapalan skillnya ke arah momon Boss Bumbie.
Tanah pun naik membentuk setengah lingkaran mengurung Boss Bumbie, lalu tanah tersebut kembali ke bawah dengan mengubur hancur Boss Bumbie tersebut.
Sebuah item berlevel common berhasil di dapatkan dari momon yang mereka kalahkan. Adapun mereka juga mendapatkan item lain berupa makanan dari boss bumbie tersebut, yah makanan itu adalah umbi dari momon itu sendiri.
Petrick yang bukan dalam kondisi sadar akhirnya terjatuh tidur, Ryan yang menopang kawannya itu kembali memperhatikan semburat cahaya oranye setelah ia mengumpulkan seluruh item yang didapatkan.
“Baiklah, untuk saat ini kita beristirahat di sini. Sekalian kita harus waspada dengan cahaya itu, takut-takut itu adalah api yang bisa saja merambat seluruh hutan ini,” ucap si kakek.
Akan tetapi, mereka beruntung, awan hitam di atas langit mulai bergemuruh. selang tak lama kemudian, angin mendorong awan hitam itu ke seluruh penjuru hutan Aeriel dan siraman air deras dari atas langit pun mulai berjatuhan.
...➕➖✖️➗...
Sehari kemudian, kelompok Ryan kembali ke tempat perkumpulan. Mereka adalah kelompok pertama yang berhasil kembali selamat tanpa adanya luka serius dan berhasil membawa makanan dan item-item yang berharga.
Keesokannya lagi, kelompok Resha berhasil kembali juga dengan selamat. Sayang, kedua rekannya yaitu Light dan Alex dalam kondisi pingsan, luka-luka kecil seperti goresan dan lebam terlihat di sekujur tubuh kedua orang itu. Yah, tapi baiknya mereka kembali dengan terbang di atas gelembung gas helium yang diciptakan Raisa, sehingga mereka tak harus mendapatkan dampak luka lain dalam perjanan kembali.
Dalam waktu dua hari mereka terus beristirahat di tempat perkumpulan, yaitu di bawah pilar yang dibuat si kakek. Namun ketika berada di hari ketiga peristirahatan, mereka mulai gelisah akan kelompok Leo, Gerry dan Dhile yang belum kembali-kembali juga. Akhirnya Resha pun angkat kaki bersama dengan si Kakek pergi mencari kelompok tersesat itu sampai ke dalam-dalam hutan tempat bagian kelompok Dhile berjelajah.