My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
4. DESA ROSE



...-Desa Rose-...


Luas sekali, desa ini sungguh luas. Jauh memandang, mata kan selalu melihat bunga mawar nan menghias. Seperti namanya yaitu desa rose yang artinya desa mawar.


Sungguh mata 'kan selalu dimanjakan oleh bunga mawar yang berbeda warnanya sama seperti para penghuninya, semuanya cantik dan elegan, tampan dan menawan.


Bangunan di sini sungguh tak kalah megahnya, kebanyakan memiliki jendela kaca yang besar dan pasti hiasan dalamnya adalah mawar, semuanya berkelas atas.


Pepohonan tinggi yang menghias desa ini juga tak kalah ademnya seperti jenis tumbuhan Magnolia denudata atau pohon lili yang ada di mana-mana dengan Bunganya yang putih kemerah muda-an.


Ada juga pohon apel yang berbuah rimbun dan segar, terlihat pada buahnya terdapat embun air yang terkadang menetas saking segarnya, para bocah yang ada di desa ini bermain di bawah pohon tersebut.


Bermainnya para bocah juga terlihat antusias dan terkesan elegan sekali. Mereka menggunakan seragam yang sopan seperti penduduk dewasa.


Membaca buku, berkelompok mencari sesuatu dengan kaca pembesar, dan di dalam stoples para bocah itu 'kan terlihat suatu biji-bijian. Tampak mereka sedang meneliti sesuatu. Sungguh ini adalah sesuatu yang pasti takkan pernah ada di duniaku.


"SUBARASHII![1]" pak Opin mengacaukan suasana kekagumanku, teriakannya itu membuat kami tersipu malu. Yah, semua pandangan telah terarah pada kami yang berada di tengah-tengah jalan di desa tersebut.


"Si gundul mata om genit." Jelas Raisa bergumam pasti sengaja membesarkan suaranya yang ditambah dengan nada kesal. Aku menepuk jidat karena tingkah mereka.


Tak lama kemudian seorang gadis berusia dua puluhan datang kemari. Ia dengan anggunnya mengangkat gaun peach (merah muda kekuningan) dengan kedua tangannya, sambil menundukkan kepala hingga rambut merah mudanya yang berkepang satu menggantung di bahu. Seraya salah satu kakinya menekuk, seperti seorang pelayan wanita yang menyambut kedatangan para tamu.


"Maaf sebelumnya karena terlambat menyambut kedatangan kalian, perkenalkan saya Lily yang akan memandu kalian agar dapat menikmati keindahan dari desa kami." Lily tersenyum manis sambil memejamkan matanya.


"Tapi sebelum itu, kalian akan kuantar ke aula tempat penyambutan tradisi desa ini. Jika kalian berkenan ikutilah aku."


Dengan segala penahanan rasa lapar, Resha dan pak Opin tampak terpaksa mengiyakan pemandu yang bernama Lily itu. Begitu pun denganku yang masih tertegun melihat keanggunannya dan mulai ikut dari belakang.


"Kalian hebat, jarang-jarang ada seseorang yang dapat mengetahui letak desa ini apalagi tampaknya kalian sekali pun tidak pernah berkunjung di sini." Sambil berjalan Lily sesekali melirik ke arah kami.


"Bahkan untuk orang yang berkunjung. Kalian tidak didampingi oleh seseorang yang mengenal desa ini. Sungguh menarik," lanjut Lily tetap berjalan dengan langkah normalnya, tidak diperlambat maupun dipercepat. Ucapan nadanya terkesan sopan tetapi dalam lirikan matanya terlihat bahwa ia mencurigai akan kedatangan kami.


Rasa heran mulai timbul dalam pikiranku, apa yang sebenarnya yang ia katakan? Apakah hanya karena desa ini terletak di tengah hutan, sehingga sangat jarang untuk diketahui.


Terus untuk apa ia harus terlihat seperti orang yang sangat waspada dalam diam seolah disembunyikan begitu.


"Oh, kalau persoalan itu, rekan kami Mirai yang menunjukkan jalan ke desa ini." Resha benar-benar tanpa berpikir akan ucapannya, sungguh sangat datar sekali bung.


Itu membuatku melongok membalikkan kepala menoleh ke arahnya dengan mulut yang terbuka lebar dan mata yang membulat terkejut.


"hei hei, apa-apaan tatapanmu itu. Kamu membuatku kaget mantan pengawas." Resha refleks berhenti dan mulutku malah menjadi lebih lebar serta mataku menjadi lebih membelalak ingin keluar.


Tatapanku kali ini bukan ke arah Resha, tetapi ke arah belakangnya yang sama sekali kosong, tak ada orang selain latar belakang pedesaan rose.


Resha dan pak Opin yang melihatku menatap ke arah lain. Alih-alih ikut menoleh ke arah belakang. Jelas mereka juga ikut terkejut.


"Loh, Raisa sama Mirai di mana? Bukannya tadi berada di belakangku." Sentak Resha tak percaya akan hilangnya kedua gadis yang tanpa meninggalkan satu pun jejak kepada kami.


Tamu yang berhenti dan terkejut melongo ke arah belakang, Lily yang melihatnya justru tersenyum ikut menghentikan langkahnya.


"Kalian tenang saja, mungkin kedua gadis itu sedang buang air kecil." Lily kemudian melanjutkan jalannya tanpa menoleh sedikit pun ke arah kami.


