
Masih di tempat yang sama. Pohon rindang, angin sejuk, tetapi terik tengah memanas. Jauh dari pandangan, udara terlihat menguap-uap, membiarkan bayangan di belakangnya menjadi bergerak-gerak.
Dua orang yang berlawanan jenis, kini tengah jongkok. Yang perempuan sibuk memperhatikan kegiatan sang pria, sedangkan yang pria sibuk dengan batu yang ada di tangannya juga sibuk akan ucapan comelnya.
"Bahkan di sini tidak ada orang yang memiliiki skill elemen api, dan lagi peralatannya pun terlihat keterbelakangan sekali. Addeehh," keluh pria berambut pendek agak berantakannya sembari menepuk batu yang ada di kedua telapak tangannya.
Kayu serta rumput kering terlihat tersedia dihadapannya. Sedangkan dua burung berbulu putih telah menyerahkan dirinya untuk menjadi santapan dari para tuan perut yang kelaparan.
"Resha, bukannya waktu itu aku juga memberikan cincin api jentik bersamaan dengan kembang api. Kenapa tidak gunakan itu saja," tutur Raisa. Ikut berjongkok seperti Resha dan memperhatikan apa yang dilakukan rekannya itu.
"Hah, masa ada?" Resha memberhentikan alunan ketukan batu yang ia mainkan. Pandangan fokus pada batu tadi berubah arah menjadi pandangan linglung menatap wajah bulat Raisa.
"Iya, waktu itu Raisa memberikannya ketika kita mencari informasi keberadaan pak Opin di desa Rose. Bahkan Raisa melihat kamu serta yang lainnya juga memakai cincin itu," jelas Raisa.
"Yang bener?!"
"Iya."
"Masa?"
"dibilangin iya. Nih, lihat." Raisa dengan raut kesal menjentikkan ibu jarinya dengan jari telunjuknya. Sebuah api seketika menyala besar seperti bola tenis. Api itu menyala dari jempol menuju telapak tangan.
Raisa mengayunkan tangan ke arah kayu dan rumput kering di hadapan Resha. Api yang ada di tangan Raisa pun melahap benda-benda tersebut.
"Lho, kok. Cincinnya ada di mana?" tanya Resha yang bingung mengapa api itu bisa keluar dari jentikan tangan Raisa, padahal di jari tangan Raisa satu pun tak terlihat memakai cincin api jentik.
"Kamu lupa ya? cincinnya kita taruh di jari kaki," sahut Raisa dengan gemas. Pandangan Raisa yang dari api diubah ke arah Resha lalu melirik burung-burung yang telah kehilangan darah dari lehernya.
Resha yang baru tersadar itu malah melekukkan garis bibirnya sepanjang mungkin. Ia juga menepuk tangannya saat mengingat alasan mengapa cincin api jentik itu ditaruh pada bawah kaki.
"Aah~ cincin item Free kayak gini mah cuma sekali pakai saja sudah gak bisa digunakan lagi," kata Resha.
Pada dasarnya sebuah item, aksesoris, dan benda lainnya memiliki level yang berbeda-beda pula. Semakin tinggi level yang dimiliki benda tersebut maka tingkat kekuatan, kekerasan, kegunaan, ketahanan, kelenturan, dan lain-lainnya juga semakin tinggi.
Level benda yang ada di dunia dibagi menjadi delapan, yaitu; Free, common, Rare, Epic, Legendary, Mythical, dan Cryptic. Cincin api jentik yang diberikan oleh Raisa adalah item berlevel Free. Item level Free merupakan item kelas rendah yang sering diperjual belikan dengan harga yang begitu murah meriah.
Item ini juga biasanya tak tahan lama (mudah rusak) dan biasa juga disebut benda sekali pakai. Namun, item-item berkelas rendah atau Free ini juga dapat digunakan untuk menyokong atau membuat item berkelas di atasnya, dengan satu syarat benda tersebut adalah benda dengan jenis yang sama.
Raisa yang dikatakan bendanya adalah benda berkelas rendah dan hanya sekali pakai, lantas memonyongkan mulutnya. Ia tak terima dan menggubris benda yang dulu ia serahkan.
"Mana ada. Cincin api jentik ini bisa digunakan lima sampai sepuluh kali tahu. kecuali kalau di pakai langsung di tangan, baru langsung habis. Bukannya kamu tahu sendiri aliran mananya. Semakin dekat cincin itu pada tempat—jari—yang akan dikeluarkan maka semakin kuat besar api dan panasnya. Begitupun sebaliknya jika semakin jauh daya hantar mananya, maka semakin kecil dan lemah pula api yang akan keluar."
