
"Ternyata benar. Ini adalah tanah," ucap Resha dengan serius. Sorot mata tajam, alis melekuk seperti tanduk kerbau.
"Tanah? itu kan memang tanah." kompak mereka membatin. Dengan raut muka heran, mereka bersembilan yang menatap Resha kini saling memandang satu sama lain, dan saling tersenyum semringah menahan tawa.
"Anu kak, itu kan memang tanah!" tanya bocah lelaki yang memiliki mata lebar dan selalu tampak bersemangat. Suara cemprengnya yang disertai senyum lebar giginya itulah yang menjadi ciri khas bocah itu ketika berbicara.
"Reynald, tahu ini tanahkan. Coba lihat." Pemuda itu menjulurkan tangannya dengan tanah di bagian telapaknya. Sarung tangan jari terbukanya tampak kusam karena tanah kering itu. Terlihat pula seluar kain hitam yang ia kenakan tampak robek di bagian atas tumitnya ketika bertekuk lutut.
"Mmh, ada apa dengan tanahnya?" tanya Reynald sambil menggaruk pipinya yang tak gatal.
Resha tersenyum lalu meremas tanah yang ia perlihatkan. Tanah yang tadinya berada di genggaman Resha seketika terhambur bagaikan pasir kecil yang sangat halus dan terbang ketika angin kecil menerpanya.
"Tanah yang berada di desa Orchid sangatlah rapuh, kering, dan tidak subur sama sekali. Tanah ini bahkan hampir seperti pasir di Timur Utara—kawasan The Diamond Empire yang memiliki padang pasir yang amat panas dan hanya ditumbuhi tanaman berduri saja—sana.
"Apa kalian tahu apa penyebab tanah di desa kalian bisa seperti ini?" tanya Resha kepada para adik ajarannya yang umur mereka pun lebih tua dari dirinya. Ia yang tadinya menjelaskan kepada Reynald, kini berdiri memandang adik ajaran barunya.
Reynald sendiri dengan mata berapi-api berteriak antusias, "Oh, begitu ya!" kepada Resha. Sedangkan Resha menanggapi anak itu dengan mengelus acak rambut pirang yang dimiliki anak itu.
"Pasti karena anggrek yang bertebaran di mana-mana itu. Mio benar-benar—"
Belum selesai pria berambut acak mata sipit itu berbicara. Resha langsung berucap memotong kalimat Leo.
"Yap, itu benar. Anggrek kalajengking inilah yang membuat tanah dan lingkungan di desa ini menjadi begitu rapuh. Anggrek ini menyerap mana alam yang ada di sekitarnya. Mana alam yang telah ia serap kemudian hilang menjadi mana untuk orang yang mengeluarkan anggrek ini, "jelas Resha.
"Jadi apa hubungannya dengan tanah desa ini?" tanya si kakek yang masih duduk di tempatnya. Tongkat kayu yang biasa ia bawa disandarkannya di batang pohon. Mereka para bawahan Nartou kembali ke tempat ia tadi beristirahat, sebagian ada yang duduk dan sebagian lagi ada yang berbaring.
"Hah, kalian tidak ada yang tahu sama sekali? Mana alam." Resha terkejut serta terheran-heran. Mereka yang ditanyakan soal itu, hanya menganggukkan kepala secara bersamaan.
"Reynald, kau juga?" tanya Resha. Ia berpikir jika Reynald tahu akan persoalan tingkatan, maka persoalan mana harusnya lebih diketahuinya.
"Iya, Abang. Aku benar-benar tidak TAHU!" seru Reynald.
"Selama ini aku berpetualang di era mana sih," gumam Resha. Ia menarik oksigen panjang dan menukarnya dengan karbon dioksida untuk dikeluarkan. Sorot matanya begitu redup melirik lirih para kawanan penduduk desa Orchid.
"Jadi bagaimana caranya kalian bisa meningkatkan level dan mengeluarkan skill selama ini?" Resha bertanya dengan nada yang begitu lemas. Tangan kanan menyisir rambut hitam coklat. Kaki panjang yang berisi tetap bertahan di posisi tegap berdiri.
"hmm, tinggal ups dan hiyaaat lalu jedum dan HAH!" Si kumis lele, Petrick, memperagakan perkataannya dengan bibir lebar dan tangan yang direntangkan serta disentak-sentak.
*Bletak
Ryan dengan tangan besarnya memukul kepala Petrick. Jari-jemarinya lurus dirapatkan. Petrick mengeluh, mengelus kepala.
"Hahaha, maksudmu apaan sih. Bukannya tinggal mengerahkan seluruh tenaga saja, dan di saat itu muncul juga kekuatan-kekuatan ini," ucap Ryan.
Resha mulai sedikit paham akan penjelasan mereka. Ia berkacak pinggang dan tersenyum miring.
"Tenaga. Yeah itu bagian kecil juga dari apa yang dinamakan mana. Namun keduanya juga saling berbeda. Tenaga biasanya berhubungan dengan fisik dan energi dalam tubuh. Ada juga yang tak langsung memakai fisik tetapi menggunakan energi jiwa, ini dinamakan tenaga dalam."
Resha diam sejenak memperhatikan mereka yang diam tak berkata-kata, mencoba mencerna ucapan Resha.
"Pokoknya kalau tenaga kita habis, mana yang kita miliki juga akan sulit dikeluarkan dan bahkan ada juga yang tenaganya habis dan mana-nya juga ikut habis. Terus agar tenaga dan mana itu kembali terisi, istirahat .... Ah, apa kalian mengerti?"
Resha bertanya karena melihat mereka masih saja diam terbengong-bengong. Saat mereka diberikan pertanyaan pun, mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala tanda tak mengerti.
Resha menepuk dahinya dan ikut menggeleng-gelengkan kepala. Ia berpikir sepertinya mereka tak bisa diajarkan hanya lewat materi saja, tetapi praktik mungkin dapat membuat mereka menjadi lebih paham.
"Hmm, baiklah kalau begitu—"
Belum selesai Resha berucap, suara yang tak asing seperti anak perempuan terdengar di telinga Resha. Resha menengok ke belakang mencari sumber suara itu.
Namun pandangan Resha hanya melihat sepetak tanah tertumbuhi anggrek liar serta jalan setapak yang tak berumput sama sekali.
Kala melihat ke samping kiri dan kanannya, ia hanya melihat bangunan-bangunan bertembok tanah keras dengan corak retak yang dibuat oleh si kakek.
"Hmm, apa aku salah dengar."
"Tidak, sepertinya aku terlalu pendek untuk kamu lihat,"
"Ini—"
Sesaat ketika Resha melihat ke bawah, sosok gadis kecil tampak begitu geram dan menginjak kaki Resha dengan sekuat tenaga. Akan tetapi Resha bergeming, walau begitu def-nya yang lumayan terisi tetap saja merasakan sedikit rasa sakit terpijak.
"Ra-Raisa. Kamu sudah sadar ya."
"...."
Raisa diam saja. Bibirnya mengkerucut kesal. Kedua tangannya saling dikaitkan di bawah dadanya. Pandangannya sengaja tak memperhatikan Resha.
"Waktu itu, kamu dari mana saja?"
"Maaf maaf aku tersesat, hehehe," jawab Resha. Salah satu tangannya tampak bersedia mengambil sesuatu di balik udara hampa.
"[Inner Dimensional Hol]"
Lubang hitam kecil tercipta tepat di depan tangan siaga Resha. Ia memasukkan tangannya dan mengambil sebuah lentera kaca. Dengan wajah datar, Raisa melirik lubang hitam itu.
"Ini, lenteramu. Terima kasih, kalau ini tidak ada mungkin aku juga bakal kesulitan sampai di desa ini. Yah meski sebenarnya aku tetap jalan lurus saja sih," ujar Resha sambil membatin sedikit. Ia menyerahkan lentera itu kepada si pemilik sebenarnya.
"[Storage]"
Udara hampa serasa terlihat layaknya geteran genangan air ketika Raisa memasukkan lentera miliknya ke dalam inventory. Para adik ajaran Resha pun terpesona melihatnya. Mereka—kecuali Reynald dan si kakek—tampak baru pertama kali melihat skill tersebut.
"Jadi, apa yang kamu lakukan di sini dengan mereka?" tanya Raisa setelah selesai memasukkan lenteranya.
Resha tersenyum.
"Latihan, sekaligus aku melatih mereka," Sahut Resha sembari menunjuk orang-orang yang Resha anggap sebagai adik ajarannya.
Raisa mengangguk-angguk serta memperhatikan level dari orang-orang yang ditunjuk Resha. Level orang-orang itu banyak yang sudah di atas level 40.
"Apa boleh aku ikut?" tanya Raisa terlihat sedikit antusias.
"Pasti Bo—"
*Ceplak
"Iya kawan-kawan. Cairan kental lagi-lagi jatuh di atas kepala Resha. Begitu hangat dan bau menyengat terasa seperti memiliki uap panas yang menyebarkan aroma khasnya. Inilah tai burung yang berkhasiat dan selalu teranugerahi untuk pertumbuhan rambut Resha," cakap Petrick.
"BUNUH!"