Tak mau tertinggal, kami terpaksa mengikuti Lily si pemandu itu. Meski dalam benak, kami masih memikirkan kedua gadis itu, yang pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada kami.


"Walau itu hanya kepentingan kecil yang mengharuskannya pergi sejenak, seharusnya kedua orang itu tahu untuk tidak membuat rekannya khawatir," ucap Resha, dengan kedua tangannya terletang memegang bagian belakang kepalanya.


...➕➖✖️➗...


Malam telah menanti. Matahari sore yang memancarkan cahaya jingganya, mulai meredup seiring langkah kaki yang berjalan ke sebuah pohon besar dengan daunnya yang begitu rimbun.


Saat pandanganku makin ke sana, terlihatlah di dekat pohon itu terdapat sebuah tongkat bercahaya jingga seperti api yang serasa magis karena tak ada hawa panas tapi menerangi tempat sekitar.


Semakin redup hingga hilangnya cahaya mentari, semakin terang pula tongkat jingga yang menancap di tanah itu seperti obor.


Beberapa langkah saat aku telah mendekati tongkat jingga tersebut. Terlihatlah sebuah lubang yang besar juga luas, terdapat sebuah tangga berderetkan empat anak tangga yang tinggi, cukup setiap anak tangganya dapat ditempati untuk duduk melihat ke bawah.


Saat kumenoleh kiri kanan memperhatikan lubang besar ini. Eh tidak, dari pada lubang besar, tempat ini lebih mirip seperti sebuah stadion lapangan sepak bola yang dilingkari oleh tempat duduk para penonton.


Bedanya di hadapanku ini terlihat sebuah pohon yang sangat besar. Batangnya tinggi menjulang ke atas dengan daunnya yang begitu rimbun. Karena berada di tempat yang dalam, pantaslah tadi aku melihat pohon ini tampak seperti pohon besar yang biasa saja dari kejauhan.


Anak tangga yang sebenarnya bukanlah anak tangga yang empat tingginya seperorang untuk berdiri. Anak tangga yang sebenarnya ternyata berada di empat sisi yang tidak terkena cahaya tongkat jingga yang ada sepuluh mengelilingi tempat ini. Sehingga jika dalam kegelapan malam tidak diperhatikan dengan baik-baik, aku pasti tidak akan melihatnya.


Kami berjalan ke arah barat tempat masuk 'aula tradisi penyambutan' yang dikatakan oleh Lily si pemandu. Kami melewati tangga yang tak terlihat dalam kegelapan, ini membuat jantungku berdebar penasaran akan jalan tangga menurun tersebut.


Apakah anak tangga tersebut sama tingginya seperti yang di samping. Sehingga jika kita turun, kita harus meloncat-loncat seperti kodok? ataukah tangga dalam kegelapan ini ternyata adalah tangga yang seperti elevator yang anak tangganya bergerak sendiri membawa kami ke bawah.


Benar-benar, kegelapan ini membuatku berhalu ke mana-mana dan nyatanya hanya anak tangga kecil biasa sesuai dengan langkah kaki anak kecil berumur lima tahun untuk menuruninya.


Hatiku cukup kecewa karena tidak sesuai dengan ekspektasi ku, tapi itu tidak berlangsung lama ketika kami sudah sampai di dasar aula tradisi penyambutan.


Pass langkah kami di dasar aula ini, di saat itu pula muncul sebuah kejutan cahaya dari seluruh arah aula yang melingkar.


Cahaya itu semuanya berbeda warna, sama seperti warna bunga yang kulihat sebelumnya yaitu warna putih, kuning, merah, pink, ungu, hijau, cream, peach, biru, dan cahaya hitam menyala pun jelas terlihat. Hitam yang terlapisi warna putih.


Pandanganku seketika terlihat gelap akibat cahaya kejut bermacam warna itu. Saat pandanganku telah menormal kembali, aku dikejutkan oleh pemandangan keramaian penduduk desa rose yang ternyata telah berdiri di pinggir aula ini. Tepatnya di tiap empat anak tangga yang melingkari aula ini.


Kulihat sekeliling aula ini, terdapat sepuluh tongkat yang juga berbeda warna di setiap tongkatnya. Iya, ini sama seperti warna di cahaya kejut sebelumnya, mungkin asal dari cahaya ini dari tongkat yang menancap di depan para penduduk itu.


Setiap tongkat akan menerangi penduduk di belakangnya. Warna cahaya tongkat itu juga sama dengan warna yang dikenakan oleh si penduduk yang berada di depan tongkat tersebut.


Seperti yang tepat di hadapanku ini, satu tongkat bercahaya merah yang menerangi penduduk yang juga mengenakan pakaian yang serasi dengan warnanya.


Yang perempuan dengan gaunnya yang berbentuk mawar dan berwarna merah, yang pria mengenakan blazer hitam dan kameja putih dalamnya dengan mawar merah sebagai penghias di dekat kerahnya.


Beberapa menit saat aku memperhatikan aula yang ramai penduduk dengan keheningan tanpa suara, terlihat siluet dua orang yang melewati anak tangga dari arah selatan.


Dengan sosoknya yang pendek dan yang satunya agak tinggi dengan tubuh yang ramping, tidak salah lagi itu adalah Raisa dan Mirai.


Hei ini mengagumkan, lihatlah keduanya tampak biasa saja, berjalan dengan santainya tanpa seorang pemandu yang terlihat di dekatnya. Kedua orang ini apa memang sudah pernah ke desa ini yah.


...••••...


Sekedar informasi



Subarashi, luar biasa