"Tak usah dijelaskan juga aku sudah tahu kok," ucap Resha sembari mengambil unggas putih itu untuk dimasukkan ke dalam api. Selang beberapa menit Resha mengambil unggas putih itu kemudian mencabuti bulu-bulunya.
Tak lama kemudian gerombolan pemuda berumuran 20-an dengan satu kakek dan bocah lelaki muncul menyerukan nama sang tuan akaknya. Sebelumnya gerombolan itu pulang untuk menyiapkan apa yang diperintahkan oleh sang akak pemuda. Akak yang berjaket tanpa lengan dan berkaos hitam dalam jaket kain.
Akak pemuda yang dimaksudkan itu menoleh dan meninggalkan pekerjaan mencabut bulu unggas. Ia berkacak pinggang dan tersenyum dengan lebar. Alisnya mengkerut dan lesung pipinya diperlihatkan. Ia tampak begitu tegas bersemangat.
Keranjang, karung goni, tong air berbahan kayu rapat, pancing, serta senjata berupa; tombak, pedang pendek, dan golok. Semua peralatan itulah yang akan dijadikan latihan untuk mereka. Ya, peralatan yang lebih tepatnya untuk mencari bahan makanan.
Akan tetapi, Resha menaikkan sebelah alisnya. Ia masih merasa suatu keganjilan. Sehingga dengan rautnya yang nampak penasaran, ia tersenyum dan menanyakan apa yang Terbesit dalam benaknya.
"Aku merasa masih ada yang kurang. Apa kalian tahu itu?"
"Kurang?" tampak mereka malah saling bertatapan dan bertanya-tanya. Benda apa yang masih kurang, itulah pertanyaan dasar mereka.
"Jati diri kalian," ucap Resha.
"Jati diri kita. Apa itu semangat?" tanya mereka.
"Tidak tidak. Maksudku gambaran khas kalian sebagai seorang yang berada di tanah ini." Resha menggeleng-gelengkan kepala. Ia berusaha untuk membiarkan mereka saling menebak apa yang seharusnya mereka miliki. Meski Resha bukan seorang pribumi di tanah itu, tetapi ia tampaknya lebih tahu akan negeri yang ia pijak.
Di tengah keributan saling bertanya satu sama lain. Akhirnya Resha memberikan satu kata kunci lagi.
"Masih belum tahu. Kalau begitu coba tanyakan dengan orang yang telah lama tinggal di desa kalian. Dia, si kakek." Resha menunjuk sang kakek yang tengah diam saja bersama dengan cucunya, Reynald. Kakek pun menjadi pusat perhatian.
Merasa si kakek teloh tersorotkan. Kakek pun dengan tenangnya mengukir senyum dalam kulit keriputnya. Ia menggelengkan kepala.
"Tak kusangka anak asing seperti kamu tahu akan hal itu. Yah, sebenarnya ini bukan hal rahasia lagi, tetapi kadang anak-anak sekarang tak mau mendengarkan orang tua sepertiku," ucap kakek itu.
"Sudahlah kek, jangan memutar-mutar. Ayo cepat beri tahu kami," keluh si Leo.
"Pusaka dalam diri. Mungkin itu yang dimaksudkan oleh master."
"Hah, pusaka dalam diri. Maksud kakek kita memiliki benda pusaka gitu di tubuh kita. Hahaha, jangan bercanda kek, masa tubuh kita mau dibedah untuk dijadikan pusaka," ucap Petrick bergidik ngeri. Meski begitu tangannya tak lepas mengelus kumis lelenya.
"Tidak begitu juga konsepnya nak. Memang benar kita bangsa Flowerisia memiliki kekuatan untuk memunculkan benda pusaka yang kita miliki dari dalam diri kita. Dengan mengeluarkan benda pusaka itu, maka kekuatan kita juga akan semakin meningkat.
"Cara mengeluarkannya pun adalah dengan mencari jati diri kita seperti gaya bertarung. Dengan mengetahui hal tersebut maka senjata dalam diri kita pun juga dapat terbayangkan dan bangkit. Sekali senjata dalam diri kita telah keluar, maka itulah yang akan menjadi wujud senjata kita selamanya," jelas si kakek.
Kakek kemudian maju dua langkah ke depan. Ia membalikkan badannya yang bungkuk dan memperhatikan para anak muda di hadapannya.
"Lihat kakek. Kakek akan mengeluarkan jati diri kakek."
...°°°°...
Sekedar informasi
1. Cincin api jentik, item sihir yang berguna untuk membuat api dengan cara menjentikkan kedua jari.