
"Mati 'dah." Aku mengangkat kedua tanganku. Takut-takut jika orang yang berada di belakangku akan menyerangku langsung. Pastinya aku tetap berpikir untuk lepas dari sini.
Ini akan menjadi lebih buruk kalau-kalau Raisa dan Mirai ketahuan. Aku tak yakin orang di belakangku ini adalah orang biasa saja. Melihat sebelumnya mereka melihatku secara bersamaan, sepertinya mereka memang menandai diriku dan memastikan bahwa benar itu adalah aku. Aku harus segera memancing mereka untuk pergi dari sini—menjauhi gang tempat Raisa dan Mirai bertempat.
Di mana, ke mana aku harus pergi. Jika aku pergi ke depan aku tak yakin jika mereka tak melihat kedua orang itu di gang. Mungkin frekuensi mereka dapat melihatnya rendah, tapi jika ada tempat lain 'tuk ku berlari, itu jauh lebih baik.
Tak mungkin aku melawan arah menerobos empat orang di belakangku. Aku harus mencari jalan lain. Aku melirik ke samping kanan dan kiri. Di bagian kanan depan adalah gang Raisa, dan....
Timing yang bagus, tepat di sebelah kiriku terdapat gang tanpa adanya jalan buntu. Ini adalah kesempatanku untuk menarik perhatian mereka. Mereka pasti akan mengejarku.
"Hei..." Orang tadi memanggil. Sesaat sebelum sepatah kata terselesaikan, aku segera berlari ke arah gang kiri.
Kurasa kecepatan lariku sudah kumaksimalkan, akan tetapi entah mengapa belum sampai dua menit, salah seorang dari mereka telah berhasil menghadangku.
Rambutnya cukup lebat tapi standar—untuk lelaki—, berwarna putih tapi samar-samar ke warna merah muda yang lembut seperti cream. Dia memakai topeng yang hanya menutupi sekitar wajah bagian atasnya. Desain bajunya simpel dengan peralatan persenjataan yang minim di sekitar area tubuh di balik jubahnya. Tampaknya ia seorang assassin dengan persenjataan dua bilah dagger yang cukup panjang dan pendek.
Meski aku sempat terhenti, aku langsung menerobos dia sebelum tiga orang di belakang mendapatiku. Pastinya orang yang menghadangku tak ingin melepaskanku begitu saja, jadi aku sedikit melawan dengan mengeluarkan short sword-ku yang keluar dari inventory dalam sekejap.
Karena ia terkejut aku pun lolos keluar ke jalan yang baru. Tanpa pikir panjang aku berlari ke arah kanan, yang mana jalan tersebut tampaknya menjauhi jalan yang mendekati kastil Kof (Kingdom of Flower). Aku berlari sekuat tenaga di jalan yang lebar tapi entah mengapa begitu sunyi.
Karena sudah berlari cukup lama, aku menoleh ke belakang memastikan apakah mereka masih mengejarku atau tidak. Tampak tak ada sesuatu yang mengejarku, aku tetap berlari dengan kecepatan yang mulai kurendahkan.
Aku tak yakin jika mereka tidak mengejarku. Rasa was-wasku tetap terjaga lalu aku pun kembali mencari jalan pintas lain di antara lorong-lorong bangunan kota ini.
Rasa mulai lega saat memasuki jalan yang kecil. Aku mulai berlari pelan kemudian berjalan hingga berhenti karena keletihan. Cukup sulit untuk mengatur sirkulasi udara pernapasanku Sampai-sampai aku membungkuk dengan menahan berat badanku pada lutut.
"Sudah capek?"
"Astaga..." Aku terkejar, aku melihat sepasang kakinya yang baru saja melangkah tepat di depanku. Ya, dan aku sudah tahu hal ini akan terjadi, tapi...
"Setidaknya biarkan aku mengatur napasku dulu, dong."
Lantas, aku langsung mengayunkan short sword ku kepadanya. Dia yang seolah sudah mengetahuinya dari awal hanya mundur selangkah untuk menghindari pedangku.
"Hei kawan, sepertinya kau salah paham di sini."
Suara yang tak asing di telinga. Rambut khas yang berwarna hitam ke kuning, atau lebih ke arah oren. Style pakaian jaket hoodie kulit coklat tanpa lengan dengan kaos hitam di dalamnya. Khas kesan waktu pertama kali kami berangkat bersama dalam perjalanan.
"Resha?"
"Yoi," jawabnya hormat santai dua jari.
"Loh, jadi siapa tiga orang tadi." respon aku menengok ke belakang.
Seragam yang sama dengan topeng mata putih polos yang sama. Rambut mereka semua putih. meski putih, tapi frekuensi warna putihnya yang ke warna lain saling berbeda. Kulihat ada salah seorang dari mereka adalah seorang wanita—dilihat dari rambut putih kemerah mudanya yang di ikat cepol dengan beberapa helaian rambut yang masih membingkai wajahnya.
"Siapa orang itu?" tanyaku.
"Hahaha, tenang saja Dayshi. Mereka adalah orang yang mengawasiku."
"Mengawasimu?" Aku heran mengangkat satu alisku.
Jangan bercanda. "Hei-hei Resha jangan bilang kalau kau tertangkap dan sekarang—"
Sekutu? Bagaimana bisa Resha mendapatkan orang-orang seperti ini?
"Kurasa aku akan menjelaskan ini cukup panjang. Dayshi, kita tidak punya banyak waktu, di mana Raisa dan Mirai?"
Oh ya, tadi aku meninggalkan mereka tanpa berkata apapun.
"Mereka ada di tempat awal kalian melihatku. Kurasa mereka masih ada di sana."
"Baiklah kalau begitu, kita ke tempat yang tadi."
Ya, kurasa kita juga harus berkumpul terlebih dahulu agar mengerti akan situasi ini. Mereka berempat kemudian bergegas, mencari pijakan kotak dan dinding yang terus meninggi berniat mencari lewat atap.
"Tunggu-tunggu woi, tunggu aku. Aku mana bisa lompat setinggi tiga sampai lima meter kayak kalian."
Sontak mereka berhenti dan ketiga penjaga Resha itu tampak membalas seolah mengatakan...
"Haishh, merepotkan."
Iya itu.
"Hei, keluhan kalian terdengar jelas tau."
Tak kusangka mereka akan secara terang-terangan begitu. Sorot mata mereka yang melirik-lirik Resha kemudian melirikku kembali, bahkan nampak jika mereka kini membanding-bandingkan diriku dengan Resha. Lebih lagi mereka melepas napasnya dengan berat bak kehabisan tenaga untuk melakukan sesuatu. Entahlah, aku juga tak terlalu mengerti masa sulit seperti apa yang telah mereka lalui. Yang jelas itu bukan karena aku kan?
...➕➖✖️➗...
"Mereka tidak ada. Sial tampaknya saat mereka selesai, mereka langsung pergi begitu saja atau mungkin mereka sekarang sedang mencariku."
"Ya sudah, kalau begitu sekarang ayo cepat kita cari mereka," ucap Resha bersemangat.
"Anu Resha, apa kita akan kembali ke tempat sebelumnya untuk mencari mereka?" tanyaku. Ya bagaimana tidak, Resha membalikkan badan dan bersiap menuju ke arah tempat jalan kami sebelumnya.
"Iya, memang kenapa?"
"Eh, kurasa kurang efektif saja..." Bukan kurang saja, tapi memang tidak efektif sekali sih. "Lagian kalau mereka lewat situ kita sudah bertemu sedari tadi."
"...." Resha terdiam sejenak. Matanya melirik ke bawah. Ia pasti memikirkan sesuatu, entah jalan mana yang bagus di ambil. Tapi menurutku mungkin mereka akan mengambil jalur yang berlawanan dari istana Kof.
"Kita akan lewat atas,"
"Eh."
Resha lantas menarik badanku lalu melempar tubuhku ke udara. Tentu saja aku terkejut bukan kepalang. Jika aku memiliki penyakit jantungan, pasti aku sudah mati.
Sial, bagaimana bisa dia melemparku lebih tinggi daripada bangunan berlantai tujuh ini. Badanku jumpalitan di udara, saat posisi perutku di bawah, seketika Resha datang memikulku layaknya karung beras lalu mendarat di atap bangunan.
"Baiklah!..."