
Desiran rumput dan daun pepohonan tak lagi terdengar, serangga-serangga kecil pun telah pergi bersama dengan suara angin. Hawa dingin bagai di kutub yang sedari tadi kurasakan, kini menjadi hawa dingin normal di malam hari.
Napas terembus pelan dengan lembut. Perlahan demi perlahan aku membuka mata. Dan, aku menarik kembali napas yang begitu berat dan panjang untuk diembuskan. Detak jantungku mulai membalap napasku, rasanya sesak.
“Sebenarnya apa yang terjadi sih.” Manik hitamku mengecil. Celangak-celinguk, pandanganku menelusuri penduduk yang terkapar di bawah tanah berisikan rumput.
Perasaan tadi tak ada satu orang pun di bawah rumput ini. Loh,
“Di mana? Mereka di mana?” tak ada yang terlihat. Sehelai kain pun tidak menunjukkan keberadaan rekan-rekanku.
Aku Berjalan perlahan mencari rekan-rekanku. Kutemukan Lily yang juga tak sadar di atas rumput kecil yang merambat. Aku berjongkok lalu menggoyangkan badannya—berusaha untuk membangunkannya.
“Percuma. Tak ada tanda-tanda ia akan sadar meski aku mencubitnya.” Aku bangkit dan menengadahkan mukaku ke atas langit.
“Ah, menyedihkan sekali. Hahaha.” Langit malam begitu gelap tanpa adanya bulan dan hamparan bintang. Hanya satu yang terlihat, satu bintang kecil yang berusaha bersinar. Terlihat menyedihkan, cahayanya begitu kecil dan redup ditutup oleh awan.
“Pak Opiin! Mantan pengawaas! Hoiii! Raisa, Mirai. Kalian di mana!?” Suara yang tak asing menyadarkanku dalam lamunan.
“Resha? Hoi, Resha! Aku di sini, kemari lah! Kamu di mana?!” Langkah kaki kupercepat mencari sumber suara sembari ikut berseru agar Resha mengetahui keberadaanku juga.
“Resha, kamu dari mana?” tanyaku saat melihat Resha di balik api unggun yang masih menerangi sebagian dari alun-alun.
Aneh, bukannya api unggun ini tadi mati. Mengapa api unggunnya dapat menyala kembali.
“Seharusnya aku yang bertanya. Kamu dari mana?” Resha membalas dengan pertanyaan.
“Haah?!” nada berayun yang terkejut. Dahiku mengerut, alih-alih wajahku kembali menyusuri tempat di mana aku sadar.
Aku tertawa kecil serasa aku tak waras lagi. “Kamu juga dari mana? Coba lihat arahmu datang dari mana?”
“Hmm, barat? Eh Selatan! Ada kompas kah?” Resha menaikkan alisnya. Ia benar-benar memikirkan arah kedatangannya.
“Kompas? Hei, matahari terbit ke arah mana?” tanyaku dengan malas. Tatapanku menyipit karenanya.
“Timur!” Resha menepuk tangannya dan terlihat begitu antusias menjawabnya.
“Ah, sudahlah.” Kesal, aku menggaruk kepalaku.
“kamu memang master, tapi masternya **** yah,” ucapku yang tak terdengar dalam telinga Resha.
“Ngomong-ngomong, yang lain di mana?” Aku berjalan mendekati Resha.
“Aku saja tidak mengetahui arah kedatanganku, apalagi yang lain,” jawabnya sembari mulai berjalan menyusuri alun-alun untuk mencari rekan yang lain.
“Akhirnya ketemu.” Suara seorang gadis terdengar dari luar alun-alun, tepatnya di samping pagar rumah yang cukup besar.
“Mirai? Kamu kok datang dari luar? ” Aku dan Resha menatap dengan penuh keheranan. Bukannya sedari tadi Mirai duduk satu meja denganku?
“Aku juga, tidak tahu. Tiba-tiba saja, aku berada, di luar alun-alun.” Mirai terlihat pucat. Napasnya terdengar tidak beraturan dan sorot matanya tampak mencari rekan yang lain. “Raisa di mana?”
“Yaah, kita juga sedang mencarinya.”
“Begitu ya.” Raut wajah Mirai terlihat murung.
“Ayo cari yang lain. Aku dan Resha sudah cukup melihat keseluruhan alun-alun. Seperti yang kamu lihat, Raisa dan pak Opin tidak ada di alun-alun ini. Pasti mereka berdua berada di luar dari alun-alun.”
“Tunggu. Bagaimana dengan para penduduk?” tanya Mirai khawatir.
“Kita tak akan bisa mengurusnya. Tunggu saja hingga mereka sadar. Yang lebih utama kita cari teman-teman kita dulu.”
“Benar apa yang dikatakan Resha. Kita cari rekan kita dulu, ” ucapku mendukung apa yang dikatakan Resha.
“Ta, tapi.” Mirai memegang tangannya. Ia menunduk dan terlihat menggigit bibirnya. Tampak ia dalam kelipuan.
“Sudahlah. Jika kamu tak ingin ikut, tinggallah di sini. Aku dan Dayshi akan mencari mereka berdua.” Resha melewati Mirai. Ia berlari begitu pula denganku yang menyusul diikuti oleh Mirai dalam beberapa menit. Kami bertiga mulai menelusuri Desa Rose di tengah kegelapan malam yang pekat.
Baru setengah penulusuran di desa Rose, kami semua sudah tak sanggup untuk berdiri. Yang benar, kami tersandung oleh akar pohon dan terjatuh masuk ke kumpulan tanaman bunga mawar.
“Aduh aduh. Jadi keren dah mukaku.” Resha yang paling awal terjatuh merintih kesakitan dengan pikiran yang positif.
“Matamu! Aduh, muka penuh codet apanya yang keren,” kataku sembari meraba bagian wajahku yang terkena duri mawar.
“Bodoh! Begini dah jadinya langsung lari tanpa mata. Andai tadi kalian mengambil obor hal seperti ini takkan terjadi.” Mirai yang terjatuh di atas punggungku lantas bangkit tanpa luka sedikit pun dari bunga mawar.
Mirai mencari tempat untuk beristirahat sejenak—tidak jauh dari tempatku terjatuh—di pinggir pagar dari pekarangan rumah.
“sepertinya kakiku terkilir. Kalian berdua tidak apa-apa?” tanya Mirai yang telah duduk terkapar memperhatikan kakinya.
“Tenagaku telah habis dan aku sudah tak dapat bangun dari sini,” ucap Resha.
“Sepertinya, aku ju, ga begitu.” Aku ikut menimpali meski pandanganku terasa bergelombang lalu gelap.
...***...
Bisikan keramaian terdengar jelas di telingaku. Wajahku terasa terbalut dan badanku terasa terbaring di tempat yang empuk.
“Kalian sungguh tak melihatnya!” suara lantang dan sedikit berat terdengar cukup nyaring.
Ruangan yang dipenuhi kain putih? Kepalaku masih terasa berat. Resha dari tadi berisik sekali hingga aku tak dapat berpikir dengan baik. Semalam makan ... tidak semalam aku mencari Raisa dan pak Opin.
“Raisa dan pak Opin di mana!?” tanpa sadar aku berseru menatap salah seorang yang berpakaian putih seperti dokter di hadapanku.
“Tenanglah dulu, nak,” ucap dokter yang telah berumur cukup tua itu.
“Dayshi? Kamu sudah bangun ya.”
“Ya, begitulah. Tunggu sebentar, kau seperti mummy saja hahaha.”
“Hei, sana bercermin. Bahagia sekali kau menertawakanku.”
“Hahaha, maaf, maaf. Yang lain di mana?”
“Aku juga tidak tahu. Kalau Mirai sih katanya pergi keluar cari pak Opin sama Raisa.”
“oh, begitu ya.” Aku bermuka muram karena tak dapat melakukan apapun saat ini.
Hawa di ruangan ini cukup sejuk karena jendela kaca yang besar terbuka. Angin juga berhembus perlahan memasuki ruangan ini ketika para penduduk yang menjenguk perlahan meninggalkan tempat ini.
Cahaya berwarna jingga yang sedari tadi terlihat, ternyata bukanlah cahaya terbitnya matahari, melainkan cahaya tenggelamnya matahari menjadi malam.
“Baru juga bangun sudah mau malam lagi.” Resha turun dari kasur. Ia mengambil buah apel yang tersedia di meja samping kasur.
“Ayo kita cari mereka, Dayshi.” Resha mengunyah apel yang ia ambil. Aku turun dan mengiyakan ajakannya. Tak lupa pula kami berterima kasih kepada salah seorang berpakaian putih yang masih ada di ruangan ini.
Sinar matahari perlahan mulai meredup.
“Jadi, kita mau penelusuran malam lagi nih?” Langkahku baru saja keluar dari pintu bersamaan dengan Resha.
“Iya, sebentar aja kok.” Resha mulai berjalan setelah ia melirikku sebentar.
“Desa ini luas.”
“Iya.”
“Benar nih mau nyari.”
“Iya.”
“Tambah gelap aja ya.”
“Iya .... Dayshi mulai banyak komplain juga ya. Menurutmu bagaimana memang?”
“Yah kan ....”
“Dayshi, Resha. Baguslah, akhirnya kalian bangun.” Suara lembut dengan khas lengkok berbicara sesopan mungkin, siapa lagi kalau bukan Mirai.
Aku dan Resha terperangah. “Mirai. Dan, Raisa!”
“Berisik. Diamlah.” Raisa masih saja suka bersikap judes. Tatapannya yang tajam sudah menjadi hal yang normal di mataku. Tetapi, saat ini tatapannya terkesan lesu.
Raisa melangkah lebih dekat ke arahku dan Resha. “Aku punya kabar buruk.”
“Kabar buruk?” pertanyaan penasaran, sontak keluar bersamaan dengan Resha. Alih-alih kami berdua memperhatikan sekitaran kedua gadis yang ada di hadapan kami.
“Pak Opin hilang!?”
“Tidak, ini lebih buruk lagi.”
“PAK OPIN MATI!?” Resha meninggikan suaranya bukan kepalang. Membuat cap tangan manis mendarat di pipinya.
“Jangan ngegass,” ucap Raisa mengepalkan tangan setelah memberikan Resha kejutan tak terduga.
"ini, tidak seburuk dengan apa yang kamu pikirkan, Resha."
...°°°...
Sekedar informasi
*
...~Berpikirlah sebelum bertindak~...
Btw, Bye-bye this cover lamaku. Terima kasih juga yang waktu itu telah komen. Akhirnya Swan membulatkan keputusan wkwkw.
Diganti menjadi......
Yah, sayangnya di sini fontnya gak kukasih efek. Tapi biarlah... ^